Chapter 58 of 75
Chapter 58 — Musim yang Berubah
1.0k words
Beberapa minggu berlalu setelah perjalanan ke Desa Laren.
Tidak ada kejadian besar.
Dan justru karena itulah Julian mulai menyadari perubahan kecil di sekitarnya.
Udara pagi semakin hangat.
Hujan turun lebih jarang.
Daun-daun baru tumbuh di beberapa pepohonan.
Musim perlahan berganti.
Di halaman belakang estate, latihan Julian juga mulai berubah.
“Ayo.”
Damir berdiri beberapa meter di depannya.
Julian menggenggam Vesper.
Satu pecahan bilah melayang di sampingnya.
“Serang.”
Julian maju.
Vesper menebas.
Damir menangkis.
Pada saat yang sama, Julian menggerakkan pecahan dari sisi lain.
Damir memiringkan tubuh.
Pecahan itu lewat di samping bahunya.
Julian segera menariknya kembali.
Damir tidak menyerang.
“Lebih baik.”
Julian mengatur napas.
“Masih lambat.”
“Memang.”
Damir menurunkan pedang.
“Jangan mencoba membuat pecahan bergerak lebih cepat dari kemampuanmu mengendalikannya.”
Julian mengangguk.
Kemampuan itu memang menarik.
Namun semakin sering digunakan, semakin ia memahami kelemahannya.
Satu pecahan mudah.
Dua pecahan membutuhkan konsentrasi jauh lebih besar.
Dan jika ia kehilangan fokus, pecahan bisa bergerak tanpa arah.
Vesper bukan kemampuan yang bisa digunakan hanya dengan mengandalkan naluri.
Ia membutuhkan kendali.
Julian menyukai bagian itu.
Ada sesuatu yang harus dipelajari.
---
Setelah latihan selesai, Julian pergi ke kandang.
Zero berdiri di dekat pagar.
Julian membawa beberapa potong buah.
“Ini.”
Zero langsung mendekat.
Namun sebelum Julian memberikannya, Zero tiba-tiba mengangkat kepala.
Telinganya bergerak.
Julian ikut memperhatikan.
Tidak ada suara aneh.
Beberapa detik kemudian, Zero kembali santai.
“Kau mendengar sesuatu?”
Zero hanya mendengus.
Julian menepuk lehernya.
“Baik.”
Ia tidak memaksakan diri mencari tahu.
Belakangan ini Julian mulai memahami bahwa tidak semua tanda harus diikuti.
Kadang-kadang hewan hanya mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar manusia.
Dan kadang-kadang tidak ada apa-apa.
---
Siang harinya, seorang penjaga datang ke rumah.
Ia membawa surat.
“Tuan Muda Julian.”
Julian menerima surat itu.
“Untuk saya?”
“Dari Desa Laren.”
Julian membukanya.
Isinya singkat.
Beberapa petani di desa membutuhkan bantuan karena sebagian hewan ternak mereka mulai sakit.
Tidak disebutkan penyebabnya.
Julian membawa surat itu kepada Scarlet.
“Ibu.”
Scarlet membacanya.
“Kita akan mengirim tabib.”
Julian mengangguk.
“Apakah saya boleh ikut?”
Scarlet menatapnya.
“Kau ingin ikut?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Julian berpikir sebentar.
“Karena saya sudah pernah ke sana.”
Scarlet tersenyum.
“Baik. Tapi kau tidak ikut sebagai petarung.”
“Saya mengerti.”
---
Keesokan harinya mereka kembali ke Laren.
Kali ini Julian ikut bersama seorang tabib dari estate.
Perjalanan berlangsung lancar.
Sesampainya di desa, mereka langsung menuju kandang ternak.
Beberapa kambing dan sapi terlihat lemas.
Tabib memeriksa satu per satu.
Julian berdiri di luar.
Ia tidak mengerti pengobatan.
Namun ia memperhatikan lingkungan.
Tidak ada tanda luka.
Tidak ada jejak monster.
Tidak ada sesuatu yang terlihat aneh.
Kemudian Lunara tiba-tiba mengangkat kepala.
Ia berjalan menuju belakang kandang.
Julian mengikutinya.
Di sana terdapat tumpukan rumput kering.
Lunara mengendus.
Kemudian mundur.
Julian berjongkok.
“Ada sesuatu?”
Ia mengambil sedikit rumput.
Baunya berbeda.
Tidak busuk.
Tetapi ada aroma pahit yang samar.
Julian membawa rumput itu kepada tabib.
“Apakah ini normal?”
Tabib mencium sedikit.
Wajahnya berubah serius.
“Tidak.”
Kepala desa mendekat.
“Ada apa?”
“Rumput ini tercampur dengan tanaman liar tertentu.”
Tabib memeriksa lagi.
“Kalau diberikan dalam jumlah banyak, bisa membuat ternak sakit.”
Kepala desa tampak terkejut.
“Tanaman itu tumbuh di sekitar sini?”
“Sepertinya.”
Julian melihat ke arah ladang.
“Kalau begitu masalahnya bukan dari ternaknya.”
Tabib mengangguk.
“Benar.”
Mereka kemudian memeriksa area sekitar.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada monster.
Hanya tanaman liar yang tumbuh terlalu dekat dengan tempat pakan.
Masalah sederhana.
Tetapi jika tidak ditemukan, kerugian desa bisa semakin besar.
---
Sore harinya, beberapa warga membersihkan area sekitar kandang.
Julian ikut membantu.
Elena tidak ada kali ini.
Scarlet sedang berbicara dengan kepala desa.
Julian membawa karung rumput bersama dua warga.
Seorang anak yang pernah memberinya batu sungai melihatnya.
“Kau datang lagi!”
Julian menoleh.
“Ya.”
“Kali ini melawan monster?”
“Tidak.”
Anak itu terlihat kecewa.
Julian hampir tertawa.
“Kami hanya membantu ternak.”
“Oh.”
Anak itu kemudian ikut membawa rumput kecil.
Julian melihatnya.
“Tidak perlu.”
“Aku bisa.”
“Kalau begitu jangan terlalu berat.”
Anak itu mengangguk serius.
Mereka bekerja sampai matahari mulai turun.
Tidak ada sesuatu yang heroik.
Tidak ada pertarungan.
Namun ketika kandang sudah bersih dan ternak mulai mendapatkan makanan yang benar, suasana desa berubah.
Orang-orang terlihat lega.
Kepala desa menghampiri Julian.
“Terima kasih, Tuan Muda.”
Julian menggeleng.
“Bukan saya yang mengobati.”
“Tapi Anda membantu menemukannya.”
Julian tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
---
Sebelum pulang, anak laki-laki itu kembali datang.
Kali ini tangannya kosong.
“Tidak ada batu lagi?”
Julian bertanya.
Anak itu menggeleng.
“Aku mau bertanya.”
“Apa?”
“Kalau kau besar nanti, kau mau jadi apa?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun Julian tidak langsung menjawab.
Dulu, jawabannya mungkin mudah.
Pembunuh.
Itulah pekerjaan yang ia lakukan.
Namun sekarang?
Ksatria?
Petualang?
Bangsawan?
Tidak ada yang terasa tepat.
Julian melihat desa.
Ladang.
Sungai.
Orang-orang yang sedang membereskan pekerjaan mereka.
Kemudian ia melihat tangannya sendiri.
“Aku belum tahu.”
Anak itu mengerutkan kening.
“Belum tahu?”
“Ya.”
“Bukannya semua orang harus tahu?”
Julian tersenyum.
“Tidak.”
Ia berdiri.
“Kadang-kadang kita harus berjalan dulu sebelum tahu ingin pergi ke mana.”
Anak itu tampak tidak sepenuhnya mengerti.
Tetapi ia mengangguk.
“Kalau begitu aku juga belum tahu.”
Julian tertawa kecil.
“Tidak masalah.”
---
Dalam perjalanan pulang, Scarlet duduk di samping Julian.
“Kau kelihatannya senang.”
“Ya.”
“Karena berhasil membantu?”
Julian melihat keluar jendela.
“Bukan hanya itu.”
“Lalu?”
Julian memikirkan jawabannya.
“Rasanya berbeda.”
Scarlet menunggu.
“Dulu saya selalu berpikir kemampuan seseorang diukur dari seberapa kuat dia.”
Scarlet tersenyum.
“Dan sekarang?”
“Sekarang saya pikir ada hal lain.”
“Apa?”
Julian melihat desa yang semakin jauh.
“Seberapa banyak hal yang bisa dia lakukan untuk orang lain tanpa harus menjadi kuat.”
Scarlet terdiam sebentar.
Kemudian mengusap rambut Julian.
“Ibu senang mendengarnya.”
Julian tersenyum.
Ia kembali melihat jalan.
Di dalam dirinya, sesuatu perlahan berubah.
Bukan kemampuan.
Bukan Mana.
Bukan teknik pedang.
Melainkan cara ia memandang kehidupan.
Ia masih ingin menjadi kuat.
Ia masih berlatih setiap pagi.
Ia masih memiliki naluri yang membuatnya waspada terhadap bahaya.
Namun sekarang kekuatan tidak lagi terasa sebagai tujuan.
Kekuatan hanyalah salah satu alat.
Dan untuk pertama kalinya, Julian mulai menemukan alasan mengapa ia ingin memiliki alat tersebut.
Bukan untuk menjadi seseorang yang ditakuti.
Bukan untuk membuktikan dirinya.
Melainkan agar ketika ada sesuatu yang benar-benar penting baginya, ia memiliki pilihan untuk menjaganya.
Kereta terus bergerak menuju Varell Estate.
Di luar jendela, musim baru telah dimulai.
Dan tanpa Julian sadari, tahun-tahun kecil yang tenang itu sedang membentuk dirinya sedikit demi sedikit.
Bukan menjadi seorang pembunuh yang lebih hebat.
Melainkan menjadi Julian Varell.