Chapter 46 of 75
Chapter 46 — Desa Harven
1.3k words
Pagi berikutnya, Julian bangun seperti biasa.
Tidak ada alarm.
Tidak ada suara gaduh.
Hanya cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai.
Ia berpakaian kemudian turun ke ruang makan.
Scarlet sudah berada di sana bersama Elena.
“Pagi, Julian.”
“Selamat pagi, Ibu.”
Elena mengangkat tangan.
“Jangan lupa. Hari ini kita ke Elaris.”
“Saya ingat.”
“Bagus. Karena kalau kau lupa, aku akan tetap pergi.”
Julian duduk.
“Sepertinya itu tidak akan berubah.”
Elena menyipitkan mata.
“Kau semakin pandai membalas.”
Scarlet tertawa kecil.
“Kalian berdua jangan mulai pagi-pagi.”
Sarapan berlangsung seperti biasa.
Namun Damir tidak ada.
Julian memperhatikan kursi kosong di ujung meja.
“Ayah belum sarapan?”
Scarlet menghela napas.
“Katanya ada urusan dengan penjaga.”
“Begitu.”
Julian tidak bertanya lebih jauh.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang makan terbuka.
Damir masuk.
Mantelnya sudah dikenakan.
Wajahnya tenang seperti biasa.
“Maaf terlambat.”
Scarlet langsung menatapnya.
“Kamu mau pergi lagi?”
“Hanya sebentar.”
“Damir.”
“Hm?”
“Kemarin juga sebentar.”
Damir terdiam.
Julian menundukkan kepala sedikit agar senyumnya tidak terlihat.
Elena malah terang-terangan tertawa.
“Ayah kena.”
Damir menarik kursi.
“Aku hanya menyelesaikan urusan.”
Scarlet menunjuk makanan.
“Urusannya bisa menunggu lima menit.”
Damir menurut.
Julian memperhatikan semuanya tanpa komentar.
Beberapa menit kemudian, suasana kembali normal.
Seolah tidak ada apa-apa.
Tetapi Julian melihat sesuatu ketika Damir mengambil cangkir.
Tangannya memiliki bekas goresan baru.
Tidak dalam.
Namun masih segar.
Julian tidak menanyakannya.
---
Setelah sarapan, rombongan kecil keluarga Varell bersiap menuju Elaris.
Scarlet dan Elena menaiki kereta.
Julian memilih berjalan bersama Zero di sampingnya.
Lunara mengikuti dari sisi lain.
Dua penjaga ikut mengawal.
Tidak terlalu banyak.
Cukup untuk perjalanan keluarga bangsawan.
Ketika gerbang estate mulai menjauh, Julian melihat Damir berdiri di sana.
Ayahnya tidak ikut.
Damir hanya mengangkat tangan sedikit.
Julian membalas.
Kemudian rombongan meninggalkan estate.
Perjalanan berjalan tenang.
Tidak ada gangguan.
Namun sekitar satu jam kemudian, mereka melewati persimpangan menuju utara.
Julian melihat beberapa bekas roda kereta.
Masih baru.
Ia melirik sebentar.
Kemudian terus berjalan.
Tidak ada alasan untuk berhenti.
---
Sementara itu, jauh di utara—
Desa Harven sedang mengalami pagi yang buruk.
Seorang penjaga desa berlari menuju rumah kepala desa.
“Pak!”
Pintu terbuka.
“Ada apa?”
“Orang-orang dari jalan lama.”
Kepala desa mengerutkan kening.
“Pedagang?”
“Bukan.”
“Berapa?”
“Empat.”
Kepala desa langsung keluar.
Di ujung desa terdapat empat orang asing.
Pakaian mereka sederhana.
Tidak ada lambang kerajaan.
Tidak ada tanda guild.
Mereka berdiri dengan tenang.
Salah satu dari mereka memandang rumah-rumah warga.
“Sudah berubah.”
Orang di sampingnya bertanya,
“Kau pernah ke sini?”
“Dulu.”
“Berapa lama?”
“Lebih dari dua puluh tahun.”
Orang kedua tidak bertanya lagi.
Mereka berjalan menuju sebuah bangunan tua di pinggir desa.
Bangunan itu sudah tidak digunakan.
Atapnya rusak.
Pintunya hampir roboh.
Namun salah satu dari mereka berhenti di depannya.
Ia mengeluarkan keping logam.
Enam garis.
Ia menempelkannya pada batu di samping pintu.
Tidak terjadi apa-apa.
Kemudian ia mengetuk batu tiga kali.
Dari dalam terdengar bunyi mekanisme lama.
Klik.
Sebuah celah terbuka.
Kepala desa yang melihat dari kejauhan langsung pucat.
“Apa itu?”
Orang asing tersebut menoleh.
“Tempat yang seharusnya sudah dilupakan.”
---
Di dalam bangunan terdapat lorong sempit.
Mereka masuk.
Di ujung lorong terdapat ruangan kecil.
Tidak ada harta.
Tidak ada senjata.
Hanya sebuah dinding.
Di dinding itu terdapat enam lambang.
Masing-masing berbeda.
Satu berbentuk garis dalam.
Satu menyerupai mata.
Satu seperti tengkorak sederhana.
Satu berbentuk busur.
Satu berbentuk dua garis menyerupai api.
Dan satu lagi seperti wajah tanpa ekspresi.
Di bawah semuanya terdapat tulisan lama.
SIX MOON
Salah satu dari empat orang mengusap debu pada tulisan itu.
“Masih ada.”
Orang lain berdiri di belakangnya.
“Tidak semuanya.”
“Memang.”
“Lalu kenapa kita datang?”
Pria pertama mengambil sebuah surat.
“Karena seseorang mengirim pesan.”
Ia membuka surat.
Hanya satu kalimat.
Rumah Varell kembali membuka jalannya.
Tidak ada nama.
Namun mereka semua memahami maksudnya.
“Apakah Duke Varell tahu?”
“Belum.”
“Damir?”
“Dia sudah menemukan tanda kita.”
Suasana langsung berubah.
Salah satu dari mereka bertanya,
“Kalau begitu kenapa kita masih di sini?”
Pria itu melipat surat.
“Karena kita belum datang untuk bertarung.”
“Lalu?”
“Kita hanya ingin tahu satu hal.”
Ia menatap lambang pertama.
Depth.
“Apakah orang yang pernah memimpin kami masih menjadi orang yang sama?”
---
Sementara itu, di Elaris—
Julian sedang berdiri di depan sebuah toko buku.
Elena sudah masuk lebih dahulu.
“Ibu.”
“Ya?”
“Apakah saya boleh membeli dua buku?”
Scarlet tersenyum.
“Dua?”
“Satu tentang monster.”
“Dan satu lagi?”
Julian melihat rak di sebelah.
“Sejarah wilayah.”
Scarlet memperhatikan wajahnya beberapa saat.
“Baik.”
Julian mengambil kedua buku itu.
Tidak ada rasa penasaran berlebihan.
Ia hanya ingin memahami dunia tempat ia hidup.
Mereka berjalan menyusuri pasar.
Elena membeli beberapa benda kecil.
Scarlet berbicara dengan pedagang kain.
Julian berhenti di sebuah kios makanan.
Ia melihat roti panggang dengan selai buah.
Elena menyadarinya.
“Kau mau?”
“Tidak perlu.”
“Kau melihatnya sejak tadi.”
“Saya hanya melihat.”
Elena membeli satu.
Kemudian menyerahkannya.
“Ambil.”
Julian menerimanya.
“Terima kasih.”
Ia menggigit sedikit.
Manis.
Sederhana.
Tidak ada yang istimewa.
Tetapi ia tetap menghabiskannya.
---
Saat mereka hendak pulang, seorang pria tua keluar dari toko di seberang jalan.
Tatapannya berhenti pada Julian.
Kemudian pada Scarlet.
Wajahnya berubah.
“Scarlet?”
Scarlet berhenti.
Ia menoleh.
Pria itu mendekat beberapa langkah.
“Benarkah ini kau?”
Scarlet tampak terkejut.
“Maaf… kita pernah bertemu?”
Pria itu tertawa kecil.
“Sudah lama sekali.”
Ia kemudian melihat Julian.
“Putramu?”
Scarlet mengangguk.
“Ya. Julian.”
Pria tua itu memperhatikan Julian beberapa detik.
“Matanya…”
Ia tidak menyelesaikan kalimat.
Julian menatapnya dengan sopan.
“Senang bertemu dengan Anda.”
Pria itu tersenyum.
“Anak yang sopan.”
Scarlet memperkenalkan pria itu sebagai Gareth Ruen, mantan perwira yang pernah bekerja bersama pasukan Varell bertahun-tahun lalu.
Julian mendengarkan.
Gareth berbicara dengan Scarlet mengenai masa lalu.
Tidak banyak.
Hanya beberapa nama tempat.
Beberapa perang.
Beberapa orang yang sudah lama tidak terlihat.
Kemudian Gareth berkata,
“Aku mendengar jalan utara kembali ramai.”
Scarlet terdiam sebentar.
“Benarkah?”
“Ya.”
Gareth melirik Julian.
“Kalau kau masih tinggal dekat hutan, hati-hati.”
Julian menjawab tenang.
“Saya akan berhati-hati.”
Gareth menatapnya lagi.
Kali ini lebih lama.
Kemudian tersenyum.
“Bagus.”
Ia pergi.
Elena langsung bertanya,
“Ibu kenal banyak sekali orang.”
Scarlet tersenyum.
“Dulu dunia jauh lebih besar dari yang kalian pikirkan.”
Julian memandang punggung Gareth.
Tidak ada yang aneh.
Namun cara pria itu memandangnya tadi bukan seperti seseorang yang sekadar melihat anak bangsawan.
Ia sedang menilai.
Julian mengingatnya.
Hanya itu.
Tidak lebih.
---
Menjelang sore, rombongan kembali ke Varell Estate.
Damir sudah menunggu di halaman.
Scarlet turun dari kereta.
“Kamu sudah selesai?”
“Sudah.”
Damir memandang Julian.
“Perjalanan lancar?”
“Lancar.”
“Bagus.”
Julian menyerahkan dua buku kepada Edmund yang datang mengambil barang.
Kemudian ia masuk bersama keluarganya.
Namun sebelum melewati pintu, ia melihat sesuatu di kejauhan.
Di atas bukit kecil di luar wilayah estate, seekor burung hitam terbang menjauh.
Tidak ada yang aneh.
Tetapi Lunara tiba-tiba berhenti.
Telinganya bergerak.
Julian menoleh.
Burung itu sudah hilang.
“Kenapa?”
Lunara tidak menjawab.
Julian mengelus kepalanya.
“Kita masuk.”
Malam tiba.
Di ruang kerja, Damir menerima laporan.
“Empat orang masuk Harven.”
Damir mengangkat kepala.
“Empat?”
“Ya.”
“Identitas?”
“Tidak diketahui.”
Edmund meletakkan sebuah kertas di meja.
“Namun mereka membuka ruang lama.”
Damir membaca laporan itu.
Wajahnya tidak berubah.
Tetapi matanya menjadi lebih tajam.
“Six Moon.”
Edmund mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
Damir menutup laporan.
“Jangan gunakan nama itu di luar ruangan ini.”
“Baik.”
Damir berdiri.
“Dan jangan beri tahu Julian.”
Edmund menatapnya.
“Apakah Anda yakin?”
Damir memandang keluar jendela.
Di kejauhan, cahaya rumah keluarga Varell masih terlihat.
“Dia baru berusia enam tahun.”
Edmund tidak menjawab.
Damir melanjutkan,
“Biarkan dia menikmati hidupnya.”
Di luar ruangan, tanpa mereka sadari, Julian sedang berdiri di koridor.
Ia tidak mendengar seluruh percakapan.
Hanya dua kata.
Dari balik pintu.
Six Moon.
Julian berhenti.
Kemudian melanjutkan langkahnya.
Ia tidak membuka pintu.
Tidak bertanya.
Tidak mencoba menguping.
Namun nama itu tersimpan di dalam pikirannya.
Bukan karena ia ingin mengejar masa lalu keluarganya.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, nama yang selama ini hanya muncul sebagai tanda dan potongan informasi…
akhirnya memiliki bentuk.
Six Moon.