Chapter 50 of 75

Chapter 50 — Sesuatu yang Tertinggal

1.2k words

Malam itu, Damir kembali ke Varell Estate tanpa membawa satu pun benda dari lorong bawah tanah. Julian sedang berada di ruang keluarga. Elena duduk di lantai sambil menyusun Permainan Enam Bulan. Scarlet membaca buku di sofa. Begitu pintu terbuka, Elena langsung mengangkat kepala. “Ayah pulang.” Damir melepas mantel. “Ya.” Scarlet menutup bukunya. “Bagaimana?” Damir menatap istrinya sebentar. “Belum selesai.” Scarlet memahami jawaban itu. Ia tidak bertanya lebih jauh di depan anak-anak. Julian hanya memperhatikan. Damir kemudian melihat papan permainan di lantai. “Kalian bermain?” “Elena kalah tiga kali,” kata Julian. “Dua kali!” protes Elena. “Tiga.” “Itu karena kau mengubah strategi di tengah permainan.” “Memang itu tujuannya.” Elena memelototinya. Damir tersenyum kecil. “Bagus. Berarti permainannya bekerja.” Ia berjalan menuju ruang makan. Scarlet menyusul. “Cuci tangan dulu.” Damir berhenti. “Baik.” Julian menahan senyum. Bahkan setelah perjalanan panjang dan menemukan lorong rahasia di bawah tanah, ayahnya tetap harus mencuci tangan sebelum makan. --- Malam berjalan tenang. Setidaknya sampai tengah malam. Julian terbangun karena suara kecil dari luar jendela. Bukan suara keras. Hanya suara sesuatu menyentuh atap. Ia membuka mata. Tidak langsung bangun. Ia mendengarkan. Satu langkah. Berhenti. Kemudian suara lain dari arah halaman. Julian duduk. Lunara yang tidur di dekat jendela langsung membuka mata. Julian mengangkat satu jari. Lunara diam. Ia mengambil Vesper. Tidak mengenakan mantel. Tidak menyalakan lampu. Kemudian berjalan menuju jendela. Dari celah tirai, ia melihat halaman. Dua penjaga masih berjaga. Satu berada di gerbang. Satu lagi berjalan di sisi timur. Tidak ada siapa-siapa. Julian menunggu. Kemudian— Fssht. Sebuah benda kecil jatuh dari atap. Bukan ke arahnya. Ke halaman. Salah satu penjaga mendekat. Julian langsung membuka jendela. “Jangan sentuh!” Penjaga itu berhenti. Julian turun dari tangga kecil menuju halaman. Edmund muncul hampir bersamaan dari koridor. “Tuan Muda!” “Benda itu.” Edmund melihatnya. Sebuah keping logam. Namun berbeda dari yang ditemukan sebelumnya. Tidak ada enam garis. Hanya simbol lingkaran dengan satu garis di tengah. Edmund langsung mengangkat tangan. “Semua penjaga, posisi!” Suasana estate berubah dalam sekejap. Pintu-pintu dibuka. Penjaga keluar. Damir muncul dari lantai atas dengan pedang di tangan. “Apa yang terjadi?” Edmund menunjukkan keping itu. “Dilempar dari atap.” Damir mengambilnya. Wajahnya berubah. “Bukan serangan.” Julian mengangkat pandangan. “Pesan?” Damir mengangguk. Di bagian belakang keping terdapat tulisan kecil. Mereka datang malam ini. Damir langsung berbalik. “Edmund.” “Ya.” “Bangunkan semua penjaga.” Scarlet muncul di koridor. “Damir?” “Bawa Elena ke ruang dalam.” Scarlet tidak bertanya. “Julian?” Damir melihat anaknya. “Bersamaku.” Scarlet hendak mengatakan sesuatu. Namun Julian sudah mengambil Vesper. Damir menatapnya beberapa detik. “Jangan meninggalkanku.” Julian mengangguk. “Baik.” --- Tidak sampai sepuluh menit kemudian, suara kuda terdengar dari luar. Bukan satu. Beberapa. Damir berdiri di gerbang utama. Di belakangnya terdapat enam penjaga. Julian berada sedikit di belakang. Edmund menjaga sisi lain. Kuda-kuda itu berhenti. Lima orang turun. Mereka tidak memakai lambang kerajaan. Tidak memakai pakaian perang. Satu orang membawa pedang. Dua lainnya menggunakan tongkat. Dua sisanya membawa busur. Pemimpin mereka melangkah maju. “Kami tidak datang untuk berperang.” Damir menjawab dingin, “Orang yang datang ke kediamanku tengah malam biasanya tidak datang untuk bertamu.” Pria itu tidak tersinggung. “Kami hanya ingin mengambil sesuatu.” “Apa?” “Benda yang berada di bawah bukit.” Damir diam. Jadi mereka memang tahu. “Kalian terlambat.” Pria itu mengerutkan kening. “Sudah ditemukan?” “Sudah.” “Kalau begitu serahkan.” “Tidak.” Jawaban Damir sederhana. Pria itu menarik napas. “Kami tidak ingin menyakiti keluarga Varell.” Damir mengangkat pedang. “Kalau begitu pulang.” Salah satu dari mereka bergerak. Damir langsung melangkah. Pedang bertemu. Suara benturan terdengar di halaman. Pertarungan pecah. Julian tidak maju sembarangan. Ia mengamati. Lima orang. Dua menyerang dari depan. Satu mencoba memutari sisi kiri. Dua lainnya menjaga jarak. Bukan kelompok yang ingin memenangkan pertempuran. Mereka ingin menciptakan celah. Julian melihat salah satu pemanah mengarahkan busurnya bukan kepada Damir. Melainkan ke arah bangunan. Ke jendela ruang keluarga. Julian bergerak. Anak panah melesat. Vesper terangkat. Tok. Anak panah jatuh ke tanah. Pemanah itu terkejut. Julian sudah berada di depannya. Ia menebas senjata pria tersebut hingga terlepas. Pria itu mundur. “Anak kecil?” Julian tidak menjawab. Ia hanya berdiri di antara pria itu dan rumah. Pemanah tersebut mencoba mengambil pisau. Julian lebih cepat. Ujung Vesper berhenti tepat di depan dadanya. “Jangan.” Suaranya tenang. Pria itu membeku. Julian tidak menyerang. Ia tidak perlu. Di belakangnya terdengar suara keras. Damir menjatuhkan salah satu penyerang. Edmund menangkap penyerang lainnya dengan teknik cepat. Pertempuran berlangsung singkat. Lima orang itu akhirnya terdesak. Pemimpinnya melihat keadaan. “Tarik mundur!” Mereka mencoba melarikan diri. Namun Damir sudah berada di depan gerbang. “Tidak.” Satu gerakan. Pedangnya berhenti di depan pria itu. “Siapa yang mengirimmu?” Pria tersebut diam. Damir tidak mengulang pertanyaan. Beberapa detik kemudian pria itu menjawab. “Tidak ada.” Damir mengerutkan kening. “Kami bekerja untuk diri kami sendiri.” “Kenapa?” Pria itu menatapnya. “Karena benda di bawah bukit bukan milik House Varell.” Damir menurunkan pedangnya sedikit. “Siapa bilang?” “Catatan lama.” “Catatan siapa?” Pria itu tersenyum tipis. “Orang yang membangun tempat itu.” Damir diam. Kemudian pria itu menambahkan, “Dan kalau Anda benar-benar membaca sejarah wilayah ini, Duke Varell, Anda akan tahu…” Ia menatap Damir. “…bahwa House Varell bukan pemilik pertama tempat itu.” --- Pagi datang setelah malam yang panjang. Kelima orang itu telah dibawa ke ruang tahanan sementara. Tidak ada yang tewas. Tidak ada kerusakan besar. Namun sesuatu telah berubah. Damir berdiri di ruang kerja bersama Edmund. Di atas meja terdapat peta lama. Julian berdiri di dekat rak buku. Ia tidak ikut pembicaraan. Hanya mendengarkan. Edmund menunjuk wilayah di utara. “Kalau catatan mereka benar, bangunan itu sudah ada sebelum House Varell menguasai wilayah ini.” “Benar.” “Berarti Six Moon juga tidak mengetahui semuanya?” “Tidak.” Damir melihat peta. “Bahkan aku tidak.” Julian akhirnya bertanya, “Kalau begitu apa sebenarnya yang ada di bawah bukit?” Damir menatapnya. Beberapa detik berlalu. Kemudian ia menjawab jujur. “Belum tahu.” Julian mengangguk. Tidak kecewa. Justru lega. Setidaknya kali ini, ayahnya tidak menyembunyikan jawaban dengan alasan sederhana. Damir melanjutkan, “Namun kita tahu satu hal.” “Apa?” “Tempat itu bukan gudang senjata.” Julian menunggu. “Bukan markas Six Moon.” Damir memandang peta. “Dan bukan tempat yang sengaja dibangun House Varell.” Edmund berkata, “Jadi untuk apa?” Damir tersenyum tipis. “Itulah yang akan kita cari tahu.” Julian tidak mengatakan apa-apa. Ia memandang peta. Kemudian berbalik. “Aku mau ke hutan.” Damir menatapnya. “Sekarang?” “Ya.” “Kenapa?” Julian menunjuk ke arah luar. “Zero sudah menunggu.” Damir melihat melalui jendela. Benar. Zero berdiri di halaman. Lunara duduk di atas pagar. Damir menghela napas. “Jangan ke utara.” “Saya tahu.” “Dan jangan mengejar sesuatu hanya karena penasaran.” Julian tersenyum kecil. “Saya tidak berniat.” Ia pergi. Edmund memperhatikan punggungnya. “Dia benar-benar tidak tertarik?” Damir tersenyum. “Dia tertarik.” “Lalu?” “Dia hanya tahu bahwa hidupnya tidak harus berhenti hanya karena masa lalu kami bergerak.” Edmund tersenyum. “Bagus.” --- Di luar, Julian berjalan menuju hutan. Zero mengikutinya. Lunara melompat dari pagar dan berjalan di sampingnya. Tidak ada pedang yang digunakan. Tidak ada misi. Tidak ada jalan lama. Hari itu Julian hanya ingin berburu. Dan untuk pertama kalinya sejak semua kejadian dimulai, wilayah Varell kembali tenang. Jalan lama sudah ditemukan. Orang-orang yang menggunakannya telah gagal mengambil sesuatu dari bawah bukit. Six Moon bukan musuh. Namun masa lalu mereka telah membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih tua. Arc 2 hampir selesai. Tetapi Julian belum tahu bahwa perjalanan berikutnya akan membawa dirinya keluar dari hutan Varell— dan untuk pertama kalinya, menuju dunia yang lebih luas.

End of Chapter 50