Chapter 1 of 4

Bab 1 — Anomali di Balik Gerbang Akademi

1.0k words

Salju turun di utara Kekaisaran Valoria. Di balik dinding-dinding hitam Benteng Valerius, angin mengguncang panji-panji perak bergambar serigala. Para ksatria berpatroli di atas menara, sementara derap kuda dan denting baja terdengar dari halaman latihan. Di wilayah utara, kelemahan bukan sekadar aib. Kelemahan bisa berarti kematian. Namun, jauh dari hiruk-pikuk para prajurit, sebuah paviliun berdiri terpisah dari kediaman utama keluarga adipati. Tidak ada penjaga yang berbicara keras di dekatnya. Tidak ada pelayan yang berani masuk tanpa izin. Bahkan para penyihir keluarga Valerius hanya mendekati bangunan itu ketika dipanggil secara khusus. Di balik jendela paviliun, seorang pemuda duduk di depan meja kayu. Gideon von Valerius. Putra ketiga Duke Eirik von Valerius—sang Iron Duke, penguasa utara yang namanya cukup untuk membuat para komandan musuh berpikir dua kali sebelum menyeberangi perbatasan. Rambut Gideon hitam pekat, sedikit berantakan dengan beberapa helai cyan yang menyelip di antara poninya. Mata biru keabu-abuan menatap lembaran surat di hadapannya. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi. Kedua tangannya terbungkus sarung tangan hitam. Di luar, seorang pelayan mengetuk pintu. “Tuan muda, kereta dari kediaman utama telah tiba. Yang Mulia Duke meminta Anda menemuinya sebelum keberangkatan.” Gideon melipat surat itu. “Baik.” Hanya satu kata. Pelayan itu membungkuk sebelum mundur. Gideon berdiri, merapikan seragam akademi berwarna biru dongker dan perak yang dikenakannya, kemudian mengambil mantel tipis dari sandaran kursi. Hari ini, ia akan meninggalkan wilayah utara. Tujuannya adalah Akademi Kekaisaran Valoria, institusi yang mendidik para pewaris bangsawan, calon komandan, penyihir berbakat, dan orang-orang yang kelak akan menentukan nasib kekaisaran. Bagi kebanyakan pemuda, undangan akademi adalah kehormatan. Bagi Gideon, itu adalah panggung baru yang penuh mata pengawas. --- Duke Eirik menunggu di aula utama. Tubuhnya yang menjulang dibalut seragam militer hitam-perak. Mantel bulu serigala menggantung di bahunya, sementara rambut hitam bercampur kelabu dan tatapan abu-abu baja membuatnya tampak seperti patung perang yang diberi kehidupan. Di sisi kanannya berdiri Valen, putra sulung keluarga, dengan postur seorang prajurit garis depan. Caelen berada tidak jauh dari sana, berpakaian rapi dengan senyum tipis yang sulit dibaca. Evelyn, si bungsu, justru menjadi orang pertama yang menghampiri Gideon. “Kak Gideon!” Ia membawa sebuah kotak kecil yang diikat pita biru muda. “Aku menyiapkan kue untuk perjalananmu. Jangan lupa dimakan, ya.” Gideon menatap kotak itu sejenak sebelum menerimanya dengan kedua tangan bersarung. “Terima kasih, Evelyn.” Senyum adiknya melebar. “Kakak harus mengirim surat begitu sampai!” “Akan kuusahakan.” “Bukan diusahakan. Harus!” Caelen tertawa pelan. “Kalau kau terus memerintahnya, mungkin dia akan memilih tinggal di paviliunnya saja.” “Aku tidak akan membiarkan Kak Gideon kesepian di sana!” Kalimat itu membuat aula hening sesaat. Gideon tidak menjawab. Ia hanya mengusap kepala Evelyn dengan gerakan hati-hati, memastikan sarung tangannya tetap terpasang. Di seberang aula, Eirik memperhatikan mereka tanpa mengubah ekspresi. Ada sesuatu di balik tatapan dingin sang adipati. Sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan dengan mudah. Ketakutan. Bukan terhadap musuh di perbatasan. Bukan pula terhadap kekaisaran atau para bangsawan yang mengincar kedudukannya. Ia takut kehilangan satu anak lagi. Sejak kematian Clara, istrinya, Eirik memperlakukan keberadaan Gideon dengan kehati-hatian yang terkadang menyerupai kurungan. Gideon sendiri tumbuh di tengah perlindungan berlapis, dikelilingi peralatan isolasi dan aturan yang tidak pernah dijelaskan sepenuhnya kepadanya. Bagi dunia luar, ia hanyalah anak adipati yang sakit-sakitan. Dan untuk saat ini, Eirik berniat mempertahankan kebohongan itu. “Gideon,” panggilnya. Gideon segera menghadap. “Di akademi, jangan menarik perhatian yang tidak perlu. Ikuti pelajaranmu. Jangan memaksakan kondisi tubuhmu.” “Dimengerti, Ayah.” Valen menyilangkan tangan. “Akademi bukan tempat untuk bersembunyi di balik nama keluarga. Jika kau tidak sanggup mengikuti standar mereka, setidaknya jangan mempermalukan House Valerius.” “Valen,” tegur Eirik singkat. “Aku hanya mengatakan kenyataan.” Gideon memandang kakaknya tanpa menunjukkan kejengkelan. “Aku akan mengingatnya.” Jawaban yang terlalu tenang itu membuat Valen mengerutkan kening. Ia mengharapkan pembelaan diri, atau setidaknya sedikit rasa tersinggung. Namun, Gideon sudah berbalik menuju pintu. Seolah-olah perkataan Valen tidak cukup penting untuk dipikirkan lebih lama. --- Perjalanan menuju Valoria Prime memakan waktu beberapa hari. Di sepanjang jalan, Gideon melihat perubahan lanskap dari hamparan salju utara menuju dataran hijau, desa-desa perdagangan, dan jalan berbatu yang semakin ramai mendekati ibu kota. Ketika kereta akhirnya melewati gerbang Valoria Prime, ia melihat menara-menara putih menjulang di antara atap bangunan berwarna cerah. Jembatan batu melintasi kanal, kristal sihir menerangi jalan, dan kereta para bangsawan bergerak di antara pedagang serta warga kota. Kekaisaran ini indah. Namun, Gideon tahu bahwa keindahan tidak selalu berarti ketertiban. Di balik fasad megahnya, kekuasaan dibangun melalui perjanjian, ancaman, utang, dan rahasia. Empat Grand Duke menjaga keseimbangan kekaisaran, sementara keluarga kerajaan dan Gereja Keabadian terus memperluas pengaruh masing-masing. Akademi Kekaisaran berdiri di pusat semua itu. Gerbang utamanya dihiasi lambang kerajaan dan patung para pahlawan terdahulu. Ratusan siswa baru memenuhi halaman, sebagian mengenakan pakaian keluarga bangsawan, sebagian lain membawa perlengkapan sederhana sebagai penerima beasiswa. Bisikan mulai terdengar saat lambang serigala perak di kereta Gideon terlihat. “House Valerius?” “Itu putra ketiganya, bukan? Kudengar dia sakit sejak kecil.” “Kenapa mengirimnya ke akademi?” “Politik, mungkin. Keluarga adipati selalu punya alasan.” Gideon turun tanpa menanggapi. Tatapan mereka terasa biasa saja baginya. Selama bertahun-tahun, ia telah terbiasa menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang tidak mengetahui apa pun tentang dirinya. Seorang petugas akademi menghampirinya dengan membawa papan registrasi. “Gideon von Valerius?” “Benar.” “Selamat datang di Akademi Kekaisaran Valoria. Anda akan menjalani pemeriksaan awal, penilaian kemampuan, dan penempatan tingkat siswa. Silakan mengikuti saya.” Gideon mengangguk. Di balik sarung tangannya, jemarinya bergerak sedikit. Jauh di dalam tubuhnya, sesuatu berdenyut. Bukan mana api. Bukan petir suci. Bukan pula kegelapan yang dikenal para penyihir. Sesuatu yang sunyi, dingin, dan terasa seperti lubang tanpa dasar. Gideon menekan sensasi itu hingga kembali mereda. Belum waktunya. Ia melangkah melewati gerbang akademi dengan ekspresi yang sama seperti ketika berangkat dari utara. Bagi orang-orang yang melihatnya, ia hanyalah Gideon von Valerius—putra adipati yang rapuh, pewaris nama besar dengan tubuh yang konon tidak mampu menanggung kekuatan keluarganya. Mereka tidak tahu bahwa di balik sarung tangan hitam itu, ada sesuatu yang bahkan belum dipahami oleh pemiliknya sendiri. Sesuatu yang tidak membakar mana. Tidak memantulkan cahaya. Tidak meninggalkan abu. Sesuatu yang mampu membuat keberadaan itu sendiri menghilang. Dan untuk pertama kalinya, anomali itu telah memasuki tempat yang dipenuhi calon pemimpin kekaisaran. Bersambung. Teaser Bab 2 — Penilaian yang Tidak Wajar Pemeriksaan awal seharusnya menjadi prosedur sederhana. Namun, ketika kristal pengukur mana menyentuh tangan Gideon, alat itu justru menunjukkan hasil yang mustahil. Para pengawas mengira kristalnya rusak—sampai sebuah retakan hitam muncul di permukaannya.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter