Chapter 43 of 75

Chapter 43 — Catatan yang Terkubur

1.1k words

Ruang arsip House Varell berada di bagian terdalam estate. Tidak banyak orang yang pernah masuk ke sana. Bukan karena dijaga dengan ketat, melainkan karena sebagian besar isinya tidak menarik bagi orang biasa. Catatan pajak. Laporan tanah. Dokumen perdagangan. Surat lama. Peta wilayah. Dan berbagai catatan yang sudah berusia puluhan tahun. Edmund menyalakan beberapa lampu Mana di sepanjang dinding. Cahaya biru lembut memenuhi ruangan. Damir berjalan menuju rak paling belakang. Ia tidak langsung mengambil buku. Tangannya berhenti di depan beberapa kotak kayu tua. “Yang mana?” Edmund melihat labelnya. “Periode perang.” Damir menggeser beberapa kotak. “Bukan yang itu.” Ia mengambil satu kotak yang tidak memiliki label. Debunya cukup tebal. Edmund membersihkannya dengan kain. “Sudah lama sekali.” “Memang.” Damir membuka penutupnya. Di dalam terdapat beberapa dokumen tua yang diikat menggunakan tali. Sebagian sudah menguning. Sebagian lainnya rusak di bagian ujung. Edmund mengambil satu. “Catatan operasi.” Damir membukanya. Beberapa halaman pertama hanya berisi laporan militer biasa. Pergerakan pasukan. Jumlah korban. Benteng yang direbut. Wilayah yang dikuasai. Kemudian Edmund menemukan sesuatu. Enam garis pendek. Di sampingnya terdapat sebuah tulisan lama. Unit khusus. Edmund berhenti. “Ini.” Damir mengambil dokumen itu. Matanya bergerak perlahan mengikuti tulisan. Tidak ada nama. Hanya kode. Depth. Loki. Death. Dream. Crimson. Nightmare. Ruangan menjadi sunyi. Edmund membaca bagian berikutnya. “Enam orang.” Damir mengangguk. “Ya.” “Dikirim dalam operasi yang sama?” “Tidak selalu.” Edmund membalik halaman. Ada catatan tentang sebuah benteng yang jatuh hanya dalam satu malam. Catatan lain menyebut pasukan musuh mundur tanpa memahami siapa yang menyerang mereka. Ada laporan tentang seorang pemanah yang mampu menembak dari jarak yang tidak masuk akal. Ada pula laporan tentang seorang prajurit yang disebut tidak terkendali. Namun tidak ada nama asli. Hanya enam codename. Edmund menghela napas. “Six Moon.” Damir tidak menjawab. Ia mengambil halaman terakhir. Di sana terdapat sebuah kalimat. Setelah perang berakhir, keberadaan keenam personel tidak diketahui. Damir menutup dokumen. “Sudah cukup.” Edmund memandangnya. “Menurut Anda mereka kembali?” Damir menggeleng. “Belum tentu.” “Lalu kenapa simbol itu muncul?” “Karena simbol tidak selalu berarti orangnya.” Edmund terdiam. Damir mengembalikan dokumen ke dalam kotak. “Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.” “Dan Julian?” “Tidak perlu tahu.” Edmund mengangguk. “Baik.” Kotak itu kembali ditutup. Namun sebelum Damir pergi, matanya tertuju pada enam nama tadi. Hanya beberapa detik. Kemudian ia meninggalkan ruang arsip. --- Sementara itu, Julian sedang berada di halaman belakang. Ia tidak tahu apa yang baru saja ditemukan ayahnya. Ia juga tidak terlalu memikirkannya. Pagi tadi ia sudah membaca cukup banyak. Sekarang ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Busur berada di tangannya. Target kayu berdiri sekitar tiga puluh meter di depan. Julian menarik tali. Menahan napas. Melepaskan. Anak panah mengenai bagian tengah target. Tidak tepat di pusat. Julian mengambil anak panah berikutnya. Kali ini ia mengubah posisi kaki sedikit. Tarik. Lepas. Lebih dekat. Lunara duduk di samping pohon, memperhatikan. Julian menoleh. “Jangan menatap seperti itu.” Lunara mengedip. “Aku tahu.” Ia mengambil anak panah ketiga. Namun sebelum sempat menembak, suara Elena terdengar. “Julian!” Julian menurunkan busurnya. Elena berlari dari arah rumah. “Kenapa?” “Kau lihat ini?” Ia membawa sebuah kotak kecil. Julian mendekat. “Apa itu?” “Barang lama dari gudang.” Elena membuka kotak tersebut. Di dalam terdapat beberapa benda kecil. Sebuah bros. Dua cincin tua. Dan sebuah koin. Julian mengambil koin itu. Permukaannya sudah kusam. “Punya siapa?” “Tidak tahu.” Elena mengangkat bahu. “Aku menemukannya ketika mencari kain.” Julian membalik koin tersebut. Di satu sisi terdapat lambang House Varell. Di sisi lainnya terdapat gambar bulan. Bukan enam garis. Hanya bulan sabit sederhana. “Bagus,” kata Elena. “Kakak mau menyimpannya?” “Tidak. Aku pikir kamu suka barang seperti ini.” Julian mengembalikannya. “Tidak terlalu.” Elena terlihat kecewa. “Benarkah?” “Kalau Kakak suka, simpan saja.” Elena tersenyum. “Kalau begitu aku simpan.” Ia memasukkan koin itu kembali. Julian mengambil busurnya. “Kakak datang hanya untuk memberikan ini?” “Tidak.” “Lalu?” Elena tersenyum lebar. “Aku lapar.” Julian menatapnya. “Kita baru makan.” “Aku ingin camilan.” Julian menghela napas. “Baik.” Mereka berjalan menuju rumah. Tidak ada pembicaraan tentang sejarah. Tidak ada pembicaraan tentang Six Moon. Hanya dua saudara yang mencari sesuatu untuk dimakan. --- Sore hari, hujan turun lagi. Julian duduk di ruang keluarga sambil membaca. Scarlet menjahit sesuatu di dekat jendela. Elena sibuk menggambar. Damir masuk. Julian mengangkat pandangan. “Ayah.” “Hm?” “Dari mana?” “Ruang arsip.” Julian menutup bukunya. “Menemukan sesuatu?” Damir berhenti sebentar. “Beberapa dokumen lama.” “Sejarah keluarga?” “Sebagian.” Julian mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Scarlet memperhatikan suaminya. “Kamu menemukan sesuatu yang buruk?” “Tidak.” “Benar?” “Benar.” Scarlet kembali menjahit. “Kalau begitu bagus.” Damir duduk. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Kemudian Julian berkata, “Ayah.” “Ya?” “Apakah dulu House Varell memiliki banyak pasukan?” Damir menatapnya. “Ya.” “Sekarang masih?” “Tidak sebanyak dulu.” “Kenapa?” “Zaman berubah.” Julian mengangguk. “Begitu.” Ia kembali membaca. Damir memperhatikannya beberapa saat. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan. Tidak ada usaha mencari tahu lebih dalam. Julian bertanya karena kebetulan teringat. Kemudian selesai. Damir merasa sedikit lega. --- Malam semakin larut. Julian berada di kamarnya. Lunara tidur di dekat jendela. Hujan masih turun. Julian menutup bukunya. Ia hendak tidur ketika terdengar suara dari luar. Bukan suara hujan. Langkah. Sangat pelan. Julian membuka mata. Ia tidak bergerak. Beberapa detik. Suara itu menghilang. Julian bangkit. Ia berjalan ke jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya halaman yang gelap. Ia membuka jendela sedikit. Angin dingin masuk. Lunara langsung berdiri. Telinganya mengarah ke pepohonan. Julian memperhatikannya. “Ada sesuatu?” Lunara tidak bergerak. Kemudian dari jauh terdengar suara burung malam. Sekali. Dua kali. Lunara kembali santai. Julian menutup jendela. Ia tidak membangunkan siapa pun. Mungkin hanya penjaga. Mungkin hewan. Mungkin angin. Tidak ada alasan untuk bertindak tanpa kepastian. Ia kembali ke tempat tidur. Namun sebelum memejamkan mata, ia sempat memikirkan satu hal. Belakangan ini terlalu banyak jejak yang mengarah ke utara. Dan semuanya muncul tanpa benar-benar memasuki wilayah Varell. Seolah seseorang sedang mengukur jarak. Menguji batas. Julian tidak tahu siapa. Ia juga tidak tahu tujuannya. Dan untuk saat ini, itu bukan urusannya. Jika mereka tetap berada di luar batas, biarkan. Kalau mereka melangkah masuk— barulah berbeda. --- Jauh di luar estate, tiga orang berdiri di bawah pohon besar. Salah satunya membawa peta. “Penjagaan bertambah.” “Berapa?” “Tidak banyak.” “Dan anak itu?” “Masih menjalani kehidupan biasa.” Orang ketiga bertanya, “Apakah kita perlu mendekat?” Pria yang memegang peta menggeleng. “Belum.” Ia menunjuk satu titik. “Jalan lama masih terbuka.” Kemudian menunjuk wilayah Varell. “Dan rumah mereka masih sama.” “Bagaimana dengan simbol?” “Sudah terlihat.” “Berarti mereka tahu?” Pria itu menutup peta. “Belum.” Ia menatap langit. Bulan tertutup awan. “Kalau House Varell belum tahu siapa kita…” Ia berbalik. “…jangan beri mereka alasan untuk mencari tahu.” Ketiganya pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada serangan. Tidak ada ancaman. Hanya satu hal yang menjadi semakin jelas. Seseorang sedang mendekati wilayah House Varell. Dan mereka cukup berhati-hati untuk tidak meninggalkan lebih banyak jejak daripada yang mereka inginkan.

End of Chapter 43