Chapter 9 of 75

Chapter 9 — Yang Memilih untuk Tinggal

1.2k words

Tiga hari berlalu sejak pertemuan Julian dengan Moon Lynx. Julian tidak kembali ke tempat itu. Bukan karena ia melupakannya. Justru sebaliknya. Ia sengaja tidak kembali. Jika makhluk itu benar-benar liar dan hanya membutuhkan bantuan sesaat, Julian tidak ingin membuatnya merasa terikat. Ia sudah cukup mengenal makhluk hidup untuk memahami satu hal sederhana. Kepercayaan tidak bisa dipaksa. Pagi itu, Julian kembali masuk ke hutan bersama busurnya. Langkahnya lebih ringan dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Latihan bersama Edmund mulai menunjukkan hasil. Tubuhnya memang masih kecil, tetapi ia mulai memahami batasnya. Ia tidak lagi memaksakan kecepatan maksimal. Ia belajar mengatur tenaga. Memilih kapan harus bergerak cepat dan kapan harus diam. Itu bukan sesuatu yang baru bagi Adrian. Yang baru adalah melakukannya dengan tubuh yang berbeda. Julian berhenti di dekat sebuah pohon. Ada jejak kaki kecil di tanah. Ia berjongkok. Jejaknya sama seperti yang ia lihat tiga hari lalu. Moon Lynx. Julian melihat ke arah pepohonan. Tidak ada apa-apa. Ia berdiri dan melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian, terdengar suara. Krek. Julian berhenti. Bukan suara langkah besar. Terlalu ringan. Ia menoleh ke belakang. Moon Lynx itu berdiri sekitar lima belas meter darinya. Julian tidak tersenyum berlebihan. Ia hanya mengangguk. “Kau datang.” Moon Lynx menatapnya. Kemudian duduk. Julian berjongkok. “Kakimu sudah lebih baik?” Moon Lynx mengangkat salah satu kaki belakangnya. Masih sedikit pincang. Julian membuka tas kecil yang dibawanya. Ia memiliki kain bersih dan beberapa tanaman obat sederhana yang diberikan Scarlet untuk perjalanan berburu. Julian meletakkannya di tanah. “Kalau kau mau, aku bisa membantu.” Moon Lynx tidak bergerak. Julian menunggu. Satu menit. Dua menit. Kemudian makhluk itu berjalan perlahan mendekat. Julian tetap diam. Moon Lynx berhenti sekitar dua meter di depannya. Ia mencium kain tersebut. Kemudian melihat Julian. Julian mengulurkan tangan, tetapi tidak langsung menyentuhnya. “Boleh?” Moon Lynx mundur sedikit. Julian menarik tangannya kembali. “Baik.” Ia tersenyum kecil. “Kita tunggu.” Mereka kembali diam. --- Hampir setengah jam berlalu. Akhirnya Moon Lynx maju. Ia duduk di depan Julian. Julian perlahan mendekatkan tangannya. Kali ini tidak ada penolakan. Tangannya menyentuh bulu biru-keabu-abuan itu. Lembut. Hangat. Moon Lynx sedikit menegang. Julian berhenti. Namun makhluk itu tidak pergi. Julian memeriksa kakinya. Lukanya tidak terlalu dalam, tetapi terdapat goresan panjang di bagian bawah kaki. Mungkin terkena batu tajam. Julian membersihkannya perlahan. Moon Lynx sesekali menggeram kecil. “Sedikit lagi.” Julian bekerja dengan hati-hati. Setelah selesai, ia membalut lukanya. Moon Lynx menatap kakinya. Kemudian menatap Julian. “Kau tidak suka manusia?” Moon Lynx hanya berkedip. “Sepertinya begitu.” Julian duduk bersandar pada pohon. “Kau tidak harus menyukaiku.” Moon Lynx mendekat. Julian mengangkat alis. Makhluk itu duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tetapi cukup dekat. Julian tersenyum. “Begitu rupanya.” Untuk beberapa saat, mereka hanya menikmati suasana hutan. Burung-burung berkicau. Daun bergerak tertiup angin. Cahaya matahari menembus sela-sela ranting. Julian merasa tenang. Sangat tenang. Tidak ada perintah. Tidak ada target. Tidak ada organisasi. Tidak ada suara orang yang menyuruhnya membunuh. Hanya hutan. Dan seekor makhluk yang memilih duduk di sampingnya. --- “Julian!” Suara dari kejauhan membuat Moon Lynx langsung berdiri. Julian mengenali suara itu. Elena. Ia menghela napas. “Sepertinya aku harus pulang.” Moon Lynx memandangnya. Julian berdiri. Makhluk itu ikut berdiri. “Kau mau ikut?” Moon Lynx tidak bergerak. Julian menunjuk ke arah rumah. “Kau tidak perlu.” Ia mengambil busurnya. Kemudian berjalan. Beberapa langkah kemudian, ia mendengar suara kaki kecil di belakangnya. Julian berhenti. Menoleh. Moon Lynx masih mengikutinya. “Serius?” Makhluk itu duduk. Julian menghela napas kecil. “Kau keras kepala.” Moon Lynx berdiri kembali. Mereka berjalan bersama. Namun ketika hutan mulai mendekati batas wilayah rumah, Julian berhenti. “Dari sini aku harus pergi sendiri.” Moon Lynx memandangnya. Julian menunjuk hutan. “Ini wilayahmu.” Kemudian menunjuk dirinya sendiri. “Ini rumahku.” Moon Lynx tidak bergerak. Julian berbalik dan berjalan. Beberapa langkah. Lima. Sepuluh. Lalu ia mendengar suara langkah lagi. Julian menoleh. Moon Lynx masih mengikutinya. “Bukankah aku sudah bilang?” Moon Lynx mendekat. Julian berjongkok. “Kau ingin ikut denganku?” Makhluk itu menyentuhkan kepalanya ke tangan Julian. Julian terdiam. Kemudian tertawa kecil. “Baiklah.” Ia mengusap kepalanya. “Kalau begitu, kau yang memilih.” --- Ketika Julian keluar dari hutan, Elena langsung melihatnya. Ia awalnya hendak memarahinya. “Kau dari mana—” Kalimatnya terhenti. Matanya membesar. “Apa itu?” Julian berdiri. Di belakangnya terdapat Moon Lynx. Scarlet yang baru keluar dari rumah juga langsung berhenti. “Oh.” Elena perlahan mendekat. “Julian...” “Ya?” “Itu Moon Lynx?” Julian mengangguk. Scarlet memperhatikan makhluk tersebut. Moon Lynx langsung mundur sedikit. “Jangan mendekat terlalu cepat,” kata Julian. Elena berhenti. “Dia takut?” “Tidak sepenuhnya.” Julian melihat Moon Lynx. “Dia hanya belum percaya.” Elena berjongkok. “Aku boleh menyentuhnya?” Julian menatap Moon Lynx. Makhluk itu tidak mendekat. “Sepertinya belum.” Elena cemberut. “Padahal aku suka kucing.” Moon Lynx menatap Elena. Elena menatap balik. “Dia benar-benar cantik.” Scarlet tersenyum. “Dari mana kau menemukannya?” “Di dalam hutan.” Julian menjelaskan bagaimana ia menemukan Moon Lynx dan merawat lukanya. Scarlet mendengarkan dengan serius. Setelah selesai, ia memandang Julian. “Dan dia memilih mengikutimu?” Julian mengangguk. “Sepertinya begitu.” Scarlet tersenyum. “Kalau begitu jangan paksa dia menjadi sesuatu yang bukan dirinya.” Julian mengangguk. “Aku tahu.” Scarlet kemudian memandang Moon Lynx. “Kalau dia ingin tinggal, kita bisa menyiapkan tempat untuknya.” Elena langsung bersorak. “Benarkah?” Scarlet tertawa. “Tentu. Tapi kau yang bertanggung jawab membersihkan bulunya kalau nanti dia membuat rumah berantakan.” Senyum Elena langsung hilang. “...Aku berubah pikiran.” Julian tertawa kecil. Moon Lynx memandang mereka bertiga. Kemudian berjalan mendekati Julian. Ia duduk di samping kakinya. Elena menatap pemandangan itu. “Dia benar-benar memilih Julian.” Julian mengusap kepalanya. “Sepertinya.” “Sudah punya nama?” Julian berhenti. Ia melihat Moon Lynx. “Belum.” “Kenapa?” “Aku belum menemukan nama yang cocok.” Elena berpikir. “Bagaimana kalau Luna?” Julian menggeleng. “Terlalu biasa.” “Moon?” “Tidak.” “Silver?” “Tidak.” Elena mulai kesal. “Kalau begitu kau saja yang pikirkan!” Julian tersenyum. “Memang itu rencanaku.” Moon Lynx menutup matanya ketika tangan Julian mengusap kepalanya. Nama itu belum ada. Dan Julian tidak terburu-buru memberikannya. Karena untuk pertama kalinya, ia ingin nama tersebut muncul dari hubungan yang mereka bangun. Bukan sekadar nama yang terdengar bagus. --- Malamnya, Julian duduk di kamarnya. Moon Lynx tidur di atas karpet dekat jendela. Ia belum terbiasa dengan rumah. Sesekali telinganya bergerak mendengar suara dari luar. Julian membuka buku catatan. Ia menulis: Moon Lynx — ditemukan di hutan. Kemudian ia berhenti. Ia ingin menulis lebih banyak. Namun akhirnya hanya menambahkan: Dia memilih untuk tinggal. Julian menatap kalimat tersebut. Entah kenapa, kalimat itu terasa jauh lebih penting daripada seharusnya. Di kehidupan sebelumnya, tidak ada yang memilih untuk tinggal bersamanya. Orang-orang datang karena pekerjaan. Pergi karena perintah. Mati karena misi. Semua hubungan memiliki tujuan. Sekarang berbeda. Keluarganya tidak membutuhkan alasan untuk mencintainya. Edmund tidak membutuhkan alasan untuk melindunginya. Dan makhluk kecil di dekat jendela itu... Tidak membutuhkan alasan untuk berjalan bersamanya. Julian menutup buku. Ia memandang Moon Lynx. “Terima kasih.” Telinga makhluk itu bergerak. Julian tersenyum. “Besok kita cari namamu.” Moon Lynx kembali tidur. Di luar jendela, bulan bersinar di atas hutan. Dan untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kehidupan kedua, Julian mulai menyadari sesuatu. Mungkin kehidupan normal yang selama ini ia cari bukan berarti hidup tanpa bahaya. Mungkin kehidupan normal adalah memiliki tempat untuk pulang. Orang-orang yang menunggunya. Dan seseorang yang memilih berjalan di sampingnya tanpa pernah meminta apa pun sebagai balasan. Julian mematikan lampu. Besok adalah hari baru. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak keberatan jika hari esok datang.

End of Chapter 9