Chapter 40 of 75

Chapter 40 — Jalan yang Tidak Dipilih

1.2k words

Dua hari setelah kedatangan rombongan pedagang dari utara, Varell Estate kembali tenang. Tidak ada tamu. Tidak ada laporan mendesak. Tidak ada perubahan pada penjagaan. Julian menganggap itu hal yang baik. Pagi itu ia berada di kandang bersama Zero. Kuda hitam itu sedang menikmati sarapannya dengan tenang. Julian memeriksa kaki depannya. “Tidak ada luka.” Zero mengangkat kepala. “Jangan bergerak.” Zero kembali makan. Julian tersenyum tipis. “Bagus.” Lunara duduk beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya tertuju pada pepohonan. Julian mengikuti arah pandangannya. “Kenapa?” Lunara tidak menjawab. Hanya telinganya yang bergerak. Beberapa detik kemudian, seekor burung terbang keluar dari semak-semak. Lunara kembali santai. Julian tidak memikirkannya lagi. Ia mengambil pelana yang biasa digunakan untuk kuda lain di kandang. Kemudian meletakkannya di dekat Zero. Zero langsung mundur. Julian menatapnya. “Aku bahkan belum memasangnya.” Zero memalingkan kepala. “Baik.” Julian mengambil pelana itu kembali. Tidak dipaksakan. Sejak awal, Zero memang tidak menyukainya. Julian kemudian mengambil sikat dan mulai membersihkan bulunya. Beberapa saat kemudian, Elena muncul. “Kalian berdua sedang apa?” “Tidak ada.” Elena melihat pelana yang diletakkan di samping. “Masih mencoba?” “Tidak.” “Benarkah?” Julian menggeleng. “Dia tidak mau.” Elena mendekati Zero. “Kalau aku?” Zero langsung mundur. Elena berhenti. “Baik.” Julian menahan tawa. “Kakak ditolak.” “Aku tahu.” Elena menyilangkan tangan. “Dia memang menyebalkan.” Zero kembali mendekat kepada Julian. Elena memandangnya. “Kenapa dia hanya mau menurutimu?” Julian mengusap leher Zero. “Karena saya tidak menyuruhnya.” Elena terdiam sebentar. “Jawaban yang aneh.” “Mungkin.” Elena kemudian duduk di pagar kandang. “Besok keluarga Arclaire datang.” Julian menoleh. “Besok?” “Iya.” “Aku lupa.” “Bagaimana bisa lupa?” “Tidak ada yang mengingatkanku.” “Aku baru saja mengingatkan.” Julian mengangguk. “Sekarang saya ingat.” Elena tertawa kecil. “Kadang-kadang kamu benar-benar aneh.” Julian tidak membantah. --- Menjelang siang, Damir meminta Julian datang ke ruang latihan. Kali ini Edmund sudah menunggu. Di tengah ruangan terdapat tiga target kayu. Namun bukan itu yang menarik perhatian Julian. Di lantai terdapat beberapa lingkaran kecil yang dibuat dari kapur. Damir berdiri di sampingnya. “Hari ini bukan pertarungan.” Julian mengangguk. “Apa yang harus saya lakukan?” “Berjalan.” Julian memandang lantai. “Di antara lingkaran?” “Ya.” Julian mulai bergerak. Langkah pertama. Kedua. Ketiga. Tidak sulit. Namun pada langkah keempat, Damir berkata, “Berhenti.” Julian berhenti. “Kenapa?” “Kau terlalu dekat dengan garis.” Julian melihat ke bawah. Jaraknya memang hanya beberapa sentimeter. “Kalau ini pertarungan?” “Musuh bisa menggunakan posisi itu.” Julian mengangguk. Ia kembali ke awal. Kali kedua ia bergerak lebih hati-hati. Damir kembali menghentikannya. “Kali ini terlalu jauh.” Julian menoleh. “Jadi harus tepat?” “Bukan.” Damir menunjuk seluruh ruangan. “Kau harus bisa bergerak tanpa terus melihat lantai.” Julian memahami maksudnya. Ini bukan latihan langkah. Ini latihan kesadaran ruang. Ia kembali bergerak. Kali ini matanya tidak lagi terpaku pada lantai. Ia memperhatikan posisi Damir. Pintu. Jendela. Rak senjata. Jarak antara dirinya dan target. Semua masuk ke dalam perhitungannya secara alami. Ia menyelesaikan lintasan. Damir tidak menghentikannya. Edmund tersenyum tipis. “Lebih baik.” Julian berhenti. “Latihan ini untuk apa?” “Lingkungan tidak pernah diam,” jawab Damir. “Kalau kau hanya memperhatikan lawan, kau bisa lupa bahwa ruangan itu sendiri dapat menjadi bagian dari pertarungan.” Julian melihat sekeliling. “Dipahami.” Damir mengambil pedang kayu. “Sekarang tambah lawan.” Edmund mengambil pedang lainnya. Julian menarik napas. Dua lawan. Ruangan sempit. Banyak benda di sekitar. Ia tidak maju. Edmund bergerak lebih dahulu. Julian menghindar. Damir datang dari sisi lain. Julian memutar tubuh. Pedang kayu lewat beberapa sentimeter dari bahunya. Ia tidak membalas. Mundur. Satu langkah. Kemudian dua. Edmund menyerang lagi. Julian menggunakan meja sebagai penghalang. Pedang Edmund menghantam permukaan kayu. Julian bergerak ke sisi lain. Damir sudah menunggu. Tok! Pedang Damir mengenai bahu Julian. Julian berhenti. “Terkena.” “Ya,” kata Damir. “Karena saya memilih jalan yang salah.” Damir menggeleng. “Karena kau terlalu cepat memilih.” Julian mengangkat alis. Damir menurunkan pedangnya. “Tidak semua celah harus digunakan.” Julian memahami maksudnya. Sebuah celah bisa saja memang sengaja dibiarkan. Ia tidak perlu selalu menyerang. Kadang keputusan terbaik adalah menunggu. Latihan dilanjutkan. Kali kedua Julian tidak langsung mengambil setiap kesempatan. Ia menunggu. Membaca. Bergerak ketika ruang benar-benar terbuka. Kali ini ia berhasil melewati keduanya tanpa terkena. Damir mengangguk. “Bagus.” Julian menghela napas. “Latihannya semakin sulit.” “Memang seharusnya begitu.” --- Sore hari, Julian pergi ke hutan. Ia membawa Vesper. Lunara berjalan di sampingnya. Zero mengikuti dari belakang tanpa perlu dipanggil. Mereka tidak pergi jauh. Julian hanya ingin mencari beberapa tanaman yang disebut dalam buku miliknya. Setelah hampir setengah jam berjalan, ia menemukan tanaman kecil dengan daun berwarna pucat. Ia berjongkok. “Ini yang dicari Ibu.” Julian mengambil beberapa dengan hati-hati. Lunara mencium tanaman tersebut. Kemudian mundur. “Tidak suka?” Lunara memalingkan kepala. Julian tertawa kecil. “Baik.” Ia memasukkan tanaman ke dalam kantong. Ketika berdiri, matanya menangkap sesuatu. Bekas roda. Tidak jelas. Sudah tertutup sebagian oleh tanah dan daun. Julian berjongkok kembali. Roda kereta. Arahnya menuju utara. Ia mengikuti jejak itu beberapa meter. Kemudian berhenti. Tidak jauh dari sana terdapat bekas api unggun. Sudah lama padam. Tidak ada orang. Tidak ada barang. Julian tidak menyentuh apa pun. Ia hanya mengingat lokasi. Kemudian berbalik. Lunara memandangnya. “Kita pulang.” Julian tidak mengejar jejak itu. Bukan karena tidak mampu. Ia hanya tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Ketika mereka kembali ke estate, Julian langsung menemui Edmund. “Tuan Muda?” “Saya menemukan bekas roda kereta di hutan.” Edmund langsung memperhatikan. “Di mana?” “Sekitar setengah jam dari jalur utama menuju utara.” Julian menjelaskan lokasinya. Edmund mengangguk. “Apakah ada sesuatu yang lain?” “Bekas api unggun. Tidak ada orang.” “Baik.” Edmund tidak bertanya lebih banyak. Namun Julian melihat bahwa pria tua itu menyimpan informasi tersebut dengan serius. “Apakah ada masalah?” “Belum tentu.” Edmund tersenyum tipis. “Tuan Muda sudah melakukan hal yang benar dengan melaporkannya.” Julian mengangguk. Ia hendak pergi ketika Edmund memanggilnya. “Tuan Muda.” “Ya?” “Besok keluarga Arclaire datang.” “Saya tahu.” “Lady Evelyne mungkin akan mengajak Anda bermain.” Julian menatapnya. “Kenapa Edmund terdengar seperti memperingatkan saya?” Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Edmund menunjukkan senyum kecil. “Karena saya mengenal Lady Evelyne.” Julian menghela napas. “Saya juga.” “Kalau begitu Anda sudah tahu.” Julian pergi. --- Malamnya, Damir menerima laporan Edmund. Bekas roda. Api unggun. Jalan lama. Semua menuju arah yang sama. Damir membaca catatan itu tanpa berbicara. Edmund berdiri di depannya. “Menurut Anda?” “Orang-orang yang menggunakan jalan itu tidak ingin terlihat.” “Namun mereka tidak terlalu berhati-hati.” “Karena mereka tidak menganggap anak itu sebagai masalah.” Edmund menatap Damir. “Julian?” Damir mengangguk. “Dia menemukan terlalu banyak jejak secara kebetulan.” “Apakah kita perlu memperketat penjagaan?” “Sedikit.” “Dan Julian?” Damir terdiam sejenak. “Biarkan dia menjalani hidupnya.” Edmund mengangguk. “Baik.” Damir menutup laporan. “Kalau mereka hanya lewat, kita tidak perlu melakukan apa-apa.” “Dan kalau mereka mencari sesuatu?” Tatapan Damir berubah sedikit lebih tajam. “Kalau mereka datang ke wilayah kita…” Ia berdiri. “…baru kita bertindak.” Di luar ruangan, suara langkah kecil terdengar. Damir menoleh. Pintu terbuka. Julian berdiri di sana. “Ayah?” Damir kembali tenang. “Ada apa?” “Ibu meminta Ayah datang makan malam.” Edmund menunduk untuk menyembunyikan senyum. Damir menghela napas. “Sekarang?” “Sekarang.” Damir melihat laporan di meja. Kemudian melihat Julian. “Baik.” Ia menyerahkan dokumen kepada Edmund. Julian berjalan lebih dulu. Damir mengikutinya. Di tengah perjalanan, Julian berkata, “Ayah.” “Hm?” “Besok Evelyne datang.” “Aku tahu.” “Dia mungkin ingin melihat Zero.” Damir mengangguk. “Biarkan.” Julian tersenyum kecil. “Dia juga mungkin ingin bermain Permainan Enam Bulan.” Damir menoleh. “Kau masih memainkan itu?” “Kadang-kadang.” “Jangan terlalu serius.” Julian memandangnya. “Saya selalu serius.” Damir terdiam. Kemudian berkata datar, “Itu yang mengkhawatirkan.” Julian tertawa kecil. Mereka melanjutkan langkah menuju ruang makan. Di luar, malam semakin gelap. Dan jauh di utara, di jalan yang sudah lama ditinggalkan, roda sebuah kereta kembali bergerak perlahan. Kali ini menuju selatan.

End of Chapter 40