Chapter 71 of 75

Chapter 71 — Hari Ketika Hujan Mengubah Rencana

1.5k words

Hujan turun sejak sebelum matahari terbit. Bukan gerimis ringan yang biasa membasahi halaman kediaman Varell, melainkan hujan deras yang mengguyur atap, menggenangi jalan setapak, dan membuat pepohonan di sekitar estate tampak seperti bayangan di balik tirai air. Julian berdiri di dekat jendela kamarnya. Di atas meja, busur dan pedang latihannya sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Rencananya sederhana: berlatih pada pagi hari, sarapan, lalu menemui Meriel untuk menanyakan beberapa hal mengenai tanaman yang ditemukannya di hutan. Sayangnya, cuaca memiliki rencana berbeda. Julian memperhatikan halaman belakang. Air mengalir dari atap gudang menuju saluran pembuangan. Pada bagian halaman yang lebih rendah, genangan mulai terbentuk. Ia mengambil mantel tipis, lalu meninggalkan kamar. Ketika sampai di lantai bawah, ia menemukan Edmund sedang memberikan instruksi kepada beberapa pelayan. “Periksa saluran di sisi timur,” ujar kepala pelayan itu. “Pastikan air tidak masuk ke gudang penyimpanan. Jika ada bagian yang tersumbat, bersihkan setelah hujan sedikit mereda.” “Baik, Tuan Edmund.” Julian mendekat. “Apakah ada masalah?” Edmund menoleh. “Selamat pagi, Tuan Muda Julian. Belum ada masalah besar. Hujan turun lebih deras daripada perkiraan, sehingga kami sedang memeriksa beberapa bagian bangunan.” Julian melirik ke arah jendela. “Bagaimana dengan gudang di belakang kandang?” “Gudang yang menyimpan perlengkapan berkebun?” “Ya.” Edmund mengangguk. “Salurannya diperiksa kemarin. Namun, saya akan meminta seseorang memastikan kondisinya kembali.” “Kalau begitu, saya ingin melihatnya setelah hujan mereda.” Edmund mengangkat alis. “Untuk alasan tertentu?” “Karena saya ingin mengetahui bagian mana yang paling mudah menampung air.” Jawaban itu membuat Edmund tersenyum tipis. “Tentu. Namun, Tuan Muda tidak perlu keluar selama hujan masih deras.” “Saya mengerti.” Julian tidak membantah. Ia tahu bahwa memaksakan diri keluar hanya untuk memeriksa genangan air bukanlah tindakan yang bijaksana. Ia pun mengubah rencananya. Jika tidak bisa berlatih di halaman, ia bisa menggunakan waktu pagi untuk melakukan sesuatu yang selama ini tertunda. Di perpustakaan utama, Julian menemukan beberapa buku mengenai pengelolaan wilayah. Ia membawa tiga buku ke meja dekat jendela, kemudian mulai membaca bagian yang berkaitan dengan sistem drainase, penyimpanan hasil panen, dan perawatan bangunan. Informasinya cukup menarik. Beberapa buku menjelaskan bahwa saluran pembuangan tidak hanya perlu memiliki ukuran yang memadai, tetapi juga harus dibersihkan secara berkala. Daun, lumpur, dan material yang terbawa hujan dapat mengurangi aliran air. Namun, Julian tidak langsung menganggap semua informasi itu berlaku untuk setiap tempat. Kondisi tanah, kemiringan permukaan, dan posisi bangunan juga memengaruhi aliran air. Ia menuliskan beberapa poin dalam buku catatannya. Bukan untuk menyusun rencana besar. Ia hanya ingin memiliki dasar yang cukup sebelum memeriksa keadaan di lapangan. “Julian?” Suara Elena terdengar dari pintu. Julian mengangkat kepala. Kakaknya berdiri sambil membawa dua cangkir minuman hangat. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena baru bangun tidur. “Kau sudah belajar sejak pagi?” “Membaca.” “Itu sama saja.” Elena meletakkan salah satu cangkir di meja. “Aku membawakan minuman untukmu. Ibu bilang kita tidak boleh keluar sampai hujannya mereda.” “Keputusan yang masuk akal.” Elena menarik kursi di seberangnya. “Aku sebenarnya sudah berencana mengunjungi kebun.” “Dengan cuaca seperti ini?” “Aku ingin melihat apakah bunga-bunga yang ditanam kemarin masih baik-baik saja.” Julian menyesap minumannya. “Bunga di taman tidak akan pergi ke mana-mana.” “Aku tahu.” “Kalau begitu, kau bisa memeriksanya setelah hujan.” Elena memelototinya. “Kau dan Evelyne benar-benar cocok. Kalian sama-sama bisa membuat sesuatu yang sederhana terdengar seperti nasihat dari orang tua.” Julian hampir tersedak minumannya. Elena langsung tertawa. “Wajahmu lucu sekali!” “Aku sedang minum.” “Itu sebabnya aku tidak menyangka kau akan bereaksi.” Julian meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Aku akan mengingat ini.” “Silakan. Tambahkan ke buku catatanmu.” Elena tertawa lagi sebelum akhirnya membuka buku yang dibawanya sendiri. Ia ternyata datang untuk mencari beberapa referensi bagi ruang baca mereka. Untuk beberapa waktu, mereka membaca bersama. Sesekali Elena bertanya mengenai isi buku yang dipegang Julian. Sesekali pula Julian membantu mencari judul yang sesuai dengan kebutuhan kakaknya. Pagi yang semula direncanakan untuk latihan berubah menjadi kegiatan membaca yang tenang. Dan Julian mulai menyadari bahwa hari tanpa latihan tidak harus dianggap sebagai hari yang terbuang. Menjelang siang, hujan mulai melemah. Julian mengenakan mantel dan meminta izin kepada Damir untuk memeriksa gudang belakang bersama seorang pekerja. Damir tidak langsung mengizinkannya. “Kau tidak perlu memeriksa semuanya sendiri.” “Saya hanya ingin melihat kondisinya, Ayah.” “Kalau begitu, ajak seseorang yang memahami bangunan.” “Sudah.” Damir memperhatikan putranya beberapa saat, kemudian mengangguk. “Baik. Jangan mendekati saluran yang masih dialiri air deras.” “Saya mengerti.” Julian meninggalkan rumah bersama seorang pekerja bernama Tomas, yang bertanggung jawab atas pemeliharaan beberapa bangunan di sekitar estate. Tanah masih basah. Air menetes dari ujung daun, dan udara membawa aroma tanah yang baru tersiram hujan. Mereka berjalan menuju gudang perlengkapan berkebun. Dari luar, bangunan itu tampak baik-baik saja. Atapnya tidak bocor, pintunya tertutup rapat, dan dinding kayunya tidak menunjukkan kerusakan yang jelas. Namun, di sisi bangunan, air menggenang hingga mendekati pijakan pintu. Tomas berjongkok untuk memeriksa saluran. “Sepertinya ada lumpur yang terbawa dari bagian atas halaman.” Julian melihat arah aliran air. Saluran itu tidak sepenuhnya tersumbat. Air masih mengalir, tetapi kecepatannya jauh lebih lambat daripada bagian lain. “Apakah saluran ini selalu seperti itu?” “Tidak. Biasanya air mengalir lebih cepat.” “Apakah ada saluran lain yang terhubung?” Tomas menunjuk ke arah belakang. “Ada satu lagi di balik gudang, tetapi ukurannya lebih kecil.” Julian berjalan mengitari bangunan melalui jalan yang tidak tergenang. Ia tidak mencoba melangkahi bagian yang licin. Setelah tiba di sisi belakang, ia menemukan saluran kedua yang mengarah ke area lebih rendah. Sebagian jalurnya tertutup daun dan ranting. “Sepertinya kita menemukan masalahnya,” ujar Julian. Tomas memeriksa bagian tersebut. “Benar. Daun-daun itu mungkin terbawa angin selama beberapa hari terakhir. Air tidak bisa mengalir dengan lancar.” Mereka tidak langsung membersihkannya. Tomas terlebih dahulu memastikan jalur air aman untuk dikerjakan, kemudian meminta dua pekerja lain membantu membersihkan sumbatan dari bagian yang dapat dijangkau dengan aman. Julian mengamati prosesnya. Ternyata penyebab genangan bukan kerusakan besar pada bangunan, melainkan gabungan beberapa hal kecil: daun yang menumpuk, lumpur yang terbawa hujan, dan saluran yang jarang diperiksa ketika cuaca cerah. Setelah sumbatan dibersihkan, air mulai mengalir lebih lancar. Genangan tidak langsung hilang, tetapi permukaannya perlahan turun. Tomas mengangguk puas. “Seharusnya ini cukup untuk sementara. Saya akan meminta bagian pemeliharaan memeriksa saluran tersebut secara berkala.” Julian mengamati hasilnya. “Bagus. Mungkin kita juga perlu memastikan air dari bagian atas halaman tidak membawa terlalu banyak lumpur ke sini.” “Kami bisa memeriksa kemiringan tanahnya setelah semuanya mengering.” Julian mengangguk. Itu lebih baik daripada mengubah jalur air hanya berdasarkan dugaan. Sebelum kembali ke rumah, ia mencatat lokasi gudang dan penyebab genangan dalam buku kecilnya. Tidak ada penemuan luar biasa hari itu. Tidak ada rahasia tersembunyi. Hanya sebuah masalah pemeliharaan yang ditemukan sebelum berubah menjadi kerusakan yang lebih besar. Namun, Julian merasa puas. Ia mulai memahami bahwa mengelola sesuatu bukan hanya tentang memperbaiki masalah setelah muncul. Terkadang, pekerjaan terpenting justru memastikan masalah kecil tidak dibiarkan menumpuk. Sore hari, hujan akhirnya berhenti. Awan masih menutupi sebagian langit, tetapi cahaya matahari kembali menyentuh halaman. Julian duduk di teras bersama Damir. Di hadapan mereka, seorang pelayan baru saja menyajikan teh hangat. “Edmund melaporkan bahwa kau membantu memeriksa gudang,” ujar Damir. “Saya hanya ikut mengamati.” “Dan apa yang kau pelajari?” Julian memikirkan jawabannya sebelum berbicara. “Bahwa keadaan yang terlihat baik belum tentu berarti semuanya berfungsi dengan baik.” Damir menyesap tehnya. “Penjelasan yang masuk akal.” “Namun, saya juga belajar bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan mengubah sesuatu. Terkadang, kita hanya perlu membersihkan bagian yang menghalangi sistem yang sudah ada.” Damir menatap halaman belakang. “Banyak orang ingin segera membangun sesuatu yang baru ketika menghadapi masalah. Padahal, mereka belum tentu memahami apa yang sudah mereka miliki.” Julian menyimpan perkataan itu dalam pikirannya. Ada sesuatu yang terasa akrab dari kalimat tersebut. Dalam kehidupan sebelumnya, Adrian terbiasa mencari cara tercepat untuk mencapai tujuan. Ia mengamati kelemahan, menghilangkan hambatan, lalu melanjutkan pekerjaannya. Namun, kehidupan Julian memberinya kesempatan untuk melihat persoalan dari sudut berbeda. Tidak semua hambatan adalah musuh. Tidak semua hal yang tidak sempurna perlu diganti. Dan tidak semua keberhasilan harus dicapai dengan tindakan besar. Damir meletakkan cangkirnya. “Besok kita bisa kembali berlatih.” “Baik, Ayah.” “Namun, jika hujan turun lagi, kau tidak perlu memaksakan diri.” Julian tersenyum tipis. “Saya sudah menemukan kegiatan lain yang bisa dilakukan di dalam rumah.” Damir menoleh. “Membaca buku tentang saluran air?” “Buku itu cukup menarik.” Untuk sesaat, Damir tampak tidak tahu harus menjawab apa. Kemudian ia tertawa pelan. “Baiklah. Selama kau tidak mulai meminta izin untuk memperbaiki seluruh saluran di wilayah kita.” Julian ikut tertawa. “Saya akan mempertimbangkannya.” “Julian.” “Baik, Ayah. Saya hanya bercanda.” Mereka kembali menikmati sore yang tenang. Di kejauhan, para pekerja mulai membersihkan halaman yang dipenuhi ranting kecil. Dari arah kandang terdengar suara kuda, sementara Elena memanggil seorang pelayan untuk membantunya memeriksa kebun. Kehidupan di kediaman Varell berjalan seperti biasa. Dan Julian menyukai kenyataan itu. Ia tidak perlu mencari petualangan setiap hari untuk membuktikan bahwa hidupnya berarti. Kadang-kadang, cukup dengan membantu memperbaiki sesuatu, belajar dari kesalahan kecil, lalu pulang untuk menikmati secangkir teh bersama ayahnya. Untuk saat ini, kehidupan seperti itu sudah lebih dari cukup.

End of Chapter 71