Chapter 73 of 75

Chapter 73 — Surat yang Mengubah Rencana

1.4k words

Pagi itu, Julian baru saja selesai berlatih ketika Edmund datang membawa sebuah kotak kayu kecil. “Tuan Muda Julian, ada kiriman untuk Anda.” Julian menyeka keringat di dahinya dengan handuk. “Dari siapa?” “Dari Desa Laren. Seorang pedagang mengantarkannya bersama beberapa dokumen untuk kantor utama.” Edmund meletakkan kotak itu di atas bangku. Tidak ada lambang bangsawan pada tutupnya. Hanya seutas tali sederhana yang mengikatnya, serta secarik kertas dengan tulisan tangan yang agak miring. Untuk Tuan Muda Julian Varell. Julian mengenali nama pengirim yang tercantum di bagian bawah. Naren. Anak yang pernah ditemuinya di pasar beberapa waktu lalu. Julian membuka ikatannya. Di dalam kotak terdapat sebuah kantong kain kecil, dua buah apel kering, dan sebuah benda kayu berbentuk kuda. Ukirannya sederhana. Bentuknya tidak sepenuhnya simetris, dan bagian kakinya terlihat sedikit berbeda panjang. Namun, jelas ada seseorang yang menghabiskan waktu untuk membuatnya. Julian mengambil surat yang terselip di bawah benda-benda tersebut. Tulisan Naren memenuhi hampir seluruh halaman. Ia bercerita bahwa ayahnya telah memperbaiki mesin jahit sederhana yang digunakan keluarganya untuk membuat kantong dan karung. Setelah beberapa percobaan, mereka mulai menerima pesanan kecil dari pedagang setempat. Ia juga menuliskan bahwa dirinya sedang belajar mengukir kayu dari seorang pengrajin tua di desa. Di bagian akhir surat, terdapat satu kalimat yang membuat Julian tersenyum. Saya masih ingat ucapan Anda bahwa barang yang bagus tidak hanya harus terlihat bagus, tetapi juga harus berguna. Saya mencoba membuat kuda ini sendiri. Bentuknya masih buruk, tetapi saya berharap suatu hari nanti bisa membuat sesuatu yang lebih baik. Julian membaca surat itu sampai selesai. Kemudian ia mengambil ukiran kuda tersebut sekali lagi. Bentuknya memang sederhana. Namun, dibandingkan dengan benda serupa yang dijual di pasar, ada sesuatu yang berbeda pada ukiran itu. Bagian lehernya dibuat sedikit condong ke depan, sementara posisi kakinya menunjukkan kuda yang sedang bergerak. Pembuatnya tidak sekadar meniru bentuk kuda. Ia mencoba menggambarkan gerakannya. “Apakah ada masalah, Tuan Muda?” tanya Edmund. “Tidak.” Julian menyimpan surat itu dengan hati-hati. “Saya hanya menerima kabar baik.” Edmund memeriksa isi kotak. “Apakah Anda mengenal pengirimnya?” “Kami pernah bertemu di pasar.” “Begitu rupanya.” Edmund tidak mengajukan pertanyaan lebih lanjut. Ia hanya memastikan bahwa kotak tersebut telah diperiksa dan tidak berisi sesuatu yang berbahaya sebelum meninggalkan halaman. Julian membawa ukiran kuda itu ke kandang. Ia memiliki seseorang yang mungkin akan menghargainya lebih daripada dirinya sendiri. Zero sedang berdiri di dalam kandang ketika Julian tiba. Kuda hitam itu mengangkat kepala, mengamati kedatangan pemiliknya, lalu kembali mengendus jerami. Julian berdiri di samping pagar. “Aku membawa sesuatu untukmu.” Zero mendekat setelah melihat kantong berisi potongan apel kering. “Yang ini untukmu.” Julian memberikan satu potong kecil kepada kuda tersebut. Zero mengunyahnya dengan tenang. Setelah itu, Julian menunjukkan ukiran kayu yang dibawanya. “Menurutmu, bagaimana?” Zero mengendus benda tersebut. Lalu mencoba menggigit ujung kepalanya. Julian segera menarik ukiran itu menjauh. “Bukan makanan.” Zero menggerakkan telinganya, seolah tidak melihat alasan mengapa benda itu tidak boleh dimakan. Julian tertawa kecil. “Baiklah. Pendapatmu tidak membantu.” Ia meletakkan ukiran kuda tersebut di atas rak kecil yang aman dari jangkauan mulut Zero. Benda itu tidak akan menggantikan apa pun yang sudah dimilikinya. Ia hanya akan menjadi pengingat tentang seorang anak di Desa Laren yang sedang belajar mengembangkan keterampilannya sendiri. Julian memahami perasaan itu. Memulai kembali sesuatu yang pernah dikuasai memang berbeda dengan mempelajarinya untuk pertama kali. Namun, keduanya membutuhkan kesabaran. Ia mengusap leher Zero sebelum meninggalkan kandang. Hari itu, ia berencana menghabiskan waktu di perpustakaan. Ada beberapa catatan mengenai tanaman hutan yang ingin diperiksanya. Namun, sebelum ia sempat mencapai pintu utama, suara Elena terdengar dari arah tangga. “Julian! Tunggu!” Elena berlari kecil menghampirinya sambil membawa sebuah keranjang. “Kau mau ke mana?” “Perpustakaan.” “Bagus. Berarti kau bisa membantuku.” Julian memandang keranjang itu. Di dalamnya terdapat beberapa gulungan benang, kain, dan buku bergambar. “Apa yang sedang kau rencanakan?” Elena tersenyum lebar. “Aku ingin membuat sesuatu.” Julian mulai curiga. “Untuk siapa?” “Untuk Ibu.” Satu jam kemudian, Julian duduk di ruang baca bersama Elena. Di atas meja terdapat selembar kain berwarna biru tua, benang perak, dan beberapa potongan kain berukuran kecil. Elena sedang mencoba menyulam pola bunga pada permukaan kain. Hasilnya belum terlalu rapi. Salah satu kelopak terlihat lebih besar daripada yang lain, sementara garis peraknya sedikit melenceng dari pola yang digambar. Namun, Elena tampak bertekad menyelesaikannya. Julian memeriksa gambar yang ada di buku. “Bukankah pola ini terlalu rumit untuk kain sekecil itu?” Elena mengangkat wajah. “Aku ingin membuat penutup buku untuk Ibu. Ia sering membawa buku catatan ke taman, jadi aku pikir ini akan berguna.” “Kalau begitu, bagian dalamnya perlu cukup kuat agar tidak mudah terlepas.” Elena melihat hasil sulamannya. “Menurutmu, aku harus mengulangnya?” “Tidak harus. Kau bisa memperbaiki bagian yang longgar.” Julian menunjukkan bagian yang perlu diperkuat tanpa menyentuh pekerjaan kakaknya. Elena memeriksanya, kemudian mengangguk. “Benar juga.” Ia mengambil jarum kembali. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman. Julian membaca buku tentang tanaman, sedangkan Elena melanjutkan sulamannya. Sesekali, Elena meminta pendapat tentang warna benang atau ukuran pola. Julian menjawab seperlunya, kemudian kembali membaca. Setelah beberapa saat, Elena meletakkan jarumnya. “Julian.” “Hm?” “Menurutmu, apa yang membuat sebuah hadiah terasa berharga?” Julian menutup bukunya sementara. “Apakah hadiah itu mahal?” “Bukan.” “Apakah orang yang menerimanya membutuhkan benda tersebut?” Elena berpikir sejenak. “Mungkin.” Julian memperhatikan kain di atas meja. “Kalau begitu, mungkin hadiah yang baik adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa kita memahami orang yang menerimanya.” Elena tidak langsung menjawab. Ia memandang pola bunga yang sedang disulamnya. “Ibu selalu membawa buku catatannya ketika pergi ke taman,” katanya perlahan. “Aku ingin membuat sesuatu yang bisa digunakannya setiap hari.” “Kalau begitu, kau sudah tahu jawabannya.” Elena tersenyum kecil. Kemudian ia kembali menyulam. Julian membuka bukunya lagi. Ia tidak tahu apakah penutup buku itu akan terlihat sempurna ketika selesai. Namun, ia yakin Scarlet akan menghargai usaha putrinya. Terkadang, sesuatu tidak harus sempurna untuk memiliki arti. Menjelang sore, Elena akhirnya menyelesaikan sulamannya. Penutup buku itu terbuat dari kain biru tua dengan bunga kecil berwarna perak pada bagian tengah. Jahitannya tidak sepenuhnya rata, tetapi cukup kuat untuk digunakan. Elena memeriksa hasilnya berkali-kali. “Bagaimana?” Julian melihatnya. “Bagus.” “Benarkah?” “Benar.” Elena tersenyum puas, lalu membungkusnya dengan kertas sederhana. Mereka menemukan Scarlet di ruang keluarga. “Ibu!” Scarlet menoleh dari buku yang sedang dibacanya. “Ada apa?” Elena menghampiri ibunya dan menyerahkan bungkusan itu. “Aku membuat sesuatu untuk Ibu.” Scarlet menerima hadiah tersebut dengan terkejut. “Untuk Ibu?” Elena mengangguk. Scarlet membuka bungkusnya perlahan. Ketika melihat penutup buku buatan putrinya, senyum hangat muncul di wajahnya. “Ini indah sekali, Elena.” Elena tampak lega. “Aku membuatnya sendiri. Julian juga membantuku memilih beberapa bagian.” Scarlet memeriksa sulamannya. “Ibu akan menggunakannya untuk buku catatan di taman.” “Aku memang membuatnya untuk itu.” Scarlet menarik putrinya ke dalam pelukan. “Terima kasih, Sayang.” Elena membalas pelukan tersebut. Julian berdiri sedikit menjauh, memperhatikan keduanya. Scarlet kemudian mengulurkan tangan kepadanya. “Kemarilah, Julian.” Julian menghampiri ibunya. Scarlet mengusap rambutnya dengan lembut. “Terima kasih sudah membantu kakakmu.” “Saya hanya memberikan pendapat, Ibu.” “Kadang-kadang, itu sudah cukup.” Julian tidak membantah. Ia hanya tersenyum kecil ketika Elena kembali memamerkan hasil sulamannya kepada Scarlet. Untuk sesaat, ia teringat ukiran kuda yang dikirim Naren. Benda kecil yang dibuat oleh seorang anak yang baru belajar mengukir. Hadiah sederhana dari seorang kakak untuk ibunya. Keduanya berbeda, tetapi memiliki kesamaan. Orang-orang yang membuatnya tidak sedang berusaha membuktikan bahwa mereka hebat. Mereka hanya ingin memberikan sesuatu kepada seseorang yang mereka hargai. Dan Julian mulai menyukai cara kehidupan barunya memperlihatkan hal-hal seperti itu. Malamnya, Julian duduk di meja kamarnya dan membuka buku catatan. Ia menuliskan nama Naren, kemudian mencatat bahwa anak itu sedang belajar mengukir kayu. Di bawahnya, ia menambahkan satu kalimat. Kemampuan tumbuh ketika seseorang terus mencoba, tetapi alasan untuk terus mencoba sering kali datang dari orang-orang yang membuat usaha itu berarti. Julian menutup buku tersebut. Di luar jendela, lampu-lampu kediaman Varell mulai menyala satu demi satu. Besok, ia akan kembali berlatih pedang. Ia juga perlu mengunjungi Meriel untuk menanyakan beberapa hal mengenai tanaman hutan. Jika waktu memungkinkan, ia mungkin akan memeriksa perkembangan tanaman yang pernah ditemukannya di dekat sungai. Namun, ia tidak lagi merasa harus menyelesaikan semua hal sekaligus. Ada urusan yang bisa menunggu. Ada keterampilan yang membutuhkan waktu. Dan ada orang-orang yang membuat perjalanan itu terasa layak dijalani. Julian mematikan lampu meja, lalu bersiap tidur. Sebelum menutup mata, ia sempat teringat ukiran kuda di kandang. Besok ia mungkin akan menunjukkannya kepada Elena. Ia sudah bisa membayangkan reaksi kakaknya. Dan untuk alasan yang tidak sepenuhnya ia pahami, bayangan itu membuatnya tersenyum. Bersambung — Chapter 74.

End of Chapter 73