Chapter 10 of 75
Chapter 10 — Nama yang Dipilih
916 words
Pagi di kediaman Varell dimulai dengan suara yang tidak biasa.
Bukan suara pelayan.
Bukan suara burung.
Bukan pula suara Elena yang memanggil Julian dari lorong.
Melainkan suara benda jatuh.
Brak!
Julian membuka mata.
Ia langsung duduk.
Dalam sepersekian detik, pikirannya sudah sepenuhnya sadar.
Tangannya bergerak ke arah meja di samping tempat tidur.
Kemudian ia berhenti.
Tidak ada ancaman.
Ia melihat ke bawah.
Moon Lynx berdiri di dekat sebuah vas kecil yang terjatuh dari meja.
Makhluk itu menatap pecahan vas.
Kemudian menatap Julian.
Julian menatapnya beberapa detik.
“Kau menjatuhkannya?”
Moon Lynx menggerakkan telinganya.
“Baiklah.”
Julian bangkit.
“Jangan lakukan lagi.”
Moon Lynx berjalan menjauh.
Julian menatapnya.
“Setidaknya pura-pura merasa bersalah.”
Tidak ada respons.
Julian tersenyum kecil.
“Dasar keras kepala.”
Ia mengambil pecahan vas.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar diketuk.
“Julian?”
Suara Elena.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Elena masuk dan langsung melihat pecahan vas.
“...”
Ia melihat Julian.
Kemudian Moon Lynx.
Kemudian kembali ke Julian.
“Dia yang melakukannya?”
Julian mengangguk.
Elena menyilangkan tangan.
“Aku sudah bilang.”
Julian mengangkat alis.
“Kapan?”
“Dalam pikiranku.”
Julian tertawa kecil.
“Kalau begitu aku tidak mungkin mendengarnya.”
Elena mendengus.
Namun beberapa detik kemudian ia malah tersenyum.
“Namanya sudah?”
“Belum.”
“Serius?”
“Serius.”
“Sudah dua hari.”
“Nama bukan sesuatu yang harus terburu-buru.”
Elena menatap Moon Lynx.
“Kau terlalu serius soal nama.”
“Mungkin.”
Elena kemudian duduk di tepi tempat tidur.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mencari bersama?”
Julian memandangnya.
“Boleh.”
Mereka mulai menyebutkan berbagai nama.
Luna.
Noir.
Silver.
Mira.
Astra.
Tidak ada yang cocok.
Moon Lynx bahkan tidak menunjukkan reaksi terhadap satu pun nama tersebut.
Elena mulai kehabisan ide.
“Bagaimana dengan Selene?”
Moon Lynx hanya menatapnya.
“Tidak.”
Julian menggeleng.
“Elena.”
“Apa?”
“Jangan menamainya seperti nama karakter dalam buku.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena dia bukan karakter dalam buku.”
Elena terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Benar juga.”
Moon Lynx berjalan mendekati Julian.
Ia duduk di dekat kakinya.
Julian mengusap kepalanya.
“Kau punya pendapat?”
Moon Lynx menatapnya.
Julian memperhatikan tanda bulan sabit di dahinya.
Kemudian ia teringat malam pertama ketika melihatnya.
Bulu biru-keabu-abuan.
Mata perak pucat.
Tenang.
Tidak mudah percaya.
Namun memilih tinggal.
Julian berpikir cukup lama.
“Lunara.”
Moon Lynx mengangkat kepala.
Elena memperhatikan.
“Dia bereaksi.”
Julian mengangguk.
“Lunara.”
Ia mengulanginya.
Moon Lynx mendekat.
Kemudian menyentuhkan kepalanya ke tangan Julian.
Elena tersenyum lebar.
“Sepertinya dia suka.”
Julian mengusap kepalanya.
“Kalau begitu mulai hari ini namamu Lunara.”
Lunara menutup mata.
Seolah menerima nama tersebut.
---
Setelah sarapan, Julian membawa Lunara ke halaman belakang.
Scarlet sudah menyiapkan tempat kecil untuknya di bawah pohon.
Bukan kandang.
Bukan tempat yang dikunci.
Hanya sebuah ruang nyaman dengan kain tebal dan mangkuk air.
Julian memperhatikannya.
“Ibu membuat ini?”
Scarlet mengangguk.
“Dia bukan hewan peliharaan biasa. Kalau memang ingin tinggal bersama kita, dia tetap harus punya tempat yang membuatnya nyaman.”
Julian tersenyum.
“Terima kasih.”
Scarlet mengusap rambut Julian.
“Kau senang?”
Julian melihat Lunara yang sedang mengamati halaman.
“Ya.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Scarlet tersenyum.
“Bagus.”
---
Siang harinya, Julian kembali menjalani latihan.
Kali ini bersama Damir.
Ayahnya berdiri di halaman dengan pakaian latihan sederhana.
Julian membawa pedang kayu.
Lunara duduk tidak jauh dari sana.
Damir melirik makhluk itu.
“Jadi itu Moon Lynx.”
“Namanya Lunara.”
Damir mengangguk.
“Dia memilihmu?”
“Ya.”
Damir memandang Lunara beberapa saat.
“Bagus.”
Julian sedikit terkejut.
“Ayah tidak keberatan?”
“Kenapa harus?”
“Dia makhluk liar.”
“Dan kau juga bukan orang yang mudah dikendalikan.”
Julian terdiam.
Damir berjalan mendekat.
“Selama dia tidak membahayakan keluarga, tidak ada masalah.”
Lunara menatap Damir.
Damir menatap balik.
Beberapa detik.
Lunara kemudian memalingkan wajah.
Damir mengangkat alis.
“Dia tidak menyukaiku.”
Julian tersenyum kecil.
“Mungkin dia belum percaya.”
Damir mendengus.
“Aku bisa hidup dengan itu.”
Julian hampir tertawa.
Kemudian Damir mengangkat pedang kayunya.
“Sekarang, latihan.”
Julian mengambil posisi.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada pengajaran dasar.
Damir sudah tahu bahwa putranya memiliki kemampuan bergerak yang tidak biasa.
Ia hanya ingin melihat perkembangan tubuh Julian.
“Mulai.”
Julian bergerak.
Cepat.
Pedang kayunya mengarah ke sisi Damir.
Damir menangkis.
Julian langsung mengubah sudut.
Damir menghindar.
Julian mundur.
Kemudian maju lagi.
Gerakannya jauh lebih terkendali dibandingkan beberapa minggu lalu.
Damir memperhatikan.
“Lebih baik.”
Julian berhenti.
“Tubuhmu mulai terbiasa.”
Julian mengangguk.
“Masih belum cukup.”
“Memang.”
Damir menurunkan pedang.
“Jangan memaksa.”
Julian memandang ayahnya.
“Aku tahu.”
“Tidak.”
Damir menatapnya serius.
“Kau mungkin tahu secara teori. Tetapi tubuhmu masih belum memahami batasnya.”
Julian terdiam.
Damir menunjuk tangannya.
“Jangan menganggap rasa lelah sebagai kelemahan.”
“Apa maksud Ayah?”
“Tubuhmu sedang mengatakan bahwa ia belum siap.”
Damir menepuk bahu Julian.
“Dengarkan.”
Julian mengangguk.
Kalimat itu sederhana.
Namun masuk akal.
Selama ini Julian terlalu terbiasa mempercayai kemampuan dirinya.
Sebagai Adrian, tubuhnya sudah ditempa selama bertahun-tahun.
Sekarang ia harus belajar mempercayai tubuh yang berbeda.
Bukan memaksanya menjadi tubuh lama.
Melainkan membesarkannya menjadi sesuatu yang baru.
---
Latihan selesai sebelum matahari terbenam.
Julian duduk di bawah pohon.
Lunara datang dan berbaring di sampingnya.
Julian mengusap bulunya.
“Kau tahu?”
Lunara membuka mata.
“Aku dulu tidak pernah punya waktu seperti ini.”
Tentu saja Lunara tidak menjawab.
Julian tertawa kecil.
“Aku bicara dengan seekor lynx. Sepertinya aku mulai aneh.”
Lunara kembali menutup mata.
Julian memandang langit.
Ia tidak tahu berapa lama kehidupan keduanya akan berlangsung.
Ia tidak tahu apakah masa lalu suatu hari akan mengejarnya.
Ia tidak tahu konflik seperti apa yang akan menunggunya.
Tetapi untuk sekarang—
Ia memiliki rumah.
Keluarga.
Hutan.
Latihan.
Dan Lunara.
Hal-hal sederhana.
Hal-hal yang tidak pernah dimiliki Adrian dengan cara seperti ini.
Julian memejamkan mata.
Angin sore bergerak melewati rambut birunya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang perlu dilakukan.
Tidak ada yang perlu dibunuh.
Tidak ada yang perlu dikejar.
Tidak ada target.
Hanya kehidupan.
Dan mungkin...
Untuk pertama kalinya, Julian mulai memahami seperti apa rasanya menjadi manusia biasa.