Chapter 5 of 75
Chapter 5 — Hari di Kota
1.4k words
Hari-hari Julian mulai memiliki pola.
Pagi untuk belajar.
Siang untuk latihan.
Sore kadang dihabiskan di perpustakaan atau halaman belakang.
Dan jika Scarlet mengizinkan, Julian pergi ke hutan untuk berburu.
Ia menyukai rutinitas itu.
Tidak terlalu sibuk.
Tidak terlalu sepi.
Namun beberapa minggu setelah kejadian di hutan, Damir memutuskan membawa seluruh keluarga ke kota.
"Kenapa kita harus ikut?" tanya Elena sambil berdiri di depan kereta.
Damir menatapnya.
"Karena kita memang akan pergi."
"Itu bukan jawaban."
Scarlet tertawa kecil.
"Kita perlu membeli beberapa keperluan rumah. Selain itu, Julian juga sudah terlalu lama hanya melihat rumah dan hutan."
Julian yang sedang berdiri di samping Scarlet mengangguk.
"Aku ingin melihat kota."
Elena langsung menunjuknya.
"Nah, itu alasan yang bagus."
Damir menghela napas.
"Kalau begitu naik."
Kereta keluarga Varell mulai bergerak meninggalkan kediaman.
Julian duduk di dekat jendela.
Pemandangan perlahan berubah.
Hutan yang selama ini ia kenal mulai menjauh.
Digantikan jalan tanah yang semakin ramai.
Kereta pedagang.
Petani.
Pemburu.
Orang-orang yang membawa hasil panen.
Beberapa petualang berjalan dengan senjata di pinggang.
Julian memperhatikan semuanya.
Aetheria yang selama ini ia lihat melalui buku ternyata jauh berbeda ketika dilihat langsung.
"Julian."
Ia menoleh.
Elena duduk di seberangnya.
"Kenapa?"
"Kau sejak tadi melihat keluar."
"Aku sedang melihat kota."
"Jangan sampai matamu jatuh."
Julian tertawa kecil.
"Apakah Kak Elena dulu juga seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Ketika pertama kali pergi ke kota."
Elena berpikir.
"Kurasa iya."
Scarlet tersenyum.
"Dia bahkan pernah hampir tersesat."
Elena langsung menoleh.
"Ibu!"
Damir menahan senyum.
Julian menatap kakaknya.
"Kau tersesat?"
"Itu hanya sekali."
"Berapa lama?"
"...Tidak penting."
Julian tertawa.
Suasana perjalanan terasa ringan.
Semakin dekat ke kota, jumlah orang semakin banyak.
Akhirnya mereka melewati gerbang besar.
Dua penjaga berdiri di sisi jalan.
Julian memperhatikan lambang Valdoria yang terpasang di atas gerbang.
Seekor naga dengan mahkota.
Kota itu bernama Elaris.
Bukan ibu kota.
Namun merupakan salah satu kota perdagangan penting di wilayah Valdoria.
Jalan utamanya ramai.
Bangunan batu berdiri berdampingan dengan toko kayu.
Pedagang menawarkan makanan.
Penjual senjata memajang pedang.
Beberapa toko memiliki kristal Mana kecil yang bercahaya sebagai penerangan.
Julian memperhatikan kristal itu.
"Mana?"
Edmund yang duduk di bagian depan menjawab.
"Benar, Tuan Muda."
"Digunakan untuk penerangan?"
"Salah satu kegunaannya."
Julian mengangguk.
Teknologi dunia ini berbeda.
Namun konsep dasarnya tetap sama.
Energi digunakan untuk mempermudah kehidupan.
Mereka turun di dekat alun-alun.
Scarlet langsung mengingatkan Julian.
"Jangan pergi jauh."
"Baik."
Elena sudah lebih dulu menarik tangan Julian.
"Ayo."
"Ke mana?"
"Melihat-lihat."
Mereka berjalan melewati pasar.
Julian melihat berbagai hal.
Buah.
Rempah.
Kain.
Peralatan rumah.
Kristal Mana.
Buku.
Senjata.
Bahkan sebuah kios kecil yang menjual berbagai benda dari monster.
Gigi.
Cakar.
Kulit.
Tanduk.
Julian berhenti.
Penjualnya seorang pria paruh baya dengan tubuh besar.
"Pertama kali melihat hasil monster?"
Julian mengangguk.
"Ya."
Pria itu tertawa.
"Kalau begitu jangan sentuh sembarangan. Beberapa masih mengandung sisa Mana."
Julian menarik tangannya.
"Baik."
Pria itu memperhatikan Julian.
Kemudian melihat pakaian yang dikenakannya.
"Lambang Varell?"
Julian mengangguk.
"Ya."
Pria itu langsung berdiri lebih tegak.
"Maaf, Tuan Muda."
Julian sedikit terkejut.
"Tidak perlu."
Pria itu terlihat bingung.
Julian kemudian menunjuk sebuah taring.
"Ini dari monster apa?"
"Warg Fang."
"Berbahaya?"
"Untuk pemburu biasa, lumayan."
"Kenapa?"
"Karena mereka berburu dalam kelompok."
Julian memperhatikan taring tersebut.
Ia teringat tiga monster di hutan.
"Apakah mereka tinggal di sekitar sini?"
"Kadang."
Pria itu menggeleng.
"Tapi beberapa minggu terakhir jumlah monster di sekitar hutan memang sedikit berubah."
Julian langsung memperhatikannya.
"Berubah?"
Pria itu mengangguk.
"Beberapa hewan keluar dari wilayah biasanya."
Elena menarik lengan Julian.
"Jangan mulai berpikir terlalu jauh."
Julian tersenyum kecil.
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Tapi wajahmu seperti sedang menyusun rencana."
"Aku memang sedang berpikir."
"Itu yang kutakutkan."
Julian tertawa kecil.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan.
---
Beberapa jam kemudian, Julian menemukan tempat yang jauh lebih menarik.
Sebuah bangunan besar dengan lambang pedang dan perisai.
Di depannya terdapat banyak orang.
Sebagian membawa pedang.
Sebagian menggunakan busur.
Ada yang mengenakan jubah.
Ada pula yang membawa bagian tubuh monster.
Julian berhenti.
"Tempat apa itu?"
Edmund yang kebetulan berjalan di belakang mereka menjawab.
"Adventurer Guild."
Julian menatap bangunan tersebut.
"Guild?"
"Tempat para petualang menerima pekerjaan, menjual hasil monster, mendapatkan informasi, dan mengurus berbagai permintaan."
Julian memperhatikan pintunya.
Di kehidupan pertama, tempat seperti ini tidak pernah ada.
Namun secara konsep, Julian memahami fungsinya.
Tempat berkumpulnya orang-orang yang hidup dari kemampuan mereka.
"Apakah Ayah pernah menjadi adventurer?"
Edmund tersenyum tipis.
"Pertanyaan yang bagus."
Julian menatapnya.
"Jadi?"
"Sepertinya Anda harus bertanya langsung kepada Duke Varell."
Julian langsung memahami.
Edmund sengaja tidak menjawab.
"Anda tahu sesuatu."
"Sebagai kepala pelayan, saya mengetahui banyak hal."
"Termasuk masa lalu Ayah?"
"Termasuk beberapa hal."
Julian menyipitkan mata.
Edmund hanya tersenyum.
Elena kemudian menepuk bahunya.
"Sudahlah. Kita bukan datang untuk mencari cerita masa lalu Ayah."
Julian menatap gedung guild sekali lagi.
Ada sesuatu tentang tempat itu yang menarik perhatiannya.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan karena kekuatan.
Melainkan karena dunia di dalamnya terasa berbeda.
Di sana, orang-orang datang dari berbagai tempat.
Berbagai ras.
Berbagai latar belakang.
Mereka menerima pekerjaan.
Pergi ke luar kota.
Berburu monster.
Menjelajahi tempat berbahaya.
Dan pulang membawa cerita.
Julian tidak tahu kenapa, tetapi untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi, ia merasa ingin melihat dunia lebih jauh.
Bukan sekarang.
Belum.
Ia masih terlalu muda.
Namun suatu hari nanti.
Mungkin.
---
Mereka hampir kembali ke tempat kereta ketika terdengar keributan.
"Hei! Berhenti!"
Suara seseorang terdengar dari gang di sebelah pasar.
Beberapa orang mulai menoleh.
Seorang anak laki-laki berlari keluar dari gang.
Usianya mungkin sedikit lebih tua daripada Julian.
Di tangannya terdapat sebuah kantong kecil.
Di belakangnya, dua pria mengejar.
"Dasar pencuri!"
Anak itu berlari semakin cepat.
Namun ia menabrak seseorang.
Tubuhnya jatuh.
Kantong di tangannya terlempar.
Beberapa koin berguling di tanah.
Julian melihatnya.
Dua pria tersebut segera tiba.
"Kau tidak bisa lari lagi."
Anak itu mundur.
"Aku tidak mencuri!"
"Diam!"
Salah satu pria mengangkat tangan.
Julian bergerak.
Bukan cepat.
Hanya satu langkah.
Ia berdiri di antara mereka.
Pria itu berhenti.
"Tuan Muda?"
Julian tidak mengenalnya.
Namun pria itu mengenal lambang di pakaian Julian.
"Kalian mau memukul anak itu?"
Pria tersebut menurunkan tangannya.
"Tidak, Tuan Muda. Dia pencuri."
Julian menoleh kepada anak tadi.
"Kau mencuri?"
Anak itu menggeleng cepat.
"Tidak."
"Kalau begitu jelaskan."
Anak itu terlihat ragu.
Pria tersebut langsung memotong.
"Dia mengambil uang dari toko kami."
Julian melihat kantong yang jatuh.
Kemudian melihat koin.
Lalu toko di belakang mereka.
Ia tidak langsung percaya salah satu pihak.
"Siapa pemilik uang itu?"
"Saya."
"Kalau begitu bawa bukti."
Pria itu terdiam.
"Apa?"
"Bukti bahwa uang itu milikmu."
Pria itu mulai gelisah.
Julian menatapnya dengan tenang.
Di kehidupan sebelumnya, Adrian belajar bahwa orang yang berbohong biasanya terlalu cepat menjawab.
Pria itu terlalu banyak menjelaskan.
Sementara anak tersebut terlalu takut untuk berbicara.
Namun rasa takut juga bukan bukti bahwa ia tidak bersalah.
Julian melihat koin di tanah.
Salah satunya memiliki ukiran kecil.
Ia mengambilnya.
"Ini bukan koin biasa."
Pria itu terkejut.
Julian menyerahkan koin tersebut kepada Edmund.
Edmund memeriksanya.
"Benar. Ini koin milik toko di sebelah."
Pria tersebut langsung pucat.
Anak itu menatap Julian.
"Jadi aku..."
Julian menggeleng.
"Belum tentu."
Ia menatap kedua pria itu.
"Jika kalian yakin dia mencuri, bawa dia kepada penjaga kota. Jangan menyelesaikan masalah dengan memukulnya."
Pria tersebut tidak berani membantah.
Akhirnya kedua pria itu membawa anak tersebut menuju penjaga.
Julian memperhatikan mereka pergi.
Elena berdiri di sampingnya.
"Kau terlalu serius."
"Mungkin."
"Kenapa membantu?"
Julian terdiam.
Ia melihat keramaian kota.
Orang-orang berjalan.
Pedagang berteriak menawarkan barang.
Anak-anak bermain.
Petualang tertawa.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Julian tersenyum kecil.
"Karena aku bisa."
Elena memandangnya.
Kemudian tersenyum.
"Jawaban yang aneh."
"Mungkin."
Mereka berjalan kembali menuju kereta.
Namun sebelum naik, Julian menoleh sekali lagi ke arah Adventurer Guild.
Ia melihat lambang itu.
Pedang dan perisai.
Entah kenapa, ia merasa bahwa suatu hari nanti tempat seperti itu akan menjadi bagian dari hidupnya.
Bukan karena ia mencarinya.
Melainkan karena dunia yang luas ini mungkin akan membawanya ke sana.
Julian naik ke kereta.
Pintu ditutup.
Kereta mulai bergerak meninggalkan Elaris.
Ia menatap kota dari balik jendela sampai bangunan-bangunan itu perlahan menghilang.
Hari itu Julian mendapatkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar melihat kota.
Ia mulai memahami bahwa Aetheria bukan hanya rumahnya.
Aetheria adalah dunia.
Dan masih banyak bagian dunia itu yang belum ia kenal.
Untuk pertama kalinya, Julian merasa penasaran.
Bukan sebagai Adrian Voss yang ingin mengetahui target berikutnya.
Bukan sebagai assassin yang mencari informasi untuk bertahan hidup.
Tetapi sebagai seorang anak yang ingin tahu seperti apa dunia tempat ia hidup.
Dan mungkin, suatu hari nanti—
ia akan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.