Chapter 54 of 75
Chapter 54 — Jalan Pulang
1.0k words
Pagi setelah Festival Musim Semi terasa jauh lebih tenang.
Keramaian Elaris mulai berkurang.
Pedagang membereskan lapak.
Bendera festival diturunkan.
Para pengunjung dari luar kota mulai meninggalkan penginapan dan kembali ke wilayah masing-masing.
Keluarga Varell juga bersiap pulang.
Julian berdiri di depan penginapan sambil membawa tas kecil berisi buku yang dibelinya kemarin.
Evelyne datang bersama keluarganya.
“Kau membeli buku lagi.”
Julian melihat tasnya.
“Dua.”
“Dua?”
“Yang satu tentang wilayah Valdoria. Yang satu tentang monster.”
Evelyne menghela napas.
“Kau benar-benar tidak bisa melihat toko buku tanpa masuk.”
“Tidak selalu.”
“Kemarin kau masuk.”
“Itu bukan berarti selalu.”
Evelyne tertawa.
“Baiklah.”
Kedua keluarga saling berpamitan.
Ayah Evelyne menyalami Damir.
“Kami mungkin akan mengunjungi Varell Estate bulan depan.”
Damir mengangguk.
“Silakan.”
Evelyne menatap Julian.
“Sampai bertemu lagi.”
“Ya.”
“Jangan terlalu banyak berlatih.”
“Saya tidak pernah berlebihan.”
Evelyne menatapnya beberapa detik.
“Kau yakin?”
Julian tersenyum.
“Cukup.”
Mereka berpisah.
Kereta Varell kemudian bergerak meninggalkan Elaris.
---
Perjalanan pulang jauh lebih sepi.
Elena tertidur.
Scarlet membaca.
Damir memperhatikan jalan.
Julian duduk di dekat jendela.
Ia membuka buku wilayah Valdoria.
Peta besar terbentang di halaman tengah.
Valdoria berada di bagian tengah benua.
Di sebelah utara terdapat Roderick.
Di timur laut terdapat Eldravia.
Jauh ke timur terdapat Sylvarin.
Dravencross berada di wilayah pegunungan.
Dan Meridia membentang di pesisir.
Julian mengikuti garis jalan dengan jarinya.
Elaris bahkan belum berada di bagian tengah seluruh wilayah Valdoria.
Dan Valdoria sendiri hanyalah satu bagian dari Aetheria.
Ia menutup buku.
“Ayah.”
Damir menoleh.
“Ya?”
“Kalau saya ingin pergi ke kerajaan lain suatu hari nanti…”
“Boleh.”
Jawabannya terlalu cepat.
Julian mengangkat alis.
“Tidak perlu meminta izin?”
“Kalau kau masih kecil, tentu perlu.”
“Kalau sudah dewasa?”
“Kalau sudah dewasa, kau boleh menentukan sendiri.”
Julian mengangguk.
Damir kembali melihat jalan.
“Namun sebelum pergi jauh, kau harus tahu cara pulang.”
Julian memandangnya.
“Kenapa?”
“Karena dunia luas.”
Damir tersenyum tipis.
“Dan rumah tetap penting.”
Julian terdiam sebentar.
Kemudian tersenyum.
“Baik.”
Ia kembali melihat keluar jendela.
Kali ini pemandangan jalan terasa berbeda.
Bukan karena berubah.
Melainkan karena sekarang ia tahu ada begitu banyak tempat yang belum pernah dilihatnya.
---
Mereka tiba di Varell Estate menjelang sore.
Begitu kereta berhenti, Zero langsung muncul dari kandang.
Julian turun.
Zero mendekat.
“Ya, saya pulang.”
Zero menyentuh bahu Julian dengan kepalanya.
Elena turun setelahnya.
“Dia lebih menyambutmu daripada menyambut kami.”
“Karena kau tidak membawakan apel.”
Elena langsung mengambil satu apel dari keranjang.
“Sekarang lihat.”
Ia memberikan apel itu.
Zero mengambilnya.
Elena tersenyum puas.
“Lihat? Dia suka aku.”
Zero pergi setelah menghabiskan apel.
Julian tertawa.
“Sangat menyukai Anda.”
“Diam.”
---
Malam itu keluarga berkumpul di ruang makan.
Scarlet bertanya tentang festival.
Elena menceritakan hampir semua hal yang terjadi, meskipun sebagian besar tidak terlalu penting.
Damir mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Julian lebih banyak diam.
Namun ketika Scarlet bertanya,
“Bagaimana menurutmu?”
Julian berpikir sebentar.
“Menyenangkan.”
Scarlet tersenyum.
“Bagus.”
“Ramai.”
“Dan?”
Julian melihat keluarganya.
“Saya ingin pergi lagi.”
Elena langsung menunjuknya.
“Nah! Akhirnya kau mengaku.”
Julian tersenyum.
“Elaris saja.”
“Untuk sekarang.”
Scarlet tertawa.
Damir hanya menggeleng.
Tidak ada yang membahas kejadian di utara.
Tidak malam itu.
Setelah makan, Julian pergi ke halaman.
Langit cerah.
Lunara datang dari arah taman.
Julian berjongkok dan mengusap kepalanya.
“Kau baik-baik saja selama saya pergi?”
Lunara mendengkur pelan.
Zero berdiri tidak jauh.
Julian memandang keduanya.
Kemudian ke arah hutan.
Besok ia akan kembali ke sana.
Bukan karena ada sesuatu yang harus dicari.
Hanya karena ia memang menyukai tempat itu.
---
Keesokan paginya, Julian kembali ke hutan barat.
Ia membawa busur.
Lunara ikut.
Zero berjalan beberapa meter di belakang.
Mereka sampai di tempat yang ia temukan beberapa hari sebelumnya.
Pohon tumbang.
Sungai kecil.
Tempat duduk sederhana yang dibuatnya.
Julian duduk.
Ia membuka buku yang dibelinya di Elaris.
Namun baru beberapa halaman—
ia mendengar suara langkah.
Julian menutup buku.
Seseorang berjalan dari arah sungai.
Bukan orang asing.
Seorang anak laki-laki keluar dari balik pepohonan.
Rambut cokelat.
Pakaian sederhana.
Membawa keranjang.
Julian mengenalinya.
“Kau?”
Anak itu berhenti.
“Oh.”
Ia tersenyum.
“Kita pernah bertemu.”
Julian mengingat.
Beberapa waktu lalu, sebelum kejadian di jalan lama, ia pernah bertemu seorang gadis di hutan.
Namun ini bukan orang yang sama.
Anak laki-laki itu menunjuk ke arah sungai.
“Aku mencari tempat memancing.”
Julian mengangguk.
“Di sana ada ikan.”
“Benarkah?”
“Cukup banyak.”
Anak itu tersenyum.
“Kalau begitu aku beruntung.”
Julian kembali membuka bukunya.
Anak itu berjalan menuju sungai.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada hubungan khusus.
Hanya dua orang yang kebetulan bertemu di hutan.
Dan Julian menyukai hal semacam itu.
Tidak semua pertemuan harus memiliki arti besar.
---
Menjelang siang, Julian kembali ke estate.
Di halaman depan, Damir sedang berbicara dengan Edmund.
Julian hendak melewati mereka.
Namun Damir memanggil.
“Julian.”
“Ya?”
“Besok kita mulai latihan baru.”
Julian berhenti.
“Latihan apa?”
“Mana.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir kemudian berkata,
“Bukan hanya latihan tubuh.”
Julian menunggu.
“Mulai besok, aku akan mengajarimu cara menggunakan Mana melalui Vesper.”
Julian melihat pedangnya.
Kemampuan Mana Vesper masih jauh dari sempurna.
Pecahan bilahnya pernah muncul dalam jumlah kecil, tetapi kontrolnya belum stabil.
Damir melanjutkan,
“Kau sudah cukup mengenal tubuhmu.”
“Sekarang saya harus mengenal senjata saya.”
“Benar.”
Julian tersenyum kecil.
“Baik.”
Damir memandangnya.
“Dan ada satu lagi.”
“Apa?”
“Setelah latihan besok, kau akan mulai belajar tentang wilayah di luar Varell.”
Julian sedikit terkejut.
“Kenapa?”
“Karena kau sudah mulai ingin melihat dunia.”
Damir menepuk bahunya.
“Jadi sebelum melihatnya, kau harus memahami dunia itu.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir berjalan pergi.
Julian tetap berdiri beberapa saat.
Hutan di belakangnya.
Estate di depannya.
Dan dunia luas di luar sana.
Untuk pertama kalinya, jalan hidupnya terasa seperti benar-benar terbuka.
Bukan satu jalan.
Banyak.
Ia hanya perlu memilih.
---
Malamnya, Julian menulis di buku catatannya.
Festival Elaris.
Banyak orang.
Banyak jalan.
Ia berhenti.
Kemudian menulis satu kalimat lagi.
Suatu hari nanti, aku akan melihat tempat-tempat itu sendiri.
Ia menutup buku.
Di luar jendela, angin malam bergerak melewati pepohonan.
Jalan lama di utara masih menyimpan rahasianya.
Orang-orang yang datang dari sana belum sepenuhnya diketahui tujuannya.
Namun untuk sementara, semuanya kembali tenang.
Dan ketenangan itu memberikan Julian sesuatu yang jauh lebih penting daripada jawaban.
Waktu.
Waktu untuk tumbuh.
Waktu untuk belajar.
Waktu untuk menikmati keluarganya.
Dan waktu untuk menentukan sendiri ke mana ia akan pergi.
Besok, ia akan memulai latihan Mana yang baru.
Dan tanpa disadarinya, kemampuan yang selama ini hanya ia rasakan sedikit demi sedikit akan mulai membuka sisi lain dari Vesper.
Sebuah kemampuan yang kelak akan menjadi ciri khas pedang miliknya.