Chapter 64 of 75
Chapter 64 — Langkah yang Tidak Direncanakan
1.6k words
Pagi itu, Julian tidak pergi ke hutan.
Ia juga tidak berlatih pedang bersama Damir.
Sebaliknya, ia duduk di ruang kerja kecil di sebelah perpustakaan, berhadapan dengan tiga buku yang terbuka di atas meja.
Buku pertama membahas tanaman yang tumbuh di wilayah Valdoria.
Buku kedua berisi catatan tentang hewan liar dan habitatnya.
Buku ketiga merupakan kumpulan laporan sederhana mengenai wilayah pertanian House Varell.
Julian sebenarnya hanya ingin mencari informasi tentang tanaman berdaun menyerupai kipas yang ditemukannya di dekat sungai. Namun, pencarian itu membawanya pada beberapa catatan lain yang cukup menarik.
Beberapa tanaman yang tumbuh di sekitar hutan ternyata memiliki kegunaan berbeda berdasarkan kondisi tanahnya.
Ada yang biasa digunakan sebagai bahan obat.
Ada yang dapat diolah menjadi pewarna.
Ada pula yang dianggap tidak berguna karena tumbuh terlalu lambat.
Julian membalik halaman buku ketiga.
Ia menemukan sebuah catatan tentang lahan yang tidak lagi digunakan untuk pertanian.
Tanahnya terlalu berbatu, aliran airnya tidak stabil, dan hasil panennya tidak cukup untuk menutupi biaya pengelolaan.
Julian mengambil pena.
Ia menuliskan lokasi lahan tersebut pada peta kecil yang dimilikinya.
Bukan karena ia memiliki rencana untuk mengubahnya.
Ia hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang wilayah tempat tinggalnya.
Ketika sedang membandingkan dua catatan, suara ketukan terdengar dari pintu.
“Masuk.”
Edmund membuka pintu.
“Tuan Muda Julian, Duke Varell meminta Anda menemuinya di ruang kerja utama.”
Julian menutup buku.
“Apakah ada masalah?”
“Tidak ada yang disampaikan kepada saya.”
Julian merapikan catatannya sebelum berdiri.
“Baik. Saya akan segera ke sana.”
Damir sedang berdiri di dekat jendela ruang kerjanya ketika Julian tiba.
Di atas meja terdapat sebuah peta wilayah Varell, beberapa laporan, dan sebuah kotak kayu berukuran sedang.
“Duduklah.”
Julian mengambil kursi di hadapan ayahnya.
Damir kemudian menunjuk kotak tersebut.
“Pernahkah kau melihat benda ini?”
Julian membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa alat sederhana: kompas kecil, pisau lipat untuk keperluan lapangan, tali pengukur, serta sebuah tabung logam untuk menyimpan dokumen agar tidak mudah basah.
Julian memeriksa setiap benda.
“Belum pernah melihat perlengkapan ini dalam satu kotak.”
“Ini perlengkapan yang biasa dibawa oleh petugas pemetaan wilayah.”
Julian mengangkat kompas.
“Apakah Ayah ingin saya menggunakannya?”
“Bukan sekarang.”
Damir duduk di seberangnya.
“Besok, beberapa petugas akan memeriksa jalur perdagangan di bagian timur wilayah kita. Aku ingin kau ikut.”
Julian sedikit terkejut.
“Untuk memeriksa jalur perdagangan?”
“Ya. Bukan untuk bertarung.”
Damir mengetuk peta di atas meja.
“Jalur tersebut menghubungkan beberapa desa dengan jalan utama menuju kota. Setelah hujan beberapa pekan lalu, ada bagian jalan yang perlu diperiksa. Para petugas akan mencatat kondisi tanah, jembatan, dan saluran air.”
Julian melihat peta itu lebih dekat.
Jalur timur.
Ia pernah melewati sebagian wilayah tersebut ketika mengunjungi bukit bersama Zero.
“Apakah saya hanya akan mengamati?”
“Untuk permulaan, ya. Kau boleh membuat catatan sendiri, tetapi jangan mengganggu pekerjaan mereka.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir mengamati reaksinya.
“Kau tidak bertanya mengapa aku mengajakmu?”
Julian meletakkan kompas kembali ke dalam kotak.
“Karena Ayah ingin saya mengenal wilayah ini secara langsung.”
Damir tersenyum tipis.
“Tepat.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa seorang kepala keluarga bangsawan tidak cukup hanya mengetahui luas tanah dan jumlah pendapatan wilayahnya.
Ia juga perlu memahami jalan yang dilalui penduduk, kondisi jembatan yang mereka gunakan, dan kesulitan yang mungkin mereka hadapi setiap hari.
Julian mendengarkan tanpa menyela.
Hal itu bukan sesuatu yang sepenuhnya asing baginya.
Di kehidupan sebelumnya, Adrian terbiasa mempelajari lokasi sebelum menjalankan tugas. Namun, tujuan pemeriksaan kali ini berbeda.
Dulu, ia mempelajari tempat untuk menemukan jalan masuk, jalan keluar, dan kemungkinan ancaman.
Besok, ia akan mempelajari tempat agar orang-orang bisa melewatinya dengan lebih mudah.
Perbedaannya terasa sederhana.
Tetapi bagi Julian, perbedaan itu cukup berarti.
Keesokan paginya, Julian berangkat bersama Damir dan enam petugas wilayah.
Ia mengenakan pakaian perjalanan berwarna gelap, sepatu bot, dan mantel sederhana tanpa banyak hiasan. Vesper tetap berada di pinggangnya, sedangkan perlengkapan pemetaan disimpan dalam tas kecil.
Zero ikut membawa perlengkapan tambahan.
Kali ini, kuda itu tidak menolak keluar dari kandang.
Julian sempat meliriknya.
“Jadi hari ini kau bersedia?”
Zero mendengus.
“Baiklah.”
Damir yang menunggang kuda di sampingnya mendengar percakapan itu.
“Kau masih membicarakan urusanmu dengan Zero?”
“Dia yang menentukan apakah kami bisa berangkat tepat waktu.”
“Kalau begitu, sebaiknya kau menjaga hubungan baik dengannya.”
Julian tersenyum kecil.
Perjalanan menuju jalur timur berlangsung lancar.
Mereka melewati ladang, beberapa rumah penduduk, dan sebuah jembatan batu kecil yang membentang di atas sungai. Para petugas sesekali berhenti untuk memeriksa keadaan jalan dan mencatat kondisi tanah.
Julian tidak terburu-buru memberikan pendapat.
Ia mengamati bagaimana mereka bekerja.
Salah seorang petugas menggunakan alat pengukur untuk memperkirakan lebar jalan. Petugas lain memeriksa batu-batu yang mulai bergeser pada tepi saluran air.
Damir sesekali menjelaskan hal-hal yang belum dipahami Julian.
“Kalau bagian ini dibiarkan,” ujar Damir sambil menunjuk tepi jalan yang terkikis, “hujan berikutnya bisa membuat tanah di bawahnya semakin lemah.”
“Jadi kerusakan kecil bisa memengaruhi seluruh jalur?”
“Benar. Terutama jika jalur tersebut digunakan setiap hari.”
Julian mencatatnya.
Mereka melanjutkan perjalanan sampai tiba di sebuah persimpangan.
Di sana, jalur utama bercabang menjadi dua.
Satu menuju desa pertanian.
Satu lagi mengarah ke daerah berbukit tempat beberapa pengrajin mengambil bahan baku dari hutan.
Seorang petugas bernama Halden membuka peta.
“Menurut catatan lama, jalur sebelah utara lebih pendek.”
“Namun, jalur itu melewati tanah yang lebih rendah,” jawab petugas lainnya. “Kalau hujan turun, bagian tersebut biasanya berlumpur.”
Halden mengamati langit.
“Cuaca hari ini cukup cerah. Kita bisa memeriksanya.”
Damir menyetujui keputusan itu.
Rombongan pun berbelok ke utara.
Julian memperhatikan perubahan kondisi jalan ketika mereka semakin jauh dari jalur utama. Tanah yang semula padat mulai menjadi lunak. Di beberapa bagian, bekas roda kereta terlihat cukup dalam.
Ia mengeluarkan buku catatannya.
Tidak lama kemudian, mereka menemukan penyebab masalah yang lebih besar.
Sebuah saluran air kecil tertutup ranting dan lumpur. Air yang seharusnya mengalir ke sisi jalan justru menggenang di tengah jalur.
Halden berjongkok untuk memeriksa bagian tersebut.
“Ini mungkin penyebabnya.”
“Sepertinya saluran ini tidak dibersihkan sejak hujan terakhir,” kata petugas lain.
Mereka mulai mencatat kondisi saluran dan memperkirakan pekerjaan yang diperlukan untuk memperbaikinya.
Julian memperhatikan arah aliran air.
Ia tidak langsung menawarkan solusi, tetapi bertanya kepada Halden.
“Apakah air ini selalu mengalir dari arah bukit?”
Halden mengangguk.
“Biasanya, ya.”
“Kalau begitu, apakah saluran di sisi jalan cukup lebar untuk menampung air ketika hujan deras?”
Halden kembali memeriksa bagian tersebut.
“Pertanyaan yang bagus. Kita perlu mengukur kedalamannya.”
Ia memanggil salah seorang petugas untuk mengambil alat pengukur.
Julian mundur agar tidak menghalangi pekerjaan mereka.
Ia tidak mengetahui apakah saluran itu memang terlalu sempit atau hanya tersumbat. Namun, pertanyaan tersebut membantu mereka memeriksa kemungkinan lain yang sebelumnya belum dibahas.
Damir memperhatikan dari kejauhan.
Ia tidak memuji Julian di depan semua orang.
Ia membiarkan putranya mengikuti proses pemeriksaan seperti yang telah dijanjikan.
Menjelang siang, rombongan berhenti di sebuah tempat peristirahatan kecil dekat ladang.
Seorang perempuan paruh baya menyambut mereka dengan air minum dan roti sederhana.
“Jalan sebelah utara kembali diperiksa?” tanyanya kepada Halden.
“Benar. Kami menemukan saluran air yang tersumbat.”
Perempuan itu menghela napas.
“Pantas saja kereta kami sulit melewati jalan itu beberapa hari lalu.”
Julian yang sedang meminum air memperhatikan perkataannya.
“Apakah jalan tersebut sering digunakan oleh penduduk desa?”
“Cukup sering, Tuan Muda. Jalur itu lebih pendek untuk membawa hasil panen ke tempat penyimpanan. Kalau harus memutar lewat jalan utama, perjalanan kami bisa jauh lebih lama.”
Julian melihat ke arah jalan yang baru mereka lewati.
Ia mulai memahami mengapa pemeriksaan sederhana seperti ini penting.
Bagi seseorang yang hanya melihat peta, dua jalan tersebut mungkin sekadar dua garis dengan panjang berbeda.
Bagi penduduk desa, perbedaan itu bisa menentukan berapa lama mereka harus mengangkut hasil panen, berapa banyak tenaga yang dibutuhkan, dan apakah barang mereka tiba tepat waktu.
Setelah beristirahat, Julian membantu membawa perlengkapan kembali ke kuda.
Seorang petugas muda memperhatikannya.
“Tuan Muda tidak keberatan melakukan pekerjaan seperti ini?”
Julian mengangkat tas perlengkapan.
“Kenapa saya harus keberatan?”
Petugas itu tampak salah tingkah.
“Saya hanya mengira seorang bangsawan tidak biasa membawa barang sendiri.”
Julian tersenyum sopan.
“Kalau saya mampu membawanya, tidak ada alasan untuk menyuruh orang lain melakukannya.”
Petugas muda itu mengangguk, lalu kembali memeriksa perlengkapannya.
Damir mendengar percakapan tersebut.
Namun, seperti sebelumnya, ia tidak mengatakan apa-apa.
Pemeriksaan selesai menjelang sore.
Rombongan kembali ke estate dengan membawa catatan tentang kondisi jalan, saluran air, dan beberapa bagian jembatan yang perlu diperbaiki.
Sesampainya di rumah, Julian menyerahkan perlengkapan pemetaan kepada Edmund, kemudian kembali ke ruang kerjanya.
Ia membuka buku catatan.
Halaman-halamannya kini dipenuhi gambar sederhana, angka, dan beberapa keterangan mengenai jalur timur.
Julian membaca kembali semua yang ditulisnya.
Lalu ia membuat tiga bagian kecil.
Kondisi jalan.
Kebutuhan penduduk.
Hal yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Ia tidak menuliskan keputusan akhir karena bukan tugasnya menentukan anggaran perbaikan.
Namun, ia bisa menyusun informasi agar lebih mudah dipahami.
Ketika selesai, Julian membawa catatan itu kepada Damir.
“Ayah, saya sudah merapikannya.”
Damir membaca beberapa halaman.
“Kau memisahkan hasil pengamatan dan hal yang masih perlu diperiksa.”
“Supaya keduanya tidak tercampur.”
Damir menutup buku.
“Bagus. Ingatlah, catatan yang rapi tidak selalu berarti kesimpulannya benar. Kau harus mengetahui mana yang sudah terbukti dan mana yang masih berupa dugaan.”
“Saya mengerti.”
Damir mengembalikan buku itu.
“Simpan. Suatu hari, kau mungkin akan membutuhkannya.”
Julian membawa buku tersebut kembali ke kamarnya.
Ia meletakkannya di samping peta wilayah Varell yang selama ini ia gunakan.
Untuk pertama kalinya, peta itu tidak lagi terasa seperti sekumpulan nama dan garis.
Ia mulai mengenali jalan mana yang dilalui para petani, jembatan mana yang perlu diperhatikan, dan bagaimana perubahan kecil pada alam bisa memengaruhi kehidupan banyak orang.
Julian memandang peta itu sejenak.
Ia belum tahu akan menjadi apa dirinya kelak.
Namun setidaknya, ia mulai mengetahui satu hal.
Jika suatu hari ia harus membuat keputusan bagi House Varell, ia tidak ingin menjadi seseorang yang hanya duduk di ruangan dan memerintah berdasarkan laporan.
Ia ingin memahami dunia yang akan terkena dampak dari keputusannya.
Dan untuk memahami dunia itu, ia harus bersedia melangkah keluar dari rumahnya sendiri.