Chapter 65 of 75
Chapter 65 — Surat dari Desa Laren
1.4k words
Tiga hari setelah pemeriksaan jalur timur, sebuah surat tiba di Varell Estate.
Surat itu tidak dikirim oleh bangsawan, pedagang besar, ataupun pejabat kerajaan. Pengirimnya adalah kepala desa Laren, desa yang pernah dikunjungi Julian bersama Scarlet dan Elena beberapa waktu lalu.
Edmund menyerahkannya kepada Damir saat sarapan.
“Dari kepala desa Laren, Duke.”
Damir membuka surat itu dan membaca isinya.
Julian yang duduk di sebelah Scarlet memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi ayahnya.
“Apakah ada masalah, Ayah?”
“Tidak besar.”
Damir meletakkan surat tersebut di atas meja.
“Beberapa petani Laren mengalami kesulitan menjual hasil panen mereka. Pedagang yang biasa mengambil barang dari desa itu belum datang selama beberapa hari.”
Elena berhenti mengunyah.
“Bukankah itu bisa membuat hasil panen mereka rusak?”
“Sebagian hasil panen bisa disimpan. Sebagian lainnya tidak bertahan lama,” jawab Damir.
Scarlet mengerutkan kening.
“Apakah mereka sudah menghubungi pedagang lain?”
“Sudah mencoba. Namun, jumlah barang yang harus diangkut cukup banyak, sedangkan kereta yang tersedia terbatas.”
Julian mengambil sepotong roti.
“Apakah jalan menuju desa mengalami kerusakan?”
Damir menoleh kepadanya.
“Tidak menurut surat ini. Masalahnya lebih berkaitan dengan pengangkutan dan jadwal perdagangan.”
Julian mengingat kunjungan sebelumnya ke Laren. Ia masih ingat ladang, rumah-rumah sederhana, dan orang-orang yang bekerja sejak pagi.
“Apakah Ayah akan mengirim bantuan?”
“Aku akan mengirim seseorang untuk mengetahui keadaan sebenarnya sebelum mengambil keputusan.”
Elena meletakkan sendok.
“Aku ikut.”
Scarlet langsung menatap putrinya.
“Kau bahkan belum tahu apakah Ayahmu mengizinkan.”
“Karena itu aku sedang meminta izin, Ibu.”
Damir menghela napas kecil.
“Kalian boleh ikut jika tidak mengganggu pekerjaan petugas.”
Elena tersenyum puas.
Julian menghabiskan sarapannya tanpa banyak bicara.
Ia tidak berniat menjadikan persoalan desa sebagai petualangan. Namun, kesempatan melihat bagaimana masalah perdagangan memengaruhi kehidupan penduduk merupakan sesuatu yang ingin dipahaminya.
Kali ini, ia tidak hanya akan membawa buku catatan.
Ia ingin mendengar langsung dari orang-orang yang menghadapi masalah tersebut.
Mereka berangkat setelah matahari naik cukup tinggi.
Damir memimpin perjalanan bersama dua petugas wilayah. Julian menunggangi Zero, sementara Elena berada di kereta bersama Scarlet.
Perjalanan menuju Laren berlangsung tenang.
Ketika mereka memasuki desa, suasananya berbeda dari kunjungan sebelumnya.
Beberapa kereta masih terparkir di dekat gudang penyimpanan. Di depan sejumlah rumah, keranjang berisi sayuran dan buah ditutupi kain untuk melindunginya dari matahari.
Para penduduk tetap bekerja, tetapi beberapa orang terlihat menunggu.
Kepala desa Laren menyambut rombongan di dekat balai desa.
“Terima kasih telah datang, Duke Varell.”
Damir membalas salamnya.
“Jelaskan keadaan yang sebenarnya.”
Kepala desa mengajak mereka menuju gudang penyimpanan.
Di dalamnya, beberapa petani sedang memisahkan hasil panen berdasarkan kondisi masing-masing. Barang yang masih segar ditempatkan di satu sisi, sedangkan hasil panen yang harus segera dijual diletakkan di dekat pintu.
Julian memperhatikan jumlah keranjang yang menumpuk.
“Sudah berapa lama barang-barang ini menunggu?”
“Empat hari, Tuan Muda,” jawab seorang petani.
“Biasanya berapa lama pedagang datang?”
“Setiap dua atau tiga hari. Mereka mengambil hasil panen dari beberapa desa sekaligus.”
Julian melihat ke arah kepala desa.
“Apakah pedagang itu memberikan kabar sebelum berhenti datang?”
“Tidak ada kabar resmi. Kami hanya mendengar bahwa beberapa kereta mereka dialihkan ke kota.”
Damir meminta petugasnya mencatat keterangan tersebut.
Tidak ada yang langsung menuduh pedagang itu sengaja meninggalkan desa. Mereka belum mengetahui penyebabnya.
Julian sendiri berjalan mengitari gudang, memperhatikan cara barang-barang disusun.
Ia menemukan bahwa hasil panen yang lebih tahan lama disimpan di bagian belakang, sementara buah-buahan yang cepat matang berada di dekat pintu.
“Siapa yang menentukan susunan ini?” tanyanya.
“Para petani sendiri,” jawab kepala desa. “Kami berusaha menjual barang yang paling cepat rusak terlebih dahulu.”
Julian mengangguk.
Setidaknya, mereka sudah melakukan sesuatu untuk mengurangi kerugian.
Masalahnya, cara itu tidak bisa menyelesaikan persoalan jika pengangkutan terus tertunda.
Setelah pemeriksaan gudang, Damir berbicara dengan kepala desa dan beberapa petani mengenai kemungkinan mendatangkan kereta tambahan.
Sementara itu, Julian berjalan menuju tepi ladang bersama Elena.
Kakaknya tampak lebih serius daripada biasanya.
“Menurutmu, mereka akan kehilangan banyak hasil panen?”
“Sebagian mungkin rusak jika terlalu lama disimpan.”
Elena memandang para petani yang sedang bekerja.
“Padahal mereka sudah bekerja keras untuk menanamnya.”
Julian tidak segera menjawab.
Ia tahu betapa mudahnya melihat hasil panen sebagai angka di dalam laporan. Namun, di hadapannya, angka itu memiliki bentuk yang nyata: keranjang yang diisi sejak pagi, tanah yang harus dirawat, dan waktu yang tidak bisa dikembalikan.
Seorang anak laki-laki menghampiri mereka sambil membawa dua keranjang kecil.
Julian mengenalinya sebagai anak yang pernah ditemuinya pada kunjungan terdahulu.
“Kau kembali!” seru anak itu.
Julian tersenyum.
“Ya. Bagaimana kabarmu?”
“Baik. Aku sedang membantu ibuku membawa sayuran.”
Anak itu melihat keranjang di tangannya, kemudian menunjuk gudang.
“Apakah semua sayuran itu akan dijual?”
“Sebagian besar, mungkin.”
“Kalau tidak ada yang membeli, apa yang akan terjadi?”
Elena membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban.
Julian berjongkok agar sejajar dengannya.
“Sebagian bisa disimpan, sebagian mungkin digunakan untuk kebutuhan desa, dan sebagian lainnya bisa rusak jika terlalu lama menunggu.”
Anak itu mengerutkan dahi.
“Berarti bekerja keras belum tentu membuat semuanya berhasil?”
Julian mengingat pertanyaan serupa yang pernah ia terima di desa itu.
“Benar. Hasil yang baik tidak hanya bergantung pada kerja keras. Ada juga waktu, keadaan, dan bantuan yang tersedia.”
Anak itu tampak memikirkan jawaban tersebut.
Kemudian ia mengangkat kedua keranjangnya.
“Kalau begitu, aku harus membawa ini sebelum sayurannya layu.”
Julian tersenyum.
“Itu keputusan yang bagus.”
Anak itu berlari kembali menuju rumahnya.
Elena memperhatikan punggungnya.
“Kau menjawabnya seperti orang dewasa.”
“Bukankah pertanyaannya memang membutuhkan jawaban?”
“Bukan itu maksudku.”
Elena menepuk bahunya ringan.
“Kau kadang-kadang lupa bahwa anak-anak tidak harus memahami semuanya sekaligus.”
Julian meliriknya.
“Aku juga tidak memahami semuanya.”
“Bagus. Akhirnya kau mengakuinya.”
Julian tertawa kecil.
Menjelang siang, seorang petugas kembali dari jalan utama dengan membawa kabar.
Pedagang yang biasa mengangkut hasil panen Laren ternyata sedang menghadapi kerusakan pada dua keretanya. Mereka terpaksa mengurangi perjalanan sementara waktu untuk memperbaiki roda dan mencari pengganti.
Masalah itu bukan akibat pertengkaran dengan penduduk desa ataupun keputusan untuk meninggalkan mereka.
Mereka memang tidak mampu memenuhi jadwal seperti biasanya.
Damir mendengarkan laporan tersebut sebelum berbicara kepada kepala desa.
“Kita akan mengirim dua kereta dari gudang wilayah untuk membantu mengangkut hasil panen yang paling cepat rusak. Barang lainnya akan diangkut secara bertahap.”
Kepala desa membungkuk lega.
“Terima kasih, Duke.”
“Ini bukan bantuan tanpa batas. Kita juga perlu memastikan pengangkutan berikutnya berjalan lebih teratur.”
Damir meminta petugas wilayah mencatat jumlah barang yang harus dibawa, tujuan pengiriman, dan jadwal perjalanan.
Julian memperhatikan proses tersebut.
Keputusan Damir tidak rumit, tetapi didasarkan pada informasi yang baru mereka peroleh. Mereka tidak menghukum pedagang, tidak menyalahkan petani, dan tidak menganggap masalah akan selesai hanya karena dua kereta tambahan dikirim.
Mereka menangani kebutuhan mendesak sekaligus mencari cara agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Julian menyimpan buku catatannya.
Ia tidak perlu menuliskan setiap perkataan.
Beberapa hal lebih mudah dipahami dengan melihat bagaimana keputusan dibuat.
Sebelum rombongan pulang, Scarlet membeli beberapa hasil panen dari penduduk desa.
Elena ikut memilih buah, sementara Julian membantu seorang petugas menyusun keranjang ke dalam kereta yang akan berangkat lebih dahulu.
Kepala desa memperhatikan mereka dari dekat pintu gudang.
“Tuan Muda Julian, apakah Anda akan kembali berkunjung?”
“Mungkin.”
“Kalau begitu, kami akan menyambut Anda.”
Julian membalas dengan sopan.
“Terima kasih.”
Ia tidak menjanjikan kunjungan berikutnya karena belum mengetahui kapan akan memiliki kesempatan.
Namun, ketika menaiki Zero, ia memandang desa itu sekali lagi.
Laren tidak berubah menjadi tempat yang lebih makmur hanya dalam satu hari.
Masalah perdagangan mereka juga belum selesai sepenuhnya.
Akan tetapi, sebagian hasil panen akan sampai ke tujuan, dan para petani memperoleh waktu tambahan untuk mengurus sisanya.
Kadang-kadang, kemajuan memang tidak terlihat seperti perubahan besar.
Kadang-kadang, kemajuan hanya berarti mencegah keadaan menjadi lebih buruk.
Dalam perjalanan pulang, Elena berbicara tentang buah-buahan yang dibelinya. Scarlet menanggapi dengan beberapa ide untuk mengolahnya menjadi makanan penutup, sedangkan Damir membahas jadwal pengiriman dengan kedua petugas.
Julian mendengarkan percakapan mereka sambil menunggangi Zero.
Ia teringat ucapan anak laki-laki di ladang.
Berarti bekerja keras belum tentu membuat semuanya berhasil?
Kalimat itu sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana yang terlihat.
Kerja keras penting.
Namun, kerja keras seseorang bisa terbuang jika tidak ada jalan untuk membawa hasilnya ke tempat yang membutuhkan. Bahkan panen yang baik bisa menjadi kerugian ketika waktu dan pengangkutan tidak mendukung.
Julian mengamati jalan yang terbentang di depan.
Dulu, Adrian mengukur keberhasilan berdasarkan penyelesaian tugas dan kemungkinan bertahan hidup.
Sekarang, ia mulai mengenal bentuk keberhasilan yang berbeda.
Bukan tentang mengalahkan seseorang.
Bukan tentang menyelesaikan misi.
Melainkan tentang membantu sesuatu yang telah dibangun orang lain agar tidak sia-sia.
Saat mereka tiba di estate, Julian turun dari Zero dan menyerahkan tali kekangnya kepada penjaga kandang.
Ia kemudian kembali ke kamarnya, membuka buku catatan, dan menuliskan satu kalimat:
Sebuah hasil tidak hanya ditentukan oleh orang yang mengerjakannya, tetapi juga oleh jalan yang membawanya menuju tujuan.
Julian menutup buku tersebut.
Ia belum mengetahui akan menjadi apa dirinya kelak.
Namun, sedikit demi sedikit, ia mulai memahami dunia tempat ia dilahirkan kembali.
Dan untuk hari ini, pemahaman itu sudah cukup.