Chapter 70 of 75

Chapter 70 — Benih yang Belum Tumbuh

1.5k words

“Julian, menurutmu terlalu dalam atau belum?” Evelyne berjongkok di depan sebuah pot, memegang sekop kecil yang ujungnya masih dipenuhi tanah. Julian memeriksa lubang yang baru saja mereka buat. “Sedikit terlalu dalam.” Evelyne menghela napas. “Padahal aku sudah mengukurnya.” “Kau mengukurnya berdasarkan ukuran benih, bukan kedalaman tanah yang dibutuhkan.” “Bagaimana kau tahu?” “Ada keterangannya di bungkus benih.” Evelyne mengambil bungkusan itu, membacanya sekali lagi, lalu menatap Julian dengan ekspresi tidak puas. “Oh.” Julian menyerahkan sekopnya kembali. “Tidak masalah. Tanahnya masih bisa dirapikan.” Evelyne segera memperbaiki lubang tersebut. Kali ini ia mengikuti petunjuk yang tertulis pada bungkusan, lalu meletakkan benih dengan hati-hati sebelum menutupinya menggunakan lapisan tanah tipis. Setelah selesai, ia menyiramnya sedikit. Kemudian ia duduk di bangku kecil dan memandangi pot tersebut. Julian memperhatikan tindakannya. “Kenapa?” “Tidak apa-apa.” “Kau terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.” “Aku sedang membayangkan bunganya ketika sudah tumbuh.” Julian melihat pot itu sekali lagi. “Kalau begitu, kau harus menunggu cukup lama.” “Aku tahu.” “Dan kita belum tahu apakah benihnya akan tumbuh dengan baik.” “Aku juga tahu.” “Kalau begitu—” “Julian.” Evelyne menoleh kepadanya. “Bisa tidak kau membiarkanku menikmati harapan sebentar saja?” Julian menghentikan kalimatnya. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum kecil. “Silakan.” Evelyne kembali memandangi potnya dengan puas. Julian memilih duduk di sebelahnya. Di luar rumah kaca, angin menggerakkan daun-daun pohon, sementara cahaya matahari menembus kaca dan jatuh di atas lantai. Ia tidak keberatan menghabiskan waktu di sana. Bahkan, ia mulai memahami mengapa Evelyne begitu menyukai tempat ini. Rumah kaca tersebut bukan tempat yang sepenuhnya tenang. Ada suara air menetes dari wadah penyiraman, gesekan daun, dan langkah para pekerja di luar. Namun semuanya terasa berbeda dari kebisingan yang biasa ia dengar di kediaman utama. Tidak ada orang yang meminta keputusan. Tidak ada laporan yang harus diperiksa. Tidak ada kewajiban untuk memahami setiap kemungkinan sebelum bertindak. Mereka hanya menanam sebuah benih. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup. Setelah beristirahat sebentar, Evelyne mengajak Julian memeriksa tanaman lain. Ia menunjukkan bunga yang berhasil tumbuh dari bibit kecil, tanaman yang pernah hampir layu karena terlalu banyak air, serta beberapa pot yang belum menghasilkan apa pun meskipun sudah dirawat selama berminggu-minggu. “Yang itu gagal tumbuh?” tanya Julian sambil menunjuk sebuah pot kosong. Evelyne mengangguk. “Aku sudah mencoba dua kali.” “Kenapa tidak mengganti tanahnya?” “Sudah. Aku juga memindahkannya ke tempat yang mendapat lebih banyak cahaya.” “Lalu?” “Belum berhasil.” Julian berjongkok untuk memeriksa permukaan tanah. Ia tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang tanaman, tetapi pengalaman mengamati lingkungan mengajarinya bahwa kegagalan tidak selalu memiliki penyebab yang langsung terlihat. “Apakah kau mencatat perubahan yang sudah dilakukan?” Evelyne mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci meja. “Tentu saja.” Ia membuka halaman yang dipenuhi tulisan rapi. Di sana terdapat tanggal penanaman, jumlah air yang diberikan, perubahan posisi pot, dan beberapa catatan tentang kondisi daun. Julian membacanya. “Ini bagus.” Evelyne terlihat sedikit terkejut. “Benarkah?” “Kau punya catatan yang cukup lengkap. Setidaknya, kita bisa mengetahui apa yang sudah dicoba.” Julian membandingkan dua catatan dari minggu yang berbeda. Ada satu perbedaan kecil dalam jadwal penyiraman, tetapi ia tidak bisa memastikan apakah itulah penyebabnya. “Namun, kita belum punya cukup informasi untuk menentukan masalahnya.” Evelyne mengangguk. “Aku juga berpikir begitu. Tukang kebun mengatakan mungkin benihnya tidak cocok dengan musim ini.” “Kalau begitu, tanyakan apakah ada benih lain dari jenis yang sama. Kita bisa membandingkan hasilnya.” Evelyne langsung menulis saran tersebut. “Baik. Aku akan mencobanya.” Julian mengembalikan buku itu. Ia teringat bagaimana dahulu setiap kegagalan dalam pekerjaannya harus segera diikuti oleh tindakan korektif. Tidak ada ruang untuk menunggu terlalu lama. Waktu, risiko, dan hasil selalu menjadi pertimbangan utama. Di sini, mereka bisa mencoba lagi besok. Atau minggu depan. Tidak semua kegagalan harus diselesaikan pada hari yang sama. Pikiran itu terasa sederhana, tetapi Julian masih belajar menerimanya. “Julian?” Ia mengangkat kepala. Evelyne sedang memperhatikannya. “Kau terlihat jauh sekali.” “Sedang memikirkan sesuatu.” “Hal penting?” “Tidak terlalu.” Evelyne memiringkan kepala, tampak ingin bertanya lebih lanjut. Namun pada akhirnya ia memilih tidak melakukannya. “Kalau begitu, bantu aku memindahkan pot yang itu.” Julian berdiri. “Baik.” Ia mengangkat pot tersebut, mengikuti Evelyne menuju rak di dekat jendela, dan meletakkannya di tempat yang telah ditentukan. Percakapan mereka kembali dipenuhi hal-hal sederhana. Bunga yang tumbuh terlalu cepat. Daun yang berubah warna. Pot yang bentuknya terlalu besar. Evelyne bahkan sempat mengeluh bahwa beberapa tanaman lebih sulit diatur daripada manusia. Julian tidak membantah. Ia hanya berpikir bahwa, setidaknya, tanaman tidak akan berteriak memanggilnya ketika ia menambahkan satu kalimat pada daftar aturan ruang baca. Menjelang siang, mereka keluar dari rumah kaca untuk menghadiri makan bersama keluarga. Elena sudah duduk di meja ketika Julian dan Evelyne tiba. Ia memperhatikan noda tanah di tangan adiknya. Kemudian pandangannya beralih kepada Evelyne yang juga memiliki sedikit tanah pada ujung lengan bajunya. Senyumnya perlahan melebar. “Sepertinya kalian bersenang-senang.” “Kami menanam benih,” jawab Evelyne. “Oh, begitu.” Elena menopang dagu dengan satu tangan. “Apakah benihnya sudah tumbuh?” “Belum,” jawab Julian. “Kalau begitu, apa yang kalian lakukan selama berjam-jam?” “Menanamnya.” Elena menatap adiknya dengan tidak percaya. Scarlet yang duduk di dekatnya segera menyela sebelum Elena melanjutkan godaannya. “Sudahlah. Biarkan mereka menikmati waktunya.” Evelyne tampak lega. “Terima kasih, Duchess.” Scarlet tersenyum hangat. “Panggil aku Bibi Scarlet saja saat kita sedang bersama keluarga.” “Baik, Bibi Scarlet.” Makan siang berlangsung dengan suasana santai. Kedua keluarga membicarakan keadaan wilayah masing-masing, perubahan cuaca, dan persiapan menjelang musim dingin. Julian lebih banyak mendengarkan, sesekali memberikan pendapat ketika pembicaraan menyentuh pengelolaan tanah atau jalur perdagangan. Pada satu kesempatan, ayah Evelyne menanyakan pendapatnya tentang cara menjaga persediaan hasil panen agar tidak mudah rusak selama penyimpanan. Julian menjelaskan beberapa hal yang pernah dipelajarinya ketika mengunjungi Desa Laren, terutama pentingnya ventilasi dan pemeriksaan kondisi gudang. Ia tidak mengaku mengetahui semuanya. Beberapa hal masih perlu dipelajari dari orang-orang yang bekerja langsung di lapangan. Damir mendengarkan tanpa menyela. Setelah Julian selesai, kepala keluarga Arclaire mengangguk. “Pengamatan yang baik. Pengalaman langsung memang sering memperlihatkan persoalan yang tidak tercantum dalam laporan.” Julian membalas dengan sopan. “Saya masih perlu mempelajari banyak hal, Duke Arclaire.” “Dan kau akan memiliki cukup waktu untuk melakukannya.” Percakapan berlanjut ke topik lain. Namun Julian menyimpan satu pemikiran dari pembicaraan tersebut. Belajar tidak selalu berarti mencari jawaban baru dari buku. Terkadang, ia perlu melihat bagaimana orang lain menjalankan pekerjaan mereka, memahami kendala yang mereka hadapi, dan menerima bahwa pengetahuan seseorang memiliki batas. Pengalaman Adrian memberinya banyak keunggulan. Namun kehidupan Julian menuntutnya mempelajari hal-hal yang belum pernah ia temui sebelumnya. Ia tidak bisa mengandalkan masa lalu untuk menjawab segala sesuatu. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa hal itu bukan sebuah kekurangan yang harus segera diperbaiki. Itu hanya bagian dari proses tumbuh. Sore harinya, Julian dan Evelyne kembali ke rumah kaca untuk terakhir kalinya sebelum keluarga Varell pulang. Evelyne memeriksa pot yang mereka tanam pagi tadi. Tanahnya masih tampak sama seperti sebelumnya. Ia berjongkok, menyentuh tepi pot, lalu berdiri dengan sedikit kecewa. “Belum ada perubahan.” Julian memandangnya. “Kau memang tidak bisa mengharapkan benih tumbuh dalam beberapa jam.” “Aku tahu.” “Kalau begitu, kenapa memeriksanya lagi?” Evelyne mengambil buku catatannya. “Karena aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja.” Ia menulis tanggal penanaman pada halaman baru, mencatat jumlah air yang diberikan, lalu menambahkan keterangan singkat tentang posisi pot. Setelah selesai, ia menutup buku tersebut. “Aku akan memeriksanya setiap pagi.” “Jangan sampai kau lupa menyiramnya karena terlalu sibuk memeriksa.” Evelyne tertawa kecil. “Aku tidak akan lupa.” Julian berjalan menuju pintu, tetapi Evelyne memanggilnya sebelum ia sempat keluar. “Julian.” Ia menoleh. “Terima kasih sudah membantuku hari ini.” Julian mengangkat bahu ringan. “Kau sudah menyiapkan semuanya. Aku hanya membantu sedikit.” “Justru itu. Aku senang kau mau membantu.” Evelyne memegang buku catatannya dengan kedua tangan. “Aku ingin melihatnya tumbuh. Dan ketika bunganya muncul, aku ingin kau melihatnya juga.” Julian memandang gadis itu beberapa saat. Tidak ada permintaan yang rumit di balik kalimat tersebut. Evelyne hanya ingin membagikan sesuatu yang ia rawat kepada seseorang yang berarti baginya. “Baik,” jawabnya. “Kalau kita masih punya kesempatan, aku akan melihatnya.” Evelyne tersenyum lebar. “Janji?” Julian mengulurkan jari kelingkingnya. “Janji.” Evelyne menyambutnya tanpa ragu. Mereka mengaitkan jari kelingking, lalu melepaskannya setelah beberapa detik. Julian tidak menganggap janji itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Namun ia memahami bahwa bagi Evelyne, janji sederhana tersebut cukup berarti. Maka ia berniat menepatinya. Dalam perjalanan pulang, Julian duduk di dekat jendela kereta dan memperhatikan pemandangan yang bergerak perlahan. Elena sudah tertidur di seberangnya. Scarlet berbincang pelan dengan Damir, yang duduk di sampingnya. Di luar, hamparan ladang mulai menghilang di balik pepohonan. Julian membuka buku catatan kecilnya. Ia menuliskan satu kalimat sebelum menutupnya kembali. Tidak semua hal yang berharga harus memberikan hasil dengan segera. Ia memandang tulisan itu sebentar. Kemudian menyimpan buku tersebut ke dalam saku. Julian masih memiliki banyak hal untuk dipelajari. Tentang Mana, tentang dunia ini, tentang kekuatan yang suatu hari mungkin harus ia gunakan. Namun ia tidak ingin mengubah seluruh hidupnya menjadi rangkaian latihan dan persiapan menghadapi bahaya. Ada hal-hal yang layak ditunggu. Ada hubungan yang perlu dijaga. Dan ada janji kecil yang ingin ia tepati. Di kediaman Varell, Elena mungkin sudah menyiapkan aturan baru untuk ruang baca. Di kediaman Arclaire, sebuah benih sedang menunggu waktunya untuk tumbuh. Sementara itu, Julian Varell melanjutkan perjalanannya pulang, tanpa mengetahui bahwa suatu hari nanti, kemampuan untuk bersabar terhadap hal-hal kecil akan sama pentingnya dengan kemampuan untuk bertindak ketika bahaya datang.

End of Chapter 70