Chapter 42 of 75
Chapter 42 — Jejak yang Mendekat
1.1k words
Pagi berikutnya, keluarga Arclaire meninggalkan Varell Estate setelah sarapan.
Evelyne berdiri di samping kereta sambil memandang Julian.
“Jangan lupa latihan.”
Julian mengangguk.
“Aku tidak pernah lupa.”
“Dan jangan terlalu serius.”
“Itu lebih sulit.”
Evelyne tertawa.
“Kalau begitu, sampai bertemu lagi.”
“Sampai bertemu.”
Kereta mulai bergerak meninggalkan halaman.
Julian berdiri beberapa saat sampai kereta menghilang di balik jalan.
Kemudian ia berbalik.
Lunara sudah menunggunya.
“Kita berburu?”
Lunara mengibaskan ekornya.
Julian tersenyum.
“Baik.”
Namun sebelum ia sempat mengambil busur, Edmund datang dari arah gerbang.
“Tuan Muda Julian.”
Julian menoleh.
“Ada apa?”
“Duke meminta Anda ke ruang kerja.”
Julian melihat Edmund sebentar.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
---
Di ruang kerja, Damir berdiri di depan jendela.
Di atas meja terdapat sebuah peta.
Julian langsung memperhatikan beberapa tanda merah yang baru dibuat.
“Laporan patroli?”
“Ya.”
Damir menunjuk bagian utara.
“Ditemukan bekas roda kereta di jalur lama.”
Julian mendekat.
“Yang kemarin?”
“Bukan.”
Damir menunjuk tanda lain.
“Ini lebih dekat.”
Julian memperhatikan jaraknya.
“Berapa dekat?”
“Sekitar tiga jam perjalanan dari estate jika menggunakan kereta.”
Julian mengangguk.
“Apakah ada orang yang terlihat?”
“Tidak.”
“Jejaknya mengarah ke mana?”
“Ke selatan.”
Julian menatap peta.
Kemudian bertanya,
“Menuju estate?”
“Belum tentu.”
Damir melipat tangan.
“Jalan tersebut juga terhubung dengan beberapa desa.”
Julian mengangguk.
Tidak ada alasan untuk langsung mengambil kesimpulan.
“Apakah Ayah akan mengirim pasukan?”
“Tidak.”
Julian menoleh.
“Kenapa?”
“Karena kita belum tahu siapa mereka.”
Damir menunjuk beberapa jalur.
“Kalau kita mengirim terlalu banyak orang, mereka akan tahu bahwa kita memperhatikan.”
Julian memahami.
“Jadi hanya mengawasi.”
“Benar.”
Edmund yang berdiri di dekat pintu menambahkan,
“Beberapa penjaga akan ditempatkan di jalur utama. Mereka tidak akan mendekati siapa pun kecuali ada alasan.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir memandangnya.
“Dan kau.”
Julian menunggu.
“Jangan pergi ke sana.”
“Saya mengerti.”
Tidak ada perdebatan.
Julian berbalik.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
“Ayah.”
“Hm?”
“Kalau mereka memang menuju wilayah kita, apa yang akan dilakukan?”
Damir diam sebentar.
“Kita akan memastikan mereka tidak mengganggu keluarga.”
Jawaban itu cukup.
Julian keluar.
---
Hari itu Julian tidak pergi ke hutan.
Ia tetap berada di estate.
Bukan karena takut.
Ia hanya memahami bahwa ada orang lain yang sedang menangani masalah tersebut.
Julian menghabiskan pagi dengan membaca.
Siang hari ia membantu Elena memindahkan beberapa buku.
Sore harinya ia berlatih dengan Vesper.
Gerakannya semakin stabil.
Ia mulai memahami cara menggunakan kekuatan tubuh kecilnya tanpa memaksakan diri.
Damir menyerang.
Julian menangkis.
Satu langkah.
Dua.
Damir mengubah arah.
Julian tidak langsung mengejar.
Ia menunggu.
Serangan berikutnya datang.
Julian memutar tubuh.
Vesper bergerak pendek.
Tok.
Pedang kayu Damir terpental sedikit.
Julian tidak mengejar celah itu.
Damir menghentikan gerakan.
“Kenapa tidak menyerang?”
“Jaraknya terlalu sempit.”
“Bagus.”
Damir kembali maju.
Kali ini Julian justru masuk lebih dekat.
Pedang mereka bertemu.
Tok!
Julian memutar pergelangan tangan.
Damir menggeser tubuh.
Julian berhenti sebelum kehilangan keseimbangan.
Damir tersenyum tipis.
“Kau mulai memahami tubuhmu.”
Julian mengatur napas.
“Masih banyak yang harus diperbaiki.”
“Tentu.”
Damir menurunkan pedangnya.
“Tidak ada yang selesai hanya karena sudah bagus.”
Julian mengangguk.
---
Malamnya, hujan turun.
Tidak deras.
Hanya cukup untuk membasahi jalan dan atap rumah.
Julian berdiri di dekat jendela kamarnya.
Lunara duduk di sampingnya.
Di luar, penjaga berjalan membawa lentera.
Julian memperhatikan gerakan mereka.
Satu penjaga melewati gerbang.
Kemudian penjaga lain muncul dari sisi berbeda.
Pola pergantian.
Teratur.
Ia kemudian kembali ke mejanya.
Di sana terdapat buku Permainan Enam Bulan.
Julian membukanya.
Beberapa catatan dari Edmund masih ada.
Satu pusat. Lima arah.
Julian membaca kalimat berikutnya.
Jangan mengejar semua jalur. Pilih jalur yang menentukan permainan.
Ia berhenti.
Kalimat itu membuatnya berpikir sebentar.
Kemudian menutup buku.
Di luar, terdengar suara peluit.
Pendek.
Satu kali.
Julian langsung menoleh.
Peluit penjaga.
Beberapa detik kemudian terdengar peluit kedua.
Dua kali.
Julian membuka pintu kamar.
Ia berjalan ke lorong.
Di bawah, beberapa pelayan bergerak cepat.
Tidak panik.
Tetapi jelas ada sesuatu.
Julian turun.
Edmund sudah berada di aula.
“Tuan Muda, kembali ke kamar.”
“Ada apa?”
“Penjaga menemukan sesuatu.”
“Di mana?”
“Gerbang timur.”
Julian tidak bergerak.
Edmund menatapnya.
“Ini bukan tempat Anda.”
Julian mengangguk.
“Saya mengerti.”
Ia tidak memaksa.
Beberapa menit kemudian Damir datang.
Wajahnya tetap tenang.
Namun langkahnya lebih cepat dari biasanya.
Edmund mendekat.
“Duke.”
“Berapa orang?”
“Belum diketahui.”
“Jejak?”
“Dua orang. Mungkin tiga.”
Damir memandang ke arah jendela.
“Hujan akan menghapusnya.”
“Benar.”
“Dan gerbang?”
“Tidak disentuh.”
Damir terdiam.
Julian yang masih berada di tangga memperhatikan percakapan itu.
Kemudian Damir melihatnya.
“Kembali ke kamar.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Ia naik kembali.
Namun sebelum masuk kamar, Julian berhenti di depan jendela.
Dari sana, ia bisa melihat bagian timur estate.
Hujan membuat semuanya kabur.
Tidak ada sosok.
Tidak ada gerakan.
Hanya pepohonan.
Julian menutup tirai.
---
Keesokan paginya, tanah masih basah.
Julian sedang sarapan ketika Damir masuk.
Scarlet langsung melihat wajah suaminya.
“Ada apa?”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Scarlet menyipitkan mata.
“Kalau memang tidak ada, kenapa wajahmu seperti itu?”
Damir duduk.
“Wajahku memang seperti ini.”
Elena menahan tawa.
Julian menunduk melihat makanannya.
Scarlet menghela napas.
“Lalu?”
Damir akhirnya menjawab.
“Penjaga menemukan bekas jejak di luar pagar timur.”
“Orang?”
“Ya.”
Scarlet menjadi lebih serius.
“Dekat?”
“Tidak terlalu.”
“Siapa?”
“Belum tahu.”
Scarlet memandang Julian.
Julian tetap tenang.
“Ibu tidak perlu khawatir.”
Scarlet tersenyum kecil.
“Ibu bukan khawatir karena kamu.”
Julian mengangkat alis.
“Lalu?”
“Karena Ayahmu kalau sudah mulai berpikir terlalu banyak biasanya lupa makan.”
Damir terdiam.
Elena tertawa.
Julian ikut tersenyum.
Suasana kembali ringan.
Namun setelah sarapan selesai, Julian melihat Damir keluar menuju halaman.
Edmund mengikutinya.
Mereka berbicara sebentar.
Julian tidak mendengar isinya.
Ia tidak mencoba mendekat.
Ada hal-hal yang memang menjadi urusan orang dewasa.
Ia kembali ke ruang baca.
---
Menjelang sore, seorang penjaga datang membawa laporan baru.
Kali ini bukan dari timur.
Dari utara.
Sebuah kereta ditemukan berhenti di dekat jalan lama.
Kosong.
Tidak ada pengemudi.
Tidak ada barang.
Hanya sebuah peti kecil di dalamnya.
Edmund membukanya dengan hati-hati.
Di dalam terdapat beberapa kristal Mana.
Dan selembar kain hitam.
Benang merah.
Enam garis pendek.
Edmund menatap benda itu lama.
Damir datang beberapa saat kemudian.
“Apa itu?”
Edmund menyerahkannya.
Damir tidak langsung menyentuh kain.
Ia hanya melihat.
Lalu berkata,
“Sudah waktunya.”
Edmund mengangkat kepala.
“Untuk apa?”
“Memeriksa kembali catatan lama.”
“Enam Moon?”
Damir tidak menjawab.
Ia berjalan menuju ruang arsip.
Edmund mengikutinya.
Di lorong lain, Julian baru saja keluar dari ruang baca.
Ia melihat keduanya menghilang menuju bagian terdalam estate.
Julian berhenti.
Hanya sesaat.
Kemudian melanjutkan langkah.
Ia tidak mengejar.
Tidak semua pintu harus dibuka.
Belum.
Di luar estate, angin utara membawa aroma tanah basah.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sebuah nama yang seharusnya hanya hidup di catatan lama mulai kembali bergerak di dunia nyata.