Chapter 75 of 75
Chapter 75 — Di Balik Lereng yang Retak
1.3k words
Menjelang siang, rombongan House Varell kembali ke kediaman.
Damir langsung memanggil kepala pengelola wilayah untuk menyusun langkah pengamanan. Jalur utara ditutup sementara, para pemburu diminta menghentikan kegiatan mereka, dan penduduk desa terdekat diberi peringatan agar tidak mendekati hutan.
Julian sendiri kembali ke kamarnya untuk membersihkan perlengkapan.
Ia tidak merasa puas hanya karena berhasil menemukan tanda-tanda aneh di hutan. Justru semakin banyak yang dilihatnya, semakin jelas bahwa mereka belum memahami persoalan sebenarnya.
Stoneback Boar yang terluka.
Perpindahan hewan dalam jumlah besar.
Tanah retak di sekitar pohon tumbang.
Ketiganya mungkin berhubungan, tetapi belum tentu berasal dari penyebab yang sama.
Julian menggantung busurnya, lalu mengambil buku catatan kecil dari meja.
Ia menuliskan apa yang benar-benar dilihatnya, bukan kesimpulan yang belum terbukti.
Setelah selesai, ia menutup buku tersebut.
“Kalau aku hanya mencari sesuatu yang cocok dengan dugaanku, aku bisa melewatkan hal yang sebenarnya.”
Ia meletakkan buku itu di dalam laci.
Kemudian turun menuju ruang makan.
Elena sudah berada di sana bersama Scarlet. Di atas meja terdapat beberapa lembar kain, benang berwarna, dan sebuah kotak kecil berisi perlengkapan menjahit.
Begitu melihat Julian, Elena langsung mengangkat wajah.
“Kau dari hutan?”
“Ya.”
“Ibu bilang wilayah utara ditutup sementara.”
“Benar.”
Elena meletakkan kainnya.
“Ada monster?”
“Ada beberapa.”
“Monster besar?”
“Satu Stoneback Boar.”
Elena langsung melirik Scarlet.
“Ibu, kenapa Julian selalu menemukan sesuatu setiap kali pergi ke hutan?”
Julian menarik kursi.
“Mungkin karena aku memang pergi ke hutan untuk menemukan sesuatu.”
“Bukan itu maksudku!”
Scarlet tertawa kecil sebelum menyodorkan segelas air kepada Julian.
“Bagaimana keadaan di sana?”
Julian menjelaskan apa yang mereka temukan, termasuk perpindahan hewan dan tanah retak di dekat lereng. Ia tidak menambahkan dugaan yang belum memiliki dasar.
Scarlet mendengarkan dengan serius.
“Kalau begitu, kau tidak akan pergi ke sana lagi sendirian, bukan?”
“Tidak, Ibu.”
“Bagus.”
Elena menyilangkan tangan.
“Kalau begitu, kau bisa membantuku di ruang baca.”
Julian menoleh kepadanya.
“Apa hubungannya?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan kau tidak langsung kembali ke hutan.”
Scarlet kembali tertawa.
Julian memandang kakaknya beberapa saat.
“Bukankah kau tadi sedang menjahit?”
Elena segera melindungi kain di depannya.
“Ini berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Ini urusan penting.”
Julian melirik kain yang masih belum selesai dijahit.
“Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu urusan pentingmu.”
Ia bangkit dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu! Julian!”
Untuk sesaat, suasana makan siang yang semula dipenuhi pembicaraan tentang hutan berubah menjadi perdebatan kecil antara kakak dan adik.
Dan bagi Julian, hal itu justru terasa menenangkan.
Di luar sana, ada masalah yang belum terpecahkan.
Namun, ia masih memiliki rumah yang berjalan seperti biasa.
Ia tidak perlu memikirkan semuanya setiap saat.
Sore harinya, Edmund membawa kabar baru.
Julian sedang berada di ruang baca ketika kepala pelayan itu masuk membawa beberapa lembar laporan.
“Tuan Muda Julian, Tuan Duke meminta saya menyampaikan perkembangan pemeriksaan awal.”
Julian menutup buku yang sedang dibacanya.
“Apa yang ditemukan?”
“Para pekerja menemukan keretakan tambahan di jalan lama sebelah utara. Keretakan tersebut tidak terlihat dalam pemeriksaan bulan lalu.”
Julian langsung mengingat pohon tumbang yang mereka lihat dari bukit.
“Apakah keretakannya berada dekat lereng?”
“Benar. Namun, jalan tersebut sudah lama tidak digunakan untuk mengangkut barang.”
Edmund meletakkan laporan di atas meja.
“Menurut pengawas wilayah, sebagian tanah di lereng mungkin mengalami pergeseran. Akan tetapi, mereka belum bisa memastikan seberapa luas daerah yang terdampak.”
Julian membaca laporan itu dengan saksama.
“Apakah ada hujan deras dalam beberapa hari terakhir?”
“Tidak. Curah hujan di wilayah tersebut justru lebih rendah daripada biasanya.”
Julian membalik halaman.
Tanah yang retak tanpa hujan deras.
Pepohonan tumbang.
Hewan-hewan yang meninggalkan wilayahnya.
Ia mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa masalahnya berasal dari bawah permukaan tanah, bukan sesuatu yang bergerak di atasnya.
Namun, ada satu hal yang masih belum jelas.
“Apakah pengawas menemukan jejak mana di sekitar keretakan?”
“Belum ada laporan mengenai hal tersebut.”
Julian mengembalikan kertas itu.
“Kalau begitu, kita belum tahu apakah ini masalah alamiah atau ada faktor lain.”
Edmund membenarkan posisi kacamatanya.
“Tuan Duke memiliki pendapat yang sama. Besok pagi, seorang ahli mana dari wilayah kota akan datang untuk memeriksa lokasi.”
“Ahli mana?”
“Seorang peneliti yang biasa menangani gangguan aliran mana di wilayah hutan.”
Julian menyandarkan punggungnya pada kursi.
Itu keputusan yang masuk akal.
Jika masalah tersebut berkaitan dengan mana, pengamatan seorang petarung saja tidak cukup. Mereka membutuhkan seseorang yang mampu membaca perubahan energi di lingkungan.
“Apakah Ayah akan ikut?”
“Ya. Tuan Duke akan memimpin pemeriksaan bersama pengawas wilayah.”
Julian mengangguk kecil.
“Kalau begitu, aku akan menunggu hasil pemeriksaannya.”
Edmund tampak sedikit terkejut.
“Maksud Tuan Muda, Anda tidak ingin ikut?”
“Besok belum tentu ada sesuatu yang bisa kulakukan di sana. Aku akan ikut jika Ayah mengizinkan dan kehadiranku memang diperlukan.”
Edmund tersenyum tipis.
“Keputusan yang bijaksana.”
Julian kembali membuka bukunya.
Namun, sebelum Edmund meninggalkan ruangan, ia mengajukan satu pertanyaan lagi.
“Apakah semua jalan di wilayah utara dibuat di atas tanah yang sama?”
Edmund berhenti.
“Tidak. Sebagian dibangun di atas tanah padat, sementara jalur dekat lereng melewati lapisan batuan yang berbeda.”
“Apakah ada peta geologisnya?”
“Ada beberapa catatan lama di arsip pengelolaan wilayah. Saya akan meminta petugas mencarinya.”
“Terima kasih.”
Edmund membungkuk sebelum keluar.
Julian kembali membaca, tetapi pikirannya kini memiliki satu arah yang lebih jelas.
Mereka tidak harus memasuki hutan dan mencari monster yang belum diketahui.
Mereka bisa memeriksa tanahnya terlebih dahulu.
Keesokan paginya, ahli mana tiba di kediaman House Varell.
Namanya Master Orven Hale, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut kelabu dan tongkat kayu berukir lingkaran-lingkaran kecil. Pakaian kerjanya sederhana, jauh berbeda dari jubah megah yang biasa dikenakan penyihir istana.
Ia datang bersama dua asisten dan sebuah alat pengukur mana berbentuk cakram logam.
Julian bertemu dengannya di halaman ketika Damir bersiap berangkat.
“Jadi, ini putra Duke Varell?” Orven bertanya setelah diperkenalkan.
“Julian Varell,” jawab Julian sopan.
Orven memperhatikannya sekilas, lalu tersenyum.
“Aku dengar kau ikut dalam pemeriksaan kemarin.”
“Benar, Master.”
“Kalau begitu, kau bisa menunjukkan lokasi yang menurutmu perlu diperiksa.”
Julian tidak langsung menjawab.
“Saya bisa menunjukkan lokasi yang kami temukan, tetapi saya belum tahu apakah tempat itu benar-benar menjadi sumber masalah.”
Orven tertawa pendek.
“Bagus. Setidaknya kau tidak datang dengan kesimpulan yang sudah dikunci.”
Damir melirik putranya, lalu mengangguk kepada sang ahli.
Mereka kembali berangkat menuju wilayah utara.
Kali ini, rombongan membawa peralatan tambahan. Orven meminta semua orang menjaga jarak ketika ia mulai memeriksa permukaan tanah menggunakan cakram logamnya.
Awalnya, tidak terjadi apa-apa.
Kemudian garis-garis tipis berwarna biru muncul pada permukaan alat.
Orven mengerutkan kening.
Ia memindahkan cakram itu beberapa langkah ke timur.
Cahayanya melemah.
Ketika dibawa mendekati lereng, garis-garis biru tersebut kembali menyala.
“Menarik,” gumamnya.
Damir berdiri di sampingnya.
“Apa yang Anda temukan?”
“Ada perubahan aliran mana di bawah tanah. Namun, pola ini tidak menyerupai gangguan biasa.”
“Apakah itu berbahaya?”
“Belum tentu. Saya perlu memeriksa beberapa titik lagi.”
Orven berjalan menuju bagian lereng yang tanahnya retak.
Julian mengikuti dari belakang, tetap berada dalam jarak aman.
Saat cakram itu diletakkan di dekat akar pohon tumbang, cahayanya berubah menjadi lebih terang.
Orven segera mengangkat tangannya.
“Jangan bergerak mendekat.”
Semua orang berhenti.
Sang ahli berlutut, menyentuh tanah menggunakan ujung tongkatnya, lalu memejamkan mata untuk merasakan aliran mana.
Beberapa detik berlalu.
Wajahnya berubah serius.
“Duke Varell, saya perlu melaporkan sesuatu.”
“Apa itu?”
Orven membuka mata.
“Aliran mana di bawah lereng ini tidak bergerak secara alami. Ada tekanan dari suatu titik di bawah permukaan tanah.”
Damir menatap retakan di hadapannya.
“Apakah ini penyebab perpindahan hewan?”
“Saya belum bisa memastikan. Namun, jika tekanan ini terus meningkat, tanah di sekitar lereng mungkin menjadi tidak stabil.”
Julian memperhatikan cakram yang kini berpendar terang.
Ia tidak bisa merasakan aliran mana sejelas Orven. Kemampuan itu masih jauh dari penguasaannya.
Tetapi ia mengerti satu hal.
Mereka akhirnya menemukan sesuatu yang dapat diperiksa, bukan sekadar dugaan berdasarkan jejak hewan.
Orven berdiri dan mengamati lereng lebih jauh.
“Kita perlu menentukan seberapa dalam sumber tekanan ini berada sebelum memutuskan tindakan berikutnya.”
“Berapa lama?” tanya Damir.
“Jika pemeriksaannya berjalan lancar, dua atau tiga hari.”
Damir mengangguk.
“Lakukan pemeriksaan. Saya akan memastikan tidak ada orang memasuki kawasan ini.”
Julian memandang ke arah pepohonan di atas lereng.
Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami mengapa hutan kehilangan suaranya.
Bukan karena hutan itu kosong.
Melainkan karena sesuatu di bawahnya mungkin sedang berubah.
Dan perubahan tersebut belum selesai.