Chapter 74 of 75
Chapter 74 — Ketika Hutan Kehilangan Suaranya
1.3k words
Pagi itu, Julian menyadari ada sesuatu yang salah bahkan sebelum ia meninggalkan kamarnya.
Biasanya, halaman belakang House Varell sudah dipenuhi suara burung ketika matahari mulai muncul. Dari kejauhan terdengar derap kuda, para pelayan membuka gudang, dan sesekali Elena mengeluh karena seseorang mengambil barangnya tanpa izin.
Pagi ini, hutan di balik kediaman mereka terlalu sunyi.
Julian berdiri di dekat jendela, memperhatikan pepohonan yang tampak tenang.
Seekor burung kecil hinggap di pagar, lalu terbang menjauh tanpa menyentuh biji-bijian yang biasa disebarkan para pelayan.
Julian mengerutkan kening.
Hewan tidak meninggalkan sumber makanan tanpa alasan.
Ia segera mengenakan pakaian latihan dan turun ke halaman.
Di sana, Damir sudah berbicara dengan seorang pria berpakaian hijau tua. Mantel pria itu penuh debu, sepatu botnya berlumpur, dan terdapat lambang daun perak pada bahunya.
Pengawas hutan.
Julian mengenali lambang tersebut dari catatan pengelolaan wilayah yang pernah dibacanya di ruang baca timur.
“Duke Varell, ini bukan sekadar perpindahan hewan biasa,” ujar pria itu. “Kami menemukan kawanan rusa meninggalkan wilayah utara. Jejak babi hutan juga mengarah ke selatan. Bahkan monster yang biasanya berada jauh di dalam hutan mulai mendekati batas pemukiman.”
Damir menyilangkan tangan.
“Sejak kapan?”
“Tiga hari lalu. Awalnya hanya beberapa ekor. Kemarin jumlahnya meningkat.”
“Korban?”
“Belum ada korban jiwa. Namun, dua pekerja kehilangan persediaan makanan setelah sesuatu merusak gudang mereka semalam.”
Damir memandang peta yang dibentangkan di atas meja kecil.
“Apakah kalian menemukan jejak monster tingkat tinggi?”
Pria itu mengangguk.
“Jejak kaki besar ditemukan di dekat aliran sungai utara. Kami belum bisa memastikan jenisnya.”
Julian mendekat tanpa mengganggu pembicaraan mereka.
Ia memperhatikan peta.
Sungai utara.
Jalur perbukitan.
Wilayah tempat rusa biasanya mencari makan.
Kemudian matanya berhenti pada sebuah titik yang ditandai dengan tinta merah.
“Apakah semua jejak mengarah ke selatan?” tanyanya.
Pria itu menoleh, sedikit terkejut melihat Julian.
“Tidak semuanya, Tuan Muda. Sebagian besar memang begitu, tetapi beberapa jejak justru mengarah ke timur.”
Julian menunjuk bagian peta yang berbatasan dengan lereng berbatu.
“Kalau begitu, kemungkinan mereka tidak sekadar menghindari sesuatu di utara.”
Damir memandang putranya.
“Apa maksudmu?”
“Kalau ada pemangsa yang bergerak dari utara, hewan-hewan seharusnya mencari jalur yang paling aman. Namun, jika sebagian bergerak ke timur, mungkin jalur selatan sudah terlalu padat, atau ada sesuatu yang menghalangi mereka di sana.”
Pengawas hutan itu memeriksa peta kembali.
“Kami belum memikirkan kemungkinan itu.”
“Apakah ada sumber air lain di timur?”
“Ada. Sebuah mata air di balik lereng, tetapi jalurnya sulit dilalui.”
Julian mengamati tanda-tanda pada peta.
Ia tidak memiliki cukup informasi untuk menyimpulkan penyebabnya. Itu justru alasan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Damir melipat peta.
“Kita akan memeriksa batas hutan pagi ini. Bawa dua pengawal dan seorang pelacak berpengalaman. Tidak ada yang memasuki wilayah utara sebelum kita mengetahui apa yang sedang terjadi.”
“Baik, Yang Mulia Duke.”
Pria itu membungkuk, lalu segera pergi mempersiapkan rombongan.
Julian hendak kembali ke kamarnya untuk mengambil perlengkapan, tetapi suara Damir menghentikannya.
“Kau ingin ikut?”
Julian menoleh.
“Jika Ayah mengizinkan.”
“Ini bukan perjalanan berburu.”
“Saya tahu.”
“Dan jika keadaan berubah, kau mengikuti perintahku tanpa membantah.”
Julian menjawab tanpa ragu.
“Baik, Ayah.”
Damir mengamatinya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
“Ambil busurmu. Bawa pedang latihan hanya jika diperlukan. Kita berangkat dalam lima belas menit.”
Julian kembali ke kamarnya.
Kali ini, ia tidak sedang mencari pengalaman baru atau sekadar ingin menguji kemampuan.
Ada sesuatu di dalam hutan yang mengubah perilaku seluruh ekosistem kecil di sekitarnya. Jika penyebabnya tidak ditemukan, masalah itu mungkin akan menjalar hingga ke pemukiman.
Dan Julian ingin mengetahui alasannya sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
Mereka berangkat dengan enam orang.
Damir memimpin rombongan. Dua pengawal berkuda mengikuti di belakang, sementara pengawas hutan dan seorang pelacak berjalan di sisi jalur. Julian berada tidak jauh dari ayahnya.
Perjalanan menuju batas utara memakan waktu hampir satu jam.
Semakin jauh mereka memasuki hutan, semakin jelas perbedaannya.
Buah-buahan liar yang biasanya tumbuh di semak-semak masih utuh. Tidak banyak bekas cakaran pada batang pohon. Bahkan beberapa perangkap sederhana milik pengawas hutan tidak menunjukkan tanda-tanda hewan mendekatinya.
“Seolah-olah semua makhluk meninggalkan tempat ini,” gumam pelacak.
Julian turun dari kudanya ketika mereka menemukan sekumpulan jejak di tanah lembap.
Ia berjongkok.
Jejak rusa.
Jejak babi hutan.
Beberapa jejak kecil lain yang sulit dikenali.
Semuanya mengarah ke selatan, tetapi terdapat satu jalur berbeda yang melewati semak-semak menuju timur.
Julian menyentuh tanah di dekat salah satu jejak.
Masih lembap.
“Ini baru,” katanya.
Pelacak ikut berjongkok.
“Kurang dari sehari, sepertinya.”
Julian mengamati tumbuhan yang patah di sepanjang jalur.
Bukan hanya diinjak. Beberapa batang tertekuk dari arah berlawanan, seolah hewan-hewan itu bergerak tergesa-gesa ketika mencoba menghindari sesuatu.
Tiba-tiba, terdengar suara dari balik pepohonan.
Krak!
Seekor rusa muda melesat menyeberangi jalur mereka.
Pengawal langsung meraih senjata.
Namun rusa itu tidak menyerang. Ia berlari dengan napas memburu, bahkan hampir menabrak batang pohon sebelum menghilang di antara semak-semak.
Beberapa detik kemudian, suara gemuruh terdengar dari arah utara.
Tanah bergetar pelan.
Kuda-kuda mulai gelisah.
Damir mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang berhenti.
“Bersiap.”
Julian mengambil busurnya.
Dari balik pepohonan, muncul seekor monster berkaki empat dengan tubuh seukuran kereta kecil. Kulitnya menyerupai batu berlapis lumut, sementara dua tanduk melengkung tumbuh di atas kepalanya.
Seekor Stoneback Boar.
Monster liar yang biasanya hidup di lereng berbatu.
Namun, penampilannya kali ini berbeda.
Ada retakan tipis pada lapisan batu di bahunya. Napasnya berat, dan salah satu kakinya tampak pincang. Monster itu tidak langsung menyerang mereka.
Ia justru menoleh ke belakang berulang kali.
Seolah-olah sedang memastikan sesuatu tidak mengikutinya.
“Jangan memancingnya,” perintah Damir.
Salah satu pengawal mengangguk, menjaga jarak.
Julian menurunkan busurnya sedikit.
Stoneback Boar itu mengendus udara, kemudian bergerak ke selatan dengan langkah tergesa-gesa. Ia melewati mereka tanpa menyerang.
Pelacak menatap punggung monster tersebut.
“Monster itu biasanya sangat agresif terhadap manusia.”
“Karena ia terluka,” jawab Julian.
“Luka itu bisa berasal dari pertarungan.”
Julian memperhatikan arah kedatangan monster tadi.
“Bisa juga. Tetapi ia tidak sedang mengejar mangsa. Ia melarikan diri.”
Damir tidak segera menjawab.
Ia memberi isyarat kepada pengawas hutan untuk menandai lokasi, kemudian memerintahkan rombongan bergerak menuju sebuah bukit kecil yang menawarkan pandangan lebih luas.
Dari sana, mereka dapat melihat sebagian wilayah utara.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Lalu seekor burung besar terbang dari balik pepohonan.
Disusul sekawanan burung kecil.
Beberapa saat kemudian, semak-semak di kejauhan bergerak serentak.
Bukan satu atau dua hewan.
Puluhan.
Rusa, babi hutan, dan beberapa monster kecil keluar dari kawasan hutan utara, semuanya bergerak menjauhi wilayah yang sama.
Julian tidak pernah melihat perpindahan sebesar itu.
Bahkan dalam kehidupan pertamanya, ia tahu bahwa gerakan massal seperti ini jarang terjadi tanpa pemicu yang signifikan.
“Pengawas,” kata Damir. “Kosongkan jalur utara dan kirim peringatan ke desa terdekat. Tidak seorang pun boleh berburu atau memasuki kawasan itu sampai penyebabnya diketahui.”
“Baik!”
Pria tersebut segera menyiapkan surat perintah.
Damir lalu menoleh kepada Julian.
“Kita kembali.”
Julian tidak membantah. Mereka sudah memperoleh cukup bukti untuk memastikan bahwa keadaan hutan bukan masalah biasa.
Namun, sebelum berbalik, ia melihat sesuatu di antara pepohonan paling jauh.
Bukan monster.
Bukan pula hewan yang sedang melarikan diri.
Hanya sebuah pohon tua yang tumbang melintang di lereng. Akar-akarnya terangkat, memperlihatkan tanah gelap di bawahnya.
Di sekitar akar tersebut, tanah tampak retak memanjang.
Julian memperhatikannya sesaat, lalu menyimpan bentuknya dalam ingatan.
Ia tidak tahu apakah itu berhubungan dengan perpindahan hewan.
Belum.
“Julian.”
Suara Damir menariknya kembali.
“Ya, Ayah?”
“Kau sudah melihat apa yang perlu dilihat. Jangan mengambil risiko hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu.”
Julian memasang kembali busurnya.
“Saya mengerti.”
Mereka meninggalkan bukit itu bersama-sama.
Di belakang mereka, hutan tetap bergerak.
Dan untuk pertama kalinya sejak Julian terlahir kembali, ketenangan wilayah House Varell benar-benar terganggu oleh sesuatu yang bahkan para pengawas hutannya belum mampu jelaskan.
Bukan karena seseorang mengirim ancaman.
Bukan karena sebuah rahasia lama muncul ke permukaan.
Melainkan karena alam sendiri sedang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Kali ini, Julian tidak akan menyelesaikannya hanya dengan mengandalkan insting. Ia harus belajar memahami dunia tempat dirinya hidup sekarang.