Chapter 4 of 4

Bab 4 — Surat Tanpa Lambang

1.5k words

Malam telah melewati tengahnya ketika angin dingin menyusup di antara pepohonan yang mengelilingi paviliun Gideon von Valerius. Bangunan itu berdiri di bagian paling terpencil dari Akademi Kekaisaran Valoria. Dindingnya dilapisi susunan rune peredam energi, jendelanya diperkuat kaca khusus, dan sebuah lingkaran sihir tertanam di bawah lantai untuk menekan gangguan mana dari dalam ruangan. Bagi siswa lain, paviliun tersebut merupakan tempat tinggal yang tidak menyenangkan. Bagi Gideon, tempat itu adalah garis pertahanan pertama. Ia baru saja selesai memeriksa lapisan isolasi pada sarung tangan Null-Steel ketika terdengar bunyi kecil dari arah pintu. Tok. Gideon mengangkat pandangan. Tidak ada langkah kaki setelahnya. Ia tidak langsung bergerak. Selama beberapa detik, ia hanya mendengarkan. Angin. Gesekan ranting. Dengung samar penghalang sihir. Tidak ada suara napas yang dapat dikenali dari balik pintu. Gideon meletakkan sarung tangannya di atas meja, lalu berdiri. Gerakannya tenang, tanpa tergesa-gesa. Ia mengambil pedang dari tempat penyimpanannya dan berjalan menuju pintu. Sebelum menyentuh gagangnya, ia memeriksa garis tipis cahaya yang membentang di ambang pintu. Penghalang tidak menunjukkan gangguan. Namun, itu belum membuktikan bahwa tidak ada seseorang yang baru saja berada di sana. Gideon membuka pintu hanya selebar yang diperlukan. Lorong di luar kosong. Di atas lantai, tepat di depan ambang, tergeletak sebuah amplop hitam. Tidak ada lambang keluarga. Tidak ada segel kerajaan. Tidak ada nama penerima maupun pengirim. Gideon tidak langsung mengambilnya. Ia memeriksa lorong terlebih dahulu, kemudian memperhatikan sudut-sudut gelap di antara pilar. Tidak ada sosok yang bergerak. Tidak ada bayangan yang tampak tidak wajar. Ia kembali menatap amplop itu. Seseorang telah melewati penghalang pengawas di sekitar paviliunnya, atau menemukan cara meletakkan benda tersebut tanpa memicunya. Kedua kemungkinan sama-sama tidak menyenangkan. Gideon menutup pintu, menguncinya, lalu mengaktifkan pemeriksaan rune di sisi dalam. Setelah memastikan tidak ada perubahan pada penghalang, ia mengambil penjepit logam dari meja dan mengangkat amplop tersebut. Permukaannya dingin. Tidak ada reaksi mana yang terdeteksi. Gideon memutarnya perlahan. Sudut-sudut amplop bersih, tanpa bekas lilin atau perekat. Pada bagian belakangnya terdapat garis tipis menyerupai lingkaran yang terputus di satu sisi. Simbol yang sama sekali tidak asing setelah kejadian di ruang pemeriksaan. Gideon menyipitkan mata. “Jadi, ini berkaitan dengan kristal itu.” Ia membawa amplop ke meja dan meletakkannya di atas lempengan pemeriksa artefak. Cahaya biru menyapu permukaannya. Tidak ditemukan kutukan aktif, segel pelacak, atau susunan mana yang dapat dikenali. Ia tetap tidak menyentuhnya dengan tangan telanjang. Setelah membuka amplop menggunakan penjepit, Gideon mengeluarkan selembar kertas tipis. Hanya ada satu kalimat di sana. Jangan percaya pada siapa pun yang mengaku melindungimu. Di bawah kalimat tersebut tertera simbol lingkaran terputus. Gideon membaca pesan itu sekali lagi. Kemudian ia meletakkan kertas di atas meja. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Pesan itu mungkin peringatan tulus. Mungkin pula umpan yang sengaja dirancang untuk membuatnya mencurigai orang-orang di sekelilingnya. Sebuah kalimat sederhana dapat menghasilkan banyak akibat jika diterima tanpa pemeriksaan. Siapa pun yang mengirimnya mengetahui setidaknya dua hal: Gideon tinggal di paviliun tersebut, dan sesuatu yang terjadi dalam pemeriksaan mana patut diperhatikan. Namun, belum tentu pengirimnya mengetahui identitas Void. Gideon tidak akan menyamakan pengetahuan tentang satu kejadian dengan pengetahuan tentang seluruh rahasianya. Ia mengambil lembar kertas lain dan mencatat tiga kemungkinan. Pengirim pertama: seseorang dari dalam akademi yang melihat atau mendengar sesuatu tentang kristal. Pengirim kedua: pihak yang telah mengawasi House Valerius sebelum kejadian hari ini. Pengirim ketiga: seseorang yang sengaja ingin memutus kepercayaannya terhadap keluarga, pengawal, atau sekutu politiknya. Ia berhenti menulis. Ketiga kemungkinan itu masih terlalu luas. Belum ada alasan untuk memilih salah satunya. Gideon mengembalikan perhatian pada kalimat di surat tersebut. Jangan percaya pada siapa pun yang mengaku melindungimu. Kata-kata itu dipilih dengan sengaja. Bukan sekadar berhati-hatilah atau kau sedang diawasi. Pengirimnya ingin menanamkan keraguan terhadap seseorang yang menawarkan perlindungan. Ayahnya, Duke Eirik, telah menempatkan banyak pengamanan untuk melindungi rahasia keluarga. Master Bramur membuat perlengkapan isolasi yang memungkinkan Gideon hidup tanpa membahayakan orang-orang di sekitarnya. Bahkan pengaturan paviliun terpencil ini merupakan bagian dari perlindungan tersebut. Apakah surat itu ditujukan kepada salah satu dari mereka? Belum tentu. Dan Gideon tidak akan membiarkan orang asing menentukan siapa yang boleh ia percayai hanya melalui selembar kertas. “Kalau kau ingin aku mencurigai mereka,” gumamnya, “berikan bukti yang lebih baik.” Ia tidak membakar surat itu. Ia juga tidak langsung mengirimkannya kepada pihak akademi. Sebaliknya, Gideon menyimpan amplop dan kertas tersebut dalam wadah logam berlapis Null-Steel, terpisah dari perlengkapan yang digunakan untuk mengisolasi erosi tubuhnya. Ia menutup wadah itu dan menandai bagian luarnya dengan kode sederhana yang hanya ia pahami. Bukti harus tetap tersedia sampai ia mengetahui apakah ada sesuatu yang dapat dipelajari darinya. Setelah itu, ia memeriksa pintu sekali lagi. Tidak ada kerusakan pada kunci. Tidak ada bekas alat pada engsel. Tidak ada gangguan yang terlihat pada rune pengawas. Seseorang telah meninggalkan surat itu dengan cara yang rapi. Terlalu rapi untuk dianggap sebagai tindakan ceroboh. --- Gideon memadamkan sebagian lampu dan duduk di dekat jendela. Dari tempat itu, ia dapat melihat jalan setapak yang menghubungkan paviliunnya dengan bangunan utama akademi. Dua lentera menerangi jalur tersebut, tetapi pepohonan di sepanjang pagar menciptakan banyak titik buta. Jika pengirimnya datang dari dalam akademi, ia mungkin menggunakan jalur itu. Jika berasal dari luar, seseorang mungkin telah melewati pagar belakang. Namun, tidak satu pun kesimpulan itu dapat dibuktikan hanya dari posisi amplop. Gideon mengingat kembali suara kecil yang ia dengar sebelumnya. Tok. Bunyi itu bisa berasal dari amplop yang diletakkan di pintu. Bisa juga sengaja dibuat untuk menarik perhatiannya setelah pengirim menjauh. Jika yang kedua benar, orang itu mungkin ingin memastikan bahwa Gideon segera menemukan pesan tersebut. Sebuah tindakan sederhana, tetapi cukup untuk mengungkapkan bahwa pengirimnya memahami kebiasaan dasar seseorang yang tinggal sendirian: suara kecil di tengah malam hampir pasti akan diperiksa. Gideon menyandarkan punggungnya. Ia tidak akan keluar untuk mengejar bayangan tanpa arah. Itu hanya akan memberinya risiko tanpa informasi yang sepadan. Sebaliknya, ia akan memperhatikan siapa yang mengetahui perubahan rutinitasnya, apakah ada orang yang tiba-tiba menawarkan bantuan, dan apakah pihak akademi mengubah perlakuan terhadapnya setelah laporan pemeriksaan. Jika ada hubungan di antara semua itu, ia akan menemukannya. Sampai saat itu, tidak ada alasan untuk mengubah rencananya. Pagi nanti, ia tetap akan menghadiri kegiatan akademi. Ia tetap akan menjalankan perannya sebagai Gideon von Valerius, putra ketiga keluarga adipati utara. Dan siapa pun yang mencoba mengamatinya akan melihat seorang bangsawan yang tidak mudah dipancing. Bukan karena ia tidak menyadari bahaya. Melainkan karena ia tidak berniat memberikan reaksi yang diinginkan oleh orang lain. --- Jauh dari paviliun, di sebuah ruangan sempit di balik bangunan tua, seorang perempuan berdiri di hadapan jendela yang tertutup tirai. Ia mengenakan pakaian gelap tanpa lambang keluarga. Rambutnya disembunyikan di balik tudung, dan sebuah sarung tangan tipis menutupi tangan kanannya. Di atas meja terdapat salinan denah Akademi Kekaisaran Valoria. Sebuah tanda kecil diletakkan di dekat paviliun Gideon. “Suratnya sudah sampai,” ujar seorang pria dari balik pintu. Perempuan itu tidak berbalik. “Apakah dia menemukannya?” “Seharusnya begitu.” “Seharusnya bukan jawaban yang kuinginkan.” Pria itu terdiam sejenak. “Kami tidak mendekati pintunya. Tidak ada yang melihat kami.” Perempuan itu memandang denah di hadapannya. “Bagus. Jangan lakukan apa pun lagi untuk sementara.” “Apakah kita akan mengirim pesan kedua?” “Tidak.” Ia melipat denah tersebut dan memasukkannya ke dalam laci. “Satu peringatan cukup. Jika dia benar-benar seperti yang tertulis dalam catatan lama, pesan kedua hanya akan membuatnya mencari kita.” Pria di ambang pintu menundukkan kepala. “Dan jika dia mengabaikannya?” Perempuan itu akhirnya menoleh. Matanya memantulkan cahaya lampu dengan ketenangan yang sulit dibaca. “Kalau begitu, kita akan mengetahui bahwa dia tidak mudah dipengaruhi.” Ia memadamkan lampu di atas meja. Ruangan tenggelam dalam kegelapan. “Sekarang, tunggu. Pihak lain pasti akan bergerak lebih cepat daripada kita.” --- Menjelang fajar, Gideon masih terjaga. Ia telah menyusun rencana untuk hari berikutnya, memeriksa perlengkapannya, dan memastikan tidak ada gangguan pada penghalang paviliun. Surat misterius itu tetap tersimpan di dalam wadah logam. Tidak ada nama yang bisa ia kejar. Tidak ada bukti yang cukup untuk menuduh siapa pun. Untuk saat ini, itu tidak masalah. Gideon berdiri dan mengenakan sarung tangan Null-Steel. Lapisan isolasinya menutup kulit tangannya dengan rapat, menjaga erosi yang tak terkendali tetap terkurung. Ia mengambil pedangnya dan memeriksa bilahnya sekilas. Kemudian ia menatap pintu. “Kalau kau ingin memperingatkanku, aku sudah membaca pesanmu.” Suaranya datar. “Kalau kau ingin mengendalikanku, kau salah memilih orang.” Ia menyarungkan pedangnya dan melangkah menuju jendela, menatap langit yang perlahan berubah warna. Pagi akan segera tiba. Di akademi, laporan tentang kristal yang pecah akan tetap tercatat sebagai kegagalan artefak. Di sebuah bangunan tersembunyi, penyelidikan atas namanya telah dimulai. Dan di suatu tempat, seseorang sedang menunggu untuk mengetahui apakah Gideon akan mengikuti peringatan yang ditinggalkannya. Mereka semua sedang menunggu reaksinya. Sayangnya bagi mereka, Gideon von Valerius tidak pernah terbiasa bergerak sesuai keinginan orang lain. Bersambung. Teaser Bab 5 — Ujian di Bawah Tatapan Hari berikutnya, para siswa baru menghadapi penilaian kemampuan senjata dan pertarungan. Gideon tidak berniat mencari perhatian, tetapi sebuah provokasi di arena memaksanya menunjukkan sedikit dari kejeniusannya. Sementara itu, seseorang di antara para pengamat mulai menyadari bahwa kemampuan pedang putra ketiga Valerius jauh berbeda dari reputasi lemahnya.

End of Chapter 4