Chapter 55 of 75

Chapter 55 — Pecahan Vesper

982 words

Pagi datang tanpa sesuatu yang istimewa. Tidak ada tamu. Tidak ada laporan dari utara. Tidak ada suara kereta berhenti di halaman. Hanya udara dingin dan suara burung dari pepohonan di belakang estate. Julian sudah berada di halaman latihan ketika Damir datang. Vesper berada di tangannya. “Sudah siap?” “Sudah.” Damir membawa pedangnya sendiri, tetapi kali ini ia tidak mengambil posisi untuk bertarung. Ia berdiri beberapa langkah di depan Julian. “Letakkan Vesper di depanmu.” Julian mengikuti. “Sekarang rasakan Mana di dalam tubuhmu.” Julian memejamkan mata. Ia menarik napas perlahan. Mana. Ia sudah beberapa kali merasakannya. Aliran tipis yang bergerak melalui tubuh. Tidak seperti darah. Tidak seperti udara. Lebih seperti sesuatu yang selalu ada, tetapi baru terasa ketika diperhatikan. “Jangan dipaksa,” kata Damir. Julian membuka mata. “Saya tidak memaksanya.” “Bagus.” Damir menunjuk pedang. “Sekarang arahkan sedikit ke Vesper.” Julian berkonsentrasi. Mana bergerak dari tubuhnya menuju tangan. Kemudian masuk ke dalam gagang pedang. Tidak terjadi apa-apa. Julian mencoba lagi. Kali ini bilah Vesper memancarkan cahaya tipis. Damir memperhatikan tanpa bicara. Julian menarik napas. Mana terus mengalir. Cahaya di sepanjang bilah semakin jelas. Kemudian— Krek. Suara kecil terdengar. Julian membuka mata. Ada garis tipis pada permukaan Vesper. “Berhenti.” Julian langsung menghentikan aliran Mana. Cahaya menghilang. Garis itu juga lenyap. Julian mengamati pedangnya. “Kenapa retak?” “Bukan retak.” Damir mendekat. “Itu reaksi Mana.” “Karena alirannya tidak stabil?” “Ya.” Julian mengangguk. Masuk akal. Vesper bukan sekadar pedang biasa. Ada sesuatu dalam struktur senjata itu yang merespons Mana dengan cara berbeda. Damir kembali ke tempat semula. “Sekali lagi.” Julian mencoba. Kali ini ia tidak mengalirkan Mana sebanyak sebelumnya. Sedikit. Teratur. Perlahan. Cahaya muncul. Tidak ada retakan. Damir mengangguk. “Pertahankan.” Julian mempertahankannya. Beberapa detik. Sepuluh detik. Dua puluh. Keringat mulai muncul di dahinya. Namun alirannya tetap stabil. “Sekarang gerakkan pedang.” Julian mengayunkan Vesper. Tidak ada perubahan. “Lebih cepat.” Julian mempercepat. Cahaya di bilah bergetar. Kemudian sesuatu terjadi. Ujung pedang terlepas. Bukan patah. Bukan hancur. Sebuah pecahan kecil dari bilah itu terpisah dan melayang di samping Vesper. Julian menghentikan gerakan. Pecahan tersebut jatuh ke tanah. Ting. Keduanya memandangnya. Damir tidak langsung berbicara. Julian mengambil pecahan itu. Ringan. Namun terasa seperti bagian asli Vesper. “Ayah.” “Ya.” “Ini kemampuan Vesper?” “Sepertinya.” Julian mengangkat pecahan itu. “Kenapa bisa terpisah?” Damir menggeleng. “Itu yang harus kau cari tahu.” Julian memandang Vesper. Untuk pertama kalinya, senjata itu terasa seperti memiliki sesuatu yang belum ia pahami. --- Latihan dilanjutkan. Julian mencoba mengulangi proses tersebut. Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua menghasilkan pecahan yang langsung menghilang. Percobaan ketiga membuat Vesper bergetar terlalu kuat sehingga Julian harus menghentikan Mana. Percobaan keempat— satu pecahan muncul. Kali ini ia tidak jatuh. Pecahan itu melayang sekitar satu jengkal dari bilah utama. Julian menatapnya. “Berhasil.” “Jangan senang dulu.” Damir menunjuk pecahan tersebut. “Pertahankan.” Julian berkonsentrasi. Pecahan itu bergerak sedikit. Kemudian berputar. Julian menyadari sesuatu. Ia tidak mengendalikan pecahan itu dengan tangan. Ia mengendalikannya melalui Mana. “Coba gerakkan ke kiri.” Julian mencoba. Pecahan bergerak. “Ke kanan.” Bergerak lagi. “Jauhkan.” Pecahan itu melayang beberapa meter. Julian mulai memahami prinsipnya. Vesper bukan hanya pedang. Ia dapat menjadi bagian-bagian kecil yang tetap terhubung melalui Mana. Namun ketika Julian mencoba mengendalikan dua pecahan sekaligus— salah satunya jatuh. Kemudian yang lain ikut menghilang. Julian menghela napas. “Batasnya satu.” “Untuk sekarang.” Julian menoleh. Damir tersenyum tipis. “Jangan menganggap batas pertama sebagai batas terakhir.” --- Latihan berlangsung hampir satu jam. Ketika selesai, Julian duduk di bawah pohon. Tangannya terasa berat. Bukan karena latihan pedang. Mana jauh lebih melelahkan. Damir memberikan air. “Minum.” “Terima kasih.” Julian meneguk beberapa kali. Ia menatap Vesper yang diletakkan di sampingnya. “Ayah.” “Hm?” “Berapa banyak pecahan yang bisa dibuat?” Damir mengangkat bahu. “Belum tahu.” “Kalau teorinya?” “Kalau pedangnya cukup kuat dan kendalimu cukup baik…” Damir berhenti. “Banyak.” Julian tersenyum kecil. Ia tidak membutuhkan jumlah besar sekarang. Satu saja sudah cukup untuk dipelajari. --- Sore harinya, Julian membawa Vesper ke tempat latihan kecil di belakang estate. Ia ingin mencoba sendiri. Lunara duduk tidak jauh darinya. Zero berada di bawah pohon. Julian menarik napas. Mana. Pelan. Teratur. Satu pecahan muncul. Ia mengarahkannya ke sebuah papan kayu. Pecahan itu bergerak. Julian membuatnya berputar. Kemudian kembali. Sekali lagi. Lebih cepat. Pecahan itu melesat. Tak. Menancap di papan. Julian mendekat. Tidak dalam. Namun cukup untuk menembus permukaan kayu. “Menarik.” Ia menarik pecahan itu kembali dengan Mana. Pecahan kembali menyatu dengan Vesper. Julian mencoba lagi. Kali ini lebih cepat. Pecahan bergerak mengitari tubuhnya. Ia memutar badan. Pecahan mengikuti. Namun konsentrasinya pecah. Pecahan jatuh. Julian menghela napas. “Masih jauh.” Suara langkah terdengar. Elena muncul dari arah rumah. “Sedang apa?” “Latihan.” Elena melihat pedang. “Pedangmu tadi terbelah?” “Sedikit.” “Sedikit?” Julian menunjukkan Vesper. Elena memandangnya dengan penasaran. “Bisa melakukan apa?” “Belum tahu.” “Coba.” Julian menggeleng. “Tidak.” “Kenapa?” “Karena kalau gagal, nanti Ibu akan menyalahkan saya.” Elena tertawa. “Benar juga.” Julian ikut tersenyum. Elena kemudian duduk di dekatnya. “Kau kelihatan senang.” Julian memandang Vesper. “Karena ada sesuatu yang belum saya pahami.” Elena mengernyit. “Bukannya itu membuatmu penasaran?” “Itulah sebabnya saya senang.” Elena menggeleng. “Kau aneh.” “Mungkin.” Mereka duduk beberapa saat. Tidak membahas masa lalu. Tidak membahas jalan lama. Tidak membahas hal-hal besar. Hanya duduk di bawah pohon sambil menikmati sore. --- Malam tiba. Julian kembali ke kamarnya. Ia membuka buku catatan. Di halaman baru, ia menulis: Vesper — kemampuan pertama. Pecahan bilah. Terhubung dengan Mana. Saat ini hanya satu. Ia berhenti. Kemudian menambahkan: Jangan terburu-buru. Julian menutup buku. Ia memandang Vesper yang diletakkan di dekat tempat tidur. Pedang itu tampak biasa. Namun sekarang ia tahu bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang belum sepenuhnya terbangun. Bukan kekuatan yang datang begitu saja. Bukan hadiah. Melainkan sesuatu yang harus ia pahami sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, Julian merasakan sesuatu yang sederhana. Rasa penasaran. Bukan tentang masa lalu. Bukan tentang siapa yang mungkin mengawasinya. Bukan tentang rahasia House Varell. Hanya tentang satu pertanyaan kecil. Seberapa jauh Vesper bisa berkembang bersamanya? Jawabannya tidak akan datang hari ini. Mungkin juga tidak besok. Tetapi Julian tidak keberatan. Karena sekarang ia punya waktu untuk menemukannya.

End of Chapter 55