Chapter 3 of 4

Bab 3 — Bayangan di Balik Catatan

1.6k words

Lonceng Akademi Kekaisaran Valoria berdentang tiga kali. Di ruang pemeriksaan mana, para petugas masih sibuk membersihkan serpihan kristal yang pecah ketika Gideon von Valerius meninggalkan aula bersama peserta lainnya. Bagi sebagian besar siswa, kejadian tadi akan menjadi bahan gosip selama beberapa hari. Bagi Gideon, itu merupakan masalah yang jauh lebih serius. Sesuatu di dalam dirinya telah bereaksi terhadap kristal pengukur mana. Reaksi itu tidak meninggalkan residu yang dapat dibaca, tetapi cukup kuat untuk menghancurkan artefak akademi. Ia belum mengetahui penyebabnya. Dan Gideon tidak menyukai sesuatu yang tidak dapat ia pahami, terutama jika sesuatu itu berpotensi membahayakan rahasianya. “Gideon von Valerius!” Suara seorang pemuda menghentikan langkahnya. Gideon menoleh. Pemuda berambut merah gelap berdiri beberapa meter di belakangnya. Lencana salamander pada kerah seragamnya menunjukkan asal House Ignis. Dua siswa lain berdiri di sisinya, tampak menikmati kesempatan untuk mempermalukan pewaris keluarga adipati utara. Lucan Ignis. Putra House Ignis itu melirik lembar hasil pemeriksaan yang berada di tangan Gideon. “Jadi, kau benar-benar tidak memiliki afinitas yang layak?” Lucan tersenyum miring. “Aku sempat mengira putra ketiga Valerius akan menunjukkan sesuatu yang menarik. Ternyata kristal akademi lebih rapuh daripada reputasi keluargamu.” Beberapa siswa di koridor menghentikan percakapan. Nama House Valerius bukan nama yang bisa diperlakukan seperti lelucon biasa. Keluarga itu menjaga perbatasan utara Kekaisaran dengan pasukan yang telah menghadapi monster dan penjajah selama beberapa generasi. Menghina salah seorang pewarisnya di depan umum berarti menguji batas kesabaran keluarga tersebut. Gideon menatap Lucan. Ekspresinya tidak berubah. Namun, udara di koridor mendadak terasa berat. Aura intimidasi yang terpancar dari Gideon menghantam Lucan seperti tekanan tak terlihat. Bukan erosi Void yang meluap, bukan pula pelepasan mana elemental. Itu adalah tekanan membekukan dari seorang bangsawan yang tidak menerima penghinaan terhadap dirinya dan nama keluarganya. Senyum Lucan membeku. Dua siswa di belakangnya kehilangan kata-kata. Salah seorang bahkan mundur setengah langkah tanpa menyadarinya. Gideon berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti tepat di hadapan Lucan, menatap lurus ke matanya. “Ulangi.” Hanya satu kata. Lucan berusaha mempertahankan ekspresinya, tetapi tenggorokannya terasa kering. Tekanan itu tidak memberinya ruang untuk melontarkan ejekan berikutnya dengan mudah. “A-apa?” “Perkataanmu tentang keluargaku.” Suara Gideon tetap tenang. “Ulangi di depan semua orang.” Koridor menjadi sunyi. Lucan mengepalkan tangan. Ia berasal dari House Ignis, keluarga adipati yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar. Ia tidak biasa dipaksa mundur, terlebih oleh seseorang yang menurut hasil pemeriksaan bahkan tidak memiliki afinitas elemental yang jelas. “Kau pikir kau bisa mengintimidasiku hanya karena nama Valerius?” katanya, berusaha memulihkan keberaniannya. “Di akademi ini, nama keluarga tidak akan membuatmu—” Tangannya bergerak ke arah gagang pedang latihan yang tergantung di pinggang. Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Dalam sekejap, Gideon bergerak. Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada ancang-ancang yang mudah dibaca. Pedang latihan milik Gideon sudah terhunus ketika Lucan menyadari bahwa jarak di antara mereka telah lenyap. Ujung bilahnya berhenti tepat di sisi leher Lucan. Satu gerakan lagi akan membuat kulitnya terluka. Namun, Gideon tidak perlu melanjutkannya. Lucan membeku. Ia dapat merasakan dinginnya logam di dekat lehernya. Yang lebih menakutkan adalah kenyataan bahwa ia bahkan tidak sempat mengangkat senjatanya. Gideon memiringkan kepala sedikit. “Jangan salah mengartikan sikap diamku sebagai kelemahan.” Matanya yang biru keabu-abuan menatap Lucan tanpa keraguan. “Aku datang ke sini untuk belajar. Bukan untuk mendengar anak yang tidak kukenal mengoceh tentang keluargaku.” Ujung pedang itu tidak bergeser. “Kalau kau ingin menguji kemampuanmu, lakukan di arena. Kalau kau ingin menghina House Valerius, pastikan kau siap menerima akibatnya.” Lucan menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak memasuki akademi, ia tidak menemukan jawaban yang pantas untuk diucapkan. Gideon menurunkan pedangnya, lalu memasukkannya kembali ke sarung tanpa tergesa-gesa. “Lain kali, pikirkan sebelum membuka mulut.” Ia melewati Lucan begitu saja. Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kebutuhan untuk memastikan semua orang mengaguminya. Ia telah menyampaikan batasnya. Dan semua orang di koridor memahami pesan tersebut. Di belakangnya, Lucan tetap berdiri kaku. Wajahnya memerah karena malu, tetapi ia tidak mengejar Gideon. Bukan karena ia tiba-tiba kehilangan seluruh keberaniannya, melainkan karena nalurinya mengatakan bahwa pertarungan tadi akan berakhir jauh lebih buruk jika Gideon benar-benar berniat melukainya. Seorang siswa berbisik kepada temannya. “Dia bahkan tidak menggunakan sihir…” “Gerakannya tadi apa?” “Entahlah. Aku tidak melihat kapan pedangnya terhunus.” Gideon mendengar bisikan-bisikan itu, tetapi tidak memedulikannya. Ia tidak membutuhkan pengakuan mereka. Namun, ia juga tidak akan membiarkan siapa pun menganggap dirinya sebagai sasaran empuk hanya karena hasil pemeriksaan mana yang buruk. Nama Valerius memiliki bobot. Dan ia tidak berniat membiarkan orang lain melupakannya. --- Di ruang pemeriksaan yang telah dikosongkan, seorang asisten penguji berjongkok di depan dudukan kristal yang pecah. Ia mengangkat salah satu serpihan dengan penjepit perak. Sebuah noda hitam melekat pada permukaannya, tampak menyerap cahaya alih-alih memantulkannya. Asisten itu meletakkan serpihan tersebut di atas alat pendeteksi. Jarum kompas sihir berputar beberapa kali, kemudian berhenti mendadak. Tidak menunjuk pada api, air, angin, tanah, petir, atau elemen lain yang dikenal. Sebaliknya, jarum itu menunjuk pada simbol berbentuk lingkaran tanpa pusat. Asisten tersebut terdiam. Ia pernah melihat simbol serupa di sebuah dokumen lama yang disimpan di bagian arsip terbatas. Saat itu, ia tidak diberi penjelasan mengenai maknanya. Ia hanya mengingat satu kalimat yang ditulis menggunakan tinta merah. Jangan biarkan anomali hampa mencapai Gereja. Ia segera membawa serpihan tersebut kepada penguji senior. Profesor tua itu memeriksa simbolnya, lalu menutup pintu ruang kerja. “Apakah kau sudah melaporkannya melalui administrasi?” “Belum, Profesor. Saya pikir Anda harus melihatnya terlebih dahulu.” “Kau melakukan hal yang benar.” Sang profesor membuka laci paling bawah dan mengeluarkan tabung logam kecil. Di dalamnya tersimpan selembar perkamen tanpa lambang akademi, disegel dengan lilin hitam yang memuat simbol lingkaran terputus. Ia membaca instruksi di dalamnya sebelum membakar perkamen itu. “Catat hasil resmi Gideon von Valerius sebagai tidak stabil. Tidak ada afinitas yang dapat dipastikan. Kerusakan kristal dicatat sebagai kegagalan artefak.” Asisten itu ragu. “Namun, Profesor, jika simbol tersebut memang berkaitan dengan—” “Justru karena kita tidak mengetahui maknanya, kita tidak boleh mengirimkannya melalui jalur resmi.” Profesor itu menatap pintu. “Jika pihak yang salah menerima laporan ini, kita mungkin tidak akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Ia mengambil pena dan menulis laporan baru. Ditemukan indikasi anomali hampa pada peserta bernama Gideon von Valerius. Diperlukan penyelidikan tertutup. Tidak ada lambang akademi. Tidak ada nama pengirim. Hanya sebuah kode kecil yang ditulis di bagian bawah perkamen. Beberapa menit kemudian, seorang kurir meninggalkan gedung melalui gerbang samping. Kepergiannya tidak tercatat dalam buku administrasi. --- Malam telah menyelimuti Valoria Prime ketika kurir itu mencapai sebuah bangunan tua di distrik administrasi. Dari luar, bangunan tersebut menyerupai gudang arsip terbengkalai. Namun, dua penjaga berpakaian gelap berdiri di balik pintu besinya, sementara penghalang sihir menyamarkan keberadaan ruangan di dalam. Kurir menyerahkan tabung logam. Penjaga yang menerima tabung itu langsung mengenali segelnya. Ia membawa benda tersebut ke sebuah ruangan yang diterangi lampu biru redup. Seorang pria berjubah hitam duduk di balik meja, membaca berkas-berkas lama. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan tudung, sedangkan sarung tangan perak membungkus kedua tangannya. Pria itu membuka laporan dan membaca isinya. Gideon von Valerius. Anomali hampa. Kristal pengukur yang hancur tanpa meninggalkan residu mana. Jarinya berhenti pada nama keluarga tersebut. “Valerius…” Ia membuka sebuah berkas tua yang sampulnya hanya memuat simbol lingkaran tanpa pusat. Di dalamnya terdapat catatan tentang kejadian-kejadian yang tidak dapat dijelaskan oleh teori sihir biasa. Sebagian besar halaman telah dikosongkan, sedangkan beberapa nama dicoret dengan tinta hitam. Pria itu membuka halaman terakhir. Sebuah instruksi tertulis di sana. Jika tanda tersebut muncul kembali, identifikasi pemiliknya. Jangan melakukan kontak terbuka sebelum tingkat ancamannya dipastikan. Ia menutup berkas. “Mulai penyelidikan.” “Apakah Gereja Kekekalan harus diberi tahu?” tanya penjaga. “Belum.” “Jika mereka mengetahui keberadaan anomali ini lebih dahulu—” “Karena itulah kita tidak boleh membuang waktu.” Pria berjubah hitam berdiri. “Cari catatan medis Gideon, riwayat pendidikannya, para pengawalnya, dan siapa pun yang pernah bekerja di kediaman Valerius. Jangan menyentuh keluarganya tanpa perintahku.” Penjaga menunduk. “Dimengerti.” Setelah ruangan kembali sunyi, pria itu menatap simbol kuno pada berkasnya. Ia tidak tahu apakah Gideon merupakan ancaman, korban, atau sesuatu yang belum memiliki nama. Namun, kemunculan simbol tersebut berarti satu hal. Rahasia yang seharusnya terkubur telah muncul kembali. Dan kali ini, mereka tidak berniat membiarkannya menghilang. --- Di paviliun terpencil akademi, Gideon berdiri di depan jendela kamarnya. Sarung tangan Null-Steel terletak di atas meja. Ia memeriksa lapisan isolasinya, memastikan tidak ada keretakan yang dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak merasakan erosi meluap. Namun, sensasi dingin yang muncul ketika ia menyentuh kristal tadi masih membekas dalam ingatannya. Gideon mengepalkan tangan. “Bukan mana biasa.” Ia tidak akan mengabaikan kejadian itu. Bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang tidak dipahami dapat menjadi ancaman jika dibiarkan tanpa penyelidikan. Di sisi lain, ia juga tidak berniat menghabiskan waktunya mengejar setiap bisikan yang muncul di akademi. Lucan Ignis telah menerima peringatannya. Jika pemuda itu cukup cerdas, ia akan belajar menjaga ucapannya. Jika tidak, Gideon akan menanganinya ketika memang diperlukan. Untuk sekarang, ada persoalan yang jauh lebih penting. Kristal itu telah bereaksi terhadap sesuatu di dalam dirinya. Dan seseorang mungkin sudah mengetahui artinya. Gideon memandang pantulan matanya di kaca jendela. “Kalau kalian mencari sesuatu dariku,” gumamnya, “pastikan kalian tahu apa yang sedang kalian hadapi.” Di luar, angin malam menggoyangkan pepohonan. Jauh dari paviliun itu, sebuah nama sedang ditelusuri dan sebuah berkas lama kembali dibuka. Gideon belum mengetahui bahwa penyelidikan terhadap dirinya telah dimulai. Namun, siapa pun yang mencoba mendekatinya harus memahami satu hal terlebih dahulu. Ia bukan mangsa yang akan menunggu untuk diburu. Bersambung. Teaser Bab 4 — Surat Tanpa Lambang Penyelidikan rahasia mulai mendekati kehidupan Gideon, sementara seseorang yang mengetahui bahaya anomali hampa meninggalkan peringatan tanpa nama di depan pintunya. Gideon harus menentukan apakah pesan itu merupakan upaya perlindungan atau jebakan—sebelum pihak lain menemukan rahasia yang tersembunyi di balik nama Valerius.

End of Chapter 3