Chapter 69 of 75

Chapter 69 — Undangan dari Balik Gerbang

1.4k words

Pagi itu, Julian sedang menyelesaikan sarapannya ketika Edmund datang membawa sebuah amplop berwarna krem. “Surat untuk Tuan Muda Julian.” Elena yang duduk di seberangnya langsung mengangkat kepala. “Untuk Julian? Dari siapa?” Edmund menyerahkan amplop tersebut kepada Julian sebelum menjawab. “Dari keluarga Arclaire, Nona.” Elena segera meletakkan sendoknya. “Oh?” Julian mengenali lambang pada bagian depan amplop. Sebuah bunga berkelopak enam dengan garis perak di sekelilingnya. House Arclaire. Ia membuka surat itu dengan hati-hati. Isinya singkat. Keluarga Arclaire berencana mengadakan pertemuan kecil di kediaman mereka dalam beberapa hari mendatang. Tidak ada perayaan besar ataupun acara resmi antarkeluarga bangsawan. Mereka hanya mengundang beberapa keluarga yang memiliki hubungan dekat untuk menikmati kebun musim gugur dan makan siang bersama. Di bagian akhir, terdapat tulisan tangan yang berbeda dari isi surat utama. Julian, jangan lupa datang. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Evelyne. Julian membaca kalimat itu sekali lagi, kemudian melipat suratnya. Elena sudah tidak sabar. “Jadi, apa katanya?” “Keluarga Arclaire mengundang kita berkunjung.” “Aku tahu itu. Apa tulisan di bagian bawahnya?” Julian menatap kakaknya. “Bagaimana kau tahu ada tulisan di bagian bawah?” “Karena biasanya surat undangan seperti itu terlalu formal untuk menarik perhatianmu.” “Pengamatan yang bagus.” “Julian!” Ia menyerahkan surat tersebut kepada Elena. Kakaknya membacanya dengan senyum lebar yang perlahan berubah menjadi ekspresi penuh arti. “Evelyne ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.” “Benar.” “Menurutmu, apa itu?” “Kalau aku tahu, dia tidak perlu mengundangku.” Elena menahan tawa. “Kau benar-benar menyebalkan.” “Terima kasih.” “Itu bukan pujian!” Damir, yang sejak tadi membaca laporan di sisi meja, akhirnya mengangkat wajah. “Kita akan berangkat dua hari lagi. Edmund, siapkan kereta dan kabari pihak Arclaire mengenai waktu kedatangan kita.” “Baik, Tuan.” Scarlet mengusap sudut bibirnya dengan serbet. “Julian, pastikan kau membawa pakaian yang sesuai. Kita akan berkunjung sebagai keluarga, tetapi tetap ada tata krama yang harus dijaga.” “Baik, Ibu.” “Dan Elena, jangan mengganggu adikmu sepanjang perjalanan.” Elena segera duduk tegak. “Ibu, aku hanya bertanya.” “Kau bertanya tujuh kali dalam waktu kurang dari lima menit.” “Itu karena Julian tidak menjawab dengan jelas!” Julian kembali mengambil sendoknya. Sarapan berlangsung seperti biasa setelah itu, meskipun Elena beberapa kali masih meliriknya dengan senyum yang mencurigakan. Julian memilih untuk tidak menanggapinya. Ia sudah cukup lama mengenal Evelyne untuk mengetahui bahwa gadis itu jarang mengirim pesan tanpa alasan. Namun, ia juga tahu bahwa tidak semua alasan harus dicari tahu sebelum waktunya. Kalau Evelyne ingin menunjukkan sesuatu, ia akan melihatnya sendiri ketika tiba di sana. Untuk sekarang, ia memiliki urusan lain. Dua hari kemudian, kereta House Varell meninggalkan kediaman mereka menjelang pagi. Perjalanan menuju wilayah Arclaire tidak terlalu jauh, tetapi jalan yang dilalui berbeda dari rute menuju Desa Laren. Jalan itu lebih terawat, melewati perbukitan rendah dan hamparan ladang yang mulai berubah warna seiring datangnya musim. Julian duduk di dekat jendela bersama Elena. Di luar, para pekerja sedang mengumpulkan hasil panen. Beberapa gerobak bergerak menuju gudang, sementara sekelompok anak berlari di sepanjang jalan setapak sebelum seorang dewasa memanggil mereka kembali. Elena mengikuti arah pandang adiknya. “Kau sedang memikirkan sesuatu?” “Memperhatikan jalan.” “Jalan?” “Jalannya lebih lebar daripada beberapa jalan di wilayah kita.” Elena memiringkan kepala. “Bukankah itu bagus?” “Untuk perdagangan, iya. Tetapi jalan yang lebar juga membutuhkan biaya perawatan lebih besar.” Elena memandang keluar lagi. “Kau mulai terdengar seperti Edmund.” “Semoga itu bukan hal buruk.” “Bukan. Hanya saja, kau masih sepuluh tahun.” Julian mengalihkan pandangannya kepada kakaknya. “Apakah umur menentukan apakah seseorang boleh memperhatikan jalan?” “Tidak. Tetapi anak berumur sepuluh tahun biasanya lebih tertarik pada hal lain.” “Seperti apa?” Elena tersenyum jahil. “Misalnya, memikirkan apa yang akan dilakukan bersama tunangannya.” Julian kembali melihat ke luar jendela. “Pemandangan di sebelah sana lebih menarik.” Tawa Elena memenuhi kereta. Damir yang duduk di kereta lain tidak mendengar percakapan itu. Beruntung bagi Julian, karena ia tidak ingin menghadapi dua anggota keluarga yang memutuskan untuk menjadikannya bahan candaan sekaligus. Perjalanan berlangsung tanpa hambatan. Menjelang siang, gerbang kediaman Arclaire mulai terlihat. Berbeda dengan Varell Estate yang memiliki kesan kokoh dan disiplin, kediaman Arclaire dikelilingi taman luas dengan jalan setapak berbatu putih. Bunga-bunga musim gugur tumbuh di sepanjang pagar, sementara beberapa pohon dengan daun keemasan menaungi halaman depan. Begitu kereta berhenti, seorang pelayan segera menyambut mereka. Di belakangnya berdiri seorang gadis berambut pirang pucat dengan pita biru muda. Evelyne. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna putih kebiruan. Rambutnya ditata rapi, tetapi beberapa helai terlepas tertiup angin. Begitu melihat Julian turun dari kereta, wajahnya langsung cerah. “Julian!” Ia hampir berlari menghampiri, tetapi memperlambat langkah ketika menyadari para pelayan masih berdiri di dekat pintu masuk. Evelyne berhenti di hadapannya, lalu memberikan salam kecil. “Selamat datang di kediaman kami.” Julian membalas salamnya dengan sopan. “Terima kasih atas undangannya, Evelyne.” Gadis itu tersenyum. “Kau benar-benar datang.” “Tentu. Kau sudah mengirim undangan.” “Aku tahu, tetapi tetap saja.” Evelyne mengucapkan kalimat itu dengan cepat, lalu tampak menyadari bahwa jawabannya terdengar sedikit aneh. Elena yang baru turun dari kereta segera mendekat. “Evelyne! Kau semakin tinggi!” “Benarkah?” “Sedikit. Tapi sepertinya Julian belum menyadarinya.” “Aku menyadarinya,” jawab Julian. Evelyne menoleh kepadanya dengan mata berbinar. “Benarkah?” “Ya. Kau sekarang bisa mengambil buku dari rak yang lebih tinggi tanpa meminta bantuan.” Senyumnya menghilang sesaat. Kemudian Elena tertawa begitu keras sampai Scarlet harus mengingatkannya agar menjaga sikap di depan para pelayan. Evelyne menyilangkan tangan. “Kau sengaja, ya?” “Sedikit.” “Kau semakin menyebalkan.” “Sepertinya aku sering mendengar kalimat itu akhir-akhir ini.” Evelyne berusaha mempertahankan ekspresi kesalnya, tetapi akhirnya ikut tertawa. Suasana canggung yang sempat muncul pun lenyap. Setelah kedua keluarga bertukar salam, mereka dipersilakan menikmati taman. Damir dan kepala keluarga Arclaire berjalan bersama untuk membicarakan urusan wilayah. Scarlet menemani nyonya rumah, sementara Elena memilih menjelajahi taman bunga. Julian sebenarnya ingin mengikuti Elena, tetapi Evelyne sudah berdiri di sampingnya. “Aku ingin menunjukkan sesuatu.” Julian memandangnya. “Apakah itu alasan utama kau mengirim surat?” Evelyne mengangguk mantap. “Benar.” “Kalau begitu, aku akan mengikutimu.” Gadis itu tampak puas dengan jawaban tersebut. Mereka berjalan melewati jalan setapak menuju bagian belakang taman. Di sana terdapat sebuah bangunan kecil berdinding kaca dengan atap miring. Beberapa pot tanaman diletakkan di dekat pintu, sementara rak-rak kayu memenuhi bagian dalamnya. Sebuah rumah kaca. Julian berhenti sejenak untuk mengamati bangunan itu. “Tempat ini baru?” “Tidak. Sudah ada sejak aku kecil, tetapi belakangan ini diperbaiki. Ayah mengizinkanku menggunakannya untuk menanam tanaman yang kusukai.” Evelyne membuka pintu. Aroma tanah basah menyambut mereka. Di dalam, berbagai tanaman tumbuh dalam pot dengan label kecil di sampingnya. Ada tanaman berbunga, tanaman berdaun lebar, dan beberapa bibit yang baru mulai tumbuh. Julian berjalan perlahan di antara rak. “Kau merawat semuanya sendiri?” “Sebagian. Seorang tukang kebun membantuku untuk tanaman yang sulit dirawat.” Evelyne menunjuk pot-pot di dekat jendela. “Yang itu membutuhkan banyak cahaya. Yang di sebelahnya justru tidak boleh terkena matahari langsung terlalu lama.” Julian memeriksa label pada salah satu pot. “Sepertinya kau mempelajari semuanya dengan serius.” “Tentu saja. Kalau aku hanya menanam tanpa memahami kebutuhannya, tanaman-tanaman ini tidak akan tumbuh dengan baik.” Jawaban itu membuat Julian tersenyum tipis. Ada sesuatu yang menarik dari cara Evelyne berbicara tentang tanaman. Ia tidak sekadar menyebut bunga mana yang cantik atau warna mana yang disukainya. Ia memperhatikan kebutuhan setiap tanaman dan menyesuaikan perawatannya. Julian mengenali pendekatan itu. Bukan karena mereka memiliki kepribadian yang sama, melainkan karena Evelyne juga tampak menikmati proses memahami sesuatu. Gadis itu kemudian berhenti di dekat sebuah meja kecil. Di atasnya terdapat satu pot kosong, sebungkus benih, dan beberapa alat berkebun berukuran kecil. “Aku ingin menanam sesuatu di sini.” Julian melihat pot tersebut. “Tanaman apa?” “Itulah masalahnya. Aku belum memutuskan.” “Bukankah kau sudah menyiapkan benih?” Evelyne mengambil bungkusan kecil dari meja. “Ini benih bunga musim dingin. Aku ingin menanamnya, tetapi aku tidak yakin apakah tempat ini cukup cocok.” Julian memeriksa label pada bungkusan itu. Informasinya cukup terbatas, hanya menyebutkan kebutuhan tanah dan perkiraan waktu tumbuh. “Kalau begitu, kita bisa memeriksa kondisi tanahnya terlebih dahulu.” Evelyne langsung menatapnya. “Kau mau membantuku?” “Kau mengundangku untuk menunjukkan rumah kaca ini, bukan?” “Ya, tetapi aku tidak tahu apakah kau tertarik.” Julian menggulung sedikit lengan bajunya. “Sekarang aku tertarik.” Evelyne mengambil sekop kecil dan menyerahkannya kepadanya. “Kalau begitu, kita mulai!” Julian memandangi alat di tangannya. Ia datang ke kediaman Arclaire dengan dugaan bahwa Evelyne ingin memperlihatkan sesuatu yang istimewa. Ternyata, sesuatu itu adalah rumah kaca dan sekantong benih. Sederhana sekali. Namun ketika Evelyne mulai menjelaskan rencananya dengan penuh semangat, Julian tidak merasa kecewa. Ia justru menemukan dirinya ikut memeriksa tanah, membaca petunjuk, dan mendiskusikan tempat terbaik untuk meletakkan pot tersebut. Tidak ada pertarungan. Tidak ada rahasia berbahaya. Hanya dua anak bangsawan yang mencoba menanam bunga. Dan bagi Julian, pengalaman seperti itu semakin lama terasa semakin berharga. Sebab kehidupan yang ingin ia pertahankan tidak selalu dibangun melalui keputusan besar. Terkadang, kehidupan itu tumbuh dari hal-hal kecil yang dipilih dan dirawat bersama.

End of Chapter 69