Ruang Penilaian Mana Akademi Kekaisaran Valoria dipenuhi suara percakapan para siswa baru.
Ruangan itu menyerupai aula pengadilan, dengan langit-langit tinggi, pilar marmer putih, dan lambang kerajaan yang terukir pada lantai. Di bagian depan, sembilan kristal pengukur berdiri di atas dudukan perak. Setiap kristal terhubung dengan lingkaran sihir yang akan mengukur kapasitas mana, afinitas elemen, dan kestabilan energi seorang siswa.
Bagi sebagian besar peserta, pemeriksaan ini hanyalah langkah pertama menuju kehidupan akademi.
Bagi Gideon von Valerius, pemeriksaan itu merupakan risiko yang harus ia kelola.
“Peserta berikutnya, Gideon von Valerius.”
Bisikan segera memenuhi ruangan.
“Putra ketiga Duke Valerius?”
“Katanya dia sakit-sakitan.”
“Kalau begitu, apa gunanya penilaian mana?”
Gideon berjalan menuju meja pemeriksaan tanpa menoleh. Seragam biru dongker dan peraknya terlihat rapi, kedua tangannya tetap terbungkus sarung tangan hitam.
Di belakang meja berdiri seorang penyihir akademi berusia sekitar lima puluh tahun. Jubah abu-abunya dihiasi lambang lingkaran sihir, sementara sebuah lencana perak menandakan kedudukannya sebagai penguji senior.
“Letakkan tanganmu di atas kristal pertama,” perintahnya.
Gideon berhenti.
“Apakah sarung tangan boleh tetap dipakai?”
Penguji itu mengerutkan kening. “Pengukuran mana dilakukan melalui resonansi energi. Sarung tangan biasa dapat mengganggu hasilnya.”
“Ini perlengkapan medis.”
“Kalau begitu, kita akan mencatat keterbatasan pengukuran. Namun, kau harus meletakkan tanganmu di atas kristal.”
Beberapa siswa tersenyum kecil, menantikan kesulitan yang mungkin dialami pewaris utara itu.
Gideon menatap kristal bening di hadapannya.
Ia bisa menolak. Ia juga bisa meminta pemeriksaan khusus atas nama keluarganya. Namun, keduanya akan menarik perhatian yang tidak dibutuhkan.
Ia mengangkat tangan kanannya.
Sarung tangan hitam itu menyentuh permukaan kristal.
Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa.
Kemudian cahaya putih muncul di dalam kristal.
“Mana terdeteksi,” gumam penguji sambil memperhatikan jarum pengukur. “Kapasitas awal berada di bawah rata-rata. Afinitas elemen…”
Jarum itu berhenti.
Penguji mengerutkan kening, lalu memeriksa lingkaran sihir di bawah dudukan.
“Tidak ada afinitas yang terbaca?”
Salah seorang asisten mendekat. “Mungkin resonansinya belum stabil, Profesor.”
“Tidak. Kristal ini seharusnya dapat membaca setidaknya satu kecenderungan elemen.”
Penguji mengangkat sebuah pena dan mencatat sesuatu.
“Coba tahan tanganmu beberapa detik lagi.”
Gideon menurut.
Di balik sarung tangannya, sensasi dingin merayap dari telapak tangan menuju pergelangan. Bukan rasa sakit. Bukan pula aliran mana yang biasa ia rasakan ketika berlatih.
Sensasi itu lebih menyerupai tekanan dari ruang kosong.
Seolah-olah sesuatu di dalam dirinya sedang memperhatikan kristal tersebut.
Gideon segera menekan sensasi itu.
Terlambat.
Terdengar bunyi kecil.
Krek.
Sebuah garis hitam muncul di tengah kristal.
Penguji membeku.
Retakan itu tidak memancarkan api, tidak mengeluarkan petir, dan tidak menunjukkan tanda ledakan mana. Ia hanya merambat perlahan di permukaan kristal, meninggalkan jejak gelap yang tampak seperti noda pada kaca.
Lalu garis kedua muncul.
Ketiga.
Keempat.
Dalam hitungan detik, seluruh permukaan kristal dipenuhi retakan hitam.
“Lepaskan tanganmu!”
Gideon menarik tangannya.
Kristal itu pecah.
Bukan meledak ke segala arah, melainkan runtuh menjadi serpihan kecil yang jatuh ke dudukan perak. Tidak ada gelombang kejut. Tidak ada panas. Hanya suara pecahan kaca yang bergema di aula.
Keheningan menyusul.
Penguji senior menatap serpihan itu dengan wajah pucat.
“Mustahil…”
Asistennya segera mengaktifkan lingkaran pemeriksaan sekunder. Cahaya biru menyapu dudukan, memeriksa sisa energi yang tertinggal.
Hasilnya muncul di atas permukaan lingkaran.
Residu mana: tidak terdeteksi.
Asisten itu menelan ludah.
“Profesor, bahkan tidak ada jejak elemen yang bisa dianalisis.”
“Periksa ulang.”
“Sudah saya lakukan.”
“Sekali lagi!”
Asisten tersebut mengulangi pemeriksaan. Hasilnya tetap sama.
Gideon berdiri diam.
Ia tidak memahami sepenuhnya apa yang baru saja terjadi. Namun, ia tahu satu hal: sesuatu di dalam dirinya telah bereaksi terhadap kristal itu, dan reaksi tersebut tidak meninggalkan jejak yang dapat dibaca oleh sihir biasa.
Ia menurunkan tangannya.
“Apakah pemeriksaannya sudah selesai?”
Pertanyaan sederhana itu membuat beberapa siswa menoleh kepadanya dengan ekspresi tidak percaya.
Penguji senior menatap Gideon, lalu sarung tangan hitamnya.
“Siapa yang membuat perlengkapan itu?”
“Seorang ahli pandai besi.”
“Nama?”
Gideon terdiam sepersekian detik.
“Master Bramur Ironhand.”
Nama itu membuat penguji mengangkat alis. Bramur dikenal di kalangan tertentu sebagai pengrajin logam khusus yang menerima pekerjaan dari keluarga-keluarga besar, tetapi jarang muncul dalam urusan akademi.
“Apakah kau mengetahui bahan yang digunakan?”
“Tidak seluruhnya.”
Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Gideon mengetahui bahwa sarung tangannya menggunakan Null-Steel untuk mengisolasi erosi hampa yang keluar dari tubuhnya. Namun, ia tidak mengetahui setiap rincian teknis yang digunakan Bramur untuk menyempurnakan lapisan isolasinya.
Penguji senior mengembuskan napas panjang.
“Pemeriksaan ini dihentikan sementara. Kristal harus diganti dan diperiksa oleh bagian artefak.”
“Lalu hasil saya?”
“Kami akan menggunakan pemeriksaan alternatif.”
Gideon mengangguk. “Baik.”
Ia berbalik dan meninggalkan meja pemeriksaan.
Tidak ada yang menghentikannya.
Namun, tatapan yang mengikutinya kini berbeda.
Sebelumnya, mereka melihat seorang pemuda sakit-sakitan dari keluarga adipati. Sekarang, mereka melihat seseorang yang sentuhannya membuat artefak pengukur mana hancur tanpa meninggalkan residu yang bisa dijelaskan.
Di antara kerumunan, seorang siswa berambut merah gelap menyipitkan mata.
Lencana berbentuk salamander terpasang di kerah seragamnya.
“Valerius…” gumamnya. “Menarik.”
---
Pemeriksaan alternatif dilaksanakan di ruangan yang lebih kecil.
Tidak ada kristal pengukur mana. Hanya sebuah lingkaran sihir yang dirancang untuk mengukur respons tubuh terhadap energi elemental dari jarak tertentu.
Penguji senior berdiri di balik penghalang tipis.
“Berdirilah di tengah lingkaran. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kami hanya akan melepaskan sejumlah kecil mana dan mengamati respons tubuhmu.”
Gideon berdiri di tempat yang ditentukan.
Sebuah bola cahaya menyala di atas telapak tangan penguji. Energi angin mengalir menuju lingkaran, membentuk pusaran lembut di sekitar kaki Gideon.
Tidak ada reaksi.
Penguji mengganti afinitas menjadi api.
Sekali lagi, tidak ada reaksi berarti.
Petir, air, tanah, dan cahaya menyusul. Lingkaran sihir membaca respons yang lemah atau tidak konsisten, tetapi tidak menunjukkan anomali seperti sebelumnya.
Ketika pemeriksaan selesai, penguji mencatat hasil akhir.
“Afinitas elemental tidak dapat dipastikan. Respons mana rendah dan tidak stabil. Untuk sementara, kau akan ditempatkan dalam kelompok siswa tingkat menengah.”
Gideon menerima lembar hasilnya.
“Dimengerti.”
Penguji tampak ingin bertanya lebih banyak, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya.
“Jaga kondisi tubuhmu. Jika terjadi gejala yang tidak biasa, laporkan kepada petugas medis akademi.”
Gideon meninggalkan ruangan.
Di koridor, suara percakapan para siswa kembali terdengar.
“Jadi, hasilnya rendah?”
“Kristalnya saja yang rusak. Mungkin sudah tua.”
“Kalau begitu, kenapa tidak ada residu mana?”
“Entahlah. Mungkin alatnya memang bermasalah.”
Penjelasan itu menyebar dengan cepat karena jauh lebih mudah diterima daripada kemungkinan bahwa seorang siswa baru menyimpan sesuatu yang tidak dipahami oleh sistem sihir akademi.
Gideon membiarkan mereka mempercayainya.
Ia berhenti di depan jendela yang menghadap halaman latihan. Di bawah sana, para siswa mulai berbaris untuk penilaian kemampuan fisik dan penggunaan senjata.
Tangannya terangkat sedikit.
Sarung tangan hitamnya tampak normal, tanpa retakan atau perubahan warna.
Namun, di bagian dalam telapak tangannya, sensasi dingin itu masih ada.
Gideon mengepalkan tangan.
“Jadi, kau bisa bereaksi…”
Suaranya begitu pelan hingga hampir tenggelam oleh suara koridor.
Ia tidak tahu apakah yang bereaksi adalah tubuhnya, jiwanya, atau sesuatu yang lebih tua daripada mana itu sendiri.
Tetapi ia tahu bahwa kejadian tadi bukan kerusakan biasa.
Dan jika para penguji menemukan cara untuk mengulanginya, rahasia yang selama ini dijaga keluarganya mungkin tidak akan bertahan lama.
Gideon memasukkan lembar hasil pemeriksaan ke dalam saku.
Ia harus mencari tahu apa yang terjadi.
Namun, bukan di sini.
Bukan di hadapan orang-orang yang bahkan tidak mampu menjelaskan apa yang mereka lihat.
Di luar jendela, lonceng akademi berdentang tiga kali, menandai dimulainya penilaian berikutnya.
Gideon berbalik dan berjalan menuju aula.
Di belakangnya, seorang asisten penguji memasuki ruang pemeriksaan yang telah dikosongkan. Ia berjongkok di depan dudukan kristal yang pecah, lalu menemukan satu serpihan kecil dengan noda hitam pada permukaannya.
Ketika ia mendekatkannya ke alat pendeteksi, jarum alat itu bergerak sedikit.
Lalu berhenti.
Bukan pada tanda mana.
Bukan pada tanda elemen.
Melainkan pada sebuah simbol tua yang hampir tidak pernah muncul dalam catatan akademi.
Asisten itu tidak mengenal simbol tersebut.
Namun, di bagian bawah lembar pemeriksaan rahasia yang tersimpan di dalam laci penguji senior, simbol serupa pernah digambarkan dengan tinta merah.
Di sampingnya tertulis satu kalimat:
Jangan biarkan anomali hampa mencapai Gereja.
Bersambung.
Teaser Bab 3 — Bayangan di Balik Catatan
Laporan kerusakan kristal seharusnya berhenti di meja penguji. Namun, sebuah salinan diam-diam dikirim ke pihak yang tidak tercantum dalam struktur akademi. Malam itu, seseorang mulai mencari nama Gideon von Valerius.