Chapter 7 of 75
Chapter 7 — Pelajaran Pertama
1.1k words
Pagi datang lebih cepat dari perkiraan Julian.
Cahaya matahari baru menyentuh bagian atas pepohonan ketika ia sudah berada di halaman belakang kediaman Varell.
Udara pagi terasa dingin.
Embun masih menempel di rumput.
Julian berdiri dengan pakaian latihan sederhana. Tongkat kayu yang biasa digunakannya berada di tangan kanan.
Di hadapannya berdiri Edmund Ravel.
Seperti biasa, kepala pelayan keluarga Varell itu tampak sangat tenang.
Jas formalnya sudah diganti pakaian latihan berwarna gelap. Namun satu benda tetap tidak pernah jauh darinya.
Tongkat kayu panjang.
Julian tahu benda itu bukan sekadar tongkat.
Ia pernah melihat Edmund menggunakannya.
Gerakannya terlalu presisi.
Terlalu cepat.
Dan cara Edmund memegangnya tidak seperti seseorang yang sekadar menggunakan tongkat untuk berjalan.
“Apakah Ayah meminta Edmund melatih saya?”
“Benar, Tuan Muda.”
“Dalam hal apa?”
Edmund tersenyum tipis.
“Pertahanan.”
Julian menatap tongkat di tangannya.
“Bukankah saya sudah berlatih?”
“Yang selama ini Anda lakukan adalah latihan dasar.”
Edmund mengangkat tongkatnya.
“Mulai hari ini, kita akan memperbaiki sesuatu yang lebih penting.”
“Apa?”
“Cara Anda bergerak.”
Julian terdiam.
Edmund melanjutkan.
“Senjata dapat diganti.”
Ia mengetukkan ujung tongkat ke tanah.
“Kekuatan dapat berkembang.”
Kemudian ia melangkah maju.
“Tetapi apabila seseorang tidak memahami tubuhnya sendiri, senjata sehebat apa pun tidak akan banyak membantu.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
“Serang saya.”
Julian langsung bergerak.
Tidak ada aba-aba kedua.
Kakinya mendorong tanah.
Tongkat kayu meluncur menuju bahu Edmund.
Namun—
Tak.
Tongkat Edmund menepis serangan itu dengan gerakan kecil.
Julian tidak berhenti.
Ia memutar tubuh dan mengarahkan serangan kedua ke sisi tubuh.
Edmund kembali menghindar.
Kali ini Julian mengubah arah.
Serangan ketiga menuju kaki.
Edmund melangkah mundur setengah langkah.
Tongkat Julian hanya mengenai udara.
“Berhenti.”
Julian berhenti.
Edmund menatapnya.
“Menarik.”
Julian sedikit mengernyit.
“Apa yang salah?”
“Tidak ada yang salah.”
“Lalu?”
“Anda hanya bergerak seperti seseorang yang tidak pernah diajari bergerak.”
Julian terdiam.
Edmund berjalan mengelilinginya.
“Serangan Anda tidak buruk. Refleks Anda juga sangat baik.”
Ia berhenti di samping Julian.
“Tetapi tubuh Anda masih mengikuti kebiasaan lama.”
Jantung Julian berdetak sedikit lebih cepat.
Kebiasaan lama.
Edmund tentu tidak mengetahui Adrian.
Namun kalimat itu tetap membuat Julian waspada.
“Bukankah itu bagus?”
“Bisa bagus.”
Edmund kembali berdiri di depan Julian.
“Namun ada masalah.”
“Apa?”
“Anda terlalu cepat.”
Julian berkedip.
“Bukankah kecepatan bagus?”
“Kecepatan tanpa kendali hanya membuat seseorang jatuh lebih cepat.”
Edmund mengangkat satu jari.
“Lihat kaki Anda.”
Julian melihat ke bawah.
“Ketika menyerang, Anda terlalu banyak memindahkan berat badan.”
Edmund menunjuk posisi kakinya.
“Kalau lawan yang Anda hadapi lebih kuat, satu kesalahan kecil dapat membuat Anda kehilangan keseimbangan.”
Julian memperbaiki posisi.
Edmund mengangguk.
“Sekarang ulangi.”
Julian menyerang.
Kali ini lebih lambat.
Edmund kembali menangkis.
“Lebih baik.”
Serangan kedua.
“Lebih baik.”
Ketiga.
“Jangan mengandalkan mata.”
Julian berhenti.
“Maksudnya?”
“Jangan hanya melihat tangan lawan.”
Edmund mengambil posisi.
“Tubuh seseorang berbicara sebelum senjatanya bergerak.”
Ia mengangkat tongkat.
“Bahunya.”
Ia menggerakkan bahu.
“Kakinya.”
Satu langkah.
“Pinggangnya.”
Sedikit pergeseran.
“Pusat gravitasinya.”
Edmund tiba-tiba menyerang.
Julian menghindar secara refleks.
Tongkat Edmund berhenti beberapa sentimeter dari bahunya.
“Seperti itu.”
Julian menatap tongkat tersebut.
Ia baru saja menghindar sebelum benar-benar melihat arah serangan.
Edmund tersenyum.
“Anda merasakannya.”
Julian mengangguk perlahan.
“Ya.”
“Bagus.”
Edmund menurunkan tongkat.
“Sekarang kita ulangi sampai tubuh Anda mengerti apa yang dilakukan pikiran Anda.”
Latihan berlanjut.
Satu jam.
Kemudian dua jam.
Julian jatuh beberapa kali.
Bukan karena Edmund memukulnya dengan keras.
Melainkan karena Edmund terus memaksanya mengubah cara bergerak.
Langkah.
Posisi kaki.
Keseimbangan.
Jarak.
Timing.
Cara memegang tongkat.
Semua diperbaiki.
Ketika matahari mulai naik lebih tinggi, Julian akhirnya duduk di bawah pohon sambil mengatur napas.
Edmund berdiri beberapa meter darinya.
“Tuan Muda.”
“Ya?”
“Apakah Anda lelah?”
“Sedikit.”
“Menyerah?”
Julian menatapnya.
“Tidak.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Edmund tersenyum.
“Bagus.”
Ia mengambil sebuah botol air dan menyerahkannya.
Julian menerimanya.
“Edmund.”
“Ya?”
“Kenapa Anda melatih saya?”
Edmund terdiam sesaat.
Kemudian jawabannya keluar dengan tenang.
“Karena Duke meminta saya.”
Julian menunggu.
Edmund menambahkan.
“Dan karena saya ingin Anda bisa melindungi diri sendiri.”
Julian menatap pria itu.
“Dari monster?”
“Dari apa pun.”
Jawaban tersebut sederhana.
Namun Julian memahami sesuatu.
Edmund tidak sedang mencoba menjadikannya seorang prajurit.
Tidak ada ambisi membuat Julian menjadi pembunuh.
Tidak ada dorongan untuk memaksanya menjadi pewaris keluarga yang kuat.
Ia hanya mengajarinya agar tidak mudah terluka.
Itu terasa berbeda.
“Terima kasih.”
Edmund membungkuk sedikit.
“Sama-sama, Tuan Muda.”
---
Setelah latihan selesai, Julian berjalan menuju ruang makan.
Namun langkahnya berhenti ketika mendengar suara dari ruang sebelah.
Elena.
“Tidak mungkin!”
Scarlet tertawa.
“Kenapa?”
“Julian sudah latihan selama dua jam dan dia masih mau belajar lagi?”
Julian mengintip dari pintu.
Elena sedang duduk bersama ibunya.
“Aku seusianya dulu setelah latihan langsung tidur.”
Scarlet menggeleng.
“Karena kau memang malas.”
“Ibu!”
Julian masuk.
Elena langsung menoleh.
“Oh, akhirnya muncul juga.”
Julian duduk.
Scarlet melihat pakaian latihan yang penuh debu.
“Kau jatuh berapa kali?”
“Enam.”
Elena langsung tertawa.
“Enam?”
Julian mengangguk.
“Tidak banyak.”
Elena menatapnya seperti baru mendengar sesuatu yang aneh.
“Kau jatuh enam kali dan mengatakan tidak banyak?”
“Kalau saya jatuh dua puluh kali, mungkin itu banyak.”
Scarlet menutup mulut menahan tawa.
Elena memandang ibunya.
“Ibu, dia semakin aneh.”
“Dia hanya serius.”
Julian mengambil makanan.
Setelah beberapa saat, ia bertanya,
“Kak Elena.”
“Hm?”
“Kalau seseorang belajar bertarung, apakah dia harus selalu menjadi kuat?”
Elena berpikir.
“Menurutku?”
Julian mengangguk.
“Kalau bisa kuat, kenapa tidak?”
Scarlet tersenyum.
“Jawaban Elena memang sederhana.”
Elena memprotes.
“Kenapa sederhana?”
“Karena ada hal lain yang lebih penting.”
Scarlet menatap Julian.
“Kekuatan itu berguna. Tetapi tujuan seseorang memiliki kekuatan jauh lebih penting.”
Julian terdiam.
Kalimat itu terasa familiar.
Ia teringat ucapan Damir kemarin tentang uang.
Nilai bergantung pada bagaimana sesuatu digunakan.
Mungkin kekuatan juga sama.
Tidak penting seberapa kuat seseorang.
Yang penting adalah untuk apa kekuatan itu digunakan.
Julian menunduk melihat tangannya.
Tangan kecil.
Jauh lebih kecil daripada tangan Adrian dulu.
Tidak memiliki bekas luka.
Tidak memiliki darah di sela-sela kuku.
Tidak menggenggam senjata untuk membunuh seseorang.
Tangan ini masih punya kesempatan.
Kesempatan untuk menjadi sesuatu yang berbeda.
“Julian?”
Ia mengangkat kepala.
Scarlet tersenyum.
“Kau melamun.”
“Maaf.”
Elena menyenggol lengannya.
“Jangan terlalu serius.”
Julian tersenyum kecil.
“Aku akan mencoba.”
---
Malamnya, Julian kembali ke kamar.
Ia mengambil buku catatan yang kemarin digunakan untuk mencatat sistem uang.
Namun kali ini ia membuka halaman baru.
Di bagian atas ia menulis:
Latihan.
Kemudian:
Keseimbangan.
Jarak.
Gerakan.
Membaca tubuh lawan.
Ia berhenti.
Lalu menulis satu kalimat lagi.
Kekuatan bukan hanya tentang menyerang.
Julian menutup buku.
Di luar jendela, hutan kembali terlihat dalam cahaya bulan.
Entah kenapa, sejak melihat jejak cakar besar beberapa hari lalu, ia merasa hutan itu menyimpan sesuatu yang belum ia pahami.
Namun malam ini ia tidak pergi ke sana.
Belum.
Ia sudah belajar satu hal hari ini.
Tidak semua hal harus dilakukan sekarang.
Ada waktu untuk bergerak.
Ada waktu untuk menunggu.
Dan seorang pemburu yang baik tahu perbedaannya.
Julian mematikan lampu.
Besok, ia akan kembali ke hutan.
Bukan untuk mencari monster.
Bukan untuk mencari pertarungan.
Ia hanya ingin berburu seperti biasanya.
Namun jauh di dalam hutan, sesuatu sudah mulai memperhatikan keberadaannya.