Chapter 4 of 75
Chapter 4 — Nama yang Membuka Pintu
1.2k words
Beberapa hari berlalu setelah Julian mulai mempelajari Mana.
Hasilnya tidak banyak berubah.
Ia masih belum bisa merasakan Mana dengan jelas.
Setiap pagi, Damir membimbingnya selama beberapa waktu. Kadang hanya beberapa menit. Kadang lebih lama.
Julian duduk.
Bernapas.
Mencoba merasakan sesuatu yang tidak bisa dilihat.
Namun yang ia temukan selalu sama.
Kosong.
Atau setidaknya, begitulah rasanya.
"Aku masih tidak bisa," kata Julian suatu pagi.
Damir yang berdiri di depannya hanya mengangguk.
"Kalau begitu berhenti untuk hari ini."
Julian membuka mata.
"Begitu saja?"
"Begitu saja."
"Apakah aku tidak perlu mencoba lagi?"
"Besok."
Julian mengangguk.
Ia mulai memahami metode ayahnya.
Damir tidak pernah memaksanya.
Tidak pernah mengatakan bahwa Julian harus segera menjadi kuat.
Jika belum bisa, berarti belum bisa.
Dan bagi Julian, pendekatan itu terasa aneh.
Dalam kehidupan sebelumnya, kegagalan berarti hukuman.
Sekarang, kegagalan hanya berarti sesuatu yang belum berhasil.
Perbedaan itu membuat Julian mulai menyukai proses belajar.
Namun ada satu hal yang masih mengganggunya.
Ia ingin memahami kemampuan tubuhnya sendiri.
Bukan untuk menjadi yang terkuat.
Ia hanya ingin tahu seberapa jauh tubuh ini bisa berkembang.
Karena pengalaman Adrian masih ada di dalam dirinya.
Ia tahu bagaimana membunuh.
Tahu bagaimana membaca gerakan.
Tahu bagaimana memanfaatkan lingkungan.
Namun pengetahuan tanpa tubuh yang mampu mengikutinya akan menjadi masalah.
Dan Julian tidak ingin mengulangi kesalahan itu.
---
Siang itu, Julian berada di halaman belakang bersama Edmund.
Di tangannya terdapat sebuah tongkat kayu.
Edmund berdiri beberapa meter di depannya.
"Pegang lebih rendah."
Julian mengubah posisi tangannya.
"Begitu?"
"Sedikit."
Julian memperbaikinya.
Edmund mengangguk.
"Lebih baik."
Julian menatap tongkat tersebut.
"Untuk apa saya mempelajari ini?"
"Dasar."
"Dasar apa?"
"Pertahanan."
Julian mengangkat alis.
"Bukankah ini tongkat?"
"Benar."
"Jadi saya belajar bertarung dengan tongkat?"
"Untuk sekarang."
Julian memandang Edmund beberapa saat.
Kemudian tersenyum kecil.
"Anda tidak akan memberi saya pedang?"
"Belum."
"Kenapa?"
Edmund mengetuk lantai dengan tongkatnya.
"Karena pedang bukan mainan."
Julian diam.
Edmund melanjutkan.
"Anda memang masih kecil, Tuan Muda. Tubuh Anda masih berkembang. Jika Anda terbiasa menggunakan senjata tanpa memahami tubuh sendiri, Anda akan membangun kebiasaan yang buruk."
Julian mengangguk.
"Masuk akal."
Edmund tampak sedikit terkejut.
"Anda tidak protes?"
"Kenapa harus?"
"Anak seusia Anda biasanya akan meminta pedang."
Julian memandang tongkat di tangannya.
"Saya bisa menunggu."
Edmund tersenyum tipis.
"Itu jawaban yang bagus."
Latihan dimulai.
Tidak ada gerakan rumit.
Hanya langkah.
Keseimbangan.
Menjaga jarak.
Mengangkat tongkat.
Menghindar.
Julian mengikuti semuanya.
Pada awalnya gerakannya tampak seperti anak biasa yang sedang belajar.
Namun setelah beberapa menit, Edmund mulai memperhatikan sesuatu.
Julian terlalu cepat membaca arah serangan.
Bukan cepat secara fisik.
Melainkan cepat dalam mengambil keputusan.
Ketika Edmund menggerakkan tongkat ke bahu kanan, Julian sudah bergeser sebelum serangan itu benar-benar datang.
Ketika Edmund mengubah arah ke kiri, Julian kembali bergerak.
Edmund menghentikan serangan.
"Siapa yang mengajarkanmu itu?"
Julian menatapnya.
"Entahlah."
Jawaban itu jujur.
Karena Julian sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Ia hanya merasa tubuhnya mengetahui apa yang harus dilakukan.
Edmund memperhatikan wajahnya beberapa saat.
Kemudian kembali mengangkat tongkat.
"Kita lanjut."
"Baik."
Latihan berlangsung beberapa menit.
Kemudian Edmund melakukan gerakan yang sedikit lebih cepat.
Julian mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian ia melihat kaki Edmund bergerak.
Tanpa sadar, Julian memiringkan tubuh.
Tongkat melewati sisi tubuhnya.
Julian mengayunkan tongkatnya.
Edmund menahan.
Tok!
Kedua tongkat bertemu.
Julian langsung menarik kembali senjatanya.
Edmund tersenyum.
"Bagus."
Julian menghela napas.
"Tapi saya masih kalah."
"Memang."
"Jauh?"
"Untuk saat ini."
Julian tertawa kecil.
"Setidaknya jujur."
Edmund ikut tersenyum.
"Anda mengingatkan saya kepada seseorang."
"Siapa?"
Edmund terdiam sesaat.
"Seorang anak yang dulu juga tidak suka kalah."
Julian menatapnya.
"Ayah?"
Edmund hanya tersenyum.
"Tidak saya katakan."
Julian menyipitkan mata.
Namun Edmund sudah kembali memasang posisi.
"Fokus, Tuan Muda."
"Baik."
---
Sore harinya, Julian duduk di bawah pohon besar di halaman.
Di sampingnya terdapat buku tentang Mana.
Ia membaca beberapa halaman.
Mana bukan sekadar sumber kekuatan.
Mana berada di lingkungan.
Di udara.
Tanah.
Tumbuhan.
Makhluk hidup.
Monster bahkan memiliki konsentrasi Mana yang lebih tinggi.
Julian berhenti membaca.
Monster.
Ia kembali mengingat kejadian di hutan.
Tiga makhluk yang mengejarnya.
Dan jejak besar yang bukan milik mereka.
Ia membalik halaman.
Ada gambar beberapa jenis monster.
Wild Monster.
Corrupted Monster.
Dungeon Monster.
Julian membaca penjelasannya.
Wild Monster adalah makhluk yang hidup secara alami dan mengalami perubahan karena Mana.
Corrupted Monster mengalami pengaruh Mana yang tidak stabil dan dapat menjadi jauh lebih agresif.
Dungeon Monster berasal dari lingkungan dungeon yang memiliki konsentrasi Mana sangat tinggi.
Julian mengernyit.
Jadi tidak semua monster sama.
Ia membaca lebih lanjut.
Dungeon sendiri terbentuk ketika Mana berkumpul dalam jumlah ekstrem dan menciptakan lingkungan khusus.
Semakin dalam seseorang masuk, semakin tinggi konsentrasi Mana.
Dan semakin berbahaya monster yang tinggal di dalamnya.
Julian menutup buku.
"Menarik."
Ia kemudian melihat hutan di kejauhan.
Apakah monster yang ia temui kemarin berasal dari sana?
Mungkin.
Tetapi sesuatu masih terasa aneh.
Jejak besar itu.
Julian belum pernah melihat monster seperti itu di buku.
Ia tidak berniat menyelidikinya sendirian.
Setidaknya belum.
---
Malam tiba.
Keluarga Varell berkumpul di ruang makan.
Julian duduk di antara Elena dan Scarlet.
Damir berada di sisi berlawanan.
Edmund berdiri tidak jauh dari mereka.
Malam itu suasananya sedikit berbeda.
Damir membawa sebuah dokumen.
Scarlet memperhatikan suaminya.
"Ada masalah?"
"Belum."
"Belum?"
Damir mengangguk.
"Ada beberapa laporan dari wilayah luar."
Elena berhenti makan.
"Laporan apa?"
"Beberapa hewan liar berpindah dari bagian dalam hutan."
Julian langsung memperhatikan.
"Karena monster?"
Damir menatapnya.
"Mungkin."
"Ada yang terluka?"
"Beberapa pemburu."
Julian diam.
Scarlet memandang Damir.
"Seberapa serius?"
"Belum serius."
Damir meletakkan dokumen.
"Kita akan meningkatkan pengawasan untuk sementara."
Julian mengingat jejak besar itu.
Namun ia tidak langsung mengatakan apa pun.
Ia belum yakin bahwa keduanya berhubungan.
Damir kemudian melihat Julian.
"Dan kau."
"Ya?"
"Untuk sementara jangan masuk terlalu dalam."
Julian mengangguk.
"Baik."
Elena menunjuknya.
"Bagus. Akhirnya ada yang mengatakannya."
Julian tersenyum kecil.
"Aku memang tidak berniat pergi terlalu dalam."
Elena mengangkat alis.
"Benarkah?"
"Benar."
"Kenapa aku tidak percaya?"
Scarlet tertawa.
Damir menghela napas.
Edmund menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya.
Suasana kembali ringan.
Namun Julian memperhatikan satu hal.
Damir terlihat lebih serius daripada biasanya.
Bukan takut.
Bukan panik.
Hanya waspada.
Dan Julian tahu persis seperti apa ekspresi seseorang yang sedang mempertimbangkan kemungkinan buruk.
Ia pernah melihat ekspresi itu ribuan kali dalam kehidupan sebelumnya.
Malam itu, setelah makan selesai, Julian kembali ke kamarnya.
Ia berdiri di dekat jendela.
Hutan terlihat gelap di kejauhan.
Ia tidak bisa melihat apa pun.
Namun pikirannya masih mengingat jejak itu.
Empat goresan panjang.
Dalam.
Dan jauh lebih besar daripada monster yang ia temui.
Julian menghela napas.
"Sepertinya hutan ini menyimpan lebih banyak hal daripada yang kukira."
Ia menutup jendela.
Kemudian berjalan menuju tempat tidur.
Untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi, Julian mulai menyadari sesuatu.
Aetheria memang memberinya kehidupan yang ia inginkan.
Keluarga.
Rumah.
Kebebasan.
Waktu.
Tetapi dunia tidak akan berhenti bergerak hanya karena ia ingin hidup tenang.
Monster tetap ada.
Bangsa-bangsa tetap memiliki kepentingan.
Para bangsawan tetap memiliki urusan.
Dan di suatu tempat di luar sana, dunia yang jauh lebih luas sedang berjalan tanpa peduli pada keberadaan Julian Varell.
Ia tidak tahu kapan masalah itu akan datang.
Ia juga tidak tahu seperti apa bentuknya.
Namun Julian tidak merasa perlu takut.
Untuk sekarang, ia masih memiliki sesuatu yang sangat sederhana.
Rumah untuk pulang.
Keluarga yang menunggunya.
Dan waktu untuk tumbuh.
Ia berbaring.
Matanya perlahan tertutup.
Besok ia akan kembali belajar.
Mungkin Mana.
Mungkin tongkat.
Mungkin membaca buku lain.
Atau mungkin pergi berburu lagi.
Apa pun itu, keputusan tersebut adalah miliknya.
Dan bagi Julian—
itu sudah lebih dari cukup.