Pagi itu, suara palu terdengar dari sayap timur kediaman Varell.
Tok. Tok. Tok.
Julian melewati koridor sambil membawa sebuah buku yang dipinjamnya dari perpustakaan utama. Langkahnya melambat ketika melihat dua pekerja mengangkat rak kayu melewati pintu ruangan yang sebelumnya hampir tidak pernah digunakan.
Salah satu rak itu miring.
“Sedikit ke kiri,” ujar Edmund yang berdiri di dekat pintu.
“Sebelah kiri saya atau kiri ruangan, Tuan?”
Edmund berhenti sejenak.
“Kiri ruangan.”
“Baik, Tuan.”
Rak itu kembali bergerak, kali ini ke arah yang benar.
Julian menahan senyum.
Edmund memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatur seluruh kediaman, tetapi bahkan dirinya tidak bisa mengendalikan setiap hal kecil yang terjadi ketika beberapa pekerja membawa perabotan berukuran besar.
“Selamat pagi, Tuan Muda Julian,” sapa Edmund setelah menyadari kehadirannya.
“Selamat pagi. Apa pekerjaannya sudah dimulai?”
“Benar. Tuan Putri Elena meminta agar rak lama diperiksa terlebih dahulu. Beberapa bagian masih layak digunakan, sedangkan sisanya perlu diperbaiki.”
Julian mengintip ke dalam ruangan.
Kemarin, tempat itu dipenuhi perabotan yang tertutup kain dan buku-buku yang dibiarkan menumpuk. Sekarang, jendela-jendelanya sudah dibuka. Cahaya matahari masuk melalui kaca tinggi, memperlihatkan debu yang beterbangan di udara.
Meja-meja kecil telah dipindahkan ke sisi ruangan.
Dua kursi diletakkan di dekat jendela.
Di tengah ruangan, Elena berdiri dengan selembar kertas berisi gambar tata letak.
Ekspresinya serius.
Terlalu serius untuk seseorang yang hanya sedang mengatur tempat membaca.
“Rak itu jangan diletakkan di sana!”
Kedua pekerja langsung berhenti.
Elena menunjuk sisi dinding.
“Kalau diletakkan di sana, cahaya dari jendela akan terhalang pada sore hari.”
Salah seorang pekerja melirik Edmund, meminta kepastian.
Edmund memeriksa gambar di tangan Elena.
“Benar. Letakkan di sisi utara.”
Rak kembali diangkat.
Elena menghela napas lega.
Barulah ia melihat Julian.
“Julian! Kau datang pada waktu yang tepat.”
“Aku mulai khawatir mendengar kalimat itu.”
Elena mengabaikan komentar adiknya.
“Kemarilah. Aku membutuhkan pendapatmu.”
Julian menghampiri meja tempat beberapa lembar kertas diletakkan. Di sana terdapat gambar sederhana ruangan tersebut, lengkap dengan posisi jendela, rak, meja, dan kursi.
Ia memeriksanya sebentar.
“Kau ingin menjadikan tempat ini perpustakaan kecil?”
“Bukan hanya perpustakaan.” Elena mengetuk kertasnya. “Aku ingin tempat yang nyaman untuk membaca, belajar, menggambar, atau sekadar duduk ketika tidak ingin berada di ruang keluarga.”
“Kalau begitu, tempat duduknya terlalu sedikit.”
Elena mengerutkan kening.
“Bukankah ada empat kursi?”
“Empat kursi untuk ruangan sebesar ini. Jika kau mengundang beberapa teman, sebagian dari mereka harus duduk di lantai.”
“Itu tidak buruk.”
“Terutama jika lantainya dingin.”
Elena menatap adiknya dengan kesal.
Julian melanjutkan pemeriksaan gambar seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tambahkan dua kursi di sisi jendela. Tidak perlu membeli yang baru. Kursi dari ruang keluarga yang jarang dipakai bisa dipindahkan kemari.”
Elena mendekat untuk melihat bagian yang ditunjuknya.
“Kalau begitu, kita juga bisa meletakkan meja kecil di antara keduanya.”
“Bisa. Tetapi jangan terlalu dekat dengan jendela. Saat hujan deras, air mungkin masuk.”
Elena segera menambahkan catatan.
Kemudian ia berhenti menulis.
“Sebentar. Sejak kapan kau pandai mengatur ruangan?”
“Sejak seseorang memintaku memberikan pendapat.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kalau begitu, anggap saja aku sedang berusaha tidak menyia-nyiakan waktu.”
Elena menyipitkan mata.
Adiknya memang semakin sulit ditebak.
Namun ia tidak keberatan. Selama Julian bersedia membantu, Elena akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin.
Menjelang siang, sebagian besar perabotan telah dipindahkan.
Rak-rak yang masih kokoh berdiri di sepanjang dinding. Sebuah meja panjang ditempatkan di tengah ruangan, sementara kursi-kursi tambahan menunggu untuk dibersihkan.
Masalah baru muncul ketika mereka mulai memeriksa buku-buku lama.
Jumlahnya jauh lebih banyak daripada perkiraan Elena.
Beberapa masih tersusun rapi di dalam peti. Sisanya bercampur dengan catatan, peta kecil, dan buku yang sampulnya sudah rusak.
Elena mengangkat sebuah buku tebal.
“Sejarah wilayah utara.”
Ia memindahkannya ke tumpukan buku sejarah.
Buku berikutnya berisi catatan tentang perawatan kuda.
Tumpukan lain berisi buku tentang tanaman, cuaca, pengolahan tanah, dan berbagai pengetahuan praktis.
Julian memeriksa beberapa judul.
“Ini bukan sekadar tempat membaca.”
Elena menoleh.
“Maksudmu?”
“Sebagian besar buku ini berkaitan dengan pengelolaan wilayah. Mungkin ruangan ini dahulu digunakan oleh seseorang yang bertanggung jawab mencatat keadaan tanah dan sumber daya kediaman.”
Edmund, yang sedang memeriksa kondisi rak, mendengar perkataan itu.
“Pengamatan yang tepat, Tuan Muda Julian.”
Ia menghampiri sebuah lemari kecil di sudut ruangan.
“Menurut catatan lama, ruangan ini pernah digunakan oleh pengelola perkebunan House Varell. Setelah sistem administrasi diperbarui, sebagian besar pekerjaannya dipindahkan ke kantor utama.”
“Lalu buku-bukunya dibiarkan di sini?” tanya Elena.
“Sebagian dipindahkan ke perpustakaan. Sisanya dianggap tidak lagi diperlukan.”
Elena memandang tumpukan buku di depannya.
“Padahal masih banyak yang berguna.”
“Benar,” jawab Edmund. “Namun menentukan mana yang masih relevan membutuhkan waktu.”
Julian mengambil sebuah buku tentang tumbuhan liar.
Ia membuka beberapa halaman.
Nama-nama tanaman tercatat bersama gambar, tempat tumbuh, dan kegunaannya. Beberapa halaman menjelaskan tanaman yang dapat dimakan, sementara halaman lain mencatat tanaman yang harus dijauhkan dari hewan ternak.
Di antara catatan tersebut, ia menemukan ilustrasi tanaman berdaun seperti kipas yang pernah dilihatnya di dekat aliran sungai.
Aurelia fanleaf.
Di bawah gambar itu terdapat keterangan singkat tentang kebutuhannya terhadap kelembapan dan tanah yang kaya mineral.
Julian membaca catatan tersebut sampai selesai.
Jadi, tanaman itu memang dikenal di wilayah ini.
Ia tidak menemukan penjelasan tentang biji kecil yang pernah disimpan Meriel, tetapi itu bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa keduanya berhubungan.
Ia menuliskan nama tanaman itu pada catatan pribadinya, lalu menutup buku.
Untuk sementara, ia hanya perlu memastikan bahwa informasi tersebut benar.
“Menemukan sesuatu yang menarik?” tanya Elena.
“Catatan tentang tanaman yang pernah kulihat.”
Elena langsung mendekat.
“Tanaman apa?”
“Aurelia fanleaf. Tumbuh di daerah lembap, terutama dekat aliran air.”
“Bisa dimakan?”
“Buku ini tidak menyebutkannya sebagai tanaman pangan.”
Elena menarik tangannya dari halaman yang hendak disentuh.
“Kalau begitu, jangan mencoba memakannya.”
“Aku tidak berniat melakukannya.”
“Bagus. Aku tidak ingin menjelaskan kepada Ibu mengapa adiknya sakit hanya karena penasaran terhadap tanaman.”
Julian mengangkat sebelah alis.
“Bukankah kau juga penasaran?”
“Tentu saja. Tetapi aku lebih suka tetap sehat sambil mencari tahu.”
Kali ini Julian benar-benar tertawa kecil.
“Pendekatan yang masuk akal.”
Elena terlihat puas karena berhasil membuat adiknya mengakui sesuatu.
Sore harinya, ruangan itu mulai terlihat berbeda.
Rak-rak telah dibersihkan. Buku-buku dipisahkan berdasarkan isi, sedangkan beberapa buku yang terlalu rapuh ditempatkan dalam peti khusus sampai bisa diperbaiki.
Elena memilih sebuah sudut dekat jendela untuk buku-buku bergambar.
Julian menyarankan agar buku-buku yang sering digunakan diletakkan di rak paling mudah dijangkau, sementara catatan lama disimpan di bagian atas.
Edmund menyetujui pembagian tersebut dan meminta seorang pelayan membuat label sederhana.
Tidak semuanya berjalan mulus.
Satu rak ternyata terlalu lebar untuk melewati pintu tanpa memiringkannya. Sebuah meja juga harus dipindahkan dua kali karena menghalangi jalan menuju jendela.
Namun menjelang matahari terbenam, pekerjaan utama mereka akhirnya selesai.
Elena berdiri di tengah ruangan sambil memeriksa hasilnya.
“Bagaimana menurutmu?”
Julian mengamati sekeliling.
Ruangan itu belum sempurna. Beberapa bagian dinding membutuhkan perbaikan, dan masih ada buku yang harus diperiksa. Namun cahaya sore membuat tempat tersebut terasa hangat.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dibiarkan kosong, ruangan itu kembali memiliki tujuan.
“Lebih baik daripada sebelumnya.”
Elena menunggu.
“Itu saja?”
“Rak-raknya tidak roboh, meja tidak menghalangi pintu, dan orang-orang bisa duduk tanpa harus berebut tempat.”
“Julian!”
“Baik. Ruangannya bagus.”
Elena memukul ringan lengan adiknya dengan gulungan kertas.
“Kau benar-benar tidak bisa memberikan pujian dengan normal.”
“Aku sudah memberikan pujian.”
“Itu laporan pemeriksaan.”
Julian tersenyum tipis.
Sebelum Elena sempat membalas, suara langkah terdengar dari koridor.
Scarlet memasuki ruangan bersama Damir.
Ia berhenti di ambang pintu, lalu memandang perubahan yang terjadi.
“Oh, ternyata kalian sudah sejauh ini.”
Elena segera menghampiri ibunya.
“Ibu, lihat! Kita menggunakan kembali hampir semua perabotan lama. Aku juga membagi buku-bukunya berdasarkan kategori.”
Scarlet memeriksa rak, kemudian duduk di salah satu kursi dekat jendela.
“Nyaman sekali.”
Elena tersenyum bangga.
“Aku memilih tempat ini karena cahaya sore masuk dengan baik.”
“Pilihan yang bagus.”
Scarlet melihat buku-buku yang tersusun rapi.
“Sepertinya aku akan mulai membaca di sini.”
“Benarkah, Ibu?”
“Tentu. Tetapi Ibu ingin satu hal.”
Elena langsung waspada.
“Apa?”
“Jangan biarkan ruangan ini kembali berantakan setelah seminggu.”
Julian melirik tumpukan buku yang masih tersisa di atas meja.
“Aku rasa Ibu sebaiknya mengatakan itu kepada orang yang membuat rencana.”
Elena menoleh tajam.
“Julian!”
Scarlet tertawa, sementara Damir menyembunyikan senyum kecilnya dengan berpura-pura memeriksa rak.
Untuk beberapa saat, ruangan itu dipenuhi percakapan ringan.
Tidak ada urusan wilayah yang mendesak.
Tidak ada laporan tentang monster.
Tidak ada pembahasan mengenai kekuatan atau ancaman.
Mereka hanya sedang menghidupkan kembali sebuah ruangan yang terlupakan.
Dan entah mengapa, Julian merasa pekerjaan sederhana itu memberikan kepuasan yang berbeda.
Dahulu, keberhasilan berarti menyelesaikan misi dan kembali tanpa meninggalkan masalah.
Sekarang, keberhasilan bisa berarti melihat kakaknya tersenyum karena sebuah ruangan akhirnya sesuai dengan keinginannya.
Ternyata ukuran sebuah hasil memang bisa berubah, tergantung kehidupan yang sedang dijalani seseorang.
Malamnya, setelah makan malam, Julian kembali ke ruangan tersebut seorang diri.
Ia membawa buku tentang Aurelia fanleaf untuk dikembalikan ke rak tanaman.
Ruangan itu lebih tenang sekarang. Lampu-lampu kecil menerangi meja, dan udara malam masuk perlahan melalui jendela yang sedikit terbuka.
Di atas meja, Elena meninggalkan sebuah kertas.
Tulisan tangannya besar dan mudah dibaca.
Aturan Ruang Baca:
* Buku harus dikembalikan ke tempatnya.
* Makanan tidak boleh diletakkan di atas buku.
* Dilarang mengganggu orang yang sedang membaca.
* Julian tidak boleh memindahkan perabotan tanpa memberi tahu Elena.
Julian membaca daftar itu dua kali.
Aturan keempat tampaknya ditulis khusus untuknya.
Ia mengambil pena, lalu menambahkan satu baris di bagian bawah.
5\. Elena tidak boleh mengubah aturan tanpa persetujuan penghuni ruang baca lainnya.
Ia meletakkan pena dan meninggalkan ruangan sebelum kakaknya menemukan tambahan tersebut.
Namun ketika Julian berjalan menuju tangga, sebuah suara terdengar dari belakang.
“JULIAN!”
Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.
Senyumnya muncul begitu saja.
Untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi, Julian menyadari bahwa ada masalah yang sama sekali tidak perlu diselesaikan dengan kemampuan bertarung, perhitungan, atau strategi.
Terkadang, ia hanya perlu menerima kenyataan bahwa memiliki seorang kakak perempuan berarti hidupnya tidak akan pernah benar-benar tenang.
Dan anehnya, ia tidak keberatan.