Chapter 51 of 75
Chapter 51 — Setelah Jalan Lama
990 words
Pagi setelah kejadian itu terasa aneh.
Bukan karena sesuatu terjadi.
Justru karena tidak ada apa-apa.
Tidak ada penjaga berlari.
Tidak ada suara pedang.
Tidak ada laporan dari utara.
Bahkan gerbang estate kembali dibuka seperti biasa.
Julian duduk di meja makan sambil memandang sarapan di depannya.
Elena sedang bercerita tentang kejadian semalam dengan versi yang semakin lama semakin berbeda.
“Pokoknya, jumlahnya pasti lebih dari sepuluh.”
Scarlet mengangkat alis.
“Bukankah Ayahmu bilang hanya lima?”
“Mungkin ada yang bersembunyi.”
Julian menyeruput minumannya.
“Tidak ada.”
Elena menoleh.
“Kau tahu dari mana?”
“Karena kalau ada sepuluh orang, penjaga pasti lebih banyak.”
Elena mengerutkan kening.
“Yah…”
Scarlet tersenyum.
“Jadi lima.”
“Tetap saja terdengar banyak.”
Damir yang duduk di ujung meja hanya makan dengan tenang.
Scarlet menatapnya.
“Dan kau.”
Damir berhenti.
“Apa?”
“Kau pergi tengah malam, bertarung, pulang menjelang pagi, lalu sekarang makan seperti tidak terjadi apa-apa.”
“Karena memang sudah selesai.”
Scarlet menyipitkan mata.
“Sudah selesai?”
Damir terdiam sebentar.
“Untuk sekarang.”
Scarlet menghela napas.
“Jawaban itu lagi.”
Julian menahan senyum.
Elena menunjuk Damir.
“Sudah, Ayah kena.”
Damir menatap putrinya.
“Habiskan sarapanmu.”
Elena langsung kembali makan.
Suasana kembali normal.
Dan mungkin memang itu yang paling dibutuhkan rumah tersebut.
Bukan pembicaraan tentang masa lalu.
Bukan ketakutan terhadap orang-orang yang mungkin kembali.
Hanya sarapan bersama.
---
Setelah sarapan, Julian pergi ke halaman.
Zero sudah menunggunya.
Kuda hitam itu berdiri di dekat pagar, mengibaskan ekornya.
Julian membawa sikat.
Begitu melihat benda itu, Zero langsung mundur.
“Jangan mulai.”
Zero mundur lagi.
Julian menghela napas.
“Ini hanya sikat.”
Zero memalingkan kepala.
Lunara yang duduk di atas pagar memperhatikan mereka.
Julian menatapnya.
“Kau jangan ikut menertawakan.”
Lunara berkedip.
Julian mendekat lagi.
Zero mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai akhirnya tubuhnya menyentuh pagar.
Julian berhenti.
“Baik.”
Ia menurunkan sikat.
“Tidak hari ini.”
Zero langsung kembali berdiri normal.
Julian tersenyum.
“Memang keras kepala.”
Dari belakang terdengar suara Elena.
“Dia mirip seseorang.”
Julian menoleh.
Elena berdiri sambil membawa sekeranjang buah.
“Siapa?”
Elena menunjuk Julian.
Julian menunjuk Zero.
Mereka saling pandang.
Kemudian Elena tertawa.
Julian ikut tersenyum.
Zero hanya mendengus.
---
Menjelang siang, Julian pergi ke hutan.
Tidak sendirian.
Lunara berjalan di sebelahnya.
Zero mengikuti dari belakang tanpa tali.
Hutan barat masih sama.
Pohon-pohon tinggi.
Udara lembap.
Suara burung.
Jejak hewan di tanah.
Tidak ada simbol aneh.
Tidak ada orang asing.
Tidak ada jalan rahasia.
Julian berjalan lebih jauh dari biasanya.
Bukan menuju utara.
Ia memilih jalur yang sama sekali belum pernah ia gunakan.
Di sana terdapat sebuah sungai kecil yang mengalir di antara batu-batu.
Julian berhenti.
“Tempat ini bagus.”
Zero mendekat ke air.
Lunara langsung melompat ke batu besar.
Julian duduk di tepi sungai.
Ia membuka bekal yang diberikan Scarlet.
Roti.
Buah.
Sedikit daging panggang.
Sederhana.
Ia makan sambil memperhatikan air.
Tidak ada yang perlu dilakukan.
Tidak ada target.
Tidak ada orang yang harus dibaca.
Tidak ada keputusan besar.
Hanya suara sungai.
Untuk beberapa waktu, Julian membiarkan dirinya menikmati ketenangan itu.
Kemudian terdengar suara.
Byur!
Julian menoleh.
Zero baru saja menginjak bagian sungai yang lebih dalam.
Kaki depannya tergelincir.
Julian berdiri.
Zero segera kembali berdiri dan menatapnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Julian memandang tubuhnya yang basah.
“Kau baik-baik saja?”
Zero mendengus.
Julian tertawa kecil.
“Bagus.”
Ia duduk kembali.
Beberapa menit kemudian, Zero malah masuk ke sungai lagi.
Kali ini dengan sengaja.
Julian menggeleng.
“Jadi ternyata kau suka air.”
Zero mengangkat kepala.
Lunara turun dari batu dan ikut mendekati sungai.
Hari itu berlalu tanpa latihan.
Tanpa berburu.
Tanpa masalah.
Dan Julian tidak merasa membuang waktu.
---
Sore hari, ketika mereka hendak pulang, Julian melihat sesuatu di antara pepohonan.
Bukan simbol.
Bukan benda aneh.
Sebuah pohon besar yang tumbang akibat usia.
Di bawahnya terdapat ruang kosong yang cukup besar.
Julian mendekat.
Lunara masuk lebih dulu.
Di dalam terdapat beberapa tulang kecil.
Bekas sarang.
Bukan monster.
Hanya hewan hutan.
Julian memperhatikan sebentar.
Kemudian melihat bagian atas pohon.
Cabang yang patah membentuk tempat yang cukup terlindung dari hujan.
Ia tersenyum.
“Tempat ini cocok.”
Zero mendekat.
Julian mengambil beberapa ranting kering.
Ia menyusunnya di sisi pohon.
Bukan untuk bertahan hidup.
Bukan tempat persembunyian.
Hanya tempat kecil untuk duduk ketika berada di hutan.
Beberapa waktu kemudian, tempat itu mulai terlihat seperti bangku sederhana.
Julian duduk.
Lunara berbaring di sampingnya.
Zero berdiri di belakang.
Ia memandang hutan dari sana.
Selama ini ia selalu melihat hutan sebagai tempat berburu.
Tempat latihan.
Tempat menguji kemampuan tubuh.
Namun ternyata hutan bisa menjadi sesuatu yang lain.
Tempat untuk berhenti.
---
Ketika Julian pulang menjelang sore, Damir sedang berada di halaman.
“Ayah.”
“Kau dari hutan?”
“Ya.”
“Berburu?”
“Tidak.”
Damir mengangkat alis.
“Tidak?”
“Saya menemukan sungai.”
Damir tersenyum tipis.
“Dan?”
“Zero jatuh ke dalamnya.”
Dari belakang Julian, Zero mendengus.
Damir melihat kuda itu.
Kemudian melihat Julian.
“Dia memang tidak biasa.”
“Benar.”
Damir berjalan mendekat.
“Besok aku ingin membawamu ke bagian barat.”
Julian menatapnya.
“Untuk latihan?”
“Tidak.”
Damir menunjuk hutan.
“Ada beberapa wilayah yang jarang kita datangi. Aku ingin kau mengenal daerah tempat keluargamu tinggal.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir menatapnya sebentar.
“Dan mungkin kita bisa berburu.”
“Kalau begitu saya ikut.”
“Kenapa langsung setuju?”
“Karena berburu.”
Damir tertawa kecil.
“Jawaban yang bagus.”
---
Malamnya, Julian berada di kamarnya.
Ia membuka buku catatan kecil.
Beberapa halaman berisi tulisan tentang tanaman, hewan, jalur hutan, dan hal-hal sederhana yang ditemuinya selama bertahun-tahun.
Ia menulis satu kalimat.
Sungai di sebelah barat. Tempat yang bagus untuk beristirahat.
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
Zero tidak suka disikat.
Julian melihat kalimat itu beberapa detik.
Kemudian tertawa kecil.
Ia menutup buku.
Di luar jendela, bulan terlihat di antara awan.
Jalan lama masih ada.
Orang-orang yang datang dari luar masih memiliki tujuan.
Dan suatu hari nanti, Julian pasti akan mengetahui apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah bukit.
Namun bukan malam ini.
Untuk sekarang, dunia kecilnya masih utuh.
Keluarga.
Rumah.
Hutan.
Lunara.
Zero.
Dan kehidupan sederhana yang perlahan mulai terasa benar-benar miliknya.
Di tempat lain, masa lalu mungkin sedang bergerak.
Tetapi Julian tidak harus selalu bergerak bersamanya.
Besok, ia hanya akan pergi berburu bersama ayahnya.
Dan mungkin—
untuk pertama kalinya, ia akan menjelajahi bagian lain dari hutan yang selama ini menjadi rumah keduanya.