Chapter 8 of 75

Chapter 8 — Tubuh yang Belum Selesai Tumbuh

1.1k words

Pagi berikutnya, Julian kembali berada di halaman belakang kediaman Varell. Namun kali ini, ia tidak membawa tongkat kayu. Edmund juga tidak. Di atas meja kecil yang berada di sisi halaman terdapat beberapa benda: busur milik Julian, beberapa anak panah latihan, sebuah pedang kayu, dan sebuah batu kecil berwarna biru pucat. Julian berhenti beberapa langkah dari meja. “Edmund.” “Tuan Muda.” “Apa itu?” Edmund menunjuk batu biru tersebut. “Mana Crystal.” Julian langsung memperhatikannya. Batu itu memancarkan cahaya samar. “Bukankah saya belum bisa merasakan mana?” “Benar.” “Lalu kenapa membawanya?” “Karena hari ini kita tidak akan memaksa Anda merasakan mana.” Julian menatap Edmund. “Kita akan mencari tahu apa yang tubuh Anda mampu lakukan.” Edmund mengambil pedang kayu. “Duke mengatakan bahwa beberapa minggu terakhir Anda mulai bergerak semakin cepat ketika berburu.” Julian mengangguk. “Benar.” “Dan setelahnya?” “Saya cepat lelah.” “Nyeri?” “Tidak.” Edmund sedikit mengernyit. “Benar-benar tidak?” Julian berpikir sebentar. “Kadang tangan saya terasa berat.” Edmund mengangguk. “Itu yang ingin saya periksa.” Julian mengambil pedang kayu. Bobotnya ringan. Terlalu ringan dibandingkan senjata yang pernah ia gunakan dalam kehidupan sebelumnya. Tetapi untuk tubuh enam tahun, pedang itu tetap cukup berat. “Serang.” Julian maju. Satu langkah. Pedang kayu bergerak. Cepat. Edmund menangkis. Tak! Julian memutar pergelangan tangan dan langsung mengubah arah serangan. Tak! Serangan kedua. Ketiga. Keempat. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada ayunan berlebihan. Setiap gerakan memiliki tujuan. Edmund tidak memberikan instruksi. Ia hanya mengamati. Julian meningkatkan kecepatan. Langkahnya semakin pendek. Tubuhnya merendah. Pedang kayu bergerak dari kanan ke kiri, kemudian kembali ke arah bahu. Edmund menangkis semuanya. Lalu— Julian berhenti. Napasnya mulai berat. Edmund menurunkan pedangnya. “Cukup.” Julian berdiri diam. “Berapa lama?” “Kurang dari dua menit.” Julian melihat tangannya. Jarinya sedikit gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena kehilangan kendali. Karena tubuhnya kelelahan. Edmund mengambil pedang kayu dari tangannya. “Sekarang Anda mengerti masalahnya?” Julian mengangguk. “Tubuh saya tidak mampu mempertahankan apa yang bisa dilakukan pikiran saya.” “Benar.” Edmund duduk di kursi. “Anda memiliki pengalaman yang jauh melampaui usia Anda.” Julian tidak menjawab. “Cara Anda membaca lawan tidak seperti anak enam tahun.” Edmund tidak bertanya bagaimana Julian mendapatkan kemampuan itu. Ia hanya melanjutkan. “Namun pengalaman tidak membuat tubuh menjadi lebih besar.” Julian melihat kedua tangannya. “Jadi saya harus menunggu.” “Tidak.” Jawaban Edmund membuat Julian menoleh. “Menunggu bukan berarti diam.” Edmund mengambil Mana Crystal. “Anda harus membuat tubuh Anda berkembang sampai mampu mengejar kemampuan yang sudah Anda miliki.” Julian memahami maksudnya. “Latihan fisik.” “Latihan fisik.” “Kontrol gerakan.” “Benar.” “Dan mana.” Edmund tersenyum. “Pada waktunya.” Julian memandang Mana Crystal. “Seberapa penting mana?” “Di Aetheria?” Edmund meletakkan crystal tersebut di meja. “Sangat penting.” Ia menjelaskan dengan tenang. “Mana ada di hampir seluruh dunia. Tanah, udara, tanaman, monster, manusia. Tetapi kemampuan menggunakan mana berbeda-beda pada setiap orang.” “Dan saya?” “Belum diketahui.” Julian menyentuh permukaan crystal. Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada cahaya. Tidak ada reaksi. Edmund tidak terlihat kecewa. “Belum.” Julian menatap crystal itu. “Belum?” “Jangan terburu-buru memberi kesimpulan.” Edmund berdiri. “Tubuh Anda masih berkembang. Ada banyak hal yang belum terbuka.” Julian menarik tangannya. “Kalau begitu saya akan menunggu.” Edmund tersenyum. “Bukan menunggu.” Ia menunjuk pedang kayu. “Bersiap.” --- Latihan berubah setelah hari itu. Tidak lagi berupa pelajaran dasar. Edmund mulai memberikan Julian latihan yang jauh lebih spesifik. Lari jarak pendek. Lari jarak jauh. Latihan keseimbangan dengan tubuh kecilnya. Latihan menggunakan busur. Latihan mempertahankan posisi. Dan yang paling penting— mengendalikan kecepatan. Julian sudah tahu bagaimana bergerak cepat. Masalahnya adalah kapan harus berhenti. Pada awalnya, tubuhnya sering gagal mengikuti keputusan pikirannya. Sebuah lompatan yang menurut pikirannya sederhana membuat kakinya mendarat terlalu keras. Sebuah gerakan menghindar membuat bahunya menabrak pohon. Sebuah serangan yang seharusnya bisa dihentikan dengan mudah membuat pergelangan tangannya terasa sakit. Bukan karena tekniknya salah. Karena tubuhnya belum terbiasa. Dan Julian mulai memahami sesuatu. Tubuh ini bukan tubuh Adrian. Ia tidak bisa memperlakukannya seperti tubuh yang telah ditempa puluhan tahun. Ia harus membangunnya dari awal. Tetapi bukan dari nol. Itulah perbedaannya. --- Dua minggu kemudian. Julian kembali pergi berburu. Hutan di belakang kediaman Varell terasa familiar. Ia berjalan perlahan sambil membawa busur. Tidak ada target tertentu. Ia hanya ingin menguji perkembangan tubuhnya. Seekor kelinci muncul di antara semak. Julian menarik busur. Tarik. Tahan. Lepaskan. Anak panah melesat. Tepat mengenai tanah beberapa sentimeter di depan kelinci. Kelinci itu langsung melarikan diri. Julian menghela napas. “Sedikit terlalu cepat.” Ia tidak kecewa. Justru tersenyum. Dulu, ia akan langsung menyesuaikan. Sekarang ia mencoba memahami kenapa tubuhnya melakukan kesalahan. Ia mengambil anak panah lain. Beberapa menit kemudian, ia mencoba lagi. Kali ini lebih tenang. Tarik. Tahan. Lepas. Panah mengenai sasaran. Julian berjalan mengambil hasil buruannya. Namun sebelum sempat kembali— Ia berhenti. Suara. Sangat samar. Daun bergeser. Bukan angin. Julian menurunkan tubuhnya. Tangannya perlahan bergerak menuju pisau kecil yang dibawanya. Ia tidak melihat apa pun. Tetapi instingnya mengatakan ada sesuatu di dekatnya. Julian memejamkan mata. Mendengarkan. Detak. Napas. Gerakan kecil di balik semak. Satu. Ia membuka mata. Bukan monster besar. Bukan manusia. Seekor makhluk kecil berwarna biru keabu-abuan sedang berdiri di antara pepohonan. Seekor anak kucing? Bukan. Julian memperhatikannya. Tubuhnya menyerupai kucing besar, tetapi telinganya memiliki ujung hitam. Dan di dahinya terdapat tanda berbentuk bulan sabit. Makhluk itu menatap Julian. Tidak menyerang. Tidak melarikan diri. Hanya menatap. Julian menurunkan pisaunya. “Kau bukan monster yang pernah kulihat.” Makhluk itu memiringkan kepala. Julian berjongkok. Jarak mereka sekitar sepuluh meter. Ia tidak mendekat. Makhluk itu terlihat waspada. Ada sesuatu yang aneh dari auranya. Julian bisa merasakan keberadaan mana yang sangat samar. “Moon Lynx...?” Nama itu muncul dari ingatannya setelah membaca buku mengenai makhluk hutan. Salah satu spesies langka. Cerdas. Sensitif terhadap mana. Dan biasanya menghindari manusia. Julian tidak bergerak. Moon Lynx itu juga tidak. Beberapa detik berlalu. Kemudian Julian melihat sesuatu. Kaki belakang makhluk itu terluka. Tidak parah, tetapi cukup untuk membuatnya berjalan dengan sedikit pincang. Julian perlahan meletakkan busurnya di tanah. “Aku tidak akan menyakitimu.” Moon Lynx mundur satu langkah. Julian berhenti. Ia tidak memaksa. Tidak mendekat. Tidak mengulurkan tangan. Ia hanya duduk di tanah. Beberapa menit berlalu. Moon Lynx masih mengawasinya. Julian akhirnya mengambil sedikit makanan dari hasil buruannya dan meletakkannya di tanah. Kemudian ia mundur. “Aku akan pergi.” Ia berdiri. Moon Lynx menatapnya. Julian berjalan menjauh. Namun setelah beberapa langkah— Ia mendengar suara kecil di belakangnya. Ia menoleh. Moon Lynx itu masih berada di tempat yang sama. Tetapi sekarang ia mulai berjalan perlahan menuju makanan yang ditinggalkan Julian. Julian tersenyum kecil. Ia tidak kembali. Belum. Untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin makhluk itu membutuhkan waktu. Dan Julian mengerti sesuatu tentang itu. Tidak semua hubungan harus dipaksakan. Kadang-kadang, pilihan terbaik adalah memberi seseorang ruang untuk menentukan apakah mereka ingin mendekat. Julian kembali berjalan menuju rumah. Tanpa menyadari bahwa beberapa puluh meter di belakangnya, sepasang mata berwarna perak terus mengikutinya. Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali— Julian mulai memiliki seorang teman yang datang bukan karena nama House Varell. Bukan karena kekuatan. Bukan karena perintah. Melainkan karena pilihannya sendiri.

End of Chapter 8