Chapter 60 of 75
Chapter 60 — Jejak Kecil di Dalam Hutan
1.4k words
Pagi itu, Julian tidak membawa busur.
Ia membawa sebuah keranjang kecil, pisau untuk keperluan sehari-hari, dan buku catatan yang selalu dibawanya ketika menjelajahi hutan.
Lunara berjalan di sebelahnya, sedangkan Zero mengikuti dari belakang dengan langkah santai.
Tujuan mereka sederhana: mencari beberapa tanaman yang disebutkan dalam buku milik Julian.
Sejak mengunjungi Desa Laren, Julian mulai tertarik mempelajari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dianggapnya penting. Ia sudah memahami dasar berburu dan mengenal beberapa jenis monster, tetapi pengetahuannya tentang tanaman hutan masih terbatas.
Baginya, itu cukup menjadi alasan untuk keluar pagi ini.
Ia berhenti di dekat semak dengan bunga kecil berwarna kuning.
Julian membuka buku catatannya.
“Daun berbentuk oval, bunga kuning, tumbuh di tanah lembap.”
Ia membandingkan gambar di halaman dengan tanaman di depannya.
“Sepertinya benar.”
Julian berjongkok dan memeriksa daunnya. Ia tidak langsung memetiknya. Buku itu menyebutkan bahwa beberapa tanaman yang terlihat serupa bisa memiliki kegunaan berbeda.
Ia mencatat lokasi tumbuhnya, lalu beranjak pergi.
Lunara mengikutinya.
“Kalau semua kegiatan di hutan semudah ini, aku bisa menghabiskan sepanjang hari di sini.”
Lunara mengibaskan ekornya.
“Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu kau tidak keberatan.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Menjelang siang, Julian menemukan sesuatu yang tidak tercatat dalam bukunya.
Sebuah pohon tumbang melintang di atas aliran sungai kecil. Di bawah batangnya terdapat lubang sempit yang mengarah ke tanah.
Julian berhenti beberapa langkah sebelum mendekat.
Dari dalam lubang terdengar suara gesekan.
Ia berjongkok dan mengamati tanah di sekitarnya.
Ada bekas cakar kecil, beberapa helai bulu cokelat, dan kulit buah yang berserakan.
Bukan jejak monster besar.
Julian memiringkan kepala.
“Temanmu?”
Lunara mendekati lubang, lalu duduk tanpa menunjukkan tanda-tanda agresif.
Sesosok makhluk kecil muncul dari balik batang pohon.
Makhluk itu sama seperti yang pernah Julian lihat beberapa hari sebelumnya: tubuh kecil berbulu cokelat keabu-abuan, telinga panjang, dan ekor tipis.
Di mulutnya terdapat buah merah.
Begitu melihat Julian, makhluk itu membeku.
Julian tidak bergerak.
Makhluk tersebut mundur perlahan, lalu bersembunyi di balik batang pohon.
Julian memperhatikan lubang itu sekali lagi.
Ada beberapa jejak kaki kecil di sekitarnya.
Tampaknya makhluk itu tinggal bersama beberapa anggota kelompoknya.
Julian tidak mencoba mengejar.
Ia mengambil buah yang jatuh di dekat sungai, meletakkannya di atas batu, lalu menjauh.
Beberapa saat kemudian, makhluk kecil itu muncul kembali.
Ia mengambil buah tersebut dan membawanya ke dalam lubang.
Julian tersenyum.
“Baiklah. Anggap saja itu upah karena membiarkanku lewat.”
Ia melanjutkan perjalanan tanpa mengganggu mereka.
Namun sebelum pergi, ia mencatat lokasi tersebut.
Bukan untuk menangkap makhluk itu.
Ia hanya ingin mengingat tempat tinggalnya agar tidak merusaknya saat kembali nanti.
Setelah makan siang sederhana di tepi sungai, Julian membuka buku tentang tanaman.
Sayangnya, angin bertiup cukup kencang.
Satu halaman terangkat.
Kemudian halaman berikutnya.
Sebelum Julian sempat menutupnya, beberapa lembar catatan kecil yang diselipkan di antara halaman terlepas dan beterbangan.
“Ah, sial.”
Ia segera berdiri.
Satu lembar jatuh di dekat batu.
Lembar kedua tersangkut pada akar.
Lembar ketiga terbawa angin menuju semak.
Julian mengambil dua lembar pertama. Ketika hendak mengejar lembar terakhir, Lunara sudah lebih dahulu bergerak.
Moon Lynx itu melompat melewati semak, lalu berhenti di bawah sebuah pohon.
Kertas tersebut tersangkut pada ranting rendah.
Julian mengambilnya.
“Terima kasih.”
Lunara mengangkat dagu, seolah menganggap pekerjaan itu sudah sewajarnya dilakukan.
Julian merapikan catatannya dan memasukkannya kembali ke dalam buku.
Ia lalu menatap langit.
Awan mulai berkumpul di sebelah barat.
Hujan mungkin turun sebelum mereka tiba di rumah.
“Sepertinya kita harus pulang lebih awal.”
Zero mendengus dari belakang.
Julian meliriknya.
“Kau keberatan?”
Kuda hitam itu justru mulai berjalan mendahului mereka.
Julian tersenyum tipis.
“Baik. Rupanya kau lebih mengerti cuaca dariku.”
Mereka belum sampai di jalan utama ketika gerimis mulai turun.
Julian mempercepat langkah.
Namun dari arah depan terdengar suara seseorang memanggil.
“Tolong! Ada yang bisa membantu?”
Julian segera berhenti.
Suara itu berasal dari balik pepohonan di sebelah kanan.
Ia memberi isyarat agar Lunara dan Zero tetap dekat, kemudian bergerak menuju sumber suara.
Tidak jauh dari sana, seorang pria muda sedang berusaha mengangkat sebuah gerobak kecil yang salah satu rodanya terperosok ke tanah lunak. Di sampingnya terdapat beberapa karung berisi hasil panen.
Pria itu menoleh ketika Julian muncul.
“Syukurlah! Aku pikir tidak ada orang lewat.”
Julian melihat kondisi gerobak.
“Rodanya terjebak.”
“Benar. Hujan membuat tanahnya terlalu lunak.”
Julian memeriksa posisi roda dan tanah di sekitarnya.
Jika gerobak ditarik langsung, rodanya mungkin justru semakin tenggelam.
“Jangan ditarik dulu,” katanya. “Kita perlu mengurangi bebannya.”
Pria itu mengangguk.
Mereka menurunkan beberapa karung terlebih dahulu. Setelah itu, Julian mengumpulkan ranting-ranting yang cukup kuat untuk diletakkan di bawah roda.
“Coba dorong perlahan ketika aku memberi aba-aba.”
Pria itu mengambil posisi.
Julian memperhatikan roda.
“Sekarang.”
Gerobak bergerak sedikit.
“Terus.”
Roda akhirnya terlepas dari tanah lunak.
Pria itu mengembuskan napas lega.
“Berhasil! Terima kasih, Tuan Muda.”
Julian membersihkan tangannya.
“Tidak masalah.”
Pria itu baru menyadari pakaian Julian yang rapi serta pedang di pinggangnya.
“Maaf, apakah Anda berasal dari House Varell?”
“Ya.”
Pria itu langsung membungkuk.
“Saya Roderik, dari salah satu ladang di sebelah barat. Saya tidak mengenali Anda sebelumnya.”
“Julian Varell.”
Roderik terlihat sedikit gugup.
“Saya tidak menyangka akan bertemu keluarga Duke di tengah hutan.”
Julian membantu menaikkan kembali karung ke gerobak.
“Saya sedang menjelajah.”
“Sendirian?”
Julian melirik Lunara dan Zero.
“Tidak sepenuhnya.”
Roderik mengikuti arah pandangnya, lalu tertawa kecil.
“Benar juga.”
Hujan semakin deras.
Roderik mengajak Julian berteduh di sebuah pondok kecil yang biasa digunakan pekerja ladang ketika cuaca memburuk.
Julian menerima tawaran itu. Perjalanan pulang tidak akan lebih menyenangkan jika mereka memaksakan diri menerobos hujan.
Pondok tersebut sederhana.
Ada bangku kayu, beberapa alat pertanian, dan tempat penyimpanan kecil untuk perlengkapan kerja.
Roderik menawarkan makanan kering yang dibawanya.
Julian menerima sedikit sambil mendengarkan cerita tentang ladang di sebelah barat.
Menurut Roderik, beberapa petani mulai menanam tanaman baru yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca. Namun mereka masih kesulitan menentukan tempat yang paling cocok.
“Kalau berhasil, hasil panen kami bisa lebih baik,” jelas Roderik. “Tapi kalau gagal, kami kehilangan waktu dan benih.”
Julian mendengarkan dengan saksama.
Ia tidak mengetahui banyak tentang pertanian. Meski demikian, ia memahami bahwa keputusan kecil bisa membawa dampak besar bagi orang yang menggantungkan hidup pada hasilnya.
“Apakah kalian sudah mencoba menanamnya di beberapa tempat berbeda?”
“Sudah, tetapi jumlah benih kami terbatas.”
Julian mengangguk.
Ia tidak memberikan saran yang belum tentu benar.
Sebaliknya, ia bertanya tentang kondisi tanah, kebutuhan air, dan hasil percobaan sebelumnya. Roderik menjawab sebisanya.
Percakapan mereka berlangsung sampai hujan mulai mereda.
Sebelum berpisah, Julian mengucapkan terima kasih atas tempat berteduh.
Roderik membalas dengan senyum lebar.
“Kalau Anda berkunjung ke ladang kami, saya akan menunjukkan tanaman yang sedang kami coba.”
“Mungkin suatu hari nanti.”
Julian melanjutkan perjalanan bersama Lunara dan Zero.
Saat tiba di estate, sore hampir berakhir.
Scarlet sudah menunggu di beranda.
“Kau pulang lebih lambat.”
“Maaf, Ibu. Hujan turun.”
Scarlet memeriksa pakaian Julian yang sedikit basah.
“Kau tidak terluka?”
“Tidak.”
“Sudah makan?”
“Sudah sedikit.”
Scarlet menghela napas, kemudian menyuruh seorang pelayan menyiapkan makanan hangat.
Julian mengganti pakaiannya sebelum turun kembali.
Di ruang makan, Elena sedang bercerita tentang sesuatu yang terjadi di rumah sepanjang hari. Damir mendengarkan sambil memeriksa beberapa dokumen.
Ketika Julian duduk, Damir mengangkat kepala.
“Bagaimana perjalananmu?”
Julian menceritakan tanaman yang ditemukannya, makhluk kecil di dekat sungai, dan pertemuannya dengan Roderik.
Damir mendengarkan sampai selesai.
“Jadi kau membantu seorang petani mengangkat gerobak?”
“Ya.”
“Dan kau tidak mendapatkan apa-apa?”
Julian memandangnya.
“Saya mendapat tempat berteduh.”
Elena tertawa.
Damir tersenyum tipis.
“Jawaban yang bagus.”
Julian mulai makan.
Di luar, hujan kembali turun, kali ini lebih pelan.
Ia memikirkan hari yang baru saja berlalu.
Ia tidak menemukan harta tersembunyi.
Tidak mengalahkan monster.
Tidak mempelajari kemampuan baru.
Namun ia menemukan sesuatu yang berbeda setiap kali melangkah keluar dari rumah.
Sebuah makhluk kecil yang ingin hidup tenang.
Seorang petani yang membutuhkan bantuan.
Sebuah percakapan tentang tanaman yang mungkin mengubah kehidupan sebuah desa.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang mungkin tidak akan pernah tercatat dalam buku sejarah Aetheria.
Tetapi bagi Julian, semuanya layak untuk diingat.
Malam itu, sebelum tidur, ia membuka buku catatannya dan menuliskan beberapa baris tentang perjalanan hari ini.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat di bagian bawah halaman.
Dunia tidak hanya menyimpan tempat-tempat yang ingin kutuju. Dunia juga menyimpan kehidupan yang sudah berjalan jauh sebelum aku datang.
Julian menutup buku.
Besok, ia akan kembali berlatih.
Namun sekarang ia tahu, hutan bukan sekadar tempat untuk mengasah kemampuan.
Hutan adalah tempat untuk belajar memahami dunia—satu langkah kecil setiap kali.