Chapter 44 of 75
Chapter 44 — Tanda di Perbatasan
1.2k words
Tiga hari berlalu.
Tidak ada kejadian besar.
Penjagaan di sekitar Varell Estate sedikit ditingkatkan, tetapi kehidupan keluarga tetap berjalan seperti biasa.
Julian tetap berlatih setiap pagi.
Elena tetap mengganggunya.
Scarlet tetap memastikan semua orang makan tepat waktu.
Dan Damir tetap terlihat seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Pagi itu Julian sedang berada di halaman belakang.
Vesper berada di tangannya.
Damir berdiri beberapa langkah di depannya.
“Sekali lagi.”
Julian mengambil posisi.
Damir bergerak.
Serangan datang dari kanan.
Julian menangkis.
Damir mengubah arah.
Julian mundur setengah langkah.
Kemudian—
Julian berhenti.
Damir juga berhenti.
“Kenapa?”
Julian menurunkan pedangnya.
“Suara.”
Damir tidak bergerak.
Dari kejauhan terdengar suara peluit.
Satu kali.
Kemudian dua kali.
Damir langsung menoleh ke arah gerbang.
Edmund muncul dari sisi bangunan.
“Tuan Muda.”
Julian sudah menyimpan Vesper.
“Ada masalah?”
Edmund memandang Damir.
“Penjaga perbatasan menemukan sesuatu.”
Damir mengangguk.
“Bawa aku ke sana.”
Kemudian ia menatap Julian.
“Kau tetap di estate.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir dan Edmund pergi.
Julian berdiri beberapa detik.
Lunara mendekat.
Julian mengusap kepalanya.
“Kita tidak ikut.”
Lunara menatap arah mereka pergi.
Kemudian kembali melihat Julian.
“Benar.”
---
Perbatasan utara Varell Estate berada cukup jauh dari kediaman utama.
Wilayah itu bukan tembok.
Hanya deretan patok kayu, beberapa batu penanda, dan jalur penjagaan yang sudah digunakan selama bertahun-tahun.
Damir tiba sekitar dua puluh menit kemudian.
Seorang penjaga langsung memberi hormat.
“Duke.”
“Apa yang ditemukan?”
Penjaga menunjuk sebuah pohon.
Di batangnya terdapat bekas sayatan.
Enam garis pendek.
Damir mendekat.
Edmund berdiri di sampingnya.
“Baru?”
Penjaga mengangguk.
“Sepertinya begitu. Kemarin tanda ini belum ada.”
“Apakah ada jejak?”
“Ada.”
Penjaga menunjuk tanah.
Beberapa bekas sepatu terlihat samar karena hujan beberapa hari terakhir.
“Berapa orang?”
“Setidaknya tiga.”
Damir berjongkok.
Ia memeriksa tanah.
Kemudian melihat arah jejak.
“Dari utara.”
“Benar.”
“Menuju sini?”
“Ya.”
Damir berdiri.
“Dan setelah membuat tanda?”
Penjaga menunjuk sisi lain.
“Mereka kembali ke utara.”
Edmund mengerutkan dahi.
“Mereka masuk hanya untuk meninggalkan tanda?”
Damir tidak langsung menjawab.
Ia memandang simbol itu.
Enam garis.
Tidak ada bulan.
Tidak ada lambang House Varell.
Hanya enam garis.
“Bukan untuk kita,” katanya.
Edmund menoleh.
“Menurut Anda?”
“Kalau mereka ingin memperingatkan kita, mereka akan meninggalkan pesan.”
Damir menyentuh salah satu garis dengan pandangan.
“Ini lebih mirip penanda.”
“Untuk siapa?”
“Itu yang belum kita tahu.”
Damir kemudian berdiri.
“Jangan hapus.”
Penjaga mengangguk.
“Biarkan seperti ini.”
“Dan jangan mengejar.”
Penjaga terlihat sedikit terkejut.
“Duke?”
“Kalau mereka ingin kita mengikuti, jangan beri mereka apa yang mereka inginkan.”
Edmund mengangguk.
“Masuk akal.”
Damir menatap hutan utara.
“Tambahkan dua orang di jalur utama. Jangan mendekati hutan.”
“Baik.”
---
Di estate, Julian menghabiskan pagi dengan Elena.
Bukan latihan.
Bukan membaca.
Mereka sedang memperbaiki sebuah kotak kayu tua.
Elena memegang palu.
Julian memegang papan.
“Pegang lebih kuat.”
“Sudah.”
“Tidak.”
“Kalau saya pegang lebih kuat, papan ini patah.”
Elena memandangnya.
“Kamu benar.”
“Terima kasih.”
“Aku tidak sedang memujimu.”
Julian tersenyum kecil.
Mereka akhirnya berhasil memasang papan baru.
Elena melihat hasilnya.
“Lumayan.”
“Untuk apa sebenarnya?”
“Tempat menyimpan permainan.”
Julian melihat Permainan Enam Bulan yang ada di samping mereka.
“Bukankah itu bisa disimpan di lemari?”
“Bisa.”
“Lalu kenapa membuat kotak?”
“Karena aku mau.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Elena memasukkan papan permainan ke dalam kotak.
Kemudian berhenti.
“Julian.”
“Hm?”
“Kau pernah berpikir untuk membuat permainan sendiri?”
Julian memandangnya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena membuat permainan lebih sulit daripada memainkannya.”
Elena tersenyum.
“Berarti kamu mengaku kalah.”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Saya memilih pekerjaan yang lebih efisien.”
Elena tertawa.
“Kadang-kadang aku lupa kamu masih anak-anak.”
Julian mengangkat alis.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Elena menutup kotak.
“Sudah selesai.”
---
Siang hari, Damir kembali.
Julian sedang berada di ruang baca.
Ia melihat ayahnya masuk.
“Ayah.”
Damir mengangguk.
“Kau sedang apa?”
“Membaca tentang monster.”
“Monster apa?”
“Corrupted Monster.”
Damir berjalan mendekat.
“Kenapa?”
“Karena saya belum pernah melihat perbedaannya secara langsung.”
Damir mengambil buku tersebut.
“Corrupted Monster biasanya memiliki perubahan Mana yang jelas.”
“Seperti apa?”
“Aliran Mana tidak stabil. Perilakunya juga sering berubah.”
Julian mengingat beberapa monster yang pernah ditemuinya di hutan.
“Berarti perubahan perilaku monster di wilayah timur mungkin berkaitan?”
Damir menatapnya.
“Mungkin.”
“Apakah penjaga menemukan sesuatu?”
Damir diam sesaat.
Kemudian menjawab,
“Belum.”
Julian mengangguk.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Namun Damir justru duduk di kursi seberang.
“Kalau suatu hari kau melihat sesuatu yang tidak biasa di hutan, apa yang akan kau lakukan?”
Julian menutup bukunya.
“Menilai situasinya.”
“Lalu?”
“Kalau terlalu berbahaya, saya mundur.”
“Dan kalau masih bisa ditangani?”
“Saya tetap mempertimbangkan apakah perlu bertindak.”
Damir mengangguk.
“Bagus.”
Julian menatapnya.
“Ayah bertanya kenapa?”
“Tidak.”
Damir berdiri.
“Hanya memastikan.”
Julian kembali membuka bukunya.
Namun setelah Damir pergi, ia berhenti membaca beberapa saat.
Pertanyaan itu terasa sedikit berbeda dari biasanya.
Bukan seperti pertanyaan seorang ayah kepada anak.
Lebih seperti seorang prajurit kepada seseorang yang sedang dipersiapkan menghadapi dunia.
Julian tidak mempermasalahkannya.
Ia hanya melanjutkan membaca.
---
Sore hari, Julian pergi ke halaman.
Ia menemukan Zero sedang berdiri sendiri.
“Kita keluar sebentar.”
Zero menggerakkan telinganya.
Julian membawa busur.
Lunara ikut.
Kali ini mereka hanya pergi sampai bagian barat hutan.
Tidak jauh.
Tidak ada alasan untuk mendekati utara.
Mereka berjalan sekitar satu jam.
Julian menemukan beberapa jejak rusa.
Ia mengikuti.
Tidak terburu-buru.
Setelah beberapa waktu, ia melihat seekor rusa muda.
Julian mengangkat busurnya.
Namun kemudian menurunkannya.
Rusa itu tidak sendirian.
Ada dua rusa lain di belakangnya.
Julian menghela napas.
“Bukan hari ini.”
Ia menyimpan busur.
Zero mendengus.
“Kita pulang.”
Mereka berbalik.
Dalam perjalanan, Julian melihat sesuatu di tanah.
Sebuah benda kecil.
Ia berjongkok.
Sebuah keping logam.
Bukan koin.
Bentuknya seperti tanda pengenal kecil.
Permukaannya sudah kotor.
Julian membersihkannya dengan ibu jari.
Tidak ada lambang Varell.
Tidak ada nama.
Hanya enam garis pendek.
Julian menatapnya beberapa detik.
Kemudian memasukkannya ke kantong.
Ia tidak mencoba mencari siapa pemiliknya.
Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Melaporkannya.
---
Edmund menerima benda itu malam harinya.
Ia memandangnya cukup lama.
“Tuan Muda menemukannya di mana?”
Julian menjelaskan.
Edmund tidak langsung menjawab.
“Baik.”
Ia mengambil keping logam itu.
“Saya akan memberikannya kepada Duke.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Edmund hendak pergi.
Kemudian Julian berkata,
“Edmund.”
“Ya, Tuan Muda?”
“Apakah simbol enam garis itu penting?”
Edmund berhenti.
Pertanyaan itu sederhana.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada rasa penasaran berlebihan.
Namun Edmund tetap berhati-hati.
“Penting bagi seseorang, mungkin.”
Julian menatapnya.
“Begitu.”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Julian berdiri.
“Saya hanya ingin tahu apakah saya harus menghindarinya.”
Edmund tersenyum tipis.
“Kalau Anda melihat simbol itu lagi, sebaiknya beri tahu kami.”
“Baik.”
Julian pergi.
Edmund memperhatikan punggungnya sampai menghilang di lorong.
Kemudian ia melihat keping logam di tangannya.
Kali ini ia tidak membawanya kepada Damir.
Ia langsung menuju ruang kerja.
---
Damir membaca laporan itu.
Keping logam diletakkan di atas meja.
Edmund berdiri di depannya.
“Ditemukan Julian.”
Damir mengambilnya.
Beratnya ringan.
Logamnya tua.
Di bagian belakang terdapat goresan yang hampir tidak terlihat.
Damir membersihkannya.
Muncul satu huruf.
D.
Damir berhenti.
Edmund memperhatikan.
“Apa?”
Damir tidak menjawab.
Ia membalik keping itu.
Enam garis.
Huruf D.
Tidak ada nama lain.
Namun ia mengenal simbol tersebut.
Bukan simbol unit.
Bukan lambang House Varell.
Itu adalah tanda yang dulu digunakan seseorang untuk menandai peralatan pribadi.
Seseorang yang sudah puluhan tahun tidak pernah ia lihat.
Damir menutup tangannya di atas keping logam.
“Depth…”
Edmund terdiam.
Untuk pertama kalinya, nama itu terdengar di ruangan tersebut setelah bertahun-tahun.
Namun Damir segera membuka tangannya kembali.
“Jangan simpulkan apa pun.”
Edmund mengangguk.
“Baik.”
Damir melihat keluar jendela.
Hutan gelap membentang di kejauhan.
Jika keping itu benar-benar milik orang yang ia pikirkan—
maka seseorang dari masa lalu House Varell tidak sekadar kembali mendekat.
Mereka sudah berada di wilayah yang pernah dianggap aman.
Dan kali ini, Damir tidak yakin mereka hanya sedang lewat.