Chapter 53 of 75

Chapter 53 — Festival di Elaris

1.2k words

Dua hari sebelum Festival Musim Semi, Varell Estate menjadi sedikit lebih sibuk dari biasanya. Kereta diperiksa. Kuda disiapkan. Pakaian keluarga dipilih. Pelayan membawa daftar barang yang harus dibawa. Dan seperti biasa, Elena memiliki terlalu banyak pendapat. “Yang ini.” Scarlet mengangkat sebuah pakaian. “Yang biru?” “Bukan.” Elena mengambil yang lain. “Yang ini lebih cocok.” Julian berdiri di depan lemari sambil memperhatikan keduanya. “Saya rasa keduanya sama.” Elena langsung menoleh. “Tidak sama.” Julian memandang dua pakaian tersebut lagi. “Baik.” Ia memilih yang pertama. Elena menghela napas panjang. “Kau memang sulit dibantu.” “Bukankah tadi Ibu yang memilih?” “Bukan itu maksudku.” Scarlet tertawa kecil dari belakang. “Biarkan saja. Julian sudah memilih.” Julian tersenyum. Ia tidak terlalu peduli dengan pakaian mana yang dipakai. Yang penting nyaman. Namun Elena tetap memeriksa kerahnya sebelum pergi. “Setidaknya jangan sampai kusut.” “Saya akan berusaha.” “Bukan berusaha. Jangan.” “Baik.” --- Pagi keberangkatan akhirnya tiba. Julian berdiri di depan kereta bersama Lunara. Namun tentu saja, Lunara tidak ikut masuk. Ia akan tinggal di estate bersama beberapa penjaga. Zero juga tidak ikut. Julian menepuk leher kuda itu sebelum naik ke kereta. “Jaga tempat ini.” Zero mendengus. Elena yang sudah berada di dalam kereta melihat dari jendela. “Dia tidak mungkin mengerti.” Julian naik. “Dia mengerti.” “Bagaimana kau tahu?” “Dia melihat saya.” Elena memutar mata. Scarlet tersenyum. “Biarkan adikmu bicara dengan kudanya.” Kereta mulai bergerak. Julian melihat Varell Estate perlahan menjauh. Untuk pertama kalinya setelah cukup lama, ia pergi bukan karena latihan, urusan keluarga, atau masalah. Ia hanya pergi untuk menghadiri festival. Dan itu terasa cukup menyenangkan. --- Perjalanan menuju Elaris memakan waktu beberapa jam. Jalan utama jauh lebih ramai daripada biasanya. Gerobak pedagang. Petani membawa hasil panen. Keluarga bangsawan. Penjaga kerajaan. Kelompok penghibur. Semakin dekat ke kota, semakin padat lalu lintasnya. Julian memperhatikan semuanya melalui jendela. “Ayah.” Damir yang duduk di seberangnya mengangkat kepala. “Ya?” “Apakah setiap tahun seramai ini?” “Tidak selalu.” “Kenapa tahun ini?” “Musim panen cukup baik. Beberapa jalur perdagangan juga kembali aktif.” Julian mengangguk. Ia memperhatikan gerobak-gerobak yang datang dari arah berbeda. Beberapa membawa kayu. Beberapa membawa kain. Ada yang membawa hasil tambang. Ada pula kereta dengan lambang keluarga bangsawan. Aetheria terasa berbeda ketika dilihat dari jalan. Tidak lagi hanya sebagai peta di buku. Dunia benar-benar bergerak. Setiap orang memiliki tujuan sendiri. Dan semuanya saling terhubung. Ketika mereka mendekati gerbang Elaris, suara musik sudah terdengar. Elena langsung mendekat ke jendela. “Sudah mulai!” Scarlet tertawa. “Kau seperti anak kecil.” “Saya memang masih muda.” Julian tersenyum. “Setidaknya jujur.” Elena menyikutnya. --- Elaris jauh lebih ramai daripada kunjungan-kunjungan Julian sebelumnya. Bendera berwarna-warni tergantung di sepanjang jalan. Pedagang memenuhi sisi jalan. Anak-anak berlari membawa mainan kayu. Para penghibur melakukan pertunjukan di beberapa sudut. Bahkan beberapa penyihir memperlihatkan kemampuan sederhana mereka untuk menarik perhatian pengunjung. Api kecil melayang. Air membentuk lingkaran. Angin menggerakkan kain-kain panjang di atas jalan. Julian memperhatikan salah satu penyihir muda yang mengendalikan beberapa bola cahaya. Tidak besar. Tidak berbahaya. Namun kontrolnya cukup halus. “Menarik,” gumam Julian. Damir mendengarnya. “Mana?” Julian mengangguk. “Ya.” “Jangan terlalu lama melihat.” “Kenapa?” “Kalau kau terus menatap, nanti orang itu mengira kau ingin belajar.” Julian menoleh. “Bukankah saya memang ingin belajar?” Damir tersenyum. “Itu masalahnya.” --- Mereka berhenti di salah satu alun-alun utama. House Arclaire sudah menunggu. Evelyne berdiri di samping orang tuanya. Begitu melihat Julian, ia langsung melambaikan tangan. “Julian!” Julian mendekat bersama keluarganya. “Evelyne.” “Kau datang juga.” “Saya diundang.” Evelyne mengerutkan kening. “Itu jawaban paling Julian yang pernah kudengar.” Julian tersenyum kecil. Elena langsung menyela. “Dia dari tadi juga begitu.” Evelyne tertawa. Kemudian matanya melihat ke arah jalan. “Lihat!” Sebuah pertunjukan sedang dimulai. Seorang pemuda berdiri di tengah lingkaran penonton. Ia menggunakan Mana untuk mengendalikan tiga bilah logam kecil. Bilah-bilah itu bergerak mengitari tubuhnya. Cepat. Teratur. Tidak menyentuh siapa pun. Penonton bertepuk tangan. Julian memperhatikan. Bukan sekadar pertunjukannya. Kontrol. Jarak. Kecepatan. Pola gerak. “Dia cukup terampil,” kata Julian. Evelyne menoleh. “Kau selalu memperhatikan cara orang bertarung?” Julian berpikir sebentar. “Kadang.” “Kenapa?” “Karena menarik.” Evelyne tersenyum. “Baiklah.” Ia menarik lengan Julian. “Ayo.” “Ke mana?” “Lihat festival.” Julian membiarkannya menariknya. Elena tertawa melihat mereka. Damir hanya menghela napas. Scarlet tersenyum. --- Mereka berjalan melewati pasar. Evelyne berhenti hampir setiap beberapa langkah. “Ini bagus.” “Kau sudah bilang begitu lima kali.” “Karena lima benda berbeda memang bagus.” Julian memperhatikan sebuah toko kecil yang menjual buku bekas. Ia berhenti. Evelyne ikut berhenti. “Kau mau masuk?” “Ya.” Mereka masuk. Toko itu sempit dan penuh rak. Seorang pria tua duduk di belakang meja. “Cari sesuatu?” Julian melihat-lihat. Buku sejarah. Peta. Catatan perjalanan. Buku tentang monster. Beberapa buku sihir dasar. Tangannya berhenti pada sebuah buku berjudul: Wilayah-Wilayah Valdoria dan Kerajaan Sekitarnya. Ia mengambilnya. “Berapa harganya?” Pedagang itu menyebutkan harga. Julian membayarnya. Evelyne memperhatikan. “Kau benar-benar suka buku.” “Tidak semuanya.” “Lalu apa yang kau cari?” Julian melihat sampul buku. “Hal-hal yang belum saya tahu.” Evelyne tersenyum. “Jawabanmu semakin aneh.” “Mungkin.” Mereka keluar. Di luar, suara musik semakin keras. Julian memasukkan buku ke dalam tas. Kemudian ia melihat sesuatu di seberang jalan. Sebuah lambang. Seekor burung emas dengan latar biru tua. Bukan lambang House Varell. Bukan Arclaire. Seorang penjaga kerajaan berdiri di depan sebuah kereta. Di belakangnya terdapat seorang pemuda seusia mereka. Rambut gelap. Pakaian bangsawan. Ia sedang berbicara dengan beberapa orang. Julian hanya memperhatikannya sebentar. Tidak ada alasan untuk peduli. Kemudian pemuda itu secara kebetulan menoleh. Pandangan mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Pemuda itu mengangguk sopan. Julian membalas. Mereka kemudian berjalan ke arah berbeda. Evelyne bertanya, “Kenal?” “Tidak.” “Lalu kenapa melihat?” “Dia melihat saya.” Evelyne tertawa. “Baiklah.” Mereka melanjutkan perjalanan. --- Menjelang sore, alun-alun semakin ramai. Pertunjukan utama dimulai. Sebuah kelompok kesatria melakukan demonstrasi. Bukan pertarungan sungguhan. Hanya latihan. Namun salah satu dari mereka menggunakan Mana untuk memperkuat tubuh. Pedangnya bergerak cepat. Penonton bersorak. Julian memperhatikan dengan tenang. Ia bisa melihat kelemahan gerakannya. Kaki kanan sedikit terlambat. Bahu terlalu terbuka setelah serangan kedua. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Evelyne memperhatikannya. “Kau menemukan sesuatu?” “Sedikit.” “Beritahu.” “Tidak perlu.” “Kenapa?” “Dia tidak sedang bertarung sungguhan.” Evelyne tersenyum. “Kau benar.” Julian kembali menikmati pertunjukan. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu mengoreksi setiap hal yang dilihatnya. Tidak semua kesalahan harus diperbaiki. Tidak semua pertarungan harus dimenangkan. Kadang cukup melihat. --- Malam tiba. Lampu-lampu Mana dinyalakan di seluruh Elaris. Langit dipenuhi kembang api sederhana yang dibuat dari sihir. Elena bersorak. Scarlet tersenyum. Evelyne berdiri di samping Julian. Julian menatap langit. Cahaya warna-warni memantul di matanya. “Bagus.” Evelyne menoleh. “Kau suka?” “Ya.” “Kupikir kau akan bilang analisanya.” Julian tertawa kecil. “Tidak semua hal harus dianalisis.” Evelyne tersenyum. “Bagus.” Mereka kembali melihat langit. Tidak ada jalan lama. Tidak ada Six Moon. Tidak ada orang yang mengejar House Varell. Hanya sebuah festival. Sebuah malam biasa. Namun ketika kembang api terakhir menghilang, Julian menyadari sesuatu. Dunia yang selama ini ia kenal hanyalah sebagian kecil dari Aetheria. Ada kota-kota lain. Kerajaan lain. Orang-orang lain. Jalan-jalan yang belum pernah ia lewati. Dan mungkin suatu hari nanti, ia akan melihat semuanya. Bukan karena seseorang memerintahkannya. Bukan karena sebuah misi. Bukan karena ia harus bertahan hidup. Melainkan karena ia sendiri yang memilih untuk pergi. Di sampingnya, Evelyne berkata, “Julian.” “Hm?” “Suatu hari nanti, kita harus pergi lebih jauh.” Julian menoleh. “Ke mana?” “Entahlah.” Evelyne tersenyum. “Ke mana saja.” Julian melihat kembali langit malam. Kemudian mengangguk. “Baik.” Jauh di belakang mereka, di salah satu menara kota, seorang pria memperhatikan keramaian. Ia mengenakan pakaian sederhana. Tidak membawa senjata terbuka. Tatapannya tertuju pada lambang House Varell di kereta. Kemudian kepada Julian. Ia tidak mendekat. Tidak malam ini. Ia hanya mengingat wajahnya. Lalu pergi bersama kerumunan. Festival terus berlangsung. Dan Julian tidak menyadarinya. Belum.

End of Chapter 53

Chapter 53: Chapter 53 — Festival di Elaris - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio