Chapter 48 of 75

Chapter 48 — Ketika Jalan Lama Dibuka

1.3k words

Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lainnya. Julian sedang berada di halaman belakang ketika seorang penjaga berlari melewati gerbang samping. Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk sekadar membawa laporan biasa. Julian yang sedang menyarungkan Vesper berhenti. Penjaga itu tidak menuju rumah. Ia langsung menuju ruang kerja Damir. Julian memperhatikannya sebentar. Kemudian kembali melihat pedangnya. Ia tidak mengejar. Beberapa menit kemudian, suara langkah terdengar dari belakang. Damir muncul. Wajahnya tenang. Namun Julian sudah mengenal cukup banyak ekspresi ayahnya untuk tahu bahwa ada sesuatu yang berubah. “Ayah.” “Julian.” “Apakah ada masalah?” Damir berhenti. “Patroli utara belum kembali.” Julian mengangkat pandangan. “Berapa lama?” “Seharusnya sudah kembali satu jam lalu.” “Berapa orang?” “Enam.” Julian tidak langsung menjawab. Enam orang. Jumlah yang cukup untuk menangani kebanyakan gangguan kecil di wilayah Varell. Tetapi kalau enam penjaga berpengalaman terlambat tanpa kabar, berarti sesuatu memang terjadi. “Apa mereka menemukan sesuatu?” “Belum tahu.” Damir memandang Vesper di pinggang Julian. “Kau tetap di estate.” Julian mengangguk. “Baik.” Damir berjalan pergi. Julian tidak bertanya lagi. Ia tahu kapan sebuah perintah diberikan karena seseorang sedang melindunginya, dan kapan perintah diberikan karena situasi memang membutuhkan orang dewasa. Namun ada satu hal yang membuatnya tidak nyaman. Patroli itu berada di utara. Di jalur yang selama beberapa minggu terakhir terus muncul dalam laporan. Jalan lama. --- Menjelang siang, suasana estate berubah. Dua penjaga tambahan ditempatkan di gerbang. Edmund memeriksa persediaan. Scarlet meminta Elena tetap berada di dalam rumah. Bahkan Zero yang biasanya dibiarkan bebas di dekat kandang kini terus mengikuti Julian. “Sepertinya semua orang sedang sibuk,” kata Elena. Julian yang duduk di teras menjawab, “Ya.” “Kau tahu apa yang terjadi?” “Tidak semuanya.” Elena menatapnya. “Kau tidak penasaran?” Julian memandang halaman. “Tentu.” “Lalu kenapa tidak bertanya?” “Karena kalau Ayah belum menjelaskan, berarti ada alasan.” Elena mengangkat alis. “Kau semakin mirip Ayah.” Julian tersenyum kecil. “Saya harap tidak dalam semua hal.” Elena tertawa. “Kalau begitu, jangan mulai membawa wajah serius ke meja makan.” Julian hanya menggeleng. Untuk sesaat, suasana kembali ringan. Kemudian suara lonceng gerbang berbunyi. Satu kali. Lalu dua kali. Bukan tanda kedatangan tamu. Tanda keadaan darurat. Elena langsung berhenti tertawa. Julian berdiri. Edmund muncul dari dalam rumah. “Tuan Muda, tetap di sini.” Julian mengangguk. Edmund berlari menuju gerbang. Julian tidak bergerak. Namun pandangannya mengikuti suara dari luar. Beberapa detik kemudian terdengar teriakan. “Buka gerbang!” Suara penjaga. “Cepat!” Gerbang dibuka. Sebuah kereta kecil masuk. Tidak ada pengemudi. Kuda di depannya terlihat kelelahan. Dan di dalam kereta terdapat dua orang. Satu penjaga Varell. Satu lagi pria yang tidak dikenali Julian. Penjaga itu turun dengan susah payah. Edmund segera menopangnya. “Di mana yang lain?” Penjaga itu menarik napas. “Diserang…” Edmund langsung bertanya, “Siapa?” “Tidak tahu.” “Berapa banyak?” “Enam… mungkin lebih.” Julian berdiri beberapa meter dari mereka. Ia memperhatikan pria asing di dalam kereta. Pakaian pria itu sederhana. Tidak ada lambang bangsawan. Tidak ada perlengkapan perang. Namun tangannya menggenggam sesuatu. Sebuah benda kecil berwarna hitam. Julian menyipitkan mata. Pria itu melihatnya. Tatapan mereka bertemu. Hanya sesaat. Namun pria itu segera menyembunyikan benda tersebut. Julian tidak mengatakan apa-apa. Edmund membawa penjaga masuk. “Bawa dia ke ruang perawatan.” Dua pelayan membantu. Pria asing itu turun perlahan. Edmund menatapnya. “Siapa Anda?” “Saya dari Harven.” “Nama?” “Bram.” “Kenapa Anda bersama patroli kami?” Bram menelan ludah. “Saya menemukan mereka di jalan.” “Jalan mana?” Pria itu diam. Julian memperhatikan. Bukan karena pertanyaannya sulit. Tetapi karena Bram terlalu lama menjawab pertanyaan sederhana. “Jalan lama,” katanya akhirnya. Edmund tidak bereaksi. Namun Julian melihat perubahan kecil pada matanya. “Bawa dia ke ruang tamu,” kata Edmund. Bram berjalan mengikuti penjaga. Saat melewati Julian, tangannya kembali menyentuh benda hitam di saku. Julian tidak menghentikannya. Belum. --- Satu jam kemudian, Damir kembali. Sendirian. Ia turun dari kudanya dengan pakaian yang sedikit terkena lumpur. Edmund menyambutnya. “Enam penjaga?” “Dua ditemukan.” “Yang lain?” “Masih dicari.” Damir masuk ke ruang kerja. Julian sedang berada di sana. Bukan karena ia dipanggil. Ia hanya berdiri di dekat pintu bersama Edmund. Damir melihatnya. “Kau seharusnya berada di teras.” “Benar.” Damir menghela napas. “Kenapa di sini?” “Saya melihat orang dari Harven.” Damir langsung memahami. “Bram?” “Ya.” “Dia membawa sesuatu.” Damir berhenti. “Apa?” “Benda hitam kecil. Dia menyembunyikannya ketika melihat saya.” Edmund menambahkan, “Saya belum memeriksanya.” Damir berpikir sebentar. “Panggil dia.” Bram masuk beberapa menit kemudian. Ia terlihat lebih gugup daripada sebelumnya. Damir duduk di belakang meja. “Apa yang kau temukan di jalan?” “Tidak banyak.” “Ceritakan semuanya.” Bram diam. Damir tidak menaikkan suara. Tidak perlu. “Enam penjaga Varell menemukan kelompok orang di jalan lama,” kata Bram akhirnya. “Berapa?” “Lima.” “Lalu?” “Mereka tidak menyerang lebih dulu.” Edmund mengerutkan kening. “Jadi apa yang terjadi?” “Mereka hanya meminta patroli pergi.” Damir menatapnya. “Dan?” “Salah satu penjaga menolak.” Bram menunduk. “Setelah itu semuanya terjadi cepat.” “Senjata?” “Pedang. Beberapa sihir.” “Tujuan mereka?” Bram menggeleng. “Saya tidak tahu.” Julian yang berdiri di samping pintu bertanya, “Mereka menjaga sesuatu?” Bram menoleh. Damir tidak melarang. Pria itu berpikir. “Ya.” “Apa?” “Pintu.” Ruangan menjadi sunyi. Damir berdiri. “Pintu apa?” “Di bawah bukit.” Bram kemudian mengeluarkan benda hitam dari sakunya. Sebuah keping logam kecil. Ia meletakkannya di meja. Pada permukaannya terdapat pola lingkaran dengan satu garis di tengah. Sama seperti simbol yang ditemukan Damir pada kunci. Damir mengambil keping tersebut. Wajahnya berubah serius. “Jadi mereka sudah membukanya.” Edmund melihatnya. “Apa yang ada di balik pintu?” Damir tidak menjawab. Bram memandang keduanya. “Saya tidak tahu.” Ia menelan ludah. “Tapi mereka membawa peti.” “Peti?” “Banyak.” Damir menatap Edmund. “Panggil lima orang.” Edmund mengangguk. “Sekarang?” “Sekarang.” Damir kemudian menoleh kepada Julian. “Kau tetap di sini.” Julian mengangguk. Namun sebelum Damir pergi, Julian berkata, “Ayah.” Damir berhenti. “Kalau mereka memang membuka sesuatu di sana…” Julian menatap keping logam di meja. “…mungkin mereka tidak datang untuk House Varell.” Damir menatap anaknya. Julian melanjutkan, “Mungkin House Varell hanya kebetulan berada di dekat jalan yang mereka butuhkan.” Edmund terdiam. Damir kemudian tersenyum tipis. “Itulah yang sedang kupikirkan.” Damir pergi bersama Edmund. Julian tetap di ruangan. Ia tidak mengejar. Tidak ikut. Tidak memaksakan diri. Namun pikirannya mulai menyusun potongan-potongan yang ada. Jalan lama. Pintu di bawah bukit. Peti. Orang-orang yang menjaga pintu. Dan seseorang yang telah membuka jalur tersebut setelah bertahun-tahun ditinggalkan. Bukan serangan terhadap House Varell. Setidaknya belum. Mungkin sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di luar wilayah mereka. --- Malam tiba. Damir belum kembali. Scarlet duduk di ruang keluarga bersama Elena dan Julian. Makanan malam sudah tersaji. Namun kursi Damir masih kosong. Scarlet menatap jam. “Dia terlambat lagi.” Elena menghela napas. “Pasti Ibu akan memarahinya.” “Sudah pasti.” Julian tersenyum kecil. Kemudian suara pintu terbuka. Damir masuk. Scarlet langsung berdiri. “Kau terlambat.” Damir berhenti. “Maaf.” “Kau bilang hanya pergi sebentar.” “Situasinya berubah.” Scarlet menyilangkan tangan. “Duduk.” Damir menurut. Elena menahan tawa. Julian menunduk agar senyumnya tidak terlalu terlihat. Tidak peduli seberapa serius keadaan di luar sana, rumah ini tetap memiliki aturan sendiri. Dan salah satunya adalah: Damir Varell tetap harus pulang tepat waktu untuk makan malam. Setelah makan selesai, Damir memandang Julian. “Besok aku akan pergi lagi.” “Ke utara?” “Ya.” Julian mengangguk. “Apakah berbahaya?” “Mungkin.” “Kalau begitu, berhati-hatilah.” Damir tersenyum. “Begitu saja?” Julian mengangkat bahu kecil. “Ayah tahu saya tidak perlu mengatakan lebih banyak.” Damir tertawa pelan. “Benar.” Malam itu Julian kembali ke kamarnya. Lunara sudah tidur di dekat jendela. Zero berada di kandang. Julian membuka tirai. Dari kejauhan, ia bisa melihat cahaya obor bergerak menuju utara. Pasukan kecil. Mungkin Damir. Mungkin penjaga. Julian tidak tahu apa yang mereka temukan di balik pintu tua itu. Namun untuk pertama kalinya, misteri jalan lama tidak lagi sekadar simbol di pohon atau potongan kain. Ada sesuatu yang nyata di sana. Sesuatu yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun. Dan seseorang baru saja membukanya. Julian menutup tirai. Ia mengambil Vesper dari tempatnya. Bukan untuk pergi. Hanya memastikan pedang itu berada di tempat yang mudah dijangkau. Kemudian ia kembali tidur. Besok adalah hari baru. Dan untuk pertama kalinya, mungkin dunia luar akan membawa masalah langsung ke depan pintu House Varell.

End of Chapter 48

Chapter 48: Chapter 48 — Ketika Jalan Lama Dibuka - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio