Chapter 45 of 75
Chapter 45 — Nama yang Tidak Diucapkan
1.0k words
Pagi datang seperti biasa.
Namun suasana di Varell Estate sedikit berbeda.
Tidak ada yang mengatakan apa pun.
Tidak ada penjaga yang berlari.
Tidak ada alarm.
Tetapi jumlah orang yang berjaga di sekitar rumah bertambah.
Julian menyadarinya sejak keluar dari kamar.
Dua penjaga berdiri di sisi timur.
Satu lagi berada di dekat gerbang belakang.
Pola pergantian juga berubah.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk diketahui oleh seseorang yang memperhatikan.
Julian tidak bertanya.
Ia turun ke ruang makan.
Scarlet sudah berada di sana.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Ibu.”
Elena datang beberapa saat kemudian dengan rambut yang masih sedikit berantakan.
“Aku belum siap.”
Scarlet menatapnya.
“Kalau begitu jangan duduk dulu.”
Elena langsung duduk.
“Saya sudah siap.”
Julian menahan senyum.
Scarlet menghela napas.
“Kamu benar-benar…”
Damir masuk sebelum kalimat itu selesai.
Ia duduk seperti biasa.
Namun Julian memperhatikan tangannya.
Tidak ada senjata.
Tetapi posisi duduknya sedikit berbeda.
Lebih dekat dengan pintu.
Julian tidak mengatakan apa-apa.
Sarapan berjalan normal.
Setelah selesai, Damir berdiri.
“Julian.”
“Ya?”
“Ikut aku.”
Julian mengangguk.
Mereka keluar menuju halaman belakang.
---
Damir tidak membawa pedang kayu.
Ia hanya berjalan menuju sebuah bangku di bawah pohon.
Julian ikut duduk.
“Tidak latihan?”
“Tidak.”
Damir melihat halaman.
“Aku ingin berbicara.”
Julian menunggu.
“Beberapa hari terakhir ada orang yang menggunakan jalan lama di utara.”
“Saya tahu.”
Damir menoleh.
“Dari mana?”
“Dari laporan Ayah.”
Damir tersenyum tipis.
“Benar.”
Ia kemudian melanjutkan.
“Mereka belum melakukan sesuatu yang mengancam.”
“Lalu kenapa penjagaan bertambah?”
“Karena kita tidak tahu tujuan mereka.”
Julian mengangguk.
“Masuk akal.”
Damir diam beberapa saat.
Kemudian berkata,
“Kalau kau menemukan tanda enam garis lagi, jangan mendekatinya.”
Julian memandang ayahnya.
“Langsung laporkan?”
“Ya.”
“Baik.”
Tidak ada pertanyaan lain.
Damir terlihat sedikit lega.
Namun Julian kemudian berkata,
“Ayah.”
“Hm?”
“Apakah simbol itu milik House Varell?”
Damir tidak langsung menjawab.
“Bukan.”
“Militer?”
“Pernah digunakan oleh kelompok tertentu.”
Julian menunggu.
Damir tidak melanjutkan.
Julian akhirnya mengangguk.
“Saya mengerti.”
Damir memandangnya.
“Kau tidak ingin bertanya lebih jauh?”
“Saya bisa bertanya.”
“Lalu?”
“Kalau Ayah belum ingin menjelaskan, bertanya tidak akan mengubah jawabannya.”
Damir terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Benar.”
Julian berdiri.
“Kalau begitu saya akan berburu.”
Damir mengangguk.
“Jangan ke utara.”
“Saya tahu.”
---
Julian pergi ke bagian barat hutan bersama Lunara dan Zero.
Tidak ada tujuan khusus.
Ia hanya ingin menghabiskan pagi di luar.
Hutan terasa lebih tenang daripada biasanya.
Burung-burung terdengar dari kejauhan.
Daun bergerak karena angin.
Lunara berjalan beberapa langkah di depan.
Zero mengikuti di belakang.
Julian membawa busur.
Setelah beberapa lama, Lunara berhenti.
Julian ikut berhenti.
“Ada apa?”
Lunara menunduk.
Ia mencium tanah.
Kemudian berjalan ke sebuah semak.
Julian mengikutinya.
Di balik semak terdapat jejak.
Bukan manusia.
Bukan rusa.
Cakar.
Tiga jari.
Julian berjongkok.
“Monster?”
Lunara mengendus lagi.
Kemudian menggelengkan kepala dengan gerakan kecil.
Julian memperhatikan tanah.
Jejaknya sudah lama.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Monster itu tidak bergerak seperti biasanya.
Jejaknya lurus.
Tidak berkelok.
Seolah sesuatu membuatnya bergerak dalam satu arah.
Julian mengikuti jejak beberapa meter.
Kemudian berhenti.
Ada bekas goresan pada pohon.
Bukan enam garis.
Hanya satu garis panjang.
Julian melihatnya.
Kemudian meninggalkannya.
Tidak semua hal harus memiliki hubungan.
Ia berbalik.
“Pulang.”
Lunara mengikuti.
---
Di tempat lain, jauh di utara—
Seorang pria berjalan melewati jalan lama.
Ia berhenti di depan sebuah batu besar.
Di belakang batu itu terdapat sebuah ruang kecil yang tertutup akar.
Pria itu menarik beberapa akar.
Sebuah pintu kayu tua terlihat.
Ia membuka pintu.
Di dalamnya hanya ada meja, kursi, dan sebuah peti besi.
Pria itu membuka peti.
Di dalamnya terdapat beberapa benda lama.
Kain.
Pisau.
Surat.
Dan sebuah lambang logam berbentuk bulan.
Ia mengambilnya.
Enam garis terukir di permukaannya.
Pria itu memandang benda tersebut.
Kemudian mendengar suara langkah.
“Sudah ditemukan?”
Seseorang berdiri di belakangnya.
Pria itu mengangguk.
“Ya.”
“Dan?”
“House Varell mulai memperhatikan.”
“Siapa?”
“Duke Varell.”
Orang kedua terdiam.
“Damir?”
“Ya.”
Beberapa detik berlalu.
“Dia masih hidup.”
“Dan masih mempertahankan wilayahnya.”
Pria kedua masuk lebih jauh.
“Apakah dia mengenal tanda ini?”
“Dia mengenalnya.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Dia tidak menghapusnya.”
Pria kedua tersenyum tipis.
“Berarti dia masih sama.”
Pria pertama menatapnya.
“Jangan terlalu cepat menyimpulkan.”
“Kenapa?”
“Karena Damir bukan orang yang dulu.”
Pria kedua tidak menjawab.
Ia mengambil salah satu surat.
Segelnya sudah rusak.
Di bagian depan hanya terdapat satu kata.
Depth.
Ia membuka surat tersebut.
Isinya hanya beberapa baris.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada tanggal.
Hanya sebuah kalimat.
Jika jalan lama kembali dibuka, enam bayangan akan menemukan jalannya sendiri.
Pria kedua membaca sekali lagi.
Kemudian membakar surat itu.
Api kecil melahap kertas.
Tidak ada percakapan setelahnya.
---
Sore hari, Julian kembali ke estate.
Ia menyerahkan hasil buruannya kepada dapur.
Kemudian langsung menuju ruang keluarga.
Scarlet sedang merapikan beberapa kain.
Julian duduk di dekatnya.
“Ibu.”
“Ya?”
“Besok saya ingin ke kota.”
Scarlet berhenti.
“Untuk apa?”
“Membeli buku.”
“Buku lagi?”
“Buku tentang monster.”
Scarlet tersenyum.
“Boleh.”
Elena muncul dari belakang.
“Aku ikut.”
Julian menoleh.
“Kenapa?”
“Aku ingin membeli sesuatu.”
“Apa?”
“Rahasia.”
Julian mengangkat alis.
“Kalau begitu saya tidak perlu tahu.”
Elena tersenyum.
“Bagus.”
Scarlet menatap mereka berdua.
“Kalau begitu besok kita pergi bersama.”
Julian mengangguk.
Hari yang sederhana.
Tidak ada latihan.
Tidak ada simbol.
Tidak ada jalan lama.
Hanya perjalanan ke kota bersama keluarga.
Julian menyukai rencana seperti itu.
Namun malamnya, ketika semua orang sudah tidur, Damir masih berada di ruang kerjanya.
Di atas meja terdapat keping logam dengan huruf D.
Edmund berdiri di depannya.
“Duke.”
“Ya.”
“Ada satu hal lagi.”
Damir mengangkat pandangan.
“Pasukan patroli menemukan bekas tapak kaki di jalur timur.”
“Berapa?”
“Empat.”
Damir diam.
“Dan?”
“Mereka tidak menuju estate.”
Damir menatap keping logam.
“Ke mana?”
Edmund meletakkan peta.
“Ke desa.”
Damir langsung berdiri.
“Desa mana?”
“Harven.”
Ruangan menjadi sunyi.
Nama itu bukan lagi sekadar nama dari laporan pedagang.
Bukan lagi desa tempat seorang pria pernah mengaku berasal.
Kini jejak-jejak yang muncul di sekitar wilayah Varell mengarah ke tempat yang sama.
Damir mengambil mantel.
“Bangunkan dua orang.”
Edmund mengangguk.
“Dan Julian?”
“Jangan libatkan dia.”
“Baik.”
Damir membuka pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
“Edmund.”
“Ya?”
“Kalau mereka mendekati desa…”
Ia menatap peta.
“…pastikan tidak ada warga yang ikut terseret.”
Edmund mengangguk.
“Saya mengerti.”
Damir pergi.
Malam kembali sunyi.
Sementara itu, di kamar lain, Julian tidur tanpa mengetahui bahwa besok ia akan pergi ke Elaris bersama keluarganya.
Dan tanpa mengetahui bahwa di desa Harven, seseorang sedang menunggu kedatangan orang-orang yang mungkin membawa kembali nama yang telah lama terkubur.
Depth.p