Chapter 72 of 75
Chapter 72 — Tantangan di Halaman Belakang
1.3k words
Pagi yang cerah kembali menyelimuti kediaman House Varell.
Setelah dua hari hujan, halaman belakang tampak lebih segar. Daun-daun yang sempat merunduk kini kembali terangkat, sementara tanah yang sebelumnya basah mulai mengeras di bawah sinar matahari.
Julian berdiri di depan rak senjata latihan.
Pedang kayu berada di tangan kanannya. Di hadapannya, Damir telah menunggu dengan pedang serupa.
“Sudah siap?” tanya Damir.
“Sudah, Ayah.”
“Kalau begitu, kita mulai dengan latihan biasa.”
Julian mengambil posisi.
Mereka bertukar serangan selama beberapa menit. Julian menjaga jarak, mengubah langkah, dan mencoba membaca pergerakan Damir tanpa terlalu bergantung pada perhitungan yang berlebihan.
Pedang kayu mereka beradu beberapa kali.
Tok!
Julian memiringkan tubuh untuk menghindari serangan berikutnya, kemudian melangkah ke samping. Ia mengarahkan pedangnya menuju sisi pertahanan Damir.
Damir menangkisnya.
“Lebih baik,” katanya.
Julian mundur satu langkah.
“Apa yang masih kurang?”
“Kau terlalu sering mengandalkan perubahan arah untuk keluar dari posisi sulit.”
“Bukankah itu lebih baik daripada menerima serangan?”
“Tidak selalu. Lawan yang lebih berpengalaman bisa sengaja memancingmu mengubah arah, lalu menunggu saat kau kehilangan keseimbangan.”
Julian memeriksa kembali posisi kakinya.
Ia memahami maksud Damir.
Gerakan yang berhasil sekali belum tentu menjadi pilihan tepat dalam setiap situasi. Kebiasaan yang terlalu sering digunakan bisa berubah menjadi pola yang mudah dibaca.
“Sekali lagi,” ujar Julian.
Damir mengangkat pedangnya.
Kali ini, Julian mencoba mempertahankan posisi lebih lama sebelum mengambil keputusan. Ia menahan serangan pertama, menggeser kaki untuk menjaga keseimbangan, lalu membalas ketika celah benar-benar terbuka.
Pedang mereka kembali berbenturan.
Julian berhasil menyentuh bahu Damir dengan ujung pedang kayunya.
Damir berhenti.
Julian menurunkan senjatanya.
“Kena?”
“Ya.”
Julian mengembuskan napas lega.
Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Damir melanjutkan.
“Kalau ini pertarungan sungguhan, kau mungkin sudah terkena serangan balasan.”
Julian menatap bahu ayahnya, lalu melihat posisi pedang mereka ketika serangan terakhir terjadi.
Benar.
Ia terlalu fokus memastikan serangannya berhasil hingga mengabaikan tangan Damir yang masih bebas bergerak.
“Kesalahan saya.”
“Kesalahan yang bagus untuk dipelajari sekarang, bukan nanti.”
Damir menepuk bahu putranya.
“Beristirahatlah sebentar.”
Julian meletakkan pedang kayunya di rak.
Latihan hari itu terasa lebih sulit daripada biasanya. Bukan karena Damir menyerang lebih cepat, melainkan karena ia sengaja membatasi kesempatan Julian untuk menggunakan pola yang sama berulang kali.
Julian membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Dan ia menyukai tantangan tersebut.
Ketika Julian sedang minum, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor.
Elena muncul dengan ekspresi yang terlalu bersemangat untuk seseorang yang baru saja selesai sarapan.
“Julian!”
Julian menurunkan cangkirnya.
“Ada apa?”
“Aku punya ide.”
Damir langsung melirik putrinya.
“Seberapa besar masalah yang akan ditimbulkan ide itu?”
“Ayah!”
Elena meletakkan kedua tangan di pinggang.
“Kenapa Ayah selalu menganggap ideku akan menimbulkan masalah?”
“Pengalaman.”
Julian hampir tertawa, tetapi ia berhasil menahannya dengan meneguk air.
Elena mengabaikan komentar ayahnya dan mengeluarkan dua benda dari balik punggungnya.
Dua pedang kayu.
Satu berukuran biasa, sedangkan yang lain sedikit lebih pendek.
“Aku ingin berlatih bersama Julian.”
Damir mengangkat alis.
“Kau ingin belajar menggunakan pedang?”
“Bukan. Aku ingin mencoba latihan yang biasa dilakukan Julian.”
Julian memandangi kedua pedang itu.
“Kau yakin?”
“Tentu saja.”
“Latihan ini bukan permainan.”
“Aku tahu.”
Elena mengambil pedang yang lebih pendek dan mengayunkannya perlahan untuk mencoba keseimbangan.
“Aku tidak berencana menjadi pendekar hebat. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya berlatih dengan benar.”
Damir memandang putrinya beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
“Baik. Tetapi kalian harus mengikuti aturan. Tidak ada serangan ke kepala, tidak ada gerakan yang disengaja untuk mencederai lawan, dan berhenti ketika salah satu dari kalian kehilangan keseimbangan.”
“Baik, Ayah!”
Elena menjawab dengan cepat.
Julian mengambil pedang kayu yang tersisa.
Ia tidak keberatan membantu kakaknya. Namun, ia juga tahu bahwa pengalaman Elena jauh berbeda darinya.
Karena itu, ia memutuskan untuk tidak memperlakukannya seperti lawan yang harus dikalahkan.
Mereka berdiri berhadapan di tengah halaman.
Elena mengangkat pedangnya dengan posisi yang tampak kurang nyaman.
Julian memperhatikannya.
“Kakak pernah berlatih sebelumnya?”
“Sedikit. Aku pernah mengikuti latihan dasar bersama instruktur keluarga.”
“Kalau begitu, kita mulai dengan langkah sederhana.”
Elena mengangguk penuh semangat.
Damir berdiri di sisi halaman untuk mengawasi.
“Mulai.”
Elena bergerak lebih dahulu.
Serangannya cukup cepat untuk seseorang yang jarang berlatih, tetapi langkah kakinya terlalu panjang. Julian menggeser tubuh, menahan pedangnya, lalu mundur agar Elena tidak kehilangan keseimbangan.
“Jangan mengejar terlalu jauh,” ujar Julian. “Kau akan kesulitan mengembalikan posisi.”
Elena memperbaiki langkahnya.
“Begini?”
“Lebih baik.”
Mereka mencoba lagi.
Kali ini, Elena bergerak dengan lebih hati-hati. Ia mengarahkan pedangnya dari samping, kemudian mencoba mengubah sudut serangan.
Julian menangkisnya.
Elena segera mundur.
“Bagaimana?”
“Kau sudah mulai memahami jarak.”
Elena tersenyum bangga.
“Bagus!”
Ia langsung maju lagi.
Julian mengangkat pedangnya untuk menahan serangan berikutnya.
Tok!
Pedang kayu mereka bertemu, tetapi Elena kehilangan keseimbangan ketika mencoba mengubah arah terlalu cepat.
Julian segera menarik senjatanya dan mengulurkan tangan untuk membantu kakaknya berdiri tegak.
Elena menghela napas panjang.
“Aku hampir berhasil.”
“Hampir.”
“Kau tidak perlu terdengar begitu puas.”
“Aku tidak puas. Aku hanya menjawab.”
Elena menatapnya dengan kesal, sementara Damir tertawa kecil dari pinggir halaman.
“Cukup untuk sekarang,” kata Damir. “Kalian sudah berlatih selama hampir setengah jam.”
Elena menurunkan pedangnya.
“Secepat itu?”
“Tubuhmu belum terbiasa dengan latihan seperti ini. Beristirahatlah sebelum mencoba lagi.”
Elena mengembalikan pedangnya ke rak.
Kemudian ia duduk di bangku dekat Julian.
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Berlatih pedang ternyata lebih sulit daripada kelihatannya.”
Julian menyandarkan pedang kayunya di samping bangku.
“Itu berlaku untuk banyak hal.”
Elena meliriknya.
“Kau terdengar seperti Edmund.”
“Sepertinya semua orang mulai mengatakan itu kepadaku.”
“Karena memang benar.”
Elena tertawa, lalu menyandarkan punggungnya.
Beberapa saat kemudian, ia menoleh kepada Julian.
“Besok kita latihan lagi?”
Julian memandang kakaknya.
“Kalau Kakak masih ingin melakukannya.”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, besok.”
Elena mengulurkan kelingkingnya.
Julian menatap jari tersebut, lalu mengaitkannya.
“Janji.”
Dari kejauhan, Damir memperhatikan kedua anaknya.
Ada sesuatu yang menenangkan dalam pemandangan sederhana itu.
Julian, yang biasanya lebih suka melakukan sesuatu sendirian, mulai membiarkan anggota keluarganya ikut dalam kegiatan yang ia nikmati. Sementara Elena menemukan kegiatan baru yang bisa mereka lakukan bersama.
Tidak ada yang luar biasa.
Namun, bagi Damir, perubahan kecil semacam itu tetap berarti.
Siang harinya, Julian pergi ke ruang baca yang baru saja selesai ditata.
Elena telah menempelkan aturan tambahan di dekat pintu. Tulisan nomor lima yang dibuat Julian masih ada, meskipun di bawahnya terdapat sebuah catatan baru dengan tinta berbeda.
6\. Penghuni ruang baca dilarang menggunakan aturan untuk mengganggu penghuni lainnya.
Julian langsung mengetahui siapa penulisnya.
Ia menemukan Elena sedang duduk dekat jendela, membaca buku tentang teknik menggambar.
“Kau menambahkan aturan lagi?”
Elena bahkan tidak mengangkat kepala.
“Ya.”
“Untuk apa?”
“Menjaga ketertiban.”
Julian memeriksa kertas itu.
“Menarik. Aturan keenam sepertinya dibuat untuk membatalkan aturan kelima.”
“Tidak ada yang membatalkan apa pun.”
“Kalau begitu, aku akan menambahkan aturan ketujuh.”
Elena langsung menutup bukunya.
“Jangan!”
Julian tersenyum.
“Berarti kita sepakat tidak perlu ada aturan tambahan.”
Elena menunjuk pintu.
“Keluar.”
“Ini ruang baca bersama.”
“Julian!”
Tawa mereka terdengar hingga koridor.
Edmund yang kebetulan lewat berhenti sejenak di depan pintu. Ia memeriksa tulisan aturan yang ditempel di dinding, lalu menghela napas panjang.
Sepertinya ruangan itu memang sudah hidup kembali.
Hanya saja, ketenangan yang diharapkan para penghuninya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk terwujud.
Menjelang sore, Julian kembali ke kamarnya.
Ia membuka buku catatan kecil dan menuliskan beberapa hal yang dipelajarinya dari latihan pagi.
Bukan sekadar tentang posisi pedang atau langkah kaki.
Ia menulis bahwa keberhasilan menyerang tidak berarti seseorang telah menguasai pertarungan. Setiap gerakan menciptakan keadaan baru yang harus diperhatikan.
Kemudian, di bagian bawah halaman, ia menambahkan satu kalimat.
Kemampuan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang bisa dilakukannya sendiri, tetapi juga dari bagaimana ia menyesuaikan diri ketika orang lain ikut terlibat.
Julian menutup buku itu.
Di kehidupan sebelumnya, Adrian Voss terbiasa bekerja sendirian karena kesalahan orang lain bisa berarti kegagalan sebuah misi.
Namun kehidupan yang dijalaninya sekarang berbeda.
Ia tidak selalu harus menjadi orang yang paling mampu.
Terkadang, ia hanya perlu membantu seseorang belajar tanpa membuat orang itu merasa harus menjadi dirinya.
Julian melihat pedang kayu yang bersandar di dekat meja.
Besok, ia akan kembali berlatih bersama Damir.
Dan jika Elena benar-benar menepati janjinya, halaman belakang mungkin akan menjadi sedikit lebih ramai dari biasanya.
Anehnya, Julian justru menantikan hal itu.