Chapter 39 of 75

Chapter 39 — Tamu dari Jalan Lama

1.2k words

Pagi berikutnya datang tanpa sesuatu yang berbeda. Matahari naik perlahan di balik pepohonan. Kabut tipis masih menggantung di halaman belakang Varell Estate ketika Julian keluar dari rumah. Lunara sudah menunggunya. Begitu melihat Julian, Moon Lynx itu berdiri dan berjalan mendekat. “Pagi.” Lunara mengeluarkan suara kecil. Julian mengusap kepalanya sebentar. Di kandang, Zero juga sudah berdiri. Julian mengambil sebuah apel dari keranjang kecil di dekat pintu dan memberikannya. Zero langsung mengambilnya. “Kau semakin malas menyapa.” Zero hanya mengunyah. Julian tersenyum kecil. “Baiklah.” Ia mengambil busurnya. Hari ini ia tidak membawa Vesper. Hanya busur dan beberapa anak panah. Ia berencana berburu sebentar sebelum latihan pagi. Namun baru beberapa langkah meninggalkan halaman, seorang penjaga datang menghampirinya. “Tuan Muda Julian.” Julian berhenti. “Ya?” “Ada rombongan dari utara yang tiba di gerbang.” Julian sedikit mengernyit. “Dari utara?” “Benar.” “Siapa?” “Belum diketahui secara pasti. Mereka membawa lambang pedagang, tetapi jumlah pengawalnya cukup banyak.” Julian memperhatikan penjaga itu. “Sudah diperiksa?” “Sedang diperiksa, Tuan Muda.” “Baik.” Julian tidak bertanya lebih jauh. Ia menyerahkan busurnya kepada penjaga. “Sampaikan kepada Ayah.” “Baik, Tuan Muda.” Penjaga itu segera pergi. Julian berjalan menuju rumah. Lunara mengikutinya. Di ruang depan, Damir sudah berdiri bersama Edmund. Scarlet dan Elena juga berada di sana. Damir baru saja menerima laporan. “Rombongan dari utara,” kata Damir. Edmund mengangguk. “Mereka mengaku sebagai pedagang yang membawa barang dari wilayah pegunungan.” “Berapa orang?” “Enam belas. Empat pedagang dan dua belas pengawal.” Julian berhenti di dekat pintu. “Apakah mereka membawa surat perjalanan?” Edmund menoleh. “Ada.” “Sudah diverifikasi?” “Sedang diperiksa.” Damir memandang Julian. “Kau tidak jadi berburu?” “Untuk sementara.” Scarlet tersenyum. “Bagus. Sarapan dulu.” “Ibu…” “Tidak ada alasan. Kau belum makan.” Julian akhirnya duduk. Elena mengambil roti. “Kalau ada pedagang datang pagi-pagi begini, berarti mereka membawa sesuatu yang menarik.” “Belum tentu,” jawab Julian. “Kenapa?” “Bisa saja hanya membawa kain.” Elena mengerutkan hidung. “Kalau cuma kain, kenapa dua belas pengawal?” Julian mengambil roti. “Itu yang sedang Ayah periksa.” Damir menahan senyum. Edmund berdeham kecil. “Benar.” Scarlet memandang mereka semua. “Jangan membuat sarapan terasa seperti rapat militer.” “Maaf,” kata Damir. Julian menunduk untuk menyembunyikan senyum kecil. --- Satu jam kemudian, rombongan tersebut diperbolehkan masuk ke area penerimaan tamu. Julian tidak ikut. Ia berada di halaman belakang bersama Damir. Latihan tetap berlangsung. Damir menyerang dengan pedang kayu. Julian menangkis. Serangan berikutnya datang lebih cepat. Julian mundur satu langkah. Kemudian maju kembali. Tok. Pedang mereka bertemu. Damir mengubah arah. Julian memiringkan tubuh. Tidak banyak gerakan. Hanya cukup untuk menghindari serangan. “Bagus.” Julian tidak menjawab. Perhatiannya tetap pada bahu dan tangan Damir. Satu perubahan kecil pada posisi tubuh. Serangan berikutnya. Julian bergerak lebih dahulu. Namun Damir berhenti. “Kenapa?” Julian menurunkan pedang. “Ayah tidak benar-benar menyerang.” Damir mengangguk. “Bagaimana kau tahu?” “Bahu Ayah tidak ikut bergerak.” “Bagus.” Damir menurunkan pedangnya. “Kau mulai melihat tubuh lawan, bukan hanya senjatanya.” Julian mengangguk. Itu memang jauh lebih berguna. Senjata bisa menjadi tipuan. Tubuh biasanya lebih jujur. Namun sebelum latihan dilanjutkan, suara langkah terdengar. Edmund datang dari arah rumah. “Tuan Muda.” Julian menoleh. “Ada apa?” “Duke memintamu datang.” Julian menyimpan pedangnya. “Baik.” --- Ruang penerimaan tamu berada di bagian depan estate. Ketika Julian masuk, ia melihat empat orang duduk di sana. Seorang pria paruh baya berdiri ketika Julian datang. Rambutnya hitam dengan beberapa uban. Pakaiannya sederhana, tetapi kualitas kainnya cukup baik. Ia membungkuk. “Duke Varell.” Damir mengangguk. “Selamat datang di Varell Estate.” Pria itu kemudian menoleh kepada Julian. “Dan ini…” “Putra saya.” Julian membungkuk sopan. “Selamat datang di kediaman kami.” Pria itu tersenyum. “Tuan Muda Julian Varell.” Ia mengulurkan tangan. “Nama saya Garrick Hale.” “Pedagang?” “Benar.” Julian melihat sekilas lambang kecil di dada pria tersebut. Bukan lambang kerajaan. Bukan pula lambang keluarga bangsawan. Lambang itu adalah simbol perusahaan dagang. Edmund berdiri di sampingnya. “Garrick Hale adalah perwakilan dari salah satu jalur perdagangan utara.” Julian mengangguk. “Senang bertemu dengan Anda.” Garrick tersenyum. “Begitu formal.” “Dia memang begitu,” kata Elena yang baru masuk. Julian melirik kakaknya. Elena tersenyum kepada Garrick. “Jangan khawatir. Kalau sudah mengenalnya, dia sebenarnya tidak terlalu sulit diajak bicara.” Julian mengangkat alis. “Ibu juga mengatakan hal yang sama?” Scarlet yang datang dari belakang langsung menjawab. “Tidak. Ibu bilang kamu sulit diajak bicara.” Elena tertawa. Julian hanya menghela napas kecil. Garrick tampak terhibur. Suasana menjadi jauh lebih ringan. Namun kemudian salah satu pengawal Garrick berbicara. “Kami membawa beberapa barang dari utara.” Ia membuka salah satu peti. Di dalamnya terdapat beberapa kristal. Bukan kristal Mana biasa. Warnanya lebih gelap. Damir berdiri. “Dari mana?” “Tambang di kaki Pegunungan Roderick.” Edmund mengambil satu kristal dengan hati-hati. “Ini bukan kualitas tinggi.” “Benar,” kata Garrick. “Tetapi jumlahnya cukup banyak.” Julian memperhatikan kristal itu. Ada aliran Mana samar di dalamnya. Tidak stabil. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya. Pada bagian luar peti terdapat goresan kecil. Enam garis. Julian melihatnya hanya sebentar. Tidak menyentuh. Tidak mengatakan apa-apa. Namun Damir melihat perubahan kecil pada tatapannya. “Edmund.” “Ya.” “Bawa peti itu ke ruang pemeriksaan.” Edmund mengangguk. “Baik.” Peti dibawa keluar. Garrick terlihat sedikit bingung. “Apakah ada masalah?” “Tidak,” jawab Damir. “Barang yang berasal dari jalur utara perlu diperiksa lebih teliti.” Garrick mengangguk. “Itu masuk akal.” Percakapan kemudian berlanjut tentang perdagangan. Julian tidak banyak bicara. Ia hanya mendengarkan. Harga kristal. Jalur perjalanan. Kondisi jalan. Beberapa desa yang mulai kekurangan persediaan. Ada satu informasi yang membuat Julian memperhatikan lebih serius. “Jalan lama di utara,” kata Garrick, “beberapa bagian sudah kembali digunakan.” Damir diam. “Sejak kapan?” “Sekitar dua bulan.” “Siapa yang menggunakannya?” “Pedagang kecil. Pemburu. Kadang-kadang pengangkut kayu.” Damir mengangguk perlahan. “Apakah aman?” “Sejauh ini.” Julian memandang ayahnya. Hanya sebentar. Damir tidak memberikan reaksi. Namun Julian mengerti. Jalan lama yang dimaksud kemungkinan sama dengan wilayah tempat ia menemukan pos batu. Ia tidak bertanya. Bukan karena takut. Hanya karena tidak perlu. Informasi itu sudah cukup. --- Setelah rombongan pedagang pergi, Julian kembali ke halaman. Lunara sedang berbaring di bawah pohon. Zero berada di kandang. Julian duduk di rumput. Beberapa menit kemudian, Damir datang. “Tidak bertanya?” Julian menoleh. “Bertanya tentang apa?” “Jalan lama.” Julian tersenyum kecil. “Saya pikir Ayah akan menjelaskannya jika memang perlu.” Damir duduk di sebelahnya. “Itu keputusan yang benar.” Julian melihat pepohonan. “Apakah jalan itu berbahaya?” “Belum tentu.” “Kalau begitu tidak ada alasan untuk pergi ke sana.” Damir memandangnya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Kemudian Damir berkata, “Suatu hari nanti mungkin kau akan melihat tempat itu.” Julian mengangguk. “Kalau begitu saya akan melihatnya ketika waktunya tepat.” Damir tersenyum tipis. “Bagus.” Dari kejauhan, Elena berteriak. “Julian!” Julian menoleh. “Apa?” “Bantu aku membawa buku!” Julian berdiri. “Saya datang.” Damir melihat putranya berjalan menuju rumah. Lunara bangkit dan mengikuti. Untuk beberapa saat, semuanya kembali terlihat normal. Namun di meja Edmund, salah satu catatan perjalanan dari rombongan pedagang masih terbuka. Di bagian bawah halaman terdapat nama sebuah desa. Harven. Desa yang beberapa waktu lalu disebut oleh pria yang mengaku sebagai pemburu. Edmund membaca nama itu. Wajahnya berubah serius. Ia mengambil dokumen tersebut dan membawanya kepada Damir. “Duke.” Damir membaca. Hanya satu baris. Kemudian ia menutup dokumen itu. “Jadi dia tidak berbohong tentang nama desanya.” Edmund mengangguk. “Namun dia berbohong tentang arah datangnya.” Damir menatap ke arah hutan. “Berarti dia memang datang dari sana.” “Jalan lama?” “Ya.” Keduanya terdiam. Tidak ada kesimpulan. Belum. Namun untuk pertama kalinya, jejak yang selama ini berdiri sendiri mulai terhubung. Dan di dalam rumah, Julian sedang membantu Elena menyusun buku tanpa mengetahui bahwa sesuatu dari masa lalu House Varell perlahan mulai mendekati kehidupan yang selama ini ia anggap sederhana.

End of Chapter 39