Chapter 66 of 75
Chapter 66 — Tamu yang Datang Tanpa Undangan
1.6k words
Pagi itu, suara logam beradu terdengar dari halaman latihan House Varell.
Julian baru saja selesai melakukan pemanasan ketika seorang penjaga menghampirinya.
“Tuan Muda Julian, Duke meminta Anda menemui seorang tamu.”
Julian mengambil handuk kecil yang disiapkan di dekat rak senjata.
“Siapa tamunya?”
“Seorang utusan dari House Arkenhart.”
Julian berhenti mengeringkan tangannya.
House Arkenhart merupakan salah satu keluarga adipati yang memiliki pengaruh besar dalam urusan militer Valdoria. Ia pernah membaca beberapa laporan mengenai keluarga itu, tetapi belum pernah bertemu langsung dengan anggota keluarganya.
“Apakah Ayah mengatakan alasan kedatangannya?”
“Tidak, Tuan Muda.”
Julian mengembalikan handuk ke tempatnya.
“Baik. Aku akan segera datang.”
Sebelum pergi, ia menyimpan pedang kayunya dan memastikan Vesper tetap berada di rak senjata.
Ia tidak memiliki alasan untuk membawa pedang sungguhan hanya karena seorang tamu datang.
Tamu tersebut ternyata bukan orang yang sudah berusia lanjut seperti yang Julian bayangkan.
Seorang pemuda berambut cokelat gelap berdiri di ruang penerimaan bersama Damir. Usianya mungkin sekitar dua puluh tahun. Ia mengenakan pakaian perjalanan berkualitas tinggi, dengan lambang perisai dan tombak pada bagian dada.
Posturnya tegap, tetapi tidak kaku.
Ketika Julian memasuki ruangan, pemuda itu menoleh.
“Jadi, ini putra Duke Varell?”
Damir mengangkat alis.
“Julian, perkenalkan. Ini Gareth Arkenhart, putra kedua Duke Arkenhart.”
Julian memberikan salam dengan sopan.
“Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Tuan Gareth.”
Gareth membalas salamnya.
“Tidak perlu terlalu formal. Aku hanya beberapa tahun lebih tua daripada kakakmu, bukan seorang pejabat kerajaan.”
“Kalau begitu, saya akan tetap bersikap sopan, tetapi tidak perlu membuat percakapan menjadi kaku.”
Gareth tertawa pendek.
“Aku mengerti mengapa ayahmu sering membicarakanmu.”
Julian melirik Damir.
“Ayah pernah membicarakan saya?”
“Sesekali.”
Damir mengatakannya dengan nada yang terlalu tenang untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.
Julian memutuskan tidak mengejar pertanyaan tersebut.
Gareth kemudian mengeluarkan sebuah kotak panjang dari tas perjalanannya.
“Alasan kedatanganku sebenarnya sederhana. Ayahku mengirim beberapa perlengkapan latihan untuk Duke Varell sebagai bagian dari pertukaran perlengkapan antarkeluarga.”
Ia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat tiga pedang latihan berkualitas tinggi, beberapa pelindung lengan, dan sepasang sarung tangan yang dibuat khusus untuk latihan.
“Perlengkapan ini dibuat oleh pengrajin yang bekerja untuk keluarga kami,” jelas Gareth. “Ayahmu pernah membantu kami mendapatkan bahan untuk memperbaiki beberapa fasilitas latihan. Ini bentuk balasan sekaligus kesempatan untuk memperlihatkan hasil produksi terbaru.”
Damir memeriksa salah satu pedang.
“Kualitasnya meningkat.”
Gareth tersenyum puas.
“Aku akan menyampaikan pujian itu kepada pengrajinnya.”
Julian memperhatikan pelindung lengan yang berada di dalam kotak.
Jahitan dan sambungannya tampak rapi. Bahan luarnya cukup lentur untuk memungkinkan gerakan, sementara bagian dalamnya memiliki lapisan yang lebih tebal.
“Apakah perlengkapan ini sudah diuji dalam latihan?” tanyanya.
“Sudah. Kenapa?”
“Bagian sambungan di sini terlihat lebih tipis daripada pelindung yang biasa digunakan para penjaga kami.”
Gareth mengambil benda tersebut dan memeriksanya.
“Benar. Bagian itu sengaja dibuat lebih tipis agar lengan tidak terlalu kaku ketika bergerak.”
Julian menyentuh lapisan dalamnya.
“Apakah ketahanannya sudah dibandingkan dengan model sebelumnya?”
Gareth tidak langsung menjawab.
Kemudian ia tersenyum lebar.
“Kau benar-benar memperhatikan barang yang ada di depanmu, ya?”
Julian menarik tangannya.
“Maaf jika pertanyaan saya terlalu jauh.”
“Tidak. Aku justru menyukai pertanyaan seperti itu. Pengrajin kami sedang mencari keseimbangan antara perlindungan dan keluwesan. Masukan seperti ini bisa berguna.”
Gareth menutup kotak setelah Damir selesai memeriksanya.
“Kalau kau tertarik, kau boleh ikut melihat perlengkapan ini saat diuji nanti.”
Julian mengangkat pandangan.
“Diuji di mana?”
“Di halaman latihan. Aku memang berniat menguji satu set perlengkapan sebelum kembali ke kediaman keluarga.”
Damir memandang putranya.
“Kalau latihanmu hari ini sudah selesai, kau boleh ikut melihatnya.”
Julian mengangguk.
“Baik, Ayah.”
Pengujian berlangsung setelah makan siang.
Gareth mengganti pakaian perjalanannya dengan perlengkapan latihan, kemudian mengenakan pelindung lengan yang dibawanya.
Seorang penjaga House Varell berdiri di hadapannya menggunakan pedang kayu.
Julian memperhatikan dari tepi halaman bersama Damir.
Gareth bergerak dengan teknik yang terlatih. Ia tidak mengandalkan kekuatan semata. Langkahnya teratur, serangannya terukur, dan ia menjaga jarak dengan baik.
Pada awalnya, pengujian berjalan lancar.
Pedang kayu beberapa kali mengenai pelindung lengan Gareth tanpa menimbulkan masalah.
Namun, ketika penjaga itu mengubah arah serangan dan Gareth memutar lengannya untuk menahan, terdengar bunyi kecil dari bagian sambungan.
Gareth segera menghentikan latihan.
Ia melepaskan pelindung tersebut.
Salah satu pengaitnya terlepas sebagian.
Tidak ada yang terluka, tetapi kerusakan itu cukup untuk menghentikan pengujian.
Gareth memeriksa bagian yang rusak.
“Ini tidak seharusnya terjadi.”
Damir mengambil pelindung tersebut dan memeriksanya.
“Pengaitnya tidak patah. Bagian penahannya bergeser.”
Gareth memanggil salah seorang pengawal untuk mengambil perlengkapan cadangan.
Julian mendekat setelah mendapat izin.
“Bolehkah saya melihatnya?”
Gareth menyerahkan pelindung itu.
Julian memeriksa pengait, lalu mengamati cara tali pengikatnya dipasang.
“Apakah pengait ini seharusnya menahan tarikan dari samping?”
“Ya,” jawab Gareth.
“Kalau begitu, mungkin masalahnya bukan pada kekuatan pengait, melainkan arah tarikan ketika lengan diputar.”
Julian menunjukkan bagian tempat tali bertemu dengan pengait.
“Ketika lengan bergerak seperti tadi, tali menarik bagian ini ke samping. Jika posisinya bergeser sedikit, pengait bisa terlepas dari dudukannya.”
Gareth memeriksa bagian tersebut sekali lagi.
“Masuk akal.”
Ia memanggil pengawalnya dan meminta agar perlengkapan cadangan diperiksa pada bagian yang sama.
Ternyata, pengait pada dua pelindung lain juga memiliki celah serupa.
Gareth menghela napas.
“Kalau ini ditemukan setelah perlengkapan digunakan dalam latihan berat, masalahnya bisa lebih besar.”
“Karena itu, sebaiknya diuji dengan berbagai gerakan sebelum digunakan secara rutin,” kata Julian.
Gareth menatapnya beberapa saat.
Kemudian ia tertawa.
“Aku datang untuk memperlihatkan perlengkapan baru, tetapi malah menemukan masalah yang terlewatkan.”
Julian menyerahkan pelindung tersebut kembali.
“Setidaknya masalahnya ditemukan sebelum perlengkapan ini digunakan lebih jauh.”
“Benar.”
Gareth memanggil pengawalnya untuk mencatat temuan itu agar bisa disampaikan kepada pengrajin.
Damir memperhatikan Julian dengan ekspresi tenang.
Ia tidak memuji putranya secara berlebihan. Julian hanya melakukan apa yang biasa dilakukannya: memperhatikan sesuatu, menemukan perbedaan, lalu mengajukan kemungkinan yang masuk akal.
Namun, kali ini kebiasaannya memberikan hasil yang bisa langsung digunakan.
Setelah pengujian selesai, Gareth duduk di bangku halaman bersama Julian.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Apakah kau ingin menjadi seorang ksatria?”
Julian memandang pedang kayu yang terletak di dekat kakinya.
“Belum tahu.”
“Jawaban yang menarik.”
“Apakah seharusnya saya sudah tahu?”
“Tidak juga. Hanya saja, sebagian besar anak bangsawan yang kutemui sudah memiliki gambaran tentang masa depan mereka. Ada yang ingin menjadi ksatria kerajaan, ada yang ingin menjadi penyihir, dan ada yang ingin menduduki posisi penting dalam keluarga.”
Gareth menyandarkan punggungnya.
“Ketika aku seusiamu, aku ingin menjadi komandan pasukan.”
“Apakah Anda masih menginginkannya?”
Gareth tertawa kecil.
“Sekarang aku lebih tertarik memastikan pasukan yang kupimpin tidak kekurangan perlengkapan dan tidak dikirim ke tempat yang salah.”
Julian tersenyum.
“Sepertinya keinginan Anda berubah.”
“Memang. Semakin banyak yang kupelajari, semakin banyak hal yang ternyata belum kupahami.”
Gareth mengambil sebuah ranting kecil dari tanah dan memutarnya di antara jari.
“Dulu aku mengira seorang komandan harus menjadi orang yang paling kuat di medan perang. Sekarang aku tahu bahwa kekuatan hanya salah satu bagian dari pekerjaan itu.”
Ia melemparkan ranting tersebut ke tempat sampah kayu di dekat halaman.
“Keputusan yang buruk bisa membuat kemampuan seluruh pasukan tidak berguna. Dan keputusan yang baik kadang-kadang berarti tidak bertarung sama sekali.”
Julian menyimak perkataannya.
Ia tidak sepenuhnya asing dengan gagasan tersebut. Namun, mendengarnya dari seseorang yang sedang membangun kariernya sendiri di dunia ini memberikan sudut pandang berbeda.
“Kalau Anda bisa kembali ke masa ketika masih seusia saya,” tanya Julian, “apa yang ingin Anda pelajari lebih dahulu?”
Gareth berpikir cukup lama.
“Cara mendengarkan orang yang tidak memiliki jabatan tinggi.”
Julian mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena mereka sering mengetahui masalah yang tidak pernah sampai ke meja para pemimpin.”
Gareth menoleh ke arah gudang perlengkapan.
“Seorang pengrajin tahu kapan bahan yang digunakannya mulai sulit didapat. Seorang penjaga tahu bagian jalan mana yang paling berbahaya. Seorang petani tahu kapan tanahnya tidak lagi menghasilkan seperti biasanya.”
Ia tersenyum tipis.
“Kalau semua orang hanya mendengarkan orang yang memiliki pangkat lebih tinggi, banyak masalah akan terlambat diketahui.”
Julian mengingat pemeriksaan jalur timur dan kunjungannya ke Laren.
Perkataan Gareth sesuai dengan sesuatu yang perlahan mulai ia pahami.
Informasi tidak selalu datang dari tempat yang paling terlihat.
Terkadang, seseorang harus turun langsung untuk menemukannya.
“Terima kasih atas jawabannya,” ujar Julian.
Gareth berdiri sambil menepuk debu dari pakaiannya.
“Jangan terlalu serius memikirkan masa depanmu. Kau masih punya banyak waktu.”
Ia mengulurkan tangan.
Julian menyambutnya.
“Semoga perjalanan Anda kembali berjalan lancar.”
“Dan semoga kau menemukan jawabanmu sendiri suatu hari nanti.”
Gareth meninggalkan Varell Estate menjelang sore.
Sebelum pergi, ia berjanji akan mengirimkan hasil perbaikan perlengkapan tersebut jika pengrajin keluarganya berhasil menyelesaikan masalah sambungan.
Julian kembali ke halaman latihan setelah rombongan tamu menghilang di balik gerbang.
Ia mengambil pedang kayu yang tadi digunakan penjaga.
Beberapa kali ia mengayunkannya, lalu berhenti untuk memperbaiki posisi tangannya.
Tidak ada teknik baru yang ia pelajari hari ini.
Tidak ada lawan kuat yang harus dikalahkan.
Namun, ia mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana seseorang bisa tumbuh melalui pengalaman, mengubah tujuan, dan memahami tanggung jawab yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Damir menghampirinya.
“Apa yang kau pikirkan?”
Julian meletakkan pedang kayu.
“Bahwa seseorang tidak harus menentukan seluruh masa depannya sejak awal.”
Damir tersenyum tipis.
“Memang tidak.”
“Namun, ia tetap perlu mempersiapkan diri.”
“Benar.”
Julian memandang pedang di tangannya.
Ia belum memilih jalan yang ingin ditempuhnya.
Ia belum tahu apakah suatu hari akan menjadi ksatria, penyihir, penguasa wilayah, atau sesuatu yang sama sekali berbeda.
Dan untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak terasa seperti kekurangan yang harus segera diperbaiki.
Ia masih memiliki waktu untuk belajar.
Masih memiliki kesempatan untuk mencoba.
Dan yang paling penting, ia memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri.
Julian mengembalikan pedang kayu ke rak.
“Besok kita berlatih seperti biasa, Ayah?”
“Tentu.”
Damir berjalan meninggalkan halaman.
Julian menyusulnya setelah memastikan semua perlengkapan berada di tempatnya.
Sore itu, matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan wilayah Varell.
Tidak ada jawaban besar yang menunggunya di ujung hari.
Namun, Julian mulai memahami bahwa ia tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk mengambil langkah berikutnya.
Ia hanya perlu memastikan bahwa langkah itu benar-benar miliknya.