Chapter 62 of 75
Chapter 62 — Hari Ketika Zero Menolak Pergi
1.5k words
Pagi itu, Julian memiliki rencana sederhana.
Ia ingin mencoba jalur menuju bukit kecil di sebelah timur hutan Varell.
Bukan untuk berburu monster.
Bukan pula untuk mencari sesuatu yang belum diketahui.
Ia hanya ingin melihat bagaimana wilayah keluarganya dari tempat yang lebih tinggi.
Masalahnya, rencana itu membutuhkan seekor kuda.
Dan Zero sedang tidak ingin bekerja sama.
“Majulah.”
Kuda hitam itu tetap berdiri di tempatnya.
Julian menarik tali kekang dengan lembut.
Zero menggerakkan telinga, menguap, lalu kembali menundukkan kepala untuk memakan rumput.
Julian memperhatikan tingkahnya tanpa berkata-kata.
Di sampingnya, seorang penjaga kandang berusaha keras menahan senyum.
“Sepertinya Tuan Muda, Zero tidak ingin keluar hari ini.”
“Aku bisa melihatnya.”
“Apakah sebaiknya kita menggunakan kuda lain?”
Julian menggeleng.
“Tidak perlu.”
Ia melepaskan tali kekang.
Zero langsung berjalan beberapa langkah menuju tempat teduh, seolah baru saja menyelesaikan urusan penting.
Penjaga kandang akhirnya tidak sanggup menahan tawanya.
“Maaf, Tuan Muda.”
“Tidak masalah. Sepertinya dia memiliki pendapat sendiri tentang jadwal hari ini.”
Julian memutuskan meninggalkan Zero dan berjalan menuju ruang makan.
Namun, sebelum ia mencapai pintu, suara Elena terdengar dari belakang.
“Kau bahkan kalah berdebat dengan kuda?”
Julian menoleh.
Elena berdiri sambil membawa sebuah apel.
“Zero tidak sedang berdebat,” jawab Julian. “Dia hanya tidak tertarik.”
“Itu terdengar seperti alasan seseorang yang kalah.”
“Kalau begitu, kau saja yang membujuknya.”
Elena langsung mengangkat dagu.
“Dengan senang hati.”
Sepuluh menit kemudian, Elena kembali dengan rambut sedikit berantakan.
Zero masih berada di tempat yang sama.
Apelnya sudah habis.
“Dia sengaja melakukannya,” gerutu Elena.
Julian yang sedang menikmati sarapan hampir tertawa.
“Kurasa dia hanya menyukai apelnya.”
“Julian.”
“Ya, Kak?”
“Besok, kau yang membersihkan kandangnya kalau dia kembali membuatku seperti orang bodoh.”
Julian akhirnya tertawa.
Bahkan Scarlet yang duduk di seberang meja ikut tersenyum.
“Jangan menyalahkan Zero,” kata Scarlet. “Mungkin dia hanya ingin beristirahat.”
“Kalau begitu, kenapa dia tidak bisa mengatakannya?”
“Karena dia kuda, Elena.”
“Itulah masalahnya, Ibu!”
Damir meletakkan cangkir tehnya.
“Kalau dia tidak ingin pergi, jangan paksa.”
Elena menunjuk ayahnya.
“Kalau Julian yang meminta, Ayah selalu membelanya.”
“Tidak. Aku juga akan menyuruhmu berhenti kalau kau memaksakan kehendakmu.”
Scarlet menahan tawa di balik tangannya.
Julian melanjutkan sarapan dengan tenang.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia menyadari bahwa rencana menjelajahi bukit mungkin harus ditunda.
Anehnya, ia tidak merasa kecewa.
Dulu, perubahan rencana berarti menghitung ulang seluruh kemungkinan dan menentukan cara tercepat untuk kembali ke jalur semula.
Sekarang, ia cukup menyelesaikan sarapan tanpa terburu-buru.
Bukit itu tidak akan pergi ke mana-mana.
Setelah sarapan, Julian tetap menuju kandang.
Zero mengangkat kepala ketika mendengar langkahnya.
“Selamat pagi lagi.”
Kuda itu mendengus pelan.
Julian membawa sebuah sikat dan mulai membersihkan bulu hitam di lehernya.
Zero membiarkannya.
Sesekali, kuda itu memiringkan kepala untuk memperhatikan apa yang sedang dilakukan Julian.
“Kau tahu,” ujar Julian sambil menyikat bulunya, “aku sebenarnya ingin melihat bukit di sebelah timur.”
Zero menggerakkan ekornya.
“Aku tidak akan memaksamu.”
Julian melanjutkan pekerjaannya.
“Kalau kau ingin tinggal di sini, tidak masalah. Aku bisa berjalan kaki.”
Zero tiba-tiba mengangkat kepala.
Ketika Julian selesai menyikat bagian lehernya, kuda itu mendekat dan menyentuhkan hidungnya ke bahu Julian.
Julian berhenti.
“Apa?”
Zero mendorong bahunya sekali.
Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Julian mundur setengah langkah.
“Kau ingin pergi sekarang?”
Kuda itu berjalan menuju pintu kandang.
Julian menatapnya.
Kemudian melirik sikat di tangannya.
“Kau bisa saja melakukan itu sejak tadi.”
Zero mendengus.
Julian mengembalikan sikat ke tempatnya sebelum mengambil tali kekang.
Kali ini, ketika Julian membawanya keluar, Zero mengikuti tanpa perlawanan.
Penjaga kandang yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepala.
“Tuan Muda, saya rasa Zero baru saja mempermainkan Anda.”
Julian memasang tali kekang dengan tenang.
“Kalau begitu, dia berhasil.”
Jalur timur tidak seramai jalur yang biasa digunakan para pemburu.
Pepohonan tumbuh lebih rapat di beberapa bagian, sementara tanahnya dipenuhi dedaunan kering.
Julian menunggangi Zero dengan perlengkapan sederhana. Lunara mengikuti mereka dari samping, sesekali melompat ke batu atau batang pohon yang tumbang.
Perjalanan berlangsung tanpa gangguan.
Tidak ada monster yang muncul.
Tidak ada suara aneh dari balik pepohonan.
Hanya angin dan suara langkah Zero di atas tanah.
Setelah beberapa waktu, jalur mulai menanjak.
Julian turun dari pelana dan menuntun Zero melewati bagian yang lebih sempit.
Di puncak bukit, ia menemukan sebuah dataran kecil yang dikelilingi pepohonan.
Dari sana, sebagian wilayah Varell terlihat jelas.
Atap-atap rumah di kejauhan tampak kecil. Sebuah jalan membentang di antara ladang, sementara aliran sungai berkilau di bawah cahaya matahari.
Julian berdiri cukup lama untuk memperhatikan pemandangan itu.
Selama ini, ia mengenal wilayah keluarganya dari peta, laporan penjaga, dan cerita Damir.
Namun peta tidak bisa menunjukkan suara angin.
Laporan tidak bisa menggambarkan bagaimana cahaya matahari bergerak di antara pepohonan.
Dan cerita tidak bisa menggantikan pengalaman berdiri di tempat itu sendiri.
Julian mengeluarkan buku catatannya.
Ia menggambar garis besar sungai dan jalan yang terlihat dari bukit, lalu menandai beberapa daerah yang belum pernah dikunjunginya.
Lunara berbaring di dekat batu besar.
Zero mulai merumput.
Untuk beberapa waktu, mereka bertiga menikmati ketenangan.
Kemudian Julian menyadari sesuatu.
Dari tempat itu, ia bisa melihat sebuah bangunan kecil di dekat ladang yang sebelumnya tidak pernah diperhatikannya.
Atapnya berwarna kusam, dengan pagar kayu mengelilingi bagian depan.
Asap tipis keluar dari cerobongnya.
Julian memperbesar gambar peta yang dibuatnya.
Bangunan itu tidak tercantum.
Ia tidak langsung menganggapnya mencurigakan. Peta yang dimilikinya mungkin sudah lama tidak diperbarui.
Setelah memastikan letaknya, Julian menuliskan catatan singkat.
Bangunan dekat ladang timur. Perlu ditanyakan kepada pengelola wilayah.
Lalu ia menutup buku.
Tidak semua hal yang belum dikenalnya harus menjadi misteri.
Kadang-kadang, sebuah bangunan hanyalah sebuah bangunan.
Ketika Julian tiba kembali di estate menjelang siang, Damir sedang berbicara dengan seorang pengelola tanah bernama Orven.
Pria itu membawa beberapa lembar laporan dan peta wilayah.
Julian menghampiri mereka setelah turun dari Zero.
“Ayah, saya ingin menanyakan sesuatu.”
Damir menoleh.
“Katakan.”
Julian membuka buku catatannya dan menunjukkan gambar bangunan di dekat ladang timur.
“Bangunan ini tidak tercantum pada peta yang saya miliki. Apa fungsinya?”
Orven memperhatikan gambar tersebut.
“Oh, gudang pengering.”
Julian mengangkat pandangan.
“Gudang pengering?”
“Benar, Tuan Muda. Para petani di sana menggunakannya untuk mengeringkan hasil panen tertentu sebelum disimpan. Bangunan itu didirikan beberapa tahun lalu.”
“Apakah hasilnya cukup baik?”
Orven tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi segera menjawab.
“Untuk beberapa jenis tanaman, cukup baik. Namun, saat musim hujan panjang, kelembapannya masih menjadi masalah.”
Julian mengamati peta.
“Apakah ada rencana untuk memperbaikinya?”
“Kami sedang mempertimbangkan ventilasi tambahan. Tetapi kami belum memastikan apakah biaya pembangunannya sebanding dengan hasil yang didapat.”
Julian tidak memberikan solusi sembarangan.
Ia belum memahami seluruh kondisi pertanian di wilayah itu.
“Kalau begitu, sebaiknya keputusan dibuat setelah hasil panennya dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.”
Orven tersenyum.
“Itulah yang sedang kami lakukan, Tuan Muda.”
Julian mengembalikan peta.
“Semoga berhasil.”
Setelah Orven pergi, Damir memperhatikan buku catatan anaknya.
“Kau mulai mencatat wilayah ini dengan cukup teratur.”
“Saya ingin mengenal tempat tinggal saya.”
“Untuk apa?”
Julian memikirkan jawabannya sebentar.
“Supaya saya tidak hanya mengenal nama-nama tempatnya.”
Damir tersenyum tipis.
“Alasan yang bagus.”
Ia kemudian melirik Zero yang berdiri di dekat pagar.
“Bagaimana perjalananmu?”
“Baik. Zero sempat menolak pergi.”
“Lalu?”
“Dia berubah pikiran setelah saya selesai menyikat bulunya.”
Damir tertawa pendek.
“Berarti dia hanya ingin diperhatikan.”
Julian melihat kuda hitam itu.
Zero sedang menggigit seikat rumput dengan santai, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
“Mungkin,” jawab Julian.
Sore itu, Elena menemukan Julian sedang menyusun catatan barunya.
Ia menarik kursi dan duduk di seberangnya.
“Kau benar-benar pergi ke bukit?”
“Ya.”
“Dan tidak menemukan monster?”
“Tidak.”
“Tidak menemukan harta karun?”
“Tidak.”
“Tidak menemukan reruntuhan kuno?”
Julian meletakkan pena.
“Kak, apa kau sedang membaca terlalu banyak cerita petualangan?”
Elena tersenyum lebar.
“Mungkin.”
Julian kembali menulis.
Elena mengintip isi bukunya.
“Kau menggambar sungai?”
“Sebagian.”
“Dan bangunan itu?”
“Gudang pengering.”
Elena terlihat kecewa.
“Gudang pengering tidak terdengar menarik.”
“Bagi petani yang hasil panennya rusak karena kelembapan, mungkin cukup menarik.”
Elena hendak membalas, tetapi kemudian berhenti.
Ia memandang gambar tersebut sekali lagi.
“Kalau begitu, lain kali ajak aku.”
Julian mengangkat alis.
“Untuk melihat gudang pengering?”
“Bukan! Untuk menjelajahi bukit.”
“Baiklah.”
“Janji?”
“Jika kau bisa bangun tepat waktu.”
Elena langsung berdiri.
“Itu tantangan?”
“Anggap saja begitu.”
“Kau akan menyesal mengatakan itu.”
Ia pergi dengan langkah cepat, mungkin sudah menyusun rencana untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bangun lebih pagi.
Julian menggeleng kecil sambil tersenyum.
Kemudian ia menuliskan satu kalimat terakhir di halaman catatannya.
Mengenal rumah berarti mengenal tanah yang menopangnya, orang-orang yang menghidupkannya, dan hal-hal kecil yang membuatnya berbeda dari tempat lain.
Ia menutup buku.
Hari ini tidak memberinya senjata baru, kemampuan baru, atau jawaban atas pertanyaan besar.
Namun ia memperoleh sesuatu yang tidak kalah berguna.
Ia mulai memahami bahwa wilayah Varell bukan sekadar tanah yang diwariskan kepadanya.
Itu adalah tempat yang dibangun, dirawat, dan dijalani banyak orang setiap hari.
Dan jika suatu saat Julian harus mengambil keputusan untuk wilayah ini, ia tidak ingin melakukannya hanya berdasarkan angka di atas kertas.
Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia lindungi.
Di luar jendela, Zero meringkik pendek.
Julian menoleh.
Kuda itu sedang menatap ke arah kandang, lalu kembali merumput seolah tidak terjadi apa-apa.
Julian tertawa pelan.
“Besok kita lihat apakah kau masih mau pergi.”
Zero tentu tidak menjawab.
Namun Julian sudah menduga bahwa jawabannya mungkin baru akan diketahui besok pagi.