Chapter 47 of 75

Chapter 47 — Enam Bayangan Bulan

1.3k words

Pagi itu berjalan seperti biasa. Julian turun ke ruang makan setelah bersiap. Scarlet sudah berada di sana, sementara Elena membaca buku sambil sesekali mengambil makanan dari piringnya. “Pagi, Julian.” “Selamat pagi, Ibu.” Scarlet tersenyum. “Tidurnya nyenyak?” “Cukup.” Elena menutup bukunya. “Buku yang kemarin sudah selesai?” “Belum.” “Baru kemarin.” “Saya tahu.” Elena menghela napas. “Kau terlalu serius.” Julian mengambil roti. “Saya hanya suka membaca.” Scarlet tertawa kecil. “Biarkan saja. Selama dia tidak membaca sampai lupa makan.” Julian mengangguk. “Itu tidak akan terjadi.” Elena menunjuk piringnya. “Kau baru saja mengambil roti ketiga.” Julian melihat piring. Kemudian melihat Elena. “Saya masih makan.” Elena tertawa. Pagi itu sederhana. Dan justru karena kesederhanaannya, Julian menikmatinya. --- Setelah sarapan, Julian berada di halaman belakang bersama Zero dan Lunara. Ia sedang memeriksa busurnya ketika melihat Damir keluar dari rumah. Edmund mengikuti beberapa langkah di belakang. Keduanya mengenakan pakaian untuk perjalanan. Julian berdiri. “Ayah?” Damir berhenti. “Ada urusan di luar.” “Ke utara?” “Ya.” Julian memperhatikan sebentar. “Baik.” Damir sedikit mengernyit. “Kau tidak bertanya?” “Kalau Ayah ingin memberi tahu, Ayah akan memberi tahu.” Edmund menahan senyum tipis. Damir menghela napas. “Jangan pergi ke utara hari ini.” “Saya tidak akan.” “Bagus.” Damir berjalan menuju gerbang. Julian kembali duduk. Lunara menatap ke arah Damir. Kemudian kembali berbaring. Zero malah sibuk menggigit rumput. Julian menepuk lehernya. “Jangan makan sembarangan.” Zero tidak peduli. --- Perjalanan menuju Harven berlangsung selama dua jam. Damir dan Edmund tidak banyak bicara. Ketika mereka mendekati desa, seorang penjaga desa sudah menunggu di jalan. “Duke Varell.” “Apa yang terjadi?” “Kami menemukan seseorang di bangunan tua.” “Siapa?” “Seorang wanita.” “Identitas?” “Belum diketahui.” Damir turun dari kudanya. “Apakah dia menyerang warga?” “Tidak.” “Apakah ada korban?” “Tidak.” Damir mengangguk. “Bawa aku ke sana.” Mereka masuk ke desa. Bangunan tua yang dimaksud berada di pinggir Harven. Atapnya rusak. Dindingnya dipenuhi lumut. Tidak ada tanda bahwa tempat itu pernah digunakan selama bertahun-tahun. Namun di depan pintunya terdapat jejak kaki baru. Damir masuk. Ruangan itu kosong. Edmund melihat sekeliling. “Tidak ada siapa-siapa.” Damir memeriksa lantai. Ada debu yang tergeser. Sebuah meja tua. Sebuah kursi. Dan di dinding— enam simbol. Damir berhenti. Edmund mendekat. “Six Moon.” Damir tidak menjawab. Di bawah keenam simbol itu terdapat tulisan lama. Namun yang lebih menarik adalah bekas lilin yang baru saja digunakan. Seseorang baru berada di sini. Damir melihat pintu belakang. “Dia pergi.” Edmund menunjuk tanah. Ada jejak kaki. Satu orang. Menuju hutan. Damir mengikuti. --- Jejak itu membawa mereka melewati belakang desa. Kemudian masuk ke hutan. Damir berjalan tanpa suara. Edmund mengikuti beberapa meter di belakang. Setelah sekitar lima belas menit, Damir berhenti. Ada anak panah tertancap pada pohon. Batangnya hitam. Ujungnya berwarna perak. Damir mengambilnya. Ekspresinya berubah. Edmund melihat anak panah itu. “Dream?” Damir tidak menjawab. Ia menatap ke depan. Hutan terlihat kosong. Namun angin tiba-tiba berhenti. Kemudian sebuah suara terdengar. “Masih cepat mengenaliku.” Damir mengangkat kepala. Di atas salah satu cabang pohon berdiri seorang wanita. Rambutnya panjang dan putih, bergerak perlahan tertiup angin. Pakaian gelap sederhana menutupi tubuhnya. Sebuah busur berada di tangannya. Tidak ada armor berat. Tidak ada hiasan berlebihan. Namun cara ia berdiri sudah cukup menjelaskan bahwa ia bukan pemanah biasa. Tatapannya tenang. Damir menatapnya. “Turun.” Wanita itu tersenyum. “Perintah?” “Permintaan.” “Dulu kau tidak pernah meminta.” “Banyak hal berubah.” Wanita itu melompat dari cabang. Ia mendarat beberapa meter di depan Damir dengan ringan. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Kemudian wanita itu berkata, “Sudah lama, Depth.” Damir menatapnya. “Aku bukan Depth lagi.” “Nama itu tetap cocok.” “Tidak lagi.” Wanita itu tersenyum kecil. “Kalau begitu… Damir.” Edmund memperhatikan mereka. Ada sesuatu dalam cara keduanya berbicara. Bukan seperti musuh. Bukan pula seperti teman lama yang bertemu setelah bertahun-tahun. Lebih seperti dua orang yang pernah melewati sesuatu yang terlalu berat untuk disebut sebagai kenangan biasa. Damir memecah keheningan. “Kenapa kau kembali?” Wanita itu melihat ke arah utara. “Karena seseorang mulai menggunakan jalan lama.” “Siapa?” “Kami belum tahu.” “Kami?” Wanita itu menatap Damir. “Kau sudah tahu jawabannya.” Damir tidak mengatakan apa-apa. Six Moon. Wanita itu kemudian menghela napas. “Kami mendengar beberapa tanda lama muncul lagi.” “Simbol?” “Simbol. Jalan. Ruang penyimpanan.” “Dan kau datang untuk memeriksanya?” “Sebagian.” “Sebagian?” “Aku ingin memastikan sesuatu.” “Apa?” Wanita itu memandang wilayah Varell yang berada jauh di selatan. “Apakah House Varell masih seperti dulu.” Damir menjawab tanpa ragu. “Tidak.” Wanita itu tersenyum. “Jawaban yang bagus.” “Karena?” “Karena kalau masih sama, aku tidak akan berdiri di sini.” Edmund akhirnya bertanya, “Dream.” Wanita itu menoleh. “Ya?” “Apakah yang lain masih hidup?” Dream terdiam. Tatapannya berubah sedikit. “Tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini.” Edmund tidak mengejar. Damir juga tidak. Kemudian Dream berkata, “Kami tidak datang untuk berperang.” Damir tetap waspada. “Kalau begitu jangan mendekati wilayahku.” “Tenang.” Dream memasukkan anak panahnya kembali. “Aku tidak tertarik pada perang.” “Lalu apa yang kau cari?” Dream memandangnya. “Jawaban.” “Jawaban tentang apa?” “Kenapa jalan lama kembali dibuka.” Damir diam. Dream kemudian berkata, “Dan siapa yang membukanya.” Angin kembali bergerak. Rambut putih Dream tertiup ke belakang. Ia berbalik. Damir berkata, “Dream.” Wanita itu berhenti. “Jangan dekati keluargaku.” Dream tidak langsung menjawab. Kemudian ia berkata, “Aku tidak akan.” Ia berjalan pergi. Beberapa langkah kemudian berhenti. “Oh.” Damir menatapnya. Dream menoleh sedikit. “Jaga anakmu.” Tatapan Damir berubah. “Kenapa?” “Karena orang yang membuka jalan lama mungkin tidak datang untukmu.” Ia tersenyum tipis. “Mungkin mereka datang untuk sesuatu yang jauh lebih dekat.” Damir langsung melangkah maju. “Apa maksudmu?” Dream sudah berbalik. “Cari tahu sendiri.” Dalam beberapa detik, sosoknya menghilang di antara pepohonan. Damir tidak mengejar. Ia hanya berdiri diam. Edmund mendekat. “Dia masih sama.” “Tidak.” Damir menatap hutan. “Dia berubah.” “Bagaimana?” “Dulu dia tidak akan memberikan peringatan.” Edmund terdiam. Damir melihat anak panah yang tadi ia ambil. “Berarti sesuatu memang sedang terjadi.” --- Sementara itu, Julian sedang berada di Elaris. Ia berjalan bersama Scarlet dan Elena di pasar. Tidak tahu apa yang sedang terjadi di Harven. Tidak tahu bahwa salah satu nama dari arsip lama baru saja muncul di hadapan ayahnya. Ia berhenti di depan sebuah toko buku. “Ibu.” “Ya?” “Saya boleh membeli buku ini?” Scarlet melihat sampulnya. Catatan Monster Wilayah Valdoria. “Boleh.” Julian mengambilnya. Elena menunjuk buku lain. “Kalau begitu aku juga mau itu.” Scarlet menatap mereka. “Kalian berdua benar-benar memanfaatkan kesempatan.” Julian tersenyum. “Kami hanya membeli buku.” “Dua buku masing-masing.” “Masih buku.” Scarlet menghela napas. “Baiklah.” Mereka melanjutkan perjalanan. Hari itu tidak terjadi apa-apa. Tidak ada monster. Tidak ada penyergapan. Tidak ada masalah. Hanya keluarga yang berjalan di kota. Julian membeli buku. Elena membeli beberapa benda kecil. Scarlet berhenti beberapa kali untuk berbicara dengan pedagang yang dikenalnya. Dan ketika sore tiba, mereka kembali ke Varell Estate. --- Damir sudah kembali lebih dulu. Julian menemukannya di halaman. “Ayah.” Damir menoleh. “Sudah pulang?” “Ya.” “Perjalanannya lancar?” “Lancar.” Julian memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan luka. Bukan kelelahan. Lebih seperti seseorang baru saja membuka pintu menuju masa lalu yang seharusnya tetap tertutup. Namun Julian tidak bertanya. Ia hanya menyerahkan satu buku. “Saya membeli ini.” Damir melihat judulnya. “Monster?” “Ya.” Damir tersenyum tipis. “Bagus.” Julian berjalan melewatinya. Kemudian berhenti. “Ayah.” “Hm?” “Apakah semuanya baik-baik saja?” Damir menatap punggung anaknya. Beberapa detik kemudian ia menjawab, “Untuk sekarang.” Julian mengangguk. “Baik.” Ia melanjutkan langkah. Damir memandangnya sampai menghilang di balik pintu. Edmund datang dari belakang. “Duke.” “Ya?” “Apakah Anda akan memberitahunya?” Damir menatap halaman. “Belum.” “Karena dia masih terlalu muda?” “Bukan hanya itu.” Damir mengingat wajah Dream. “Karena aku belum tahu apakah Six Moon kembali sebagai bayangan masa lalu…” Ia berhenti. “…atau sebagai pertanda sesuatu yang baru.” Malam turun perlahan. Di tempat lain, jauh dari Harven, Dream berjalan seorang diri melewati hutan. Rambut putihnya terlihat samar di bawah cahaya bulan. Ia berhenti di atas sebuah bukit. Dari sana, wilayah Varell terlihat jauh di selatan. Dream membuka telapak tangannya. Di sana terdapat keping logam dengan enam garis. Ia menggenggamnya. “Depth masih menjaga rumahnya.” Dream tersenyum kecil. Kemudian melihat ke arah lain. “Sekarang tinggal mencari tahu…” Angin malam bergerak. “…siapa yang memanggil kami kembali.” Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, salah satu dari Six Moon kembali berjalan di bawah bulan Aetheria.

End of Chapter 47