Chapter 61 of 75

Chapter 61 — Hadiah dari Hutan

1.3k words

Pagi itu, Julian menemukan sebuah keranjang di depan pintu kamarnya. Keranjang kecil dari anyaman bambu. Di dalamnya terdapat beberapa buah merah, seikat tanaman berdaun lebar, dan sebuah benda kecil berwarna cokelat yang menyerupai biji. Julian memandangnya beberapa saat. Ia tidak ingat pernah meminta seseorang mengantarkan sesuatu. Ketika pintu terbuka lebih lebar, Edmund muncul dari lorong. “Selamat pagi, Tuan Muda Julian.” “Pagi, Edmund. Siapa yang meletakkan ini?” “Seorang penjaga menemukannya di depan pintu kamar Anda tadi pagi.” Julian mengamati isi keranjang. “Tidak ada pesan?” “Tidak ada.” Edmund memperbaiki posisi kacamatanya. “Apakah Anda mengenali benda-benda tersebut?” “Buahnya pernah saya lihat di hutan. Tanamannya belum pernah saya periksa.” Julian mengangkat benda kecil berwarna cokelat itu. Bentuknya tidak beraturan, dengan permukaan kasar dan ujung yang sedikit melengkung. “Kalau begitu, jangan langsung menyentuhnya lebih jauh,” kata Edmund. “Kita belum mengetahui apakah benda itu aman.” Julian meletakkannya kembali. “Benar.” Edmund kemudian memanggil seorang pelayan untuk menyimpan keranjang tersebut sementara Julian bersiap sarapan. Namun sebelum pergi, Julian sempat memperhatikan satu hal. Pada bagian bawah keranjang terdapat sedikit tanah lembap. Bukan tanah dari halaman estate. Warna dan teksturnya menyerupai tanah di sekitar sungai tempat ia menemukan makhluk kecil beberapa hari lalu. Julian tidak langsung mengambil kesimpulan. Ia hanya mengingatnya. Setelah sarapan, Julian membawa keranjang itu ke ruang pemeriksaan kecil milik keluarga. Ruangan tersebut biasa digunakan untuk memeriksa bahan-bahan dari luar wilayah, terutama tanaman, batu Mana, dan material monster yang belum dikenali. Seorang tabib keluarga bernama Meriel sudah berada di sana. Perempuan itu memeriksa buah dan tanaman satu per satu. “Buah ini aman dimakan setelah dicuci,” jelasnya. “Tanaman ini juga tidak berbahaya, meskipun tidak memiliki khasiat khusus yang saya ketahui.” Ia kemudian mengambil benda cokelat tersebut. “Untuk yang ini, saya belum bisa memastikan.” Julian berdiri di samping meja. “Apakah itu biji?” “Mungkin. Tetapi bentuknya tidak biasa.” Meriel menggunakan alat kecil untuk mengamatinya. Permukaannya memiliki beberapa garis tipis, sedangkan bagian dalamnya terasa lebih keras daripada biji tanaman biasa. “Tidak ada reaksi Mana yang berarti,” lanjut Meriel. “Saya akan menyimpannya untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Julian mengangguk. “Silakan.” Ia tidak kecewa karena benda itu belum terpecahkan. Justru ada sesuatu yang menarik dari keadaan tersebut. Seseorang telah meninggalkan hadiah di depan kamarnya. Bukan surat. Bukan pesan ancaman. Hanya buah, tanaman, dan sebuah benda kecil yang tidak dikenal. Ketika Julian keluar dari ruangan, ia menemukan Elena menunggunya di lorong. “Kau tahu siapa yang mengirimkannya?” “Belum.” Elena menyilangkan tangan. “Menurutmu siapa?” “Mungkin seseorang yang pernah kutemui di hutan.” “Dan kau tidak ingat?” “Kalau aku ingat, aku tidak akan mengatakan belum tahu.” Elena mendengus. “Kau semakin mirip Ayah kalau menjawab seperti itu.” Julian tersenyum. “Bukankah itu hal yang baik?” “Belum tentu.” Mereka berjalan menuju halaman bersama. Julian memutuskan kembali ke hutan pada siang hari. Kali ini ia tidak membawa busur. Ia hanya membawa Vesper, buku catatan, dan beberapa buah dari dapur. Lunara ikut bersamanya. Zero tetap tinggal di kandang setelah Julian memberinya kesempatan memilih. Kuda itu tampaknya lebih tertarik menikmati rumput daripada menjelajah di bawah matahari yang mulai terik. Julian tidak memaksanya. Ia sudah belajar bahwa Zero tidak menyukai perjalanan yang tidak perlu. Setibanya di sungai, Julian langsung menuju pohon tempat makhluk kecil itu pernah terlihat. Tidak ada siapa pun. Ia meletakkan dua buah di atas batu, lalu duduk agak jauh. Beberapa menit berlalu. Angin bergerak di antara dedaunan. Air mengalir melewati bebatuan. Kemudian terdengar suara gesekan dari balik akar. Makhluk kecil itu muncul. Julian mengenalinya dari telinga panjang dan ekor tipisnya. Makhluk itu memandang buah di atas batu, kemudian menatap Julian. “Kau yang datang ke rumahku?” Makhluk itu tentu tidak menjawab. Ia turun, mengambil satu buah, lalu kembali ke balik akar. Julian tersenyum. “Jadi benar.” Ia tidak tahu bagaimana makhluk itu bisa mencapai estate atau apakah makhluk itu memang sengaja meninggalkan keranjang. Namun kemungkinannya cukup menarik. Julian meletakkan buah kedua sedikit lebih dekat dengan akar. Makhluk kecil itu keluar lagi. Kali ini ia tidak langsung mengambilnya. Ia memandang Lunara. Moon Lynx itu berbaring dengan santai, sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk mengejar. Makhluk kecil tersebut akhirnya mendekat. Ia mengambil buah itu, lalu berlari menuju akar. Julian membuka buku catatannya. Ia menggambar bentuk tubuh makhluk tersebut secara sederhana, kemudian menuliskan ciri-ciri yang sudah diamatinya. Makhluk kecil penghuni pohon. Pemakan buah. Menghindari kontak langsung, tetapi mulai terbiasa dengan kehadiran manusia. Ia berhenti sejenak. Kemudian menambahkan: Belum diketahui spesiesnya. Jangan mengganggu habitat. Julian menutup buku. Ia tidak membutuhkan nama untuk makhluk itu sekarang. Biarkan ia tetap hidup di tempat yang dipilihnya sendiri. Ketika hendak pulang, Julian melihat sesuatu di dekat sungai. Sebuah tanaman kecil tumbuh di antara dua batu. Daunnya berbentuk menyerupai kipas, dengan garis-garis pucat di permukaannya. Julian berjongkok. Ia pernah melihat gambar yang mirip di buku tanaman miliknya, tetapi tidak ingat nama spesiesnya. Ia tidak mencabutnya. Sebaliknya, ia menandai lokasi tersebut dengan membuat catatan sederhana mengenai bentuk daun dan kondisi tanah. Kemudian ia melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, ia bertemu dua penjaga yang sedang memeriksa jalur barat. Mereka membungkuk ketika melihatnya. “Tuan Muda Julian.” Julian membalas dengan anggukan. “Ada masalah?” “Tidak ada, Tuan Muda. Kami hanya memeriksa jalur setelah hujan kemarin.” Julian melihat beberapa ranting yang berserakan. “Bagaimana kondisi jalan?” “Sedikit licin di dekat sungai, tetapi masih bisa dilewati.” “Baik. Hati-hati di bagian itu.” “Kami mengerti.” Julian meneruskan perjalanan. Ia tidak ikut memeriksa seluruh jalur karena para penjaga sudah menjalankan tugasnya. Ia hanya memastikan tidak ada sesuatu yang membutuhkan perhatian lebih. Bagi Julian, belajar hidup di wilayah Varell juga berarti mengetahui kapan harus bertindak dan kapan harus mempercayai orang lain. Tidak semua hal perlu dikerjakan sendiri. Sore harinya, Julian kembali ke estate. Ia mendapati Damir sedang berada di halaman, memeriksa beberapa pedang latihan. “Ayah.” Damir menoleh. “Bagaimana hutan hari ini?” “Tenang.” “Menemukan sesuatu?” Julian menceritakan tentang keranjang yang ditinggalkan di depan kamarnya dan makhluk kecil yang ditemuinya kembali. Damir mendengarkan tanpa menyela. “Menurutmu makhluk itu yang mengirimkan keranjang?” “Belum bisa dipastikan.” “Bagus. Jangan mengambil kesimpulan sebelum memiliki cukup bukti.” Julian mengangguk. Damir mengambil salah satu pedang kayu. “Sekarang, bagaimana kalau kita berlatih?” Julian melihat Vesper di pinggangnya. “Bukankah hari ini jadwal latihan ringan?” “Memang.” “Lalu kenapa Ayah mengambil pedang?” Damir tersenyum tipis. “Karena latihan ringan tetap latihan.” Julian menghela napas pendek, tetapi mengambil pedang kayu yang disodorkan kepadanya. Mereka berlatih selama beberapa saat. Tidak ada teknik baru. Tidak ada peningkatan luar biasa. Damir hanya memperbaiki posisi kaki Julian dan mengingatkannya agar tidak kehilangan keseimbangan ketika berpindah arah. Setelah selesai, Julian duduk di pinggir halaman. “Ayah.” “Hm?” “Apakah Ayah pernah menemukan sesuatu di hutan yang tidak bisa dijelaskan?” Damir berpikir sebentar. “Pernah.” “Apa yang Ayah lakukan?” “Mencari tahu kalau memang perlu.” “Kalau tidak perlu?” “Ya, kubiarkan.” Julian tertawa kecil. “Jawaban yang sama seperti biasanya.” Damir duduk di sampingnya. “Karena tidak semua hal membutuhkan jawaban segera.” Mereka diam beberapa saat. Kemudian Damir menepuk bahu Julian. “Jangan sampai rasa penasaran membuatmu lupa menikmati perjalanan.” Julian memandang hutan di kejauhan. “Saya akan mengingatnya.” Malam itu, keranjang kecil tersebut diletakkan di ruang pemeriksaan. Meriel masih belum mengetahui asal benda cokelat yang ditemukan di dalamnya. Julian tidak mempermasalahkannya. Ia sudah mencatat apa yang diketahuinya, dan untuk sementara itu cukup. Sebelum tidur, ia membuka buku catatan. Pada halaman tentang makhluk kecil penghuni pohon, ia menambahkan satu baris: Mungkin ia hanya ingin berbagi sesuatu. Julian tersenyum melihat tulisannya sendiri. Mungkin benar. Mungkin juga bukan. Namun ia tidak merasa perlu memaksakan jawaban. Ia menutup buku, lalu mematikan lampu. Di luar, hutan kembali diselimuti malam. Makhluk kecil itu mungkin sedang tidur di antara akar pohon. Lunara mungkin akan kembali menemaninya besok. Zero mungkin tetap memilih tinggal di kandang. Dan Julian? Besok pagi, ia akan kembali berlatih, membaca, atau menjelajahi tempat baru. Tidak ada petualangan besar yang menunggunya. Setidaknya, tidak hari ini. Untuk sementara, ia cukup puas dengan kehidupan kecil yang perlahan mulai dikenalnya. Sebab terkadang, hal-hal paling berharga tidak datang dalam bentuk kekuatan atau rahasia besar. Terkadang, semuanya dimulai dari sebuah keranjang kecil di depan pintu.

End of Chapter 61