Chapter 41 of 75

Chapter 41 — Hari Bersama Evelyne

1.1k words

Pagi itu, Varell Estate terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Bukan karena penjaga. Bukan karena tamu penting. Melainkan karena Elena sudah berbicara sejak sarapan dimulai. “Evelyne datang hari ini.” Julian tetap makan. “Aku tahu.” “Jangan terlalu pendiam nanti.” Julian mengangkat pandangan. “Saya tidak pernah sengaja diam.” Elena tertawa. “Itu justru masalahnya.” Scarlet meletakkan secangkir teh di depan Julian. “Biarkan saja. Evelyne sudah mengenalmu sejak kecil.” “Ibu benar.” Damir yang duduk di ujung meja hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian terdengar suara kereta berhenti di depan estate. Elena langsung berdiri. “Aku pergi dulu!” Scarlet menatapnya. “Jangan berlari.” Elena memperlambat langkah. “…Baik.” Julian menahan senyum. Tak lama kemudian, pintu ruang utama terbuka. Evelyne masuk bersama kedua orang tuanya. Ia mengenakan pakaian bangsawan sederhana berwarna biru pucat dengan beberapa ornamen putih. Begitu melihat Julian, wajahnya langsung cerah. “Julian!” Ia hampir berlari menghampiri. Namun ibunya segera memanggil. “Evelyne.” Evelyne berhenti. Kemudian berjalan lebih tenang. Julian membungkuk. “Selamat datang.” Evelyne memandangnya beberapa detik. “Kau selalu seperti itu.” “Seperti apa?” “Seperti orang yang sedang menerima tamu kerajaan.” Julian mengangkat alis. “Kita memang sedang menerima tamu.” Evelyne menghela napas. “Aku tahu. Tapi aku temanmu.” Julian tersenyum kecil. “Kalau begitu selamat datang, Evelyne.” “Lebih baik.” Elena langsung tertawa. Orang tua mereka berbincang di ruang depan. Sementara Julian dan Evelyne keluar ke halaman. Lunara sedang berbaring di bawah pohon. Begitu melihat Evelyne, telinganya bergerak. Evelyne mendekat perlahan. “Hai, Lunara.” Lunara memandangnya. Tidak bergerak. Evelyne berjongkok. “Masih belum mau disentuh?” Julian menggeleng. “Dia memilih sendiri.” “Seperti Zero.” “Kurang lebih.” Evelyne tersenyum. “Kalau begitu aku tidak akan memaksa.” Lunara justru bangkit dan berjalan mendekat. Evelyne terlihat terkejut. “Dia datang!” Julian memperhatikan. “Jangan bergerak terlalu cepat.” Evelyne mengangguk. Lunara mencium tangannya. Kemudian duduk. Evelyne tersenyum lebar. “Dia menyukaiku.” “Jangan terlalu cepat menyimpulkan.” “Julian.” “Ya?” “Diam.” Julian tertawa kecil. Evelyne akhirnya mengusap kepala Lunara. Tidak jauh dari sana, Zero berdiri di dekat pagar. Evelyne menoleh. “Sekarang giliran dia.” Ia berjalan mendekat. Zero mengawasinya. Evelyne berhenti beberapa langkah di depannya. “Boleh?” Julian mengangguk. Evelyne mengulurkan tangan. Zero mencium tangannya. Kemudian kembali mengangkat kepala. Evelyne tersenyum. “Dia jauh lebih besar dari terakhir kali.” “Dia tumbuh.” “Dan masih tidak mau ditunggangi?” “Tidak.” “Bahkan olehmu?” “Belum pernah mencoba lagi.” Evelyne menatap Julian. “Kenapa?” “Karena dia sudah memilih.” Jawaban itu membuat Evelyne terdiam sebentar. Kemudian ia tersenyum. “Kau memang aneh.” Julian hanya mengangkat bahu. --- Menjelang siang, Julian dan Evelyne duduk di gazebo. Di atas meja terdapat papan Permainan Enam Bulan. Evelyne memandangnya. “Ini permainan yang kemarin kamu ceritakan?” “Ya.” “Kau masih memainkannya?” “Kadang.” Evelyne duduk. “Ayo.” Julian mengambil bidak. “Baik.” Permainan dimulai. Evelyne ternyata jauh lebih sulit dikalahkan daripada Elena. Ia tidak terburu-buru. Setiap langkah dipikirkan. Julian memperhatikan pola gerakannya. Lima giliran. Sepuluh. Lima belas. Evelyne mulai membangun jalur perlahan. Julian memindahkan satu bidak. Evelyne tersenyum. “Kau pikir aku akan mengambil jalur itu.” “Ya.” “Padahal aku sengaja membuatmu berpikir begitu.” Julian berhenti. Kemudian melihat papan. “Menarik.” Evelyne langsung menunjuknya. “Kau mengatakan kata itu lagi.” Julian tersenyum. “Memang kenapa?” “Kau selalu mengatakan ‘menarik’ kalau menemukan sesuatu yang kamu suka.” “Benarkah?” “Benar.” Julian melihat papan lagi. “Kalau begitu saya harus menguranginya.” Evelyne tertawa. “Tidak perlu.” Ia menggeser bidak. “Sekarang giliranmu.” Permainan berlangsung hampir satu jam. Pada akhirnya, Julian menang. Evelyne menatap papan. “Tidak adil.” “Kau bermain bagus.” “Itu bukan pujian.” “Itu memang pujian.” Evelyne menyandarkan tubuh ke kursi. “Baiklah. Aku terima.” Kemudian ia melihat papan. “Permainan ini sebenarnya dibuat untuk apa?” Julian menjawab, “Katanya untuk melatih pengambilan keputusan.” “Lima arah?” “Ya.” Evelyne memikirkan sebentar. “Kalau begitu orang yang membuatnya pasti punya banyak masalah.” Julian tersenyum. “Mungkin.” Evelyne menatapnya. “Kau tidak penasaran?” “Penasaran tentang apa?” “Kenapa permainan ini dibuat.” Julian melihat papan. “Sedikit.” “Lalu?” “Saya tidak harus tahu semuanya.” Evelyne mengangguk. “Benar juga.” Mereka kembali diam. Angin bergerak perlahan. Tidak ada pembicaraan tentang jalan lama. Tidak ada pembicaraan tentang simbol enam garis. Hari itu hanya milik mereka. --- Sore hari, Evelyne melihat Vesper. “Boleh?” Julian menyerahkan pedang itu. Evelyne memegang gagangnya. “Berat.” “Untukmu?” “Sedikit.” Julian mengambil pedang latihan lain. “Kalau begitu kita tidak menggunakan pedang sungguhan.” Evelyne mengangguk. Mereka pergi ke halaman latihan. Damir sedang berbicara dengan Edmund di sisi lain. Begitu melihat mereka, Damir hanya berkata, “Jangan terlalu keras.” Julian menjawab, “Baik.” Evelyne mengambil posisi. Julian berdiri di depannya. “Siap?” “Siap.” Evelyne bergerak lebih dahulu. Serangannya lurus. Julian menghindar. Evelyne mengubah arah. Lebih cepat. Julian menahan. Tok. Evelyne mundur. Kemudian maju lagi. Kali ini Julian tidak langsung menyerang balik. Ia memperhatikan langkah Evelyne. Kaki kanan sedikit lebih maju. Tangan kiri terlalu tinggi. Ketika berpindah arah, bahunya selalu bergerak lebih dahulu. Julian menunggu. Evelyne menyerang. Julian menggeser tubuh. Pedang latihan mereka bertemu. Tok. Evelyne kembali mundur. “Kau membaca gerakanku.” “Sedikit.” “Bagaimana?” “Bahumu.” Evelyne melihat bahunya sendiri. “Kenapa?” “Setiap kali kau hendak menyerang dari kanan, bahumu bergerak lebih dahulu.” Evelyne terdiam. Kemudian mencoba lagi. Kali ini ia sengaja menggerakkan bahu. Julian tidak bergerak. Evelyne mengubah arah. Julian tetap menunggu. Serangan datang dari kiri. Julian menangkis. “Sekarang lebih baik.” Evelyne tersenyum. “Berarti aku bisa memperbaikinya.” “Ya.” Mereka kembali bertarung. Tidak ada yang benar-benar menang. Namun Evelyne beberapa kali berhasil membuat Julian mundur. Pada akhirnya mereka berhenti karena lelah. Evelyne duduk di lantai. “Aku akan mengalahkanmu suatu hari nanti.” Julian duduk di sebelahnya. “Saya tunggu.” Evelyne tersenyum. “Jangan terlalu yakin.” “Saya tidak yakin.” “Kau tersenyum.” “Saya memang senang.” Evelyne menatapnya beberapa detik. “Kau suka bertarung?” Julian berpikir sebentar. “Tidak selalu.” “Lalu kenapa senang?” “Karena kau semakin baik.” Evelyne tersenyum kecil. “Terima kasih.” --- Malam sebelum keluarga Arclaire pulang, kedua keluarga makan bersama. Suasananya hangat. Elena dan Evelyne berbicara tanpa henti. Scarlet sesekali ikut tertawa. Damir lebih banyak diam. Julian makan dengan tenang. Di tengah makan, ayah Evelyne bertanya, “Julian, apa yang ingin kau lakukan ketika besar nanti?” Meja menjadi sedikit lebih tenang. Julian memegang sendoknya. Ia tidak langsung menjawab. “Aku belum tahu.” Evelyne menoleh. Elena juga memperhatikan. Julian kemudian menambahkan, “Untuk sekarang, saya ingin belajar sebanyak mungkin.” Ayah Evelyne tersenyum. “Jawaban yang bijak.” Julian menggeleng. “Bukan bijak. Saya memang belum menentukan.” Scarlet tersenyum. “Tidak apa-apa.” Damir mengangguk. “Kau masih punya waktu.” Julian menatap keluarganya. Kemudian Evelyne. “Ya.” Ia tersenyum kecil. “Saya punya banyak waktu.” Di luar rumah, angin malam melewati pepohonan. Jauh dari sana, jalan lama masih sunyi. Namun salah satu penjaga Varell yang sedang berpatroli menemukan sesuatu di tanah. Bekas roda baru. Masih jelas. Ia segera memberi tanda kepada rekannya. Kemudian laporan itu dikirim ke estate. Malam yang tenang belum berakhir. Tetapi sesuatu dari utara sudah mulai bergerak lebih dekat.

End of Chapter 41

Chapter 41: Chapter 41 — Hari Bersama Evelyne - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio