Chapter 52 of 75

Chapter 52 — Wilayah yang Lebih Luas

1.1k words

Pagi berikutnya, Julian sudah berada di halaman sebelum matahari naik sepenuhnya. Vesper tergantung di pinggangnya. Busur berada di punggung. Lunara berjalan santai di sampingnya. Zero menunggu dekat gerbang. Damir datang beberapa saat kemudian dengan pakaian berburu sederhana. Tidak membawa rombongan besar. Hanya dua penjaga yang mengikuti dari kejauhan. Julian memperhatikan mereka. “Ayah bilang hanya berburu.” “Memang.” “Kenapa membawa penjaga?” Damir tersenyum tipis. “Karena aku kepala keluarga.” Julian mengangguk. “Jawaban yang sulit dibantah.” Mereka berangkat. Kali ini bukan menuju hutan yang biasa digunakan Julian. Mereka mengambil jalur barat yang lebih dalam. Pepohonan semakin rapat. Tanah mulai menanjak. Beberapa kali mereka melewati sungai kecil dan bebatuan besar. Julian memperhatikan keadaan sekitar tanpa sengaja. Bukan karena mencurigai sesuatu. Ia hanya sudah terbiasa mengetahui posisi sekelilingnya. Damir berjalan beberapa meter di depan. “Kau pernah sampai sini?” “Belum.” “Bagian ini jarang digunakan.” “Kenapa?” “Medannya sulit. Tidak banyak hewan besar.” Julian melihat jejak di tanah. “Padahal ada.” Damir berhenti. Julian menunjuk ke bawah. Jejak kaki besar terlihat di tanah lembap. Bentuknya menyerupai kaki rusa, tetapi jauh lebih lebar. Damir berjongkok. “Benar.” Salah satu penjaga mendekat. “Monster?” Damir memperhatikan jejak itu. “Belum tentu.” Julian melihat arah jejak. “Menuju atas.” Damir berdiri. “Kita ikuti.” Mereka melanjutkan. Tidak lama kemudian terdengar suara ranting patah. Lunara langsung berhenti. Zero mengangkat kepala. Damir memberi isyarat. Semua orang diam. Dari balik semak muncul seekor rusa bertanduk besar. Tubuhnya hampir dua kali ukuran rusa biasa. Namun tidak menunjukkan tanda agresif. Julian menurunkan busurnya yang sudah sempat diangkat. Damir memperhatikan. “Tidak jadi?” “Bukan target yang perlu diburu.” Damir tersenyum. “Bagus.” Rusa itu menatap mereka sebentar sebelum pergi. Julian mengikuti dengan pandangan sampai menghilang. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. --- Setelah hampir satu jam, mereka mencapai puncak bukit. Julian berhenti. Pemandangan di depannya terbuka. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat jauh melewati wilayah yang biasa ia kenal. Hutan Varell ternyata jauh lebih luas dari perkiraannya. Di kejauhan terlihat jalan besar. Beberapa gerobak bergerak seperti titik kecil. Lebih jauh lagi terdapat ladang. Dan di balik semuanya— kota. Julian memperhatikan. “Elaris?” Damir mengangguk. “Ya.” Julian terdiam beberapa saat. Selama ini ia mengenal Elaris sebagai kota tempat ia sesekali pergi bersama keluarganya. Namun dari tempat ini, ia melihat hubungan kota itu dengan wilayah di sekitarnya. Jalan. Ladang. Hutan. Desa. Pegunungan yang jauh. Semua saling terhubung. Aetheria terasa jauh lebih besar dari apa yang bisa ia lihat dari satu kota. Damir berdiri di sampingnya. “Dulu aku sering melihat pemandangan seperti ini dari tempat yang berbeda.” Julian menoleh. “Ketika perang?” “Ya.” Damir tidak melanjutkan. Julian juga tidak memaksa. Ia kembali memandang dunia di depannya. “Ayah.” “Hm?” “Seberapa luas dunia ini?” Damir tertawa kecil. “Jauh lebih luas daripada yang bisa kau lihat dari sini.” “Kalau begitu saya ingin melihatnya.” Damir menoleh. Julian tetap memandang kejauhan. Bukan dengan kegembiraan berlebihan. Hanya rasa ingin tahu yang tenang. “Suatu hari nanti,” lanjut Julian, “saya ingin pergi lebih jauh dari Elaris.” Damir tersenyum. “Boleh.” Julian menoleh. “Boleh?” “Kalau waktunya tepat.” “Dan kalau Ibu mengizinkan?” Damir langsung kehilangan senyumnya. “Itu bagian yang lebih sulit.” Julian tertawa. Dua penjaga di belakang mereka ikut tersenyum. --- Mereka kemudian turun dari bukit. Di perjalanan pulang, Damir memberikan Julian satu tantangan. “Pilih jalur pulang.” Julian melihat tiga jalur di depan. Satu melewati lembah. Satu menuruni bukit. Satu lagi memutar melalui hutan. “Yang tengah.” “Kenapa?” “Paling pendek.” Damir menggeleng. “Belum tentu.” Julian melihat tanah. Kemudian pohon. Kemudian posisi matahari. “Jalur tengah baru dilewati banyak orang.” “Bagaimana tahu?” “Tanahnya lebih padat.” Damir mengangguk. “Lanjut.” “Kalau ada banyak orang lewat, kemungkinan lebih besar bertemu rombongan.” “Benar.” “Jalur lembah terlalu terbuka.” Julian menunjuk jalur ketiga. “Yang itu lebih sepi.” Damir tersenyum. “Dan?” “Pulang lewat sana.” “Bagus.” Mereka mengambil jalur ketiga. Beberapa menit kemudian, Julian menemukan sesuatu di tanah. Sebuah patok kayu tua. Sudah hampir lapuk. Pada bagian atas terdapat ukiran lambang House Varell. Julian membersihkan tanah di sekitarnya. Di bawah patok terdapat tulisan lama. Batas Barat — Wilayah Varell. Damir berdiri di sampingnya. “Ini salah satu penanda lama.” “Masih berlaku?” “Wilayahnya masih.” Julian melihat sekeliling. “Berarti kita masih jauh dari batas sebenarnya?” “Tidak.” Damir menunjuk jauh ke depan. “Di balik bukit itu ada wilayah Desa Laren.” Julian mengingat nama tersebut. “Desa Laren?” “Desa kecil. Tidak besar. Tapi jalur dagangnya cukup ramai.” Julian menoleh. “Kenapa saya belum pernah ke sana?” “Karena kau belum pernah meminta.” Julian tersenyum. “Kalau begitu, saya meminta.” Damir tertawa. “Baik. Kita pergi lain kali.” --- Mereka kembali ke estate menjelang sore. Scarlet sudah menunggu di teras. “Dari mana saja kalian?” “Bagian barat.” Scarlet melihat pakaian Julian yang penuh debu. “Dan kau?” Julian melihat dirinya sendiri. “Sedikit kotor.” “Sedikit?” Elena muncul dari belakang. “Banyak.” Julian menghela napas. “Saya mandi.” Scarlet tersenyum. “Itu jawaban yang benar.” Damir berjalan melewati mereka. Scarlet memanggilnya. “Damir.” “Hm?” “Kau juga.” Damir melihat pakaiannya. “Benar.” Julian menahan tawa. Keluarga Varell kemudian menghabiskan sore seperti biasa. Tidak ada pembicaraan tentang orang-orang yang datang malam sebelumnya. Tidak ada pembahasan tentang pintu bawah tanah. Setidaknya tidak di meja makan. Namun malam itu, setelah semua orang tidur, Damir dan Edmund kembali berada di ruang kerja. Di atas meja terdapat peta. Bukan peta jalan lama. Peta wilayah Varell. Edmund menunjuk bagian barat. “Kalau kita membuka jalur ke Desa Laren, perjalanan ke Elaris akan jauh lebih mudah.” Damir mengangguk. “Dan perdagangan dari barat bisa masuk tanpa memutar.” “Betul.” Damir menatap peta beberapa saat. “Sudah waktunya.” Edmund menoleh. “Untuk membuka jalur?” “Bukan hanya itu.” Damir mengambil sebuah surat. Lambangnya berasal dari House Arclaire. “Sudah hampir waktunya anak-anak mulai mengenal dunia di luar estate.” Edmund tersenyum. “Evelyne?” “Dan beberapa keluarga lain.” “Termasuk Arkenhart?” “Sepertinya.” Edmund membaca surat itu. “Undangan ke Festival Musim Semi Elaris.” Damir mengangguk. “Julian akan ikut.” --- Keesokan paginya, Julian sedang sarapan ketika Damir menyampaikan kabar itu. “Festival?” “Di Elaris.” Elena langsung antusias. “Saya ikut!” Scarlet tersenyum. “Tentu.” Julian memandang ayahnya. “Berapa lama?” “Satu atau dua hari.” “Evelyne akan datang?” Damir mengangguk. “House Arclaire juga menerima undangan.” Julian memikirkan sebentar. Kemudian tersenyum kecil. “Baik.” Elena menatapnya. “Kau tidak terlihat bersemangat.” “Saya bersemangat.” “Wajahmu tidak menunjukkan.” “Memangnya harus?” Elena tertawa. Scarlet ikut tersenyum. Damir hanya menggeleng. Julian kembali melihat sarapannya. Namun di dalam pikirannya, sesuatu mulai berubah. Selama bertahun-tahun, dunianya hanya berputar di sekitar satu tempat. Varell Estate. Hutan. Elaris. Keluarga. Sekarang sebuah pintu baru terbuka. Bukan pintu rahasia di bawah bukit. Bukan jalan lama. Bukan masa lalu. Melainkan jalan menuju dunia yang lebih luas. Julian belum tahu apa yang akan ditemukannya di sana. Namun kali ini, ia tidak merasa sedang diseret oleh keadaan. Ia sendiri yang memilih untuk melangkah.

End of Chapter 52

Chapter 52: Chapter 52 — Wilayah yang Lebih Luas - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio