Chapter 49 of 75

Chapter 49 — Pintu di Bawah Bukit

1.3k words

Pagi datang lebih cepat dari perkiraan Julian. Bukan karena suara burung. Bukan karena Elena. Melainkan karena suasana di estate terasa berbeda. Jumlah penjaga di halaman bertambah. Beberapa kuda disiapkan. Pelayan membawa persediaan menuju gerbang utara. Damir belum terlihat. Julian berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan semuanya. Tidak ada kepanikan. Semua orang bergerak teratur. Artinya Damir masih memegang kendali. Julian turun ke halaman. Edmund sudah berada di sana. “Tuan Muda.” “Edmund.” “Duke belum kembali.” “Berapa lama?” “Sejak tengah malam.” Julian memandang gerbang. “Apakah ada kabar?” “Ada.” Edmund menyerahkan selembar kertas kecil. “Duke mengirim pesan sebelum fajar.” Julian membacanya. Hanya beberapa baris. Pintu ditemukan. Tidak ada tanda kehidupan di dalam. Kami akan memeriksa bagian bawah bukit. Jangan kirim siapa pun. Julian melipat kertas itu. “Tidak ada tanda kehidupan?” “Begitu laporannya.” Julian mengembalikannya. “Kalau begitu kenapa penjagaan ditambah?” Edmund tersenyum tipis. “Karena Duke mengenal dunia cukup baik untuk tahu bahwa tidak adanya tanda kehidupan bukan berarti tempat itu aman.” Julian mengangguk. “Benar.” Ia hendak pergi. Kemudian terdengar suara dari arah kandang. Zero meringkik keras. Tidak seperti biasanya. Julian langsung berbalik. Lunara yang sedang berbaring di dekat pagar juga mengangkat kepala. Keduanya mengarah ke hutan. Julian berjalan mendekat. “Apa yang kalian lihat?” Zero menghentakkan kaki. Lunara berdiri. Julian tidak melihat apa pun. Tidak ada orang. Tidak ada hewan. Tidak ada gerakan. Namun udara pagi membawa sesuatu yang berbeda. Bau tanah basah. Asap. Dan samar-samar— bau logam. Julian mengangkat tangannya. “Edmund.” Pria tua itu langsung memahami. “Penjaga.” Dua penjaga mendekat. “Periksa sisi timur.” Mereka pergi. Julian tetap berdiri. Beberapa saat kemudian salah satu penjaga kembali. “Tuan Edmund!” “Apa?” “Gerbang kecil sebelah timur terbuka.” Edmund mengerutkan kening. “Siapa yang membukanya?” “Kami belum tahu.” Julian melihat ke arah hutan. Kali ini ia sudah tahu. Seseorang masuk. --- Pemeriksaan dilakukan tanpa membuat penghuni estate panik. Gerbang kecil itu tidak rusak. Tidak ada bekas perkelahian. Hanya satu hal yang aneh. Pengait besinya dibuka dari dalam. Edmund menyentuhnya. “Berarti seseorang sudah berada di dalam.” Julian berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Tidak.” Edmund menoleh. Julian menunjuk tanah. “Lihat.” Ada jejak sepatu. Satu pasang. Jejak itu berasal dari dalam estate dan mengarah ke gerbang. Edmund mengikuti arah pandang Julian. Kemudian wajahnya menjadi serius. “Bukan orang yang masuk.” Julian mengangguk. “Seseorang keluar.” Mereka mengikuti jejak tersebut. Tidak jauh. Jejak berhenti di dekat gudang kecil. Pintu gudang terbuka. Edmund menarik pedangnya. Julian mengangkat tangan. “Jangan masuk dulu.” Edmund berhenti. Julian memperhatikan pintu. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Namun di bawah pintu terlihat bayangan. Seseorang berada di dalam. Edmund memberi tanda kepada dua penjaga untuk mengambil posisi. Kemudian membuka pintu. Seorang pria langsung bergerak. Ia mencoba melarikan diri melalui jendela belakang. Namun Julian sudah bergerak lebih dulu. Bukan dengan kecepatan penuh. Hanya cukup cepat. Julian memotong jalurnya. Pria itu berhenti. Tangannya bergerak ke pinggang. Julian langsung menarik Vesper. “Jangan.” Suaranya tenang. Pria itu membeku. Edmund masuk dari belakang. “Angkat tangan.” Pria tersebut perlahan menurut. Ia masih muda. Mungkin sekitar dua puluh tahun. Pakaiannya sederhana seperti pekerja biasa. Namun ada satu benda yang menarik perhatian Julian. Di pergelangan tangannya terdapat gelang hitam. Dengan satu garis merah. Edmund melihatnya. “Kau dari kelompok di jalan lama?” Pria itu tidak menjawab. “Siapa yang mengirimmu?” Tetap diam. Julian memperhatikan matanya. Bukan mata seseorang yang siap mati demi sebuah organisasi. Lebih seperti seseorang yang takut mengatakan sesuatu. Julian menurunkan Vesper sedikit. “Kau tidak datang untuk menyerang kami.” Pria itu menatap Julian. Edmund meliriknya. Julian melanjutkan, “Kalau tujuanmu menyerang, kau tidak akan membuka gerbang dari dalam.” Pria itu terdiam. “Kau mencari sesuatu.” Akhirnya pria itu bicara. “Bukan sesuatu.” “Apa?” “Orang.” Edmund mengerutkan kening. “Siapa?” Pria itu menatap Julian. “Kami mencari seseorang yang seharusnya sudah mati.” --- Suasana menjadi hening. Edmund memerintahkan penjaga membawa pria itu ke ruang pemeriksaan. Julian tidak ikut. Ia kembali ke halaman. Namun kalimat tadi tetap berada dalam pikirannya. Seseorang yang seharusnya sudah mati. Bukan benda. Bukan harta. Bukan wilayah. Seseorang. Tak lama kemudian, Scarlet menghampirinya. “Julian.” “Ibu.” “Apa yang terjadi?” “Ada orang ditemukan di gudang.” Scarlet langsung memperhatikan wajahnya. “Kau baik-baik saja?” “Ya.” Scarlet tersenyum lega. “Kalau begitu jangan terlalu memikirkan urusan Ayahmu.” Julian menatapnya. “Ibu tahu sesuatu?” Scarlet terdiam sebentar. “Sedikit.” “Apa?” Scarlet duduk di bangku. “Dulu, sebelum kau lahir, House Varell punya banyak musuh.” “Karena perang?” “Karena banyak hal.” Scarlet tersenyum tipis. “Kadang perang selesai, tetapi akibatnya tidak.” Julian duduk di sebelahnya. “Ibu pernah mengenal orang-orang dari masa lalu Ayah?” Scarlet memandang halaman. “Beberapa.” “Apakah mereka berbahaya?” “Beberapa.” Jawabannya sederhana. Tidak dramatis. Julian menyukainya. “Dan Six Moon?” Scarlet menoleh. Untuk pertama kalinya, Julian melihat sedikit perubahan pada ekspresi ibunya. “Kau mendengar nama itu?” “Tidak langsung.” Scarlet menghela napas. “Kalau suatu hari kau mendengar nama itu lagi, jangan langsung menganggap mereka musuh.” Julian mengangguk. “Baik.” “Dan jangan mencarinya.” “Saya tidak berniat.” Scarlet tersenyum. “Bagus.” Mereka duduk beberapa saat tanpa berbicara. Kemudian Elena muncul dari rumah. “Ibu!” Scarlet menoleh. “Apa?” “Zero memakan apelku!” Julian langsung melihat ke kandang. Zero sedang berdiri dengan sangat tenang. Di depannya terdapat keranjang kosong. Julian menahan senyum. “Ibu…” “Apa?” “Saya rasa Zero tidak akan mengaku.” Elena menunjuknya. “Jangan membelanya!” Julian tertawa kecil. Untuk beberapa menit, urusan jalan lama menghilang dari pikirannya. --- Sementara itu, jauh di utara— Damir berdiri di depan sebuah bukit batu. Di belakangnya terdapat lima penjaga. Salah satu bagian tanah telah dibuka. Di bawahnya terlihat tangga batu yang menurun ke kegelapan. Pintu yang ditemukan Bram ternyata bukan pintu biasa. Itu adalah pintu masuk menuju lorong bawah tanah. Edmund tidak ada di sini. Namun Damir membawa beberapa prajurit terbaiknya. “Tidak ada jejak baru?” tanya Damir. “Tidak, Duke.” “Baik.” Damir menyalakan lampu Mana. Cahaya biru pucat memenuhi lorong. Mereka turun. Satu langkah. Dua langkah. Sepuluh langkah. Semakin dalam mereka berjalan, semakin tua tempat itu terlihat. Dindingnya dipenuhi bekas goresan. Beberapa lambang kerajaan lama. Beberapa tanda militer. Dan akhirnya— enam garis. Damir berhenti. Ia menyentuh dinding. “Jadi ini tempatnya.” Salah satu prajurit bertanya, “Duke?” “Jangan sentuh apa pun.” Mereka melanjutkan. Lorong itu bercabang tiga. Damir memperhatikan lantai. Jejak sepatu baru terlihat di salah satu jalur. “Ke sana.” Mereka berjalan. Beberapa menit kemudian mereka menemukan ruangan besar. Kosong. Hanya terdapat beberapa peti kayu. Damir membuka salah satunya. Bukan senjata. Bukan emas. Dokumen. Peta. Catatan perjalanan. Dan beberapa lambang lama. Salah satu prajurit membuka peti lain. “Duke.” Damir mendekat. Di dalamnya terdapat pakaian perang tua. Enam mantel. Masing-masing memiliki simbol berbeda. Damir memandangi keenamnya. Depth. Loki. Death. Dream. Crimson. Nightmare. Tidak ada satu pun yang digunakan sekarang. Namun sesuatu membuat Damir berhenti. Di bagian paling bawah peti terdapat surat. Kertasnya jauh lebih baru daripada benda lain. Damir membukanya. Hanya ada satu kalimat. Kami tidak mencari perang. Kami mencari siapa yang memanggil kami kembali. Damir mengepalkan surat itu. Kemudian mendengar suara. Tok. Semua penjaga langsung mengangkat senjata. Tok. Suara kedua. Dari ujung lorong. Damir mengangkat tangan. “Jangan bergerak.” Suara langkah terdengar. Seseorang berjalan mendekat. Bukan lima orang. Bukan kelompok bersenjata. Hanya satu orang. Rambut putih panjang muncul lebih dahulu dari kegelapan. Damir tidak mengangkat pedangnya. “Dream.” Perempuan itu berhenti. Busur berada di punggungnya. Tatapannya tetap tenang. “Aku sudah bilang.” Damir menatapnya. “Bahwa seseorang memanggil kalian.” Dream mengangguk. “Dan sekarang kami tahu siapa yang membuka jalan.” Damir langsung bertanya, “Siapa?” Dream memandang surat di tangannya. “Bukan orang yang kau cari.” “Lalu siapa?” Dream mengalihkan pandangan ke lorong di belakang Damir. “Orang yang ingin menggunakan sesuatu yang disimpan House Varell di tempat ini.” Damir mengerutkan kening. “Disimpan House Varell?” “Bukan oleh kalian.” Dream melangkah mendekat. “Lebih tua dari House Varell.” Damir terdiam. Dream kemudian berkata, “Depth.” Damir menatapnya. “Sudah cukup lama kita berdua hidup dari masa lalu.” Dream memandang ke arah jalan keluar. “Jangan biarkan masa lalu kami menjadi beban anakmu.” Damir tidak menjawab. Dream berbalik. “Karena kali ini…” Ia berhenti sebentar. “…yang kembali bukan Six Moon.” Kemudian ia menghilang ke lorong lain. Damir berdiri diam. Untuk pertama kalinya sejak menemukan pintu itu, ia memahami sesuatu. Jalan lama bukan tujuan. Itu hanya jalan menuju sesuatu yang jauh lebih tua. Dan orang-orang yang menggunakannya bukan sedang membangkitkan Six Moon. Mereka sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang bahkan House Varell mungkin sudah lupa pernah ada.

End of Chapter 49