Chapter 38 of 75

Chapter 38 — Hari yang Terlalu Tenang

1.3k words

Seminggu berlalu setelah Julian menemukan pos batu tua di bagian utara hutan. Tidak ada kejadian aneh. Tidak ada jejak baru. Tidak ada orang asing yang muncul di sekitar Varell Estate. Bahkan laporan para penjaga pun kembali normal. Monster-monster di wilayah sekitar masih bergerak seperti biasa. Setidaknya, itulah yang terlihat dari luar. Julian tidak terlalu memikirkannya. Pagi itu ia sedang duduk di meja makan sambil membaca sebuah buku tentang tanaman yang tumbuh di wilayah Valdoria. Di sebelahnya, Lunara tidur dengan kepala bertumpu pada kedua kaki depannya. Zero berdiri di luar jendela. Entah bagaimana, kuda itu selalu berhasil menemukan posisi yang membuatnya bisa melihat ke dalam rumah. Elena sedang sarapan sambil membaca surat. Scarlet menuangkan teh. Damir sudah selesai makan. Edmund berdiri di belakang kursinya seperti biasa. Semuanya terasa normal. Terlalu normal. Julian menutup bukunya. “Ibu.” “Ya?” “Apakah hari ini kita pergi ke Elaris?” Scarlet tersenyum. “Tidak. Kenapa?” “Saya ingin membeli beberapa buku.” Elena langsung menyela. “Buku lagi?” Julian menoleh. “Memangnya kenapa?” “Kamar kamu mulai terlihat seperti perpustakaan.” “Itu karena Kak Elena terus meminjam bukuku.” Elena terdiam. Scarlet menahan senyum. Damir melirik Elena. “Benarkah?” “Itu berbeda.” “Apa yang berbeda?” “Buku Julian lebih menarik.” Julian mengangkat alis. “Jadi sebenarnya Kak Elena suka membaca.” “Tidak.” “Lalu?” “Aku hanya suka buku yang kebetulan ada di kamarmu.” Julian tersenyum tipis. “Begitu rupanya.” Elena menunjuknya. “Jangan tersenyum seperti itu.” “Seperti apa?” “Seperti sedang menang.” “Aku memang menang.” Elena mendengus. Scarlet tertawa kecil. Suasana meja makan kembali dipenuhi percakapan ringan. Julian menikmati momen itu tanpa banyak bicara. Ia tidak membutuhkan sesuatu yang besar. Pagi seperti ini sudah cukup. Setelah sarapan, Julian membantu Scarlet membawa beberapa keranjang ke ruang penyimpanan. Ada pakaian lama, beberapa buku, dan perlengkapan musim dingin yang akan diperiksa sebelum disimpan. Ketika Julian mengangkat salah satu kotak, Scarlet segera menghentikannya. “Yang itu biar Ibu.” “Saya bisa membawanya.” “Ibu tahu.” Scarlet mengambil kotak itu. “Tapi kamu masih kecil.” Julian memandang kotak tersebut. Kemudian memandang ibunya. “Baiklah.” Ia menyerahkannya. Scarlet tersenyum puas. “Bagus.” Julian kemudian mengambil dua kantong kain yang lebih ringan. Dari belakang, Elena lewat sambil membawa tumpukan pakaian. “Kalau Julian boleh membawa kotak, kenapa aku harus membawa ini?” Scarlet menjawab tanpa menoleh. “Karena kamu yang membuatnya berantakan.” “Itu tidak adil.” “Itu fakta.” Julian berjalan melewati Elena. “Semoga beruntung, Kak.” “Julian!” Ia hanya tersenyum. Hari itu berjalan seperti hari-hari lainnya. Tidak ada pedang. Tidak ada latihan berat. Tidak ada hutan. Tidak ada monster. Menjelang siang, Julian bahkan menghabiskan hampir satu jam di ruang baca. Ia membaca tentang kerajaan-kerajaan Aetheria. Eldravia. Roderick. Sylvarin. Dravencross. Meridia. Nama-nama itu perlahan mulai terasa familiar. Ia berhenti pada halaman tentang Dravencross. Wilayah pegunungan. Tambang. Pandai besi. Kristal Mana. Senjata. Julian membaca beberapa halaman sebelum menutup buku. “Suatu hari nanti…” Ia berhenti. Kemudian mengambil buku lain. Tidak perlu menentukan kapan. Dunia masih luas. Ia masih memiliki waktu. --- Sore hari, Damir memanggilnya ke halaman belakang. Julian datang membawa Vesper. Pedang itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Tidak lagi terasa asing di tangan. Damir berdiri di tengah halaman. “Serang.” Julian bergerak. Tidak ada aba-aba kedua. Pedangnya meluncur lurus. Damir menggeser tubuh sedikit. Julian mengubah arah serangan sebelum pedangnya selesai bergerak. Pedang mereka bertemu. Tok. Julian mundur setengah langkah. Damir tidak mengejarnya. “Lagi.” Julian maju. Serangan pertama hanya tipuan. Serangan kedua datang dari sisi lain. Damir menangkis. Julian memutar pergelangan tangannya. Vesper bergerak kembali. Damir menghindar. Kali ini Julian berhenti. Ia tidak mengejar. Damir mengangguk. “Kenapa berhenti?” “Jaraknya tidak menguntungkan.” “Bagus.” Julian mengubah posisi. Damir menyerang. Julian menahan. Kekuatan benturan membuat kakinya bergeser beberapa sentimeter. Tubuhnya masih belum mampu menerima seluruh tekanan seperti yang ia inginkan. Ia tidak memaksakan diri. Sebaliknya, Julian menggunakan gerakan yang lebih kecil. Satu langkah. Satu putaran. Satu serangan pendek. Damir menahan. Julian kembali mundur. Damir tersenyum tipis. “Lebih baik.” Julian mengatur napas. “Tubuh saya masih terlalu lambat.” “Bukan.” Damir menurunkan pedang. “Kau terlalu cepat.” Julian mengernyit. “Bukankah itu hal yang baik?” “Tidak selalu.” Damir menunjuk Vesper. “Kau sudah tahu apa yang ingin dilakukan. Tubuhmu juga mencoba mengikuti. Tapi kalau kau memaksanya bergerak melebihi batasnya, gerakanmu justru kehilangan efisiensi.” Julian memahami maksudnya. Bukan soal bergerak lebih cepat. Tetapi menghilangkan gerakan yang tidak diperlukan. Damir melanjutkan. “Jangan memenangkan pertarungan dalam pikiranmu sebelum tubuhmu sampai di sana.” Julian tersenyum tipis. “Saya akan mengingatnya.” “Bagus.” Damir mengangkat pedangnya kembali. “Sekarang ulangi.” Latihan berlangsung hingga matahari mulai turun. Tidak ada gerakan spektakuler. Tidak ada teknik baru. Hanya pengulangan. Namun justru dari pengulangan itulah tubuh Julian mulai berubah. Gerakannya semakin ringan. Langkahnya semakin stabil. Napasnya semakin teratur. Ia tidak lagi berusaha membuat tubuh kecilnya bergerak seperti tubuh yang jauh lebih besar. Ia mulai memahami batasnya sendiri. Dan menggunakan batas itu seefisien mungkin. --- Malam datang. Setelah makan malam, Julian duduk di beranda. Lunara berada di dekat kakinya. Zero sudah kembali ke kandang. Angin malam bergerak pelan melewati pepohonan. Julian membawa papan permainan yang ia temukan beberapa hari lalu. Permainan Enam Bulan. Ia meletakkannya di atas meja. Beberapa bidak masih berada di dalam kotaknya. Elena keluar membawa dua cangkir. “Masih memainkan itu?” Julian melihat papan. “Belum bosan.” Elena duduk di depannya. “Kalau begitu main lagi.” Julian mengangkat alis. “Bukankah kemarin Kakak kalah?” “Itu karena aku belum terbiasa dengan permainannya.” “Alasan yang bagus.” “Diam.” Elena mengambil bidak. Mereka mulai bermain. Permainan itu sederhana. Satu posisi di tengah. Lima jalur di sekelilingnya. Setiap pemain memiliki tujuan berbeda. Namun semakin lama Julian memainkannya, semakin jelas satu hal. Permainan itu bukan tentang menyerang. Bukan juga tentang bertahan. Melainkan tentang membaca kemungkinan. Elena membuat langkah. Julian tidak langsung membalas. Ia memperhatikan papan. Kemudian memindahkan satu bidak. Elena mengerutkan dahi. “Kenapa ke sana?” “Lihat saja.” Beberapa giliran kemudian, Elena menyadari bahwa jalurnya tertutup. “Ah.” Julian tersenyum. “Sekarang Kakak tahu.” Elena menghela napas. “Kamu benar-benar menyebalkan kalau sedang menang.” “Saya hanya bermain.” “Justru itu masalahnya.” Dari dalam rumah, suara Scarlet terdengar. “Jangan bermain sampai terlalu malam!” Elena menjawab. “Iya, Ibu!” Julian mulai mengumpulkan bidak. Sebelum masuk, ia sempat melihat halaman depan. Beberapa penjaga sedang melakukan pergantian malam. Semuanya normal. Ia memperhatikan sebentar. Kemudian masuk. Tidak ada alasan untuk curiga. Tidak ada alasan untuk mencari sesuatu yang tidak ada. Malam itu seharusnya berakhir seperti malam-malam sebelumnya. Namun jauh di luar wilayah Varell Estate, sesuatu memang sedang bergerak. Bukan pasukan. Bukan monster. Hanya seorang pria. Ia berdiri di antara pepohonan yang gelap. Di depannya terdapat jalan lama yang sudah hampir tertutup akar. Pria itu mengenakan pakaian sederhana. Tidak ada lambang keluarga. Tidak ada senjata yang mencolok. Ia berlutut di dekat tanah. Jarinya menyentuh bekas tapak kaki. Kemudian ia melihat ke arah Varell Estate yang jauh di balik hutan. “Masih sama.” Ia berdiri. Dari sakunya, ia mengeluarkan sepotong kain hitam dengan benang merah. Kain itu memiliki pola yang hampir sama dengan benda yang pernah ditemukan Julian. Namun pria itu tidak pergi menuju perkebunan. Ia justru berjalan ke arah berlawanan. Menuju utara. Di sebuah tempat yang lebih jauh, seseorang sedang menunggunya. “Kau melihatnya?” Pria itu mengangguk. “Ya.” “Bagaimana?” “Rumah Varell masih berjaga seperti dulu.” “Dan anaknya?” Pria itu diam beberapa saat. “Tidak seperti anak bangsawan biasa.” Orang yang menunggu di sana tidak bertanya lebih jauh. “Apakah dia tahu?” “Tidak.” “Bagus.” Mereka kemudian berpisah. Tidak ada ancaman. Tidak ada pertempuran. Belum. Sementara itu, di Varell Estate, Julian sudah tidur. Lunara berbaring di dekat tempat tidurnya. Pedang Vesper tersimpan di tempatnya. Hari yang panjang telah selesai. Besok mungkin akan sama. Atau mungkin tidak. Untuk saat ini, Julian tidak peduli. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tidur tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi besok. Dan terkadang, kehidupan yang tenang memang bukan berarti tidak ada sesuatu yang sedang datang. Hanya saja… belum waktunya mengetuk pintu.

End of Chapter 38