Chapter 56 of 75
Chapter 56 — Hutan yang Berbeda
1.1k words
Beberapa hari setelah latihan Mana dimulai, kehidupan Julian kembali berjalan seperti biasa.
Pagi digunakan untuk latihan bersama Damir.
Siang untuk membaca atau membantu Scarlet dan Elena jika diperlukan.
Sore sering dihabiskan di hutan bersama Lunara dan Zero.
Tidak ada kejadian besar.
Dan Julian justru menyukai keadaan itu.
Namun latihan Vesper mulai menunjukkan perkembangan.
Ia belum mampu menghasilkan banyak pecahan.
Satu pecahan saja masih membutuhkan konsentrasi yang cukup besar.
Tetapi Julian mulai memahami cara kerjanya.
Mana tidak boleh dipaksa.
Semakin keras ia mencoba mengendalikan Vesper, semakin tidak stabil hasilnya.
Sebaliknya, ketika ia membiarkan Mana mengalir secara alami, pedang itu merespons lebih baik.
Pagi itu Damir berdiri di tengah halaman latihan.
“Sekali lagi.”
Julian mengangkat Vesper.
Mana mengalir.
Cahaya tipis muncul pada bilah.
Satu pecahan terbentuk.
Kali ini pecahan itu tidak langsung jatuh.
Julian menggerakkannya ke samping.
Kemudian kembali.
Damir mengangguk.
“Lebih baik.”
Julian menghentikan aliran Mana.
Pecahan kembali menyatu.
“Berapa lama sampai saya bisa menggunakan lebih dari satu?”
“Tidak tahu.”
“Jawaban yang membantu.”
Damir menatapnya.
“Kau ingin jawaban yang menyenangkan atau jawaban yang benar?”
“Yang benar.”
“Berarti tidak tahu.”
Julian tertawa kecil.
“Baik.”
Damir menyarungkan pedangnya.
“Mulai minggu depan, latihanmu akan sedikit berubah.”
Julian menunggu.
“Kita akan masuk lebih jauh ke hutan.”
“Seberapa jauh?”
“Cukup jauh sampai kau tidak bisa melihat estate.”
Julian mengangguk.
“Untuk berburu?”
“Berburu dan latihan.”
Damir berjalan meninggalkan halaman.
“Jangan membawa terlalu banyak perlengkapan.”
Julian melihat Vesper.
“Berarti saya harus mengandalkan kemampuan sendiri.”
“Bukan hanya itu.”
Damir menoleh.
“Kau harus belajar membaca lingkungan.”
Julian tersenyum.
Itu bagian yang ia sukai.
---
Hari yang ditentukan akhirnya tiba.
Julian membawa Vesper, busur, beberapa anak panah, dan kantong kecil berisi makanan.
Lunara ikut.
Zero juga.
Namun Damir hanya membawa pedang dan beberapa perlengkapan sederhana.
Dua penjaga awalnya hendak ikut.
Damir menolak.
“Tidak perlu.”
Mereka meninggalkan estate lewat jalur barat.
Awalnya tidak berbeda dengan perjalanan sebelumnya.
Pohon-pohon masih familiar.
Sungai kecil masih mengalir.
Jejak hewan masih terlihat di tanah.
Namun semakin jauh mereka berjalan, suasananya berubah.
Pohon menjadi lebih tinggi.
Semak semakin rapat.
Cahaya matahari lebih sulit menembus dedaunan.
Julian memperhatikan semuanya.
“Di sini jarang ada pemburu.”
“Benar.”
“Kenapa?”
“Karena tidak ada jalur yang mudah.”
Julian memandang ke depan.
Jalan yang mereka lewati bahkan hampir tidak terlihat.
Damir melanjutkan,
“Bagian ini masih wilayah Varell. Tapi tidak semua wilayah harus digunakan manusia.”
Julian mengangguk.
Ia mulai memahami maksud ayahnya.
Wilayah bukan berarti seluruh tanah harus dijadikan jalan atau pemukiman.
Ada tempat yang dibiarkan tetap menjadi hutan.
Mereka berjalan lagi.
Lunara tiba-tiba berhenti.
Julian ikut berhenti.
Zero mengangkat kepala.
Damir memperhatikan keduanya.
“Apa?”
Julian tidak langsung menjawab.
Ia melihat tanah.
Ada jejak.
Bukan monster.
Bukan manusia.
“Rusa.”
Damir mengangguk.
“Bagaimana kau tahu?”
“Jejaknya masih baru.”
Julian menunjuk tanah.
“Tanahnya belum kembali menutup.”
Damir tersenyum tipis.
“Bagus.”
Mereka mengikuti jejak itu.
Beberapa menit kemudian, seekor rusa terlihat di antara pepohonan.
Julian perlahan mengambil busurnya.
Damir tidak memberi perintah.
Ia hanya mengamati.
Julian menarik tali.
Menunggu.
Rusa itu bergerak.
Julian mengikuti.
Kemudian—
Sret.
Anak panah melesat.
Namun tidak mengenai sasaran.
Rusa itu berlari.
Julian menurunkan busur.
“Melenceng.”
“Kenapa?”
“Jaraknya berubah ketika bergerak.”
Damir mengangguk.
“Benar.”
Julian tidak kecewa.
Ia justru mengamati arah rusa pergi.
Kemudian melihat tanah.
“Masih bisa diikuti.”
Damir mengangguk.
“Kali ini jangan terburu-buru.”
Mereka mengikuti jejak.
Setelah beberapa menit, Julian menemukan rusa itu lagi.
Ia tidak langsung menembak.
Ia menunggu.
Mengatur napas.
Memperhitungkan arah angin.
Ketika rusa berhenti—
anak panah melesat.
Kali ini tepat.
Julian berjalan mendekat.
Ia tidak bersorak.
Tidak ada kebanggaan berlebihan.
Hanya rasa hormat terhadap hasil buruannya.
Damir mengangguk.
“Cukup.”
Julian menurunkan busur.
“Terima kasih.”
Mereka menyiapkan hasil buruan untuk dibawa pulang.
Namun perjalanan belum selesai.
---
Menjelang siang, mereka tiba di sebuah dataran kecil.
Dari sana, Julian bisa melihat bagian hutan yang belum pernah dilihatnya.
Pepohonan membentang jauh.
Di baliknya terdapat bukit-bukit.
Dan lebih jauh lagi—
pegunungan.
Julian berdiri diam beberapa saat.
“Bagian itu masih wilayah kita?”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
Damir menunjuk ke utara.
“Pegunungan di sana sudah mendekati batas wilayah kerajaan.”
Julian melihatnya lebih lama.
Selama ini dunia yang ia kenal terasa luas.
Namun ternyata tanah di sekitar rumahnya saja masih menyimpan tempat yang belum pernah ia datangi.
Damir duduk di atas batu.
“Kenapa kau ingin melihat dunia?”
Julian tidak langsung menjawab.
Ia memikirkan pertanyaan itu.
“Karena saya ingin tahu seperti apa dunia yang selama ini hanya saya baca.”
Damir tersenyum.
“Jawaban yang bagus.”
“Kenapa Ayah bertanya?”
“Karena ada perbedaan antara ingin melihat dunia dan ingin memiliki dunia.”
Julian menoleh.
Damir melanjutkan,
“Kalau kau hanya ingin melihat, kau akan belajar menghargainya.”
“Kalau ingin memiliki?”
“Kau akan selalu merasa belum cukup.”
Julian menyimpan kalimat itu.
Tidak perlu menjawab.
---
Mereka melanjutkan perjalanan sampai sore.
Saat matahari mulai turun, Damir memutuskan kembali.
Namun sebelum pergi, Julian melihat sesuatu.
Sebuah pohon besar di sisi dataran.
Di batangnya terdapat tanda tua.
Bukan enam garis.
Bukan simbol yang pernah ia lihat di sekitar jalan lama.
Hanya tiga goresan sederhana.
Julian mendekat.
Damir ikut melihat.
“Bekas manusia?”
“Mungkin.”
“Lama.”
Julian menyentuh batang pohon.
“Untuk apa?”
Damir mengamati sebentar.
“Penanda wilayah.”
“Dari House Varell?”
“Tidak tahu.”
Julian mengangguk.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Tidak semua tanda harus memiliki cerita yang perlu ia bongkar.
Mereka kembali berjalan.
---
Saat matahari hampir tenggelam, mereka keluar dari hutan.
Estate sudah terlihat dari kejauhan.
Elena berdiri di halaman bersama Scarlet.
Begitu melihat Julian, Elena langsung melambaikan tangan.
“Kalian akhirnya pulang!”
Julian mengangkat tangan.
Scarlet melihat hasil buruan.
“Bagaimana?”
“Berhasil.”
Elena melihat Julian dari atas sampai bawah.
“Tidak kotor?”
Julian melihat pakaiannya.
Ada sedikit tanah di bagian lutut.
“Sedikit.”
“Sedikit?”
Scarlet tertawa.
Damir berjalan melewati mereka.
“Dia semakin baik.”
Elena memandang Damir.
“Jangan membuatnya terlalu keras berlatih.”
“Tidak.”
“Benar?”
“Benar.”
Elena menyipitkan mata.
“Aku akan bertanya pada Julian.”
Julian langsung menjawab,
“Latihannya baik-baik saja.”
Elena puas.
“Bagus.”
Malam itu mereka makan hasil buruan bersama.
Tidak ada pembicaraan tentang jalan lama.
Tidak ada laporan mencurigakan.
Tidak ada rahasia besar.
Hanya keluarga yang menikmati makanan dari hasil perjalanan mereka.
Setelah makan, Julian kembali ke kamarnya.
Ia membuka jendela.
Angin malam masuk perlahan.
Dari kejauhan terdengar suara hutan.
Julian memandang ke arah pegunungan yang tadi dilihatnya.
Hari ini ia belajar sesuatu.
Hutan bukan sekadar tempat berburu.
Dunia di baliknya jauh lebih besar daripada yang selama ini ia bayangkan.
Dan untuk pertama kalinya, keinginan untuk melihat dunia tidak terasa seperti tugas.
Itu terasa seperti pilihan.
Pilihan yang suatu hari nanti akan ia ambil sendiri.