Chapter 63 of 75
Chapter 63 — Ujian Kecil di Hari Pasar
1.7k words
Hari pasar di wilayah Varell selalu dimulai sebelum matahari mencapai puncaknya.
Kereta-kereta dari desa sekitar berdatangan membawa hasil panen, kain, perkakas, rempah, dan berbagai barang yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Para pedagang memasang meja, sementara penduduk mulai memenuhi jalan utama kota.
Bagi Julian, pasar bukan sekadar tempat membeli kebutuhan.
Itu adalah tempat untuk melihat bagaimana sebuah wilayah bekerja.
Pagi itu, ia mendapat izin dari Scarlet untuk mengunjungi pasar bersama Elena dan dua pengawal. Edmund sempat mengingatkan mereka agar tidak terlalu lama berada di tengah keramaian.
Elena, tentu saja, menanggapi peringatan itu dengan santai.
“Kami hanya berjalan-jalan, Edmund. Bukan pergi berperang.”
“Justru karena itu, Nona Elena, saya berharap Anda tidak membuat masalah.”
“Aku tidak pernah membuat masalah.”
Julian melirik kakaknya.
Elena segera menoleh.
“Jangan menambahkan komentar.”
“Saya belum mengatakan apa-apa.”
“Wajahmu sudah mengatakan banyak hal.”
Julian tersenyum kecil dan melanjutkan perjalanan.
Mereka memasuki kawasan pasar tidak lama kemudian.
Suara tawar-menawar memenuhi udara. Bau roti hangat bercampur dengan aroma rempah, buah, dan kayu yang baru dipotong.
Elena langsung tertarik pada sebuah kios yang menjual pita rambut.
Julian membiarkannya memilih, lalu berjalan beberapa langkah untuk mengamati deretan perkakas di seberang jalan.
Ada pisau dapur, palu kecil, paku, alat pertanian, dan berbagai benda sederhana yang dibuat oleh pengrajin lokal.
Ia berhenti di depan sebuah meja yang dipenuhi alat pengukur.
Seorang pria tua sedang memperbaiki timbangan yang salah satu kakinya patah.
Julian memperhatikan cara pria itu bekerja.
“Apakah timbangan itu masih bisa digunakan?”
Pria tua tersebut mengangkat kepala.
“Bisa, kalau bagian penyangganya diganti. Sayang kalau dibuang hanya karena satu bagian rusak.”
Julian memandangi alat itu.
“Apakah sulit mendapatkan penggantinya?”
“Tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah menemukan bahan yang tepat dengan harga masuk akal.”
Pria itu mengambil sepotong logam dari kotaknya, kemudian membandingkannya dengan bagian yang rusak.
“Barang bagus tidak selalu harus diganti seluruhnya. Kadang-kadang, memperbaiki bagian kecil sudah cukup.”
Julian mengingat kalimat itu.
Bukan karena timbangan tersebut istimewa, melainkan karena prinsipnya berlaku pada banyak hal.
Ia mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalanan setelah Elena memanggilnya.
“Kau tertarik pada timbangan sekarang?”
“Tidak. Aku hanya melihat.”
“Cara melihatmu itu membuat orang mengira kau sedang memeriksa barang bukti.”
“Itu kebiasaan.”
“Cobalah melihat sesuatu tanpa menganalisisnya.”
Julian menoleh ke arah kakaknya.
“Seperti apa?”
Elena menunjuk sebuah kios makanan.
“Mulai dengan membeli roti.”
Julian menurut.
Mereka membeli dua potong roti hangat dan berjalan menyusuri pasar sambil makan.
Untuk beberapa menit, Elena berhasil membuat Julian berhenti memeriksa setiap benda yang dilewatinya.
Setidaknya sampai mereka mendengar suara ribut dari ujung jalan.
Kerumunan berkumpul di depan sebuah kios yang menjual perlengkapan perjalanan.
Seorang pedagang muda sedang berdebat dengan seorang anak laki-laki yang mengenakan pakaian sederhana. Di samping anak itu terdapat tas kulit tua dengan tali yang sudah hampir putus.
“Aku sudah bilang, barang ini tidak bisa ditukar!” kata pedagang tersebut.
“Tapi Anda mengatakan talinya masih kuat ketika menjualnya kemarin!”
“Dan aku sudah menjelaskan bahwa barang bekas memiliki risiko!”
Anak laki-laki itu menggenggam tasnya.
“Aku menggunakan seluruh uang tabunganku untuk membelinya.”
Beberapa orang mulai ikut berkomentar.
Ada yang membela pedagang, ada pula yang menyalahkannya.
Elena memperlambat langkah.
“Kita sebaiknya tidak ikut campur kalau belum tahu persoalannya.”
Julian setuju.
Ia tidak langsung mendekati mereka. Sebaliknya, ia berdiri agak jauh dan mendengarkan.
Dari percakapan yang terputus-putus, ia mengetahui bahwa anak tersebut bernama Naren. Ia membutuhkan tas untuk membawa perlengkapan magang kepada seorang pengrajin kulit di kota.
Tas yang dibelinya sehari sebelumnya putus ketika digunakan membawa barang.
Pedagang itu bersikeras bahwa kerusakan terjadi karena Naren membawa terlalu banyak beban.
Naren membantah karena beban yang dibawanya tidak melebihi kapasitas tas tersebut menurut penjelasan saat pembelian.
Julian memperhatikan tali tas.
Putusannya tidak rapi.
Serat kulit pada bagian sambungan terlepas, sedangkan jahitan di sekitarnya masih utuh.
Ia lalu menghampiri kios.
“Permisi. Bolehkah saya melihat bagian yang rusak?”
Pedagang itu menatap pakaian Julian, kemudian lambang kecil House Varell yang terpasang pada mantel luarnya.
Sikapnya langsung berubah lebih sopan.
“Tentu, Tuan Muda.”
Naren ikut menoleh, terlihat gugup ketika menyadari siapa yang baru datang.
Julian tidak meminta siapa pun menyingkir. Ia hanya berjongkok untuk memeriksa tali tersebut.
“Apakah tas ini digunakan untuk membawa barang berat sejak kemarin?”
“Tidak,” jawab Naren. “Kemarin aku hanya membawanya pulang. Pagi ini aku mengisinya dengan perkakas untuk magang.”
“Berapa beratnya?”
Naren menyebutkan perkiraan berat barang-barangnya.
Julian tidak bisa memastikan angka itu tepat, tetapi beban tersebut terdengar wajar untuk sebuah tas perjalanan kecil.
Ia memeriksa sambungan tali sekali lagi.
“Apakah ada tas lain dengan model yang sama?”
Pedagang itu menunjuk sebuah tas yang tergantung di belakangnya.
Julian membandingkan jahitannya.
Pada tas kedua, sambungan tali dijahit menembus lapisan kulit bagian dalam. Pada tas yang rusak, jahitan hanya menahan lapisan luarnya.
Perbedaannya kecil, tetapi cukup berarti.
“Apakah Anda membuat tas ini sendiri?” tanya Julian.
“Tidak. Saya membelinya dari pemasok.”
“Kalau begitu, mungkin ada perbedaan kualitas di antara kedua tas ini.”
Pedagang itu mulai terlihat tidak nyaman.
“Saya tidak mengetahui hal tersebut.”
“Bisa jadi,” jawab Julian. “Namun pembeli juga berhak mendapatkan barang sesuai penjelasan saat transaksi.”
Julian tidak meninggikan suara atau mengancam menggunakan kedudukannya.
Ia hanya menyampaikan persoalan yang ada di hadapan mereka.
Pedagang itu akhirnya memeriksa tas tersebut sendiri.
Setelah melihat perbedaan jahitan, ia menghela napas.
“Baiklah. Aku akan menggantinya.”
Naren tampak lega.
“Terima kasih.”
Namun Julian mengangkat tangan sedikit.
“Sebelum menggantinya, sebaiknya periksa juga barang lain dari pemasok yang sama. Jika memang ada masalah pada jahitannya, pembeli berikutnya mungkin mengalami hal serupa.”
Pedagang itu mengangguk, kali ini dengan lebih serius.
“Saya akan memeriksanya.”
Masalah selesai tanpa keributan lebih lanjut.
Kerumunan pun mulai bubar.
Elena yang sejak tadi memperhatikan mendekat.
“Kau bahkan menemukan masalah pada jahitan tas.”
Julian berdiri.
“Masalahnya terlihat.”
“Tidak semua orang memperhatikannya.”
“Mungkin karena mereka sedang berdebat.”
Elena terkekeh.
“Kau tahu? Kadang-kadang kau terdengar seperti Edmund.”
“Itu bukan pertama kalinya aku mendengarnya.”
Naren mengikuti mereka beberapa langkah sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.
“Tuan Muda Julian.”
Julian berhenti.
“Ya?”
Naren membungkuk canggung.
“Saya ingin berterima kasih. Saya hampir kehilangan kesempatan magang karena tas itu.”
“Kalau begitu, pastikan tas penggantimu benar-benar kuat sebelum digunakan.”
Naren mengangguk cepat.
“Saya akan memeriksanya.”
Julian hendak melanjutkan perjalanan, tetapi sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
“Magang sebagai pengrajin kulit?”
“Ya, Tuan Muda. Saya ingin belajar membuat perlengkapan perjalanan. Ayah saya seorang petani, tetapi saya ingin memiliki keterampilan yang bisa saya gunakan untuk membuka usaha sendiri suatu hari nanti.”
Julian memperhatikan anak itu.
“Apakah keluargamu keberatan?”
“Awalnya. Mereka khawatir saya tidak akan menghasilkan uang selama masa belajar. Tetapi setelah berbicara dengan pengrajin yang menerima saya, mereka mengizinkan.”
“Berapa lama masa magangnya?”
“Dua tahun, mungkin lebih, tergantung kemampuan saya.”
Julian mengangguk kecil.
Dua tahun.
Waktu yang cukup panjang jika dilihat dari sudut pandang seorang anak.
Namun keterampilan tidak tumbuh hanya karena seseorang menginginkannya.
“Semoga berhasil, Naren.”
Anak itu tersenyum lebar.
“Terima kasih, Tuan Muda!”
Ia kemudian berlari kembali menuju kios, mungkin untuk memastikan pengrajin yang ditunggunya tidak meninggalkan tempat pertemuan.
Elena memandang punggungnya.
“Dia cukup bersemangat.”
“Dia tahu apa yang ingin dipelajarinya.”
“Kau sendiri belum tahu ingin menjadi apa.”
Julian melirik kakaknya.
“Kau mengingat pertanyaan itu?”
“Tentu saja. Aku kakakmu.”
Julian tersenyum tipis.
“Kalau begitu, aku masih punya waktu untuk memikirkannya.”
Elena tidak mendesak lebih jauh.
Kali ini, ia hanya berjalan di samping Julian sambil menikmati keramaian pasar.
Menjelang siang, mereka membeli beberapa kebutuhan sebelum pulang.
Di dekat pintu keluar pasar, Julian melihat sebuah kios kecil yang menjual benda-benda buatan tangan. Ada gantungan kayu, kotak penyimpanan, ukiran hewan, dan mainan sederhana.
Salah satunya berbentuk kuda hitam.
Ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan, dengan empat kaki yang sedikit tidak simetris.
Julian mengambilnya.
“Berapa harganya?”
Penjualnya menyebutkan harga yang cukup murah.
Julian membayar tanpa menawar.
Elena memperhatikan benda itu dengan senyum jahil.
“Untuk siapa?”
“Untuk Zero.”
Elena terdiam sesaat.
Kemudian ia tertawa.
“Kau membelikan mainan untuk kuda?”
“Bukan mainan. Hanya ukiran.”
“Dan apa yang akan dilakukan Zero dengan ukiran itu?”
“Tidak ada. Aku hanya menyukainya.”
Elena tertawa semakin keras.
Julian memasukkan ukiran tersebut ke dalam tasnya tanpa merasa perlu membela diri.
Tidak semua barang yang dibeli harus memiliki kegunaan langsung.
Terkadang, seseorang boleh membeli sesuatu hanya karena benda itu membuatnya senang.
Ketika mereka tiba di estate, Julian langsung menuju kandang.
Zero menyambutnya dengan mengangkat kepala.
Julian mengeluarkan ukiran kayu tersebut dan memperlihatkannya.
“Aku membawa sesuatu.”
Zero mendekat, mengendus benda itu, lalu beralih mencari makanan di tangan Julian.
Julian mengangkat ukiran itu sedikit lebih tinggi.
“Ini bukan makanan.”
Zero mendengus dan kembali merumput.
Dari pintu kandang, Elena kembali tertawa.
“Dia bahkan tidak menghargai hadiahmu!”
Julian meletakkan ukiran itu di rak kecil di dekat perlengkapan kandang.
“Tidak apa-apa. Aku yang menyukainya.”
Kali ini, Elena tidak mengejeknya.
Ia hanya tersenyum sebelum mengajak Julian kembali ke rumah.
Malamnya, saat keluarga berkumpul untuk makan malam, Scarlet bertanya tentang perjalanan mereka.
Elena menceritakan pasar, kios pita, dan kejadian dengan tas yang rusak. Ia bahkan menirukan ekspresi pedagang ketika menyadari kesalahan pada jahitannya.
Damir mendengarkan dengan tenang.
“Julian, apakah kau yakin pedagang itu tidak sengaja menjual barang yang rusak?”
“Tidak bisa dipastikan. Bisa saja ia tidak mengetahui perbedaan kualitasnya.”
“Lalu kenapa kau membantunya menyelesaikan masalah?”
Julian meletakkan sendoknya.
“Karena masalahnya bisa diselesaikan tanpa harus menentukan siapa yang berniat buruk.”
Damir memperhatikan anaknya sejenak.
Kemudian ia mengangguk.
“Pemikiran yang baik.”
Scarlet tersenyum bangga.
“Julian selalu memperhatikan hal-hal kecil.”
Elena segera menyela.
“Termasuk membeli ukiran kuda untuk Zero.”
Scarlet tertawa.
Damir mengangkat alis.
“Kau membeli sesuatu untuk Zero?”
“Ya, Ayah.”
“Bagaimana tanggapannya?”
“Dia lebih tertarik pada makanan.”
Damir tertawa pendek, sementara Scarlet menggeleng sambil tersenyum.
Suasana makan malam kembali dipenuhi percakapan ringan.
Julian menikmati semuanya tanpa merasa perlu memikirkan apa yang harus dilakukannya besok.
Ia belum menjadi pendekar hebat.
Belum memahami seluruh rahasia Mana.
Belum mengetahui apa yang menunggunya di masa depan.
Namun hari ini, ia telah membantu seseorang mempertahankan kesempatan untuk belajar, melihat bagaimana orang-orang menyelesaikan persoalan, dan menemukan benda kecil yang membuatnya tersenyum.
Bagi orang lain, mungkin itu bukan hari yang istimewa.
Bagi Julian, hari itu cukup berarti.
Sebab kehidupan yang ingin ia lindungi bukan hanya terdiri dari keluarga dan rumahnya.
Kehidupan itu juga mencakup orang-orang yang sedang berusaha membangun masa depan mereka sendiri.
Dan ia mulai memahami bahwa menjadi kuat bukan berarti harus selalu mengangkat pedang.
Terkadang, cukup dengan melihat persoalan secara jernih, lalu membantu orang lain menemukan jalan keluar.