Pagi berikutnya, Julian bangun lebih lambat dari biasanya.
Bukan karena ia malas.
Tubuhnya masih terasa pegal setelah kejadian di hutan kemarin.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menatap tangannya.
Luka kecil di telapak tangannya sudah dibersihkan dan dibalut. Tidak parah, tetapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya sekarang bukan tubuh Adrian Voss.
Dulu, Adrian terbiasa mengabaikan luka.
Luka kecil bukan alasan untuk berhenti.
Namun sekarang keadaan berbeda.
Tubuh ini masih berkembang.
Dan Julian harus belajar memperlakukannya dengan berbeda.
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela.
Dari sana, hutan terlihat tenang.
Tidak ada tanda-tanda kejadian kemarin.
Pepohonan bergerak perlahan tertiup angin.
Julian memperhatikan beberapa saat.
Bekas cakar besar itu masih ada dalam ingatannya.
Sesuatu yang lebih besar daripada tiga monster yang ditemuinya.
Ia tidak tahu apa itu.
Namun untuk saat ini, ia tidak berniat kembali.
Bukan karena takut.
Ia hanya tahu kapan harus menunggu.
Julian kemudian berbalik.
Hari ini ia ingin melakukan sesuatu yang sudah lama ada di pikirannya.
Mempelajari dunia tempat ia dilahirkan kembali.
---
Ruang perpustakaan keluarga Varell berada di bagian timur rumah utama.
Ruangan itu tidak sebesar perpustakaan kerajaan, tetapi koleksinya cukup banyak.
Rak-rak kayu memenuhi hampir seluruh dinding.
Buku tentang sejarah.
Geografi.
Politik.
Monster.
Mana.
Senjata.
Bahkan beberapa buku mengenai berbagai kerajaan dan ras di Aetheria.
Julian berdiri di depan salah satu rak.
Ia mengambil sebuah buku.
"Aetheria."
Judulnya sederhana.
Ia membukanya.
Halaman pertama berisi peta besar.
Julian memperhatikannya.
Di tengah peta terdapat wilayah luas bernama Kekaisaran Valdoria.
Di sekelilingnya terdapat lima kerajaan besar.
Eldravia.
Roderick.
Sylvarin.
Dravencross.
Meridia.
Julian membaca perlahan.
Eldravia dikenal sebagai wilayah dengan penelitian Mana dan sihir paling maju.
Roderick terkenal karena militer dan ksatrianya.
Sylvarin memiliki hutan luas dan dihuni berbagai ras, termasuk Elf dan Beastfolk.
Dravencross menguasai pegunungan dan pertambangan.
Sedangkan Meridia berkembang melalui perdagangan laut.
Julian mengernyit.
"Dunia ini jauh lebih besar daripada yang kukira."
"Memang."
Julian menoleh.
Edmund berdiri di dekat pintu.
Seperti biasa, pria itu terlihat tenang.
Monokelnya memantulkan cahaya pagi.
"Selamat pagi, Tuan Muda."
"Selamat pagi, Edmund."
Edmund berjalan mendekat.
"Apa yang sedang Tuan Muda pelajari?"
"Geografi."
Edmund melihat buku yang dibuka Julian.
"Pilihan yang bagus."
Julian menunjuk peta.
"Apakah Edmund pernah pergi ke kerajaan lain?"
"Beberapa."
"Sejauh apa?"
"Lebih jauh daripada yang saya sarankan untuk anak berusia enam tahun."
Julian tersenyum kecil.
"Jadi cukup jauh."
Edmund ikut tersenyum.
"Benar."
Julian kembali melihat buku.
"Ada berapa ras di Aetheria?"
"Yang dikenal secara umum?"
"Ya."
"Manusia, Elf, Beastfolk, Dwarf, Dragonkin, dan Demon."
Julian berhenti membaca.
"Demon?"
Edmund mengangguk.
"Namun jangan menyimpulkan bahwa semua Demon adalah musuh."
Julian menoleh.
"Jadi tidak semua ras memiliki hubungan sederhana?"
"Benar."
Edmund menarik kursi dan duduk.
"Dunia tidak sesederhana baik dan jahat, Tuan Muda."
Julian diam.
Kalimat itu terdengar familiar.
Sangat familiar.
Ia pernah hidup di dunia yang penuh manusia.
Dan ia tahu manusia sendiri bisa jauh lebih mengerikan daripada monster.
Edmund melanjutkan.
"Hubungan antar ras berbeda-beda di setiap wilayah. Ada daerah yang damai. Ada pula tempat yang masih memiliki konflik lama."
"Apakah manusia menguasai semuanya?"
"Tidak."
"Bagaimana dengan Kekaisaran?"
"Valdoria adalah kekuatan manusia terbesar di wilayah ini, tetapi bukan berarti seluruh Aetheria berada di bawah kekuasaannya."
Julian mengangguk.
Ia mulai memahami.
Aetheria bukan satu negara.
Bukan satu kerajaan.
Bahkan bukan satu ras.
Dunia ini memiliki terlalu banyak kepentingan yang saling bertemu.
Dan itu berarti—
konflik pasti ada.
Julian menutup buku.
"Edmund."
"Ya?"
"Apakah semua orang bisa menggunakan Mana?"
Edmund mengangguk.
"Sebagian besar manusia memiliki kemampuan untuk merasakan dan menggunakan Mana dalam tingkat tertentu. Namun bakat setiap orang berbeda."
"Bagaimana cara menggunakannya?"
"Mana berada di lingkungan. Tubuh menyerapnya, memurnikannya, menyimpannya, lalu mengedarkannya."
"Di mana disimpan?"
"Di Mana Core."
Julian menatap dadanya sendiri.
"Apakah aku memilikinya?"
"Semua orang memilikinya."
Julian terdiam.
Ia sudah mencoba merasakan Mana beberapa kali.
Tidak pernah berhasil.
"Mengapa aku belum bisa merasakannya?"
Edmund tidak langsung menjawab.
"Karena Anda masih muda."
"Jadi nanti bisa?"
"Jika bakat Anda mendukungnya."
Julian mengangguk.
Tidak ada rasa kecewa.
Ia tidak terburu-buru.
Kehidupan keduanya tidak perlu dijalani seperti kehidupan pertama.
Tidak semua hal harus dikuasai secepat mungkin.
Itulah yang terus ia ingatkan kepada dirinya sendiri.
---
Pintu perpustakaan terbuka.
Scarlet muncul sambil membawa beberapa pakaian.
"Julian."
Julian menoleh.
"Ibu?"
"Kau belum sarapan."
Julian melihat jam dinding.
Kemudian melihat Edmund.
Edmund pura-pura tidak melihat.
Scarlet menghela napas.
"Kau sudah duduk di sini sejak pagi?"
"Sebentar."
"Sebentar menurutmu berapa lama?"
Julian tidak menjawab.
Scarlet tersenyum tipis.
"Ayo."
Julian berdiri.
Sebelum keluar, ia mengambil satu buku tipis tentang Mana.
Scarlet melihatnya.
"Kau tertarik dengan Mana?"
"Sedikit."
"Kalau begitu nanti Ibu bisa mencarikan guru."
Julian berhenti.
"Guru?"
"Ya. Kau tidak harus belajar semuanya sendiri."
Julian memikirkan itu.
Selama kehidupan sebelumnya, Adrian belajar banyak hal melalui pelatihan keras.
Tidak ada yang benar-benar mengajarinya bagaimana menjadi manusia.
Sekarang seseorang menawarkan untuk mengajarinya sesuatu tanpa meminta imbalan.
"Baik."
Scarlet tersenyum.
"Bagus."
Mereka berjalan menuju ruang makan.
Di tengah perjalanan, Scarlet bertanya,
"Julian."
"Ya?"
"Kau takut dengan monster kemarin?"
Julian diam sebentar.
"Sedikit."
Scarlet menatapnya.
Jawaban itu mungkin bukan jawaban yang ia harapkan.
Namun Julian tidak berbohong.
"Takut itu tidak apa-apa," kata Scarlet.
Julian memandang ibunya.
"Benarkah?"
"Tentu."
Scarlet tersenyum.
"Orang yang tidak pernah takut biasanya bukan orang yang paling berani."
Julian terdiam.
"Yang penting adalah tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur."
Julian tersenyum kecil.
"Seperti Ayah?"
Scarlet tertawa.
"Kurang lebih."
"Apakah Ayah selalu seperti itu?"
"Ketika masih muda?"
Scarlet berpikir.
"Lumayan."
"Lumayan?"
"Dia jauh lebih keras kepala."
Julian menahan tawa.
Dari belakang mereka terdengar suara.
"Aku mendengar itu."
Damir.
Scarlet menoleh.
"Bagus."
Damir berdiri di lorong dengan ekspresi datar.
Julian melihat keduanya.
"Jadi Ayah memang keras kepala."
Damir menatap anaknya.
"Jangan terlalu percaya semua yang dikatakan ibumu."
Scarlet menyilangkan tangan.
"Jadi aku bohong?"
Damir terdiam.
Julian menunggu.
Edmund yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka menundukkan wajah, tetapi bahunya bergerak sedikit.
Ia sedang menahan tawa.
Damir akhirnya menghela napas.
"Aku tidak mengatakan itu."
Scarlet tersenyum puas.
Julian tertawa kecil.
Untuk beberapa saat, tidak ada bangsawan.
Tidak ada assassin.
Tidak ada monster.
Tidak ada politik.
Hanya sebuah keluarga yang sedang bercanda di pagi hari.
Dan Julian menyukai keadaan itu.
---
Setelah sarapan, Damir mengajak Julian ke halaman belakang.
"Kenapa, Ayah?"
"Karena kau ingin belajar menggunakan Mana."
Julian sedikit terkejut.
"Ayah yang mengajar?"
"Untuk dasar."
Damir berdiri beberapa meter di depannya.
"Duduk."
Julian duduk bersila.
"Tutup matamu."
Julian menurut.
"Tarik napas perlahan."
Ia melakukannya.
"Jangan memaksa."
Julian mencoba merasakan sesuatu.
Angin.
Tanah.
Suara daun.
Denyut tubuhnya.
Tetapi Mana tidak terasa.
Ia mencoba lagi.
Tidak ada.
Damir mengamati dengan tenang.
"Jangan mengejar Mana."
Julian membuka mata.
"Apa maksudnya?"
"Kalau kau terus mencarinya, kau justru membuat dirimu tegang."
Damir duduk di depannya.
"Mana bukan sesuatu yang harus kau tangkap dengan paksa."
"Jadi?"
"Rasakan."
Julian kembali menutup mata.
Kali ini ia berhenti memaksa.
Tidak mencari.
Tidak mengejar.
Hanya bernapas.
Beberapa menit berlalu.
Tidak terjadi apa-apa.
Julian membuka mata.
"Aku masih tidak bisa."
"Bagus."
Julian mengerutkan kening.
"Bagus?"
"Setidaknya kau tahu kemampuanmu sekarang."
Damir berdiri.
"Kita coba lagi besok."
Julian ikut berdiri.
"Besok?"
"Dan lusa."
"Kalau tetap tidak bisa?"
Damir menatapnya.
"Kita coba lagi."
Jawaban sederhana itu membuat Julian terdiam.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kalimat bahwa ia harus menjadi kuat.
Hanya satu hal.
Coba lagi.
Julian menatap ayahnya.
Kemudian tersenyum.
"Baik."
Damir mengangguk.
Mereka berjalan kembali ke rumah.
Julian belum bisa merasakan Mana.
Belum memiliki pedang.
Belum mengetahui jalan yang akan ia tempuh.
Belum memahami seluruh dunia tempat ia dilahirkan.
Namun ia tidak terburu-buru.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
ia punya waktu.
Dan untuk Julian Varell, mungkin itulah hadiah terbesar dari kehidupan keduanya.