Chapter 57 of 75

Chapter 57 — Desa Laren

1.1k words

Beberapa hari setelah perjalanan bersama Damir, Julian kembali menjalani rutinitasnya. Pagi untuk latihan. Siang untuk belajar. Sore untuk hutan. Namun ada satu hal yang berubah. Sekarang ia tidak lagi hanya mengenal hutan di sekitar estate. Ia mulai mengenal wilayah Varell sebagai sebuah tempat yang memiliki kehidupan sendiri. Ada ladang. Ada sungai. Ada jalan perdagangan. Ada desa-desa kecil. Dan ada orang-orang yang hidup di tanah yang selama ini hanya ia lihat sebagai bagian dari peta. Suatu pagi, setelah sarapan, Scarlet memanggil Julian. “Julian.” Julian yang sedang membaca langsung mengangkat kepala. “Ya, Ibu?” “Kau masih ingat Desa Laren?” Julian berpikir sebentar. “Yang berada di sebelah barat?” “Benar.” Scarlet tersenyum. “Mereka mengirim permintaan bantuan.” Julian menutup bukunya. “Bantuan apa?” “Bukan sesuatu yang berbahaya.” Scarlet mengambil sebuah surat dari meja. “Persediaan obat dan beberapa bahan makanan mereka terlambat dikirim karena jalan berlumpur.” Julian mengangguk. “Lalu?” “Ibu akan pergi ke sana.” Elena yang sedang makan langsung menyela. “Aku ikut.” Scarlet menatapnya. “Kenapa?” “Karena bosan di rumah.” “Kau bisa membantu di sini.” “Tidak seru.” Julian menahan senyum. Scarlet kemudian menatap Julian. “Kau mau ikut?” Julian sedikit terkejut. “Boleh?” “Tentu.” “Kalau Ayah mengizinkan?” Scarlet tersenyum. “Ayahmu sudah tahu.” Seolah dipanggil oleh perkataan itu, Damir muncul dari pintu. “Boleh.” Julian menoleh. “Begitu saja?” “Kau sudah cukup mengenal wilayah sekitar.” Damir duduk. “Dan perjalanan ke Laren tidak jauh.” Elena langsung tersenyum. “Berarti kita pergi.” Damir menghela napas. “Jangan membuat masalah.” “Aku tidak pernah membuat masalah.” Julian dan Scarlet menatap Elena bersamaan. Elena terdiam. “...Jarang.” Julian tertawa kecil. --- Mereka berangkat setelah matahari naik. Scarlet membawa dua kereta kecil. Satu berisi makanan. Satu lagi berisi obat, kain, dan beberapa perlengkapan rumah tangga. Julian duduk bersama Scarlet. Elena berada di kereta belakang. Damir tidak ikut. Ada beberapa penjaga yang mengawal perjalanan. Julian memperhatikan pemandangan sepanjang jalan. Semakin jauh dari estate, semakin banyak aktivitas yang terlihat. Petani bekerja di ladang. Anak-anak membawa keranjang. Pedagang kecil menggunakan gerobak. Beberapa orang berhenti dan membungkuk ketika kereta Varell lewat. Julian memperhatikan hal itu. “Ibu.” “Hm?” “Apakah mereka selalu melakukan itu?” Scarlet melihat ke luar. “Membungkuk?” “Ya.” “Karena kita bangsawan.” Julian terdiam. Scarlet tersenyum. “Tapi jangan terlalu dipikirkan.” “Kenapa?” “Karena mereka menghormati House Varell, bukan berarti mereka lebih rendah darimu.” Julian menoleh. Scarlet melanjutkan. “Orang-orang di wilayah ini hidup karena tanah yang sama. Mereka bekerja, membayar pajak, menjaga keluarga, dan membangun rumah mereka sendiri.” Ia menunjuk seorang petani di kejauhan. “Tanpa mereka, wilayah ini tidak akan berjalan.” Julian mengangguk. Ia memahami maksudnya. Seorang bangsawan bisa memiliki tanah. Tetapi tanah itu tidak akan berarti tanpa orang-orang yang hidup di atasnya. --- Menjelang siang, mereka tiba di Desa Laren. Desa itu tidak besar. Rumah-rumah kayu berdiri di sepanjang jalan. Ada beberapa toko kecil. Sebuah sumur berada di tengah desa. Dan di bagian utara terdapat ladang luas. Begitu kereta memasuki desa, beberapa penduduk keluar. Seorang pria paruh baya datang menyambut. “Duchess Varell.” Scarlet turun dari kereta. “Tidak perlu terlalu formal.” Pria itu tersenyum gugup. “Maaf, Duchess.” Scarlet kemudian menunjuk kereta. “Kami membawa barang yang kalian butuhkan.” Wajah pria itu langsung lega. “Terima kasih.” Julian turun setelahnya. Beberapa anak desa memperhatikannya. Mereka berbisik satu sama lain. Elena turun dari kereta belakang. Seketika perhatian beberapa anak beralih kepadanya. “Jangan lihat aku seperti itu,” kata Elena. Anak-anak itu malah tertawa. Julian tersenyum. Salah satu anak laki-laki mendekati Julian. “Kau anak Duke Varell?” Julian mengangguk. “Ya.” “Kau bisa bertarung?” Elena langsung tertawa. “Pertanyaan pertama langsung itu?” Anak tersebut terlihat malu. Julian menjawab tenang. “Sedikit.” “Bisa mengalahkan monster?” “Belum tentu.” “Kenapa?” “Karena monster berbeda-beda.” Anak itu tampak berpikir. “Oh.” Kemudian ia menunjuk ke arah luar desa. “Ada monster kecil di dekat sungai.” Julian memperhatikan. “Sering?” “Kadang.” Scarlet yang mendengar percakapan itu langsung menoleh. “Kau tidak perlu pergi ke sana.” Julian mengangguk. “Saya tahu.” Anak itu kembali berlari. Julian memperhatikannya. Sederhana. Tidak ada ketakutan berlebihan. Bagi anak itu, monster kecil di sekitar desa adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. --- Setelah barang selesai diturunkan, Scarlet berbicara dengan kepala desa. Julian tidak ikut campur. Ia berjalan bersama Elena mengelilingi desa. Mereka melewati bengkel kecil. Seorang pandai besi sedang memperbaiki cangkul. Kemudian toko makanan. Lalu tempat latihan sederhana untuk para penjaga desa. Elena menunjuk sebuah bangunan. “Itu gudang.” Julian melihat. “Kenapa ada pagar di sekelilingnya?” “Karena beberapa tahun lalu pernah ada monster yang masuk.” “Berapa besar?” “Tidak terlalu besar.” Julian mengangguk. Mereka terus berjalan. Di ujung desa terdapat sungai. Airnya cukup jernih. Beberapa anak sedang bermain di tepi sungai. Lunara yang ikut bersama mereka langsung mendekat. Anak-anak itu berhenti. “Serigala?” “Bukan.” Julian menjawab. “Moon Lynx.” Mata mereka membesar. “Boleh disentuh?” Julian melihat Lunara. Lunara menatap balik. Kemudian berjalan mendekati salah satu anak. Anak itu mengulurkan tangan dengan ragu. Lunara membiarkannya. Anak tersebut tersenyum lebar. “Lembut!” Elena tertawa. “Dia memang begitu.” Julian duduk di bawah pohon. Untuk beberapa saat ia hanya memperhatikan. Anak-anak. Sungai. Desa. Orang-orang yang bekerja. Tidak ada sesuatu yang luar biasa. Namun justru itu yang membuatnya nyaman. --- Menjelang sore, mereka bersiap pulang. Kepala desa kembali mengucapkan terima kasih. Scarlet tersenyum. “Kalau ada masalah, kirim kabar.” “Kami akan melakukannya.” Julian naik ke kereta. Namun sebelum berangkat, anak laki-laki yang tadi berbicara dengannya datang berlari. “Tuan!” Julian menoleh. Anak itu memberikan sesuatu. Sebuah batu kecil berbentuk aneh. “Ini apa?” “Batu dari sungai.” Julian mengambilnya. “Untuk saya?” Anak itu mengangguk. “Supaya kau ingat Laren.” Julian melihat batu itu. Sederhana. Tidak berharga. Namun ia memasukkannya ke dalam kantong. “Terima kasih.” Anak itu tersenyum. Kereta kemudian bergerak meninggalkan desa. Elena melihat Julian. “Kau menyimpannya?” “Ya.” “Kenapa?” Julian melihat batu kecil di tangannya. “Karena dia memberikannya.” Elena tersenyum. “Jawabanmu sederhana sekali.” “Memangnya harus rumit?” “Tidak.” Elena menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kurasa itu bagus.” Julian melihat keluar jendela. Desa Laren perlahan menghilang dari pandangan. Ia tidak mendapatkan harta. Tidak mendapatkan senjata baru. Tidak menemukan rahasia besar. Hari itu bahkan tidak ada pertarungan. Namun ketika kereta terus bergerak menuju rumah, Julian merasa perjalanan tadi tetap berarti. Ia akhirnya mulai mengenal tempat yang menjadi bagian dari kehidupannya. Bukan melalui buku. Bukan melalui peta. Melainkan dengan melihatnya sendiri. Dan semakin banyak yang ia lihat, semakin ia menyadari sesuatu. Dunia yang ingin ia lihat ternyata bukan hanya kerajaan besar, kota megah, atau tempat-tempat yang tertulis dalam buku. Dunia juga terdiri dari desa kecil. Jalan berlumpur. Petani. Anak-anak. Orang-orang yang tidak pernah dikenal oleh siapa pun di istana. Mereka semua memiliki kehidupan sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Julian merasa bahwa jika suatu hari ia benar-benar pergi jauh dari Varell Estate, ia tidak hanya ingin melihat dunia. Ia ingin memahaminya. Kereta terus melaju. Di dalam kantongnya, batu kecil dari Desa Laren ikut terbawa pulang.

End of Chapter 57