Chapter 6 of 75

Chapter 6 — Nilai dari Sebuah Keping

1.1k words

Perjalanan pulang dari Elaris berlangsung lebih tenang dibandingkan perjalanan mereka saat berangkat. Kereta keluarga Varell bergerak perlahan melewati jalan utama yang membelah perbukitan. Dari balik jendela, Julian memandangi pemandangan yang perlahan berubah. Bangunan-bangunan kota menghilang. Jalan batu berubah menjadi tanah yang lebih kasar. Ladang-ladang terbuka mulai mendominasi pandangan, sebelum akhirnya pepohonan yang mengelilingi wilayah House Varell kembali terlihat. Julian duduk sendirian di sisi jendela. Di tangannya terdapat sebuah kantong kecil berwarna cokelat. Isinya tidak banyak. Beberapa keping logam. Namun sejak mereka meninggalkan Elaris, Julian beberapa kali membuka kantong tersebut dan menghitung isinya. Bukan karena takut kehilangan. Ia hanya sedang mencoba memahami sesuatu yang sederhana. Uang. Di kehidupan sebelumnya, Adrian hampir tidak pernah memikirkan harga barang sehari-hari. Organisasinya menyediakan tempat tinggal, senjata, pakaian, kendaraan, dan kebutuhan operasional lainnya. Ketika membutuhkan sesuatu, ia mengambilnya. Ketika sebuah misi selesai, bayaran masuk ke rekening yang bahkan jarang ia periksa. Uang baginya hanyalah angka. Di kehidupan ini, semuanya terasa berbeda. “Lima puluh tembaga...” Julian mengeluarkan satu keping dari kantongnya. Keping itu berwarna cokelat kemerahan dan memiliki lambang sederhana di salah satu sisinya. Ia membaliknya. “Dan sepuluh tembaga sama dengan satu perak.” “Benar.” Suara dari seberang membuat Julian mengangkat kepala. Scarlet sedang duduk sambil membaca buku tipis mengenai perdagangan dasar. Ia tersenyum melihat putranya. “Masih menghitung?” Julian mengangguk. “Saya ingin memahaminya.” Scarlet menutup bukunya. “Kalau begitu, kenapa tidak bertanya saja?” Julian memandang keping di tangannya. “Karena saya ingin mencoba memahami nilainya sendiri.” Scarlet terdiam sesaat. Kemudian senyumnya melebar. “Jawaban yang bagus.” Dari kursi di samping Scarlet, Elena langsung menyela. “Padahal tinggal tanya saja.” Julian menoleh. “Bukankah lebih baik mengetahui alasannya daripada sekadar mengetahui jawabannya?” Elena berkedip. “...Kadang-kadang kau terdengar seperti orang tua.” Scarlet tertawa kecil. “Dia memang terlalu serius untuk anak seusianya.” Julian tidak membantah. Di kursi depan, Damir yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “Uang memang sederhana.” Julian memperhatikannya. “Namun memahami nilainya tidak sesederhana menghitung jumlahnya.” Damir mengambil sebuah koin perak dari sakunya. “Sepuluh tembaga menjadi satu perak. Sepuluh perak menjadi satu emas. Seratus emas menjadi satu platinum.” Ia meletakkan koin perak di atas meja kecil di antara mereka. “Secara angka, mudah.” Damir kemudian menunjuk ke luar jendela. “Tetapi bagi seorang petani, beberapa tembaga bisa menentukan apakah keluarganya makan dengan layak hari itu.” Julian terdiam. “Bagi pedagang, beberapa emas mungkin hanya bagian kecil dari modal.” Damir kembali mengambil koin tersebut. “Bagi bangsawan, beberapa platinum bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang bahkan tidak akan pernah dilihat rakyat biasa.” Ia menatap Julian. “Nilai uang bergantung pada siapa yang memegangnya, untuk apa digunakan, dan bagaimana uang itu diperoleh.” Julian melihat keping perak tersebut. “Jadi uang bukan hanya alat pertukaran.” “Benar.” Damir menyandarkan tubuh. “Uang juga menunjukkan pilihan.” Kalimat itu membuat Julian berpikir. Pilihan. Kata itu terdengar sederhana. Namun semakin ia menjalani kehidupan keduanya, semakin ia menyadari betapa banyak hal dalam hidup berkaitan dengan pilihan. Di kehidupan sebelumnya, hampir semuanya telah ditentukan untuknya. Misi. Target. Waktu. Tempat. Cara membunuh. Bahkan kapan ia boleh berhenti. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia memiliki sesuatu yang sangat sederhana. Ia bisa memilih apa yang ingin dibeli. Ke mana ingin pergi. Dengan siapa ingin berbicara. Dan kelak... Ia bisa memilih bagaimana hidupnya berjalan. “Julian.” Suara Scarlet membuatnya kembali sadar. “Ya, Ibu?” Scarlet mengeluarkan sebuah kantong kecil lain. Ia menyerahkannya kepada Julian. “Ini untukmu.” Julian menerima kantong itu. “Apa ini?” “Uang saku.” Elena langsung tertawa. “Selamat datang di dunia orang yang harus belajar tidak menghabiskan uang dalam sehari.” Julian membuka kantong tersebut. Beberapa keping tembaga dan satu keping perak berada di dalamnya. Ia menghitungnya. “Seratus dua puluh tembaga.” Scarlet mengangguk. “Benar.” Julian memandang ibunya. “Untuk apa?” “Untuk apa pun yang kau inginkan.” Julian terdiam. “Tidak perlu meminta izin?” “Selama tidak digunakan untuk sesuatu yang berbahaya.” Scarlet melirik Damir. “Dan jangan membeli senjata aneh.” Damir mengangkat alis. “Aku tidak pernah mengatakan itu.” “Kau tidak perlu mengatakannya.” Elena tertawa. Julian menyimpan kembali uang itu. “Apa yang biasanya anak-anak lakukan dengan uang?” Elena menjawab cepat. “Makanan.” Scarlet menambahkan, “Mainan.” “Permen,” lanjut Elena. “Buku,” kata Scarlet. Elena berpikir sebentar. “Dan terkadang mereka menabung.” Julian mengangguk. “Kalau begitu saya akan menabung.” Elena langsung menatapnya tidak percaya. “Serius?” “Ya.” “Tidak mau membeli sesuatu?” Julian memandang keluar jendela. “Belum tahu.” Elena mendekat. “Kalau aku jadi kau, aku akan membeli makanan.” “Karena itu alasan kau sering ke dapur?” “Julian!” Tawa kecil memenuhi kereta. Bahkan Damir terlihat tersenyum tipis. Julian hanya tersenyum. Untuk sesaat, ia tidak memikirkan monster. Tidak memikirkan mana. Tidak memikirkan kemampuan membunuh. Tidak memikirkan kehidupan lamanya. Ia hanya duduk bersama keluarganya dan mendengarkan Elena berdebat dengan Scarlet mengenai makanan. Hal sederhana. Namun justru hal seperti itulah yang semakin ia hargai. --- Sore hari, mereka tiba di kediaman Varell. Setelah makan malam, Julian kembali ke kamarnya. Ia meletakkan kantong uangnya di atas meja. Kemudian ia mengambil selembar kertas. Di bagian atas, ia menulis: Catatan Pengeluaran. Ia memandang tulisan itu beberapa saat. Kemudian mulai membuat daftar. Tembaga — kebutuhan sehari-hari. Perak — kebutuhan yang lebih besar. Emas — barang bernilai tinggi. Platinum — transaksi sangat besar. Ia berhenti. Kemudian menambahkan satu kalimat. Jangan membeli sesuatu hanya karena mampu membelinya. Julian memandang tulisan itu. Entah kenapa, ia merasa kalimat tersebut penting. Di kehidupan sebelumnya, Adrian tidak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Senjata bukan miliknya. Uang bukan tujuan. Rumah bukan tempat tinggal. Bahkan identitasnya sendiri pada akhirnya bukan lagi miliknya. Sekarang ia memiliki keluarga. Rumah. Nama. Dan uang kecil yang diberikan ibunya. Semuanya terlihat sederhana. Tetapi justru karena sederhana, semuanya terasa berharga. Ketukan terdengar dari pintu. Tok. Tok. “Masuk.” Pintu terbuka. Edmund berdiri di sana dengan ekspresi formal seperti biasa. “Tuan Muda.” “Ya, Edmund?” “Yang Mulia Duke meminta Anda datang ke ruang latihan besok pagi.” Julian mengangkat alis. “Latihan?” “Benar.” “Dengan siapa?” Edmund tersenyum tipis. “Saya.” Julian terdiam. Ada sesuatu dalam cara Edmund mengatakan kalimat itu yang membuatnya merasa bahwa latihan besok tidak akan sesederhana latihan menggunakan tongkat seperti biasanya. “Apakah Ayah mengatakan alasannya?” “Beliau hanya mengatakan bahwa Anda sudah cukup besar untuk mempelajari sesuatu yang baru.” Julian menatap tongkat kayu yang bersandar di sudut kamar. Sesuatu yang baru. Ia berdiri. “Baik.” Edmund membungkuk. “Selamat malam, Tuan Muda.” “Selamat malam, Edmund.” Pintu kembali tertutup. Julian berjalan ke jendela. Di luar, malam menyelimuti halaman kediaman Varell. Lebih jauh lagi, hutan berdiri dalam kegelapan. Hutan yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempat Julian belajar banyak hal. Tentang berburu. Tentang bertahan hidup. Tentang ketakutan. Tentang dirinya sendiri. Ia menyentuh kantong uang kecil yang masih berada di atas meja. Kemudian menatap hutan. Besok ia akan menjalani latihan baru. Entah apa yang akan diajarkan Edmund. Tetapi Julian tidak merasa takut. Ia justru merasa penasaran. Dan untuk seseorang yang pernah menjalani hidup sebagai assassin, perasaan penasaran terhadap hal-hal sederhana mungkin adalah salah satu tanda paling jelas bahwa dirinya mulai benar-benar hidup. Julian mematikan lampu. Namun sebelum tidur, ia mengambil satu keping tembaga dari kantongnya dan meletakkannya di atas meja. Bukan untuk dibelanjakan. Hanya sebagai pengingat. Bahwa kali ini, bahkan sesuatu sekecil uang pun adalah miliknya karena ia memilih bagaimana menggunakannya.

End of Chapter 6

Chapter 6: Chapter 6 — Nilai dari Sebuah Keping - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio