Arc baru dimulai tanpa suara lonceng.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada tamu penting.
Tidak ada sesuatu yang berubah secara tiba-tiba.
Hanya pagi yang datang seperti biasanya.
Julian berdiri di depan jendela kamarnya.
Kabut tipis masih menggantung di atas pepohonan.
Musim baru membuat hutan terlihat berbeda. Daun-daun muda memenuhi beberapa cabang, sementara rerumputan di sekitar estate mulai tumbuh lebih tinggi.
Hari ini tidak ada latihan bersama Damir.
Ayahnya sedang pergi memeriksa salah satu wilayah pertanian di bagian selatan.
Julian memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi sendiri.
Tentu saja bukan benar-benar sendirian.
Lunara berjalan di sebelahnya.
Zero mengikuti dari belakang.
Busur berada di punggung Julian, sementara Vesper tergantung di pinggang.
Mereka berjalan menuju sungai.
Tempat itu sudah menjadi salah satu lokasi favorit Julian.
Tidak terlalu jauh dari estate.
Tidak terlalu ramai.
Dan cukup terbuka untuk melihat sekeliling.
Ketika tiba, Julian duduk di atas batu.
Ia mengeluarkan buku.
Namun baru beberapa halaman dibaca, Lunara berdiri.
Telinganya bergerak.
Julian menutup buku.
“Apa?”
Lunara berjalan menuju semak-semak.
Julian mengikutinya.
Di balik semak terdapat jejak kecil.
Bukan kaki manusia.
Bukan rusa.
Bentuknya menyerupai telapak tangan kecil dengan empat jari.
Julian berjongkok.
“Makhluk kecil?”
Lunara mengendus tanah.
Tidak ada tanda bahaya.
Julian mengikuti jejak itu beberapa meter.
Jejaknya berhenti di dekat pohon.
Di sana terdapat buah yang sudah tergigit.
Julian melihat ke atas.
Beberapa buah merah tumbuh di cabang rendah.
Kemudian terdengar suara.
Krek.
Julian menoleh.
Sesuatu bergerak cepat di antara dahan.
Seekor makhluk kecil melompat dari satu cabang ke cabang lainnya.
Tubuhnya tidak lebih besar dari kucing.
Bulu cokelat keabu-abuan.
Telinganya panjang.
Ekornya tipis.
Makhluk itu berhenti di atas dahan dan memandang Julian.
Julian juga memandangnya.
“Jadi kau pemilik jejaknya.”
Makhluk itu memiringkan kepala.
Lunara duduk.
Tidak menyerang.
Zero bahkan tidak tertarik.
Julian mengambil satu buah yang jatuh.
Ia meletakkannya di tanah.
Makhluk kecil itu turun perlahan.
Berhenti beberapa langkah dari buah.
Kemudian mengambilnya.
Julian tidak bergerak.
Makhluk itu menggigit.
Kemudian berlari kembali ke pohon.
Julian tersenyum.
“Takut juga.”
Ia tidak mengejarnya.
Tidak semua makhluk di hutan perlu diburu.
---
Beberapa saat kemudian, Julian kembali duduk.
Namun kali ini ia tidak membaca.
Ia hanya memperhatikan hutan.
Suara air.
Burung.
Serangga.
Angin yang melewati daun.
Semua terasa sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, Julian merasa nyaman.
Di kehidupan sebelumnya, ketenangan selalu berarti sesuatu akan segera terjadi.
Jika sebuah ruangan terlalu tenang, berarti ada jebakan.
Jika seseorang terlalu ramah, berarti ada maksud.
Jika sebuah jalan terlalu sepi, berarti seseorang mungkin sedang menunggu.
Sekarang berbeda.
Hutan hanya hutan.
Sungai hanya sungai.
Pagi hanya pagi.
Julian menyandarkan punggung pada batang pohon.
“Mungkin beginilah seharusnya hidup.”
Lunara menoleh.
Julian tersenyum.
“Tidak perlu dicari masalahnya.”
---
Menjelang siang, Julian kembali ke estate.
Namun begitu memasuki halaman, ia melihat Elena sedang berdiri dengan beberapa barang.
“Julian!”
“Ada apa?”
Elena menunjuk keranjang besar.
“Aku mau pergi ke pasar.”
“Kenapa membawa sebanyak itu?”
“Karena Ibu meminta banyak barang.”
Julian melihat daftar di tangannya.
“Banyak sekali.”
“Makanya kau ikut.”
Julian menghela napas.
“Kenapa saya?”
“Karena kau tidak punya alasan.”
Julian hampir tertawa.
“Baik.”
Mereka pergi bersama ke kota kecil yang berada tidak jauh dari estate.
Perjalanan kali ini berbeda dari perjalanan menuju Elaris.
Tidak ada rombongan besar.
Tidak ada acara.
Mereka hanya menggunakan kereta kecil dengan satu penjaga.
Sesampainya di pasar, suasananya ramai.
Pedagang menjual buah.
Daging.
Kain.
Rempah.
Peralatan rumah.
Bahkan beberapa barang dari wilayah lain.
Elena langsung sibuk.
“Julian, pegang ini.”
Julian menerima kantong.
“Ini apa?”
“Bumbu.”
Kemudian kantong kedua.
“Ini.”
“Sayuran.”
Ketiga.
“Ini.”
“Kenapa semakin banyak?”
“Karena kita belum selesai.”
Julian melihat tumpukan barang.
“Saya mulai mengerti kenapa kau mengajak saya.”
Elena tertawa.
---
Setelah semua belanja selesai, Julian melihat sesuatu di ujung pasar.
Sebuah kios kecil.
Bukan pedagang senjata.
Bukan toko buku.
Hanya penjual barang-barang dari hutan.
Ada batu.
Biji tanaman.
Kulit pohon.
Dan beberapa benda aneh yang tidak dikenal Julian.
Ia berhenti.
Elena ikut berhenti.
“Apa?”
Julian menunjuk.
“Saya ingin melihat.”
Mereka mendekat.
Seorang pria tua duduk di belakang meja.
“Silakan.”
Julian melihat beberapa batu kecil.
“Apa ini?”
“Batu Mana biasa.”
“Dari mana?”
“Hutan utara.”
Julian mengambil satu.
Mana di dalamnya sangat lemah.
“Tidak terlalu berharga.”
Pria itu tersenyum.
“Memang.”
“Lalu kenapa dijual?”
“Karena tidak semua barang harus mahal untuk berguna.”
Julian mengembalikan batu itu.
Kalimat tersebut mengingatkannya pada sesuatu.
Desa Laren.
Batu kecil yang diberikan seorang anak kepadanya.
Tidak berharga.
Tetapi tetap ia simpan.
Julian tersenyum kecil.
Ia membeli satu batu Mana sederhana.
Elena menatapnya.
“Untuk apa?”
“Tidak tahu.”
“Kau membeli sesuatu tanpa tahu gunanya?”
“Sekali-sekali.”
Elena tertawa.
“Itu baru normal.”
---
Dalam perjalanan pulang, Elena tertidur.
Julian duduk di samping jendela.
Batu Mana kecil itu berada di tangannya.
Ia memandangnya.
Batu itu tidak kuat.
Tidak langka.
Tidak indah.
Namun Julian menyimpannya di dalam kantong yang sama dengan batu dari Desa Laren.
Dua benda sederhana.
Dua alasan berbeda.
Satu diberikan seseorang.
Satu dipilihnya sendiri.
Julian menatap jalan di depan.
Mungkin hidup memang seperti itu.
Tidak semua hal harus memiliki tujuan besar.
Ada sesuatu yang dilakukan karena dibutuhkan.
Ada sesuatu yang dilakukan karena ingin.
Dan ada sesuatu yang dilakukan hanya karena terasa menyenangkan.
Kereta terus bergerak.
Ketika sampai di estate, matahari sudah mulai turun.
Damir ternyata sudah pulang.
Ia berdiri di halaman.
“Dari pasar?”
“Ya.”
“Apa yang dibeli?”
Elena menjawab lebih dulu.
“Banyak.”
Damir menghela napas.
Julian tersenyum.
Kemudian ia melihat ke arah hutan.
Besok ia akan kembali ke sana.
Mungkin menemukan jejak baru.
Mungkin menemukan makhluk lain.
Mungkin tidak menemukan apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya, itu tidak masalah.
Karena kehidupan tidak selalu harus membawa seseorang menuju sesuatu yang besar.
Kadang-kadang cukup dengan berjalan.
Melihat.
Belajar.
Dan menikmati hari yang sedang dijalani.
Julian masuk ke rumah bersama keluarganya.
Di luar, angin melewati pepohonan.
Musim baru benar-benar telah dimulai.