Chapter 67 of 75

Chapter 67 — Sebuah Permintaan dari Elena

1.5k words

Pagi itu, Julian baru selesai sarapan ketika Elena muncul di ruang makan dengan sebuah gulungan kertas di tangannya. “Julian, aku membutuhkan bantuanmu.” Julian meletakkan cangkir tehnya. “Bantuan seperti apa?” Elena menarik kursi di sebelahnya, kemudian membentangkan kertas tersebut di atas meja. Itu adalah gambar rancangan sebuah ruangan. Ada meja panjang, beberapa kursi, rak buku, dan jendela besar di salah satu sisinya. Di sudut ruangan, Elena menggambar sebuah lemari yang ukurannya hampir memenuhi seluruh dinding. Julian mempelajarinya beberapa saat. “Kau ingin mengubah kamarmu?” “Bukan kamarku. Ruang baca kecil di sayap timur.” Julian mengangkat pandangan. “Bukankah ruangan itu sudah memiliki rak buku?” “Rak bukunya terlalu kecil, mejanya terlalu dekat dengan jendela, dan kursinya tidak nyaman.” Elena menunjuk gambar dengan penuh semangat. “Aku ingin membuatnya menjadi tempat yang lebih bagus untuk membaca, belajar, dan menerima teman-temanku.” Julian memperhatikan ukuran meja yang digambarnya. “Kalau meja ini diletakkan di sini, pintu lemari akan terhalang.” Elena membeku. Ia melihat rancangan tersebut, kemudian melihat Julian. “Tidak akan.” “Coba perhatikan jaraknya.” Elena membungkuk lebih dekat. Beberapa detik kemudian, ia mengambil pena dan mencoret bagian gambar yang dimaksud. “Baiklah. Mungkin sedikit menghalangi.” “Sedikit?” “Julian.” Julian tersenyum. “Baik. Apa yang ingin kau lakukan?” Elena menjelaskan rencananya. Ia ingin ruang baca itu menjadi tempat yang nyaman, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk Julian. Ia bahkan telah memikirkan tempat penyimpanan buku, pencahayaan, dan sebuah meja kecil untuk menggambar. Namun, ketika ditanya mengenai ukuran ruangan dan jumlah perabot yang benar-benar dibutuhkan, Elena mulai kesulitan menjawab. Julian tidak mengejeknya. Ia mengambil selembar kertas kosong. “Kalau begitu, sebaiknya kita mulai dari ukuran ruangan yang sebenarnya.” Elena langsung tersenyum. “Aku tahu kau akan membantu!” “Aku belum mengatakan akan mengerjakan semuanya.” “Tapi kau sudah mengambil pena.” Julian memandang pena di tangannya. Ia tidak memiliki jawaban yang bisa membantah logika tersebut. Mereka menuju sayap timur setelah meminta izin kepada Scarlet. Ruang baca itu sudah lama tidak digunakan secara teratur. Beberapa rak masih dipenuhi buku lama, sementara sebagian perabot ditutupi kain untuk melindunginya dari debu. Cahaya matahari masuk melalui dua jendela tinggi. Julian berjalan mengitari ruangan, mengamati posisi pintu, jendela, dan rak buku. Elena langsung membuka salah satu penutup perabot. “Aku ingin mengganti meja ini.” “Kenapa?” “Terlalu besar.” Julian memeriksa meja tersebut. “Meja ini memang besar, tetapi permukaannya masih bagus. Kita bisa memindahkannya ke ruang lain.” Elena memiringkan kepala. “Kau ingin mempertahankannya?” “Kalau masih bisa digunakan, kenapa harus dibuang?” Elena menghela napas, tetapi tidak membantah. Mereka mulai mengukur ruangan dengan alat sederhana yang dipinjam dari petugas rumah tangga. Julian mencatat panjang setiap dinding, jarak antara jendela, dan ruang yang dibutuhkan untuk membuka pintu lemari. Elena membantu memegang ujung tali pengukur. Awalnya, semuanya berjalan lancar. Sampai Elena memindahkan sebuah kursi dan menemukan setumpuk buku yang tersembunyi di bawah meja. “Julian!” “Ada apa?” “Lihat ini!” Ia mengangkat salah satu buku. Sampulnya sudah kusam, tetapi masih cukup terawat. Buku itu berisi kumpulan ilustrasi tanaman dan bunga yang tumbuh di wilayah Valdoria. Elena membuka beberapa halaman. “Gambar-gambarnya bagus sekali.” Julian mendekat. Di dalamnya terdapat ilustrasi bunga liar, tanaman merambat, dan beberapa spesies yang hanya tumbuh di daerah pegunungan. Julian mengenali salah satu gambar. Tanaman dengan daun berbentuk kipas. Tanaman yang pernah ditemukannya di dekat sungai. Ia mengambil buku tersebut dengan hati-hati. “Buku ini mungkin masih berguna.” Elena mengintip halaman yang sedang dibacanya. “Apakah ini tanaman yang kau cari beberapa hari lalu?” “Bentuk daunnya mirip.” “Kalau begitu, bawa saja ke kamarmu.” Julian memeriksa sampulnya. Tidak ada nama pemilik yang tertulis di bagian depan, tetapi pada halaman pertama terdapat sebuah catatan singkat mengenai koleksi perpustakaan House Varell. Ia tidak langsung membawa buku itu pergi. Sebaliknya, ia memasukkannya ke dalam tumpukan buku yang akan disusun kembali di ruang baca. “Kalau kita menjadikannya ruang baca, buku seperti ini sebaiknya ditempatkan di rak yang mudah dijangkau.” Elena tersenyum puas. “Lihat? Bahkan sebelum selesai, kau sudah menemukan alasan untuk menyukai ruang baca ini.” Julian tidak menyangkalnya. Menjelang siang, rancangan baru mulai terbentuk. Meja besar akan dipindahkan ke sisi ruangan yang lebih luas. Rak buku lama tetap digunakan setelah dibersihkan dan diperkuat. Sebuah meja kecil akan ditempatkan dekat jendela untuk kegiatan menggambar atau menulis. Elena juga ingin menambahkan beberapa tanaman hias. Julian memeriksa gambar terakhir. “Kalau semua ini ditempatkan sesuai rancangan, masih ada cukup ruang untuk berjalan.” “Bagus!” “Namun, kita perlu memeriksa kondisi rak sebelum mengisinya dengan buku.” Elena menatapnya dengan ekspresi yang sudah dikenalnya. “Kau selalu menemukan pekerjaan tambahan.” “Karena pekerjaan tambahan itu memang ada.” “Baiklah. Aku akan meminta Edmund memeriksanya.” Julian menutup buku catatannya. “Kalau begitu, bagian pengukuran sudah selesai.” Elena memandangi ruangan yang masih berdebu. “Kita baru mengukur ruangan. Belum membersihkan, memindahkan meja, memperbaiki rak, atau membeli tanaman.” Julian berdiri. “Itulah sebabnya aku mengatakan pengukuran sudah selesai.” Elena mengambil kain pembersih dari lemari. “Kalau begitu, jangan pergi dulu.” Julian memandang kain tersebut. Kemudian ia melihat Elena. “Kau merencanakan ini sejak awal?” Elena tersenyum lebar. “Mungkin.” Julian menghela napas pelan, lalu mengambil kain lainnya. Ia seharusnya sudah menduga. Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam untuk membersihkan ruangan. Elena bekerja dengan semangat, meskipun beberapa kali ia berhenti untuk membicarakan posisi perabot yang baru. Julian lebih banyak mengurus buku-buku, memastikan tidak ada halaman yang rusak sebelum semuanya dipindahkan. Di tengah pekerjaan, Edmund datang untuk memeriksa keadaan. Ia melihat meja yang sudah bergeser, kain pembersih yang berserakan, dan dua orang muda yang sedang mengangkat tumpukan buku. “Sepertinya saya melewatkan sesuatu.” Elena segera menghampirinya. “Edmund, aku ingin mengubah ruang baca ini. Kami sudah membuat rancangan dan membutuhkan bantuan untuk memeriksa rak buku.” Edmund menerima gambar yang disodorkan Elena. Ia memeriksanya dengan saksama. “Rancangannya cukup baik, Nona Elena. Namun, rak di sisi utara perlu diperiksa terlebih dahulu. Bagian bawahnya sudah lama tidak diperkuat.” Julian menunjuk bagian yang dimaksud. “Saya juga berpikir begitu. Jika rak tersebut digunakan untuk buku yang lebih berat, kita perlu memastikan penyangganya masih kuat.” Edmund mengangguk. “Saya akan meminta tukang kayu memeriksanya sore ini.” Elena terlihat puas. “Bagus! Berarti kita bisa segera melanjutkan.” “Setelah kondisi rak dipastikan aman,” kata Edmund. Elena mengembuskan napas. “Semua orang selalu menyuruhku menunggu.” “Karena menunggu pemeriksaan jauh lebih baik daripada mengganti seluruh rak setelah rusak, Nona.” Julian menunduk untuk menyembunyikan senyumnya. Elena melihatnya. “Kau tertawa?” “Tidak.” “Kau jelas-jelas tersenyum.” “Saya hanya merasa Edmund memberikan penjelasan yang masuk akal.” Edmund membetulkan kacamatanya. “Terima kasih, Tuan Muda Julian.” Elena menatap keduanya bergantian. “Aku tidak akan melupakan ini.” Namun, ia tetap melanjutkan pekerjaannya. Sore harinya, Scarlet datang melihat hasil kerja mereka. Ruangan itu belum selesai diubah, tetapi sudah terlihat jauh lebih rapi. Buku-buku yang sebelumnya menumpuk di bawah meja kini diletakkan dalam kelompok berdasarkan jenisnya. Scarlet memperhatikan rancangan di atas meja. “Kalian mengerjakannya bersama?” Elena mengangguk bangga. “Julian membantuku mengatur tata letaknya.” Scarlet melihat putranya. “Bagaimana menurutmu?” “Ruangan ini memiliki cukup ruang. Kita hanya perlu memastikan perabotnya sesuai dengan ukuran yang sudah dicatat.” Scarlet tersenyum. “Ibu senang kalian menggunakan ruangan ini bersama-sama. Sudah lama sekali sayap timur jarang dipakai.” Elena meraih tangan ibunya. “Ibu juga boleh datang kapan saja.” “Kalau begitu, Ibu ingin ada tempat untuk membaca dekat jendela.” Elena langsung mengambil pena. “Baik! Kita bisa menambahkan kursi di sini.” Julian memperhatikan keduanya mulai mengubah rancangan. Ia tidak ikut menyela. Ruang baca yang semula direncanakan Elena kini perlahan menjadi tempat yang bisa digunakan seluruh keluarga. Anehnya, Julian tidak merasa keberatan. Ia menyukai gagasan bahwa sebuah ruangan tidak harus dimiliki satu orang untuk menjadi berarti. Terkadang, tempat terbaik justru terbentuk ketika beberapa orang membawa keinginan mereka sendiri, kemudian mencari cara agar semuanya bisa hidup berdampingan. Malamnya, Julian kembali ke kamarnya dengan sebuah buku ilustrasi tanaman di tangannya. Ia membuka halaman yang sebelumnya menarik perhatiannya. Nama tanaman itu tertulis di bawah gambar: Aurelia fanleaf, tanaman kecil yang tumbuh di daerah lembap dan berbatu. Catatan di sampingnya menjelaskan bahwa tanaman tersebut sering ditemukan di dekat aliran air yang bersih. Julian membaca keterangannya dua kali. Ia belum bisa memastikan apakah tanaman yang ditemukannya benar-benar spesies yang sama. Ia membutuhkan pengamatan lebih lanjut. Namun, sekarang ia memiliki petunjuk untuk memulai. Ia menyiapkan buku catatan dan menulis nama tanaman tersebut, lalu menambahkan lokasi penemuannya. Setelah selesai, ia memandang buku itu sebentar. Hari ini ia tidak menghabiskan waktu di hutan. Ia tidak melatih pedang atau menguji kemampuan Mana. Ia hanya membantu Elena memperbaiki sebuah ruangan. Namun, dari kegiatan sederhana itu, ia menemukan sesuatu yang berguna bagi penelitiannya sendiri. Julian menutup buku. Besok, tukang kayu akan mulai memperbaiki rak. Elena mungkin akan kembali meminta pendapatnya mengenai posisi perabot. Dan jika cuaca mendukung, ia bisa kembali mengunjungi sungai untuk memeriksa tanaman tersebut. Tidak ada yang luar biasa. Tidak ada yang mendesak. Hanya beberapa hal kecil yang bergerak maju. Dan untuk Julian, kehidupan seperti itulah yang ingin ia kenal lebih jauh. Sebelum tidur, ia menaruh buku ilustrasi itu di meja, tepat di samping catatannya tentang wilayah Varell. Dua buku dengan tujuan berbeda. Satu membantunya memahami tanah tempat ia tinggal. Satu lagi membantunya mengenali kehidupan yang tumbuh di atasnya. Julian mematikan lampu. Besok, ia akan melanjutkan keduanya—tanpa perlu terburu-buru menentukan akan berakhir di mana.

End of Chapter 67

Chapter 67: Chapter 67 — Sebuah Permintaan dari Elena - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio